SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
KELULUSAN


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian.


Pukul 06:05 pagi.


"REVIIIN! BANGUN!," teriak Revan tepat ditelinga Revin, membuat pria itu terkejut dan duduk seketika diatas tempat tidurnya.


Revin menatap tidak percaya pada kakaknya itu, dengan tangan yang menyentuh kedua telinganya.


"Brother, apa kau ingin membuat gendang telingaku rusak?!" ucap Revin dengan menatap kakaknya itu dengan nafas yang memburu karena terkejut.


"Segera mandi, hari ini hari yang ditunggu-tunggu, jadi jangan terlambat!" ucap Revan kemudian keluar dari kamar Revin.


"Ah, sia**n," umpat kesal Revin dan beranjak dari tempat tidur.


Lima belas menit kemudian.


Revin keluar dari kamarnya dengan penampilan yang rapi, sangat rapi.


Hari ini adalah hari kelulusan untuk Revan, Revin dan juga Reana. Hari yang mencengangkan untuk mereka bertiga, dan juga untuk semua siswa dan siswi.


"Selamat pagi, Mom, Dad," sapa Revin dengan berjalan kekursinya untuk segera duduk dan sarapan bersama.


"Pagi sayang," ucap Ana dengan tersenyum begitu pun dengan Arian.


"Hari ini, kami akan pergi kesekolah kalian, untuk melihat keberhasilan kalian disekolah," ucap Ana membuat Revan dan Revin terdiam, kemudian bertukar pandang satu sama lain.


"Kok diem? kalian tidak melakukan hal yang buruk 'kan?" tanya Ana dengan tatapan intimidasi pada kedua putranya itu.


"Tentu saja tidak, mom," ucap Revin berbohong.


"Kalau mommy dan Daddy pergi kesekolah kami, siapa yang akan kesekolah Reana?" tanya Revin penasaran, ia berharap agar sang ayah yang datang ke sekolahnya, karena jika ibunya, sudah pasti akan bahaya.


"Mommy yang akan datang kesekolah Reana," ucap Ana membuat kedua orang itu bernafas lega.


"Eh, terus Brother bagaimana?" tanya Revin yang bingung.


"Daddy yang akan kesekolah Revan, setelah datang kesekolahmu, karena pengumuman kelulusan disekolah Revan tidak terlalu cepat, jadi bisa setelah kesekolahmu, Daddy akan kesekolah Revan," ucap Arian menjelaskan.


Mereka pun sarapan dengan lahap untuk segera berangkat ketempat tujuan.


* * *


Lima belas menit kemudian.


Revin menghentikan motornya diparkiran sekolah, di mana sudah sangat ramai disana.


Revin membuka helmnya dan tidak lama setelah itu, terdengar suara deringan ponsel miliknya.


"Apa kau sudah tiba disekolah, jangan lupa untuk mentraktirku nanti ya, akan aku tagih loh,"

__ADS_1


Revin tersenyum melihat pesan yang masuk diponselnya yang tidak lain dari Vivian.


"Kau tidak perlu mengingatkan ku bocil, aku tidak muda lupa tau,"


Revin membalas pesan itu dengan tersenyum kecil.


"*Sudah kubilang untuk tidak memanggilku bocil! Dasar pria gi*a*,"


Balasan pesan Vivian yang membuat Revin tertawa cekikikan.


"Iya-iya, tidak akan kukatakan lagi, tapi bukannya benar ya, kalau kau itu masih bocil,"


Isi pesan Revin yang semakin membuat gadis kecil itu kesal.


"Dasar pria sint**g!"


Revin tertawa lepas membuat beberapa siswa menatapnya aneh.


"Baiklah, sudah dulu ya, aku akan mentraktirmu nanti, bye,"


"Bye," isi pesan Vivian, membuat Revin tersenyum.


Revin menaruh kembali ponselnya kesaku celanannya dan berjalan dengan santai ketempat yang sudah disiapkan untuk penguman kelulusan.


Hubungan antara Revin dan Vivian sudah kembali seperti semula, tapi sedikit berbeda. Karena mereka bisa akur dan bercanda gurau bersama, dan juga karena dihati Revin ada perasaan spesial pada Vivian.


Sedang Carlos, masih pada rahasianya, hingga selesai semester satu 6 bulan yang lalu, Felisia belum juga mengetahui jika pacarnya itu, adalah Carlos. Hingga hubungannya masih menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh Revin dan juga Revan.


