SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
AKHIR BAHAGIA


__ADS_3

Rara tersenyum mendengar pertanyaan bosnya itu, sedang Vivian terkejut dengan mulut uang sedikit terbuka, lalu menoleh kearah Revin yang tersenyum melihatnya.


"Dua hari lagi, pak," ucap Rara dengan senyum dibibirnya.


"Jadi ambil cuti empat hari?" tanya Revin lagi, dan Rara dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Jangan lama-lama ya. Saya tidak terlalu suka dengan orang yang mengantikanmu sementara itu," ucap Revin, sedikit curhat pada sekertarisnya itu.


"Iya, pak. Setelah selesai liburan, saya akan segera kembali masuk kerja," ucap Rara dengan senyum diwajahnya.


Revin hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Sedang Vivian merasa mi sendiri, karena mengira jika Rara tidak memiliki suami dan ia sempat curiga pada wanita itu.


"Pak, mereka sudah datang," ucap Rara saat menoleh dan mendapati dua orang pria memasuki cafe itu, yang tidak lain adalah orang yang akan bekerja sama dengan perusahaan Revin.


"Aku pergi dulu ya," ucap Revin lalu mengecup singkat kening Vivian sebelum bangkit dari duduknya dan berpindah ke meja tidak jauh dari sana.


Vivian terdiam melihat hal itu, lalu perlahan ia bangkit untuk pulang kerumah, dengan segala pemikiran dikepalanya