
Sepuluh menit kemudian.
Arian menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Carlson, ia dengan cepat berlari memasuki rumah besar sahabatnya itu untuk melihat keadaan istrinya.
"Ana," panggil Arian membuat semua orang menoleh padanya.
"Daddy," ucap Revin dan Reana bersamaan, sedang Ana mulai kembali terisak. Ia bersyukur suaminya baik-baik saja dan tidak terluka.
Arian berjalan perlahan mendekat kearah sofa yang diduduki oleh istrinya, sedang Sarah yang melihat hal itu segera bangkit dari duduknya, begitupun dengan Reana dan Revin.
Ana menghambur diperlukan suaminya saat sudah duduk disampingnya, ia sungguh tidak ingin terjadi sesuatu dengan suaminya ataupun anak-anaknya
"Dimana Revan?" tanya Ana dengan menatap Arian.
Arian tersenyum kecil, kemudian menyeka air mata yang membasahi pipi istrinya dengan sayang.
"Dia baik-baik saja," ucap Arian lalu mengecup kening Ana.
"Bagaimana keadaan Rania? Dia juga baik-baik saja kan?" tanya Ana lagi dan Arian dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Sifat khawatir istrinya itu yang membuat ia merahasiakan semuanya rapat-rapat, semua yang berhubungan dengan dunia gelapnya.
"Sudah, tidak perlu menangis lagi. Lihat, sekarang muka kamu malah tambah cantik," goda Arian membuat Ana memukul pelan dada suaminya itu.
"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat istriku menangis," ucap Arian lalu mengecup singkat kedua mata istrinya yang terpejam.
"Ekhem, bucin banget sih lu, Ran," ucap Rafael menghancurkan momen romantis pasangan itu.
"Ngga nyadar, pak," ucap Arian dengan malas, yang hanya membuat Rafael memutar bola matanya malas.
"Kena Lo juga dong," ucap Rafael tiba-tiba dengan menatap Carlson.
"Jangan balikin ucapan gue, kambing!" ucap kesal Carlson dengan menjauhkan wajah Rafael.
"Jangan sentuh muka gue, woy!" ucap Rafael dan dengan cepat menghempaskan tangan Carlson.
"Ekhem!" Arian berdehem, membuat dua orang itu terdiam seketika. "Ucapannya disaring dulu!" lanjut Arian penuh penekanan.
"Maaf, pak," ucap Rafael dan Carlson bersamaan, membuat Arian mengumpat pada mereka berdua.
__ADS_1
"Kambing lu!" ucap kesal Arian.
"Ucapannya disaring dulu, pak," ucap Rafael dan Carlson membuat Arian semakin mengumpat pada mereka berdua.
"Kampret!" ucap Arian semakin kesal, yang malah membuat semua orang disana tertawa lepas.
* * *
Revan menghentikan mobilnya diparkiran rumah sakit, dan kemudian turun dengan cepat untuk membukakan Rania pintu mobil.
"Aku bisa jalan, kak Revan," ucap Rania lembut ketika Revan kembali berniat menggendongnya ala bridel style.
"Tunggu sampai dokter itu mengatakan kamu baik-baik saja, baru aku membiarkan kamu berjalan," ucap Revan kekeh pada apa yang ingin ia lakukan.
Rania menghembuskan nafasnya, calon suaminya ini memang sedikit keras kepala, ralat sangat keras kepala.
Revan mengendong Rania ala bridel style memasuki rumah sakit itu, membuat beberapa perawat yang melintas melewati mereka, memang iri pada Rania yang digendong oleh pria tampan.
Revan tiba didepan pintu ruangan dokter yang bernama Denion Fi, yang tidak lain adalah dokter pribadi keluarganya.
Revan menarik nafas perlahan dan menghembuskannya, kemudian berteriak membuat Rania terkejut.
"DOKTER DENION!" teriak Revan membuat semua orang menoleh padanya, sedang Rania membulatkan matanya dengan sempurna, seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Tuan muda Revan?!" ucap Dokter Denion dengan menatap Revan dari atas hingga bawah.
"Periksa calon istri saya," ucap Revan dan dengan cepat dokter Denion membuka pintu ruangannya lebar-lebar.
Revan berjalan masuk perlahan, lalu segera menidurkan Rania perlahan diatas brangkar didalam ruangan itu.
Dokter Denion mulai memeriksa Rania dan hal itu tak lepas dari pandangan seorang Revan Li.
"Keadaannya baik-baik saja, tuan muda. Hanya saja sedikit syok," ucap Dokter Denion yang hanya membuat Revan menganggukkan kepalanya.
"Kau boleh keluar!" ucap Revan dengan nada memerintahnya.
"Tapi ini ruangan saya, tuan muda," ucap Dokter Denion, bingung.
"Saya tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh diruanganmu," ucap Revan dengan nada kesalnya, membuat dokter Denion segera berbalik untuk keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Revan menghembuskan nafasnya melihat hal itu, lalu berjalan perlahan mendekat kearah Rania yang sudah duduk diatas brangkar.
"Maaf," lirih Revan dengan menggenggam tangan Rania erat, lalu mengecup punggung tangan calon istrinya berulang-ulang.
"Tidak perlu minta maaf, kak Revan tidak ada salah denganku," ucap Rania dan Revan dengan cepat mengelengkan kepalanya.
"Aku ada salah sama kamu, karena aku kamu jadi sasaran dari orang-orang itu. Aku benar-benar tidak becus menjagamu dari kejauhan," ucap Revan lalu mendogak dan menatap wajah Rania yang mendadak murung.
"Ada apa?" tanya Revan yang khawatir melihat raut wajah Rania yang terlihat sedih.
"Aku sudah kotor, kak," ucapnya dengan setetes air mata yang perlahan-lahan membasahi pipinya.
Rania mengusap bibirnya dengan kasar membuat Revan terkejut dan segera menahan tangan Rania yang mungkin akan melukai bibirnya nanti.
"Rania berhenti, kamu akan melukai bibirmu," ucap Revan tapi wanita itu sama sekali tidak berhenti dan malah semakin mengusap kasar bibirnya.
Ia malu, malu jika mengingat bahwa bibirnya sudah dicium oleh pria lain. Revan menahan tangan Rania dan malah membuat wanita itu menangis semakin keras.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ku mohon," ucap Revan dengan menatap wajah Rania lekat.
"Aku sudah tidak pantas untuk kakak, bahkan bibirku sudah disentuh oleh pria lain," ucap Rania semakin terisak.
Revan terdiam mendengar hal itu, lalu mengulurkan tangannya mengangkat dagu Rania hingga mendogak dan menatapnya.
Revan mencium kening Rania dan berpindah kesetiap inci wajah Rania, hingga berhenti dibibir Rania.
Revan mengecup bibir Rania, lalu ********** perlahan. Rania yang awalnya diam mulai membalas ciuman Revan, bahkan mereka tidak peduli dengan suara berisik yang sedikit menganggu itu.
Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan dokter Denion yang sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang.
Rania terdiam dengan menatap dokter Denion yang tengah menunduk dengan wajah memerah, sedang Revan yang menyadari jika Rania berhenti membalas ciumannya, menoleh kebelakang dan menatap tajam pada dokter Denion.
"Ada apa?" tanya Revan malas dengan nada kesal menahan emosi.
"Sa-sa-saya ingin mengambil ponsel saya, tuan muda," ucap Denion gugup dengan wajah memerahnya.
Revan berdecak kesal, lalu segera mengendong Rania ala bridel style dan mendekat kearah pintu keluar, di mana masih ada dokter Denion yang berdiri disana.
"Terima kasih, karena sudah memeriksa calon istriku," ucap Revan lalu melangkah keluar dari sana, meninggalkan dokter Denion yang terdiam mematung ditempatnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, seharusnya aku tidak masuk tadi," ucap Dokter Denion pada dirinya sendiri, ia menyesal membuka pintu ruangannya untuk mengambil ponselnya yang berdering tanda panggilan masuk.
"Entah gajiku akan dipotong atau bagaimana," ucap dokter Denion lesuh lalu melangkah mendekati mejanya.