Dan hubungan rahasia Revan, tentu saja masih menjadi rahasia tanpa ada yang tau, ia bahkan mengoleksi foto Rania dilaptop dan ponselnya, bahkan hampir memenuhi setiap file rahasia dilaptopnya, yang tidak bisa dibuka oleh Revin, dan setelah kelulusannya, ia akan meminta izin pada sang ayah untuk melanjutkan pendidikannya dinegara S, sekaligus mengawasi seseorang dan mendekatkan diri.


* * *


Revin berjalan mendekat kearah Carlos yang duduk dengan santai disalah satu bangku yabg menghadap ke panggung kecil tempat kepala sekolah memberi pidato nanti.


"Pagi banget sampai," ucap Carlos tanpa menoleh kearah seseorang yang duduk disampingnya.


"Kenapa? kau tidak suka?" tanya Revin dengan duduk dan melipat tangan didada.


"Tidak, hanya saja sebuah sejarah kau datang lebih cepat, apa mungkin Revan membangunkanmu dengan cara yang lebih spesial lagi?" ucap Carlos dengan tersenyum kecil.


"Sia**n," umpat kesal Revin yang mengundang tawa Carlos.


* * *


Disisi lain, Revan menyandarkan punggungnya disandarkan kursi yang menghadap kepanggung kecil dengan Reon yang duduk disampingnya.


"Kenapa kau? sakit?" tanya Reon khawatir pada sahabatnya itu.


"Sakit jantung," ucap Revan santai membuat Reon terkejut.

__ADS_1


"Hah! Kamu sakit jantung, Van? udah periksa ke dokter belum?" ucap Reon dengan raut wajah khawatirnya dan dengan tangan yang memeriksa suhu tubuh Revan.


"Ada apa denganmu? kau terlihat seperti orang gila tau! Aku baik-baik saja, dan juga aku tidak demam," ucap Revan menepis tangan Reon yang berada dikeningnya.


"Bukankah kau bilang, kau sakit jantung?" ucap Reon dengan wajah polosnya, membuat Revan memberikan cap lima dikepala sahabatnya itu.


"Aduh," rintih Reon dengan mengelus kepalanya yang membuat rambut tebalnya berantakan.


"Sakit jantung yang artinya jiwa aku yang kegantung," ucap Revan penuh penekanan, membuat Reon terdiam dengan wajah bodohnya.


"Hah! sejak kapan sakit jantung singkatan dari sakit jiwa aku yang kegantung, Van!" ucap Reon tepat ditelinga Revan.


Revan menjauhkan wajah Reon dengan tangannya dan menatap tajam sahabatnya itu.


"Sejak tadi!" ucap Revan membuat Reon bungkam seketika.


'Terserah kau sajalah,' ucap Reon dalam hati dengan menghembuskan nafasnya perlahan.


* * *


Pukul 2 siang.


Saat ini semua anggota keluarga Li berada dirumah Arian, untuk merayakan kelulusan Revan, Revin dan Reana.


"Selamat untuk kalian berdua ya," ucap Houyang pada kedua cucu laki-lakinya itu.


"Terima kasih, Grandpa," ucap Revan dan Revin bersamaan.


"Jadi ... di mana kalian akan melanjutkan pendidikan kalian?" tanya Daenji membuat Revin terdiam dan terlihat berfikir.


Saat Revin ingin berbicara, Revan sudah angkat suara, membuat Revin mematung ditempatnya.


"Di Negara S," ucap Revan mantap membuat semua orang terdiam.


Arian terkejut mendengar ucapan putra pertamanya itu, sedang Ana, jangan ditanya lagi, ia benar-benar terkejut.


Revin menatap kakaknya itu, dengan tatapan tidak percaya.


'Yang benar saja,' ucap Revin dalam hati menatap kakaknya itu.


"Revan, apa kau yakin?" tanya Arian mencoba memastikan.


"Yes, Daddy," ucap Revan tanpa ragu sedikit pun.


Arian yang melihat hal itu, menghembuskan nafasnya dan mengangguk mengerti, sedang Revin menundukkan kepalanya.


Revan menatap sang ibu yang terdiam, ia pun berjalan mendekat dan menggenggam tangan sang ibu.


"Mommy, Revan ingin belajar menjadi lebih baik di Negara S, Revan ingin meminta ijin pada Mommy, tidak masalahkan?" tanya Revan dengan raut wajah penuh harap.

__ADS_1


"Tapi Revan ....," Ana tidak mampu melanjutkan ucapannya dan memilih untuk menundukkan kepalanya dengan menahan tangisnya.


"Aku akan ikut dengan Brother!" ucap Revin membuat semua orang menoleh padanya.


__ADS_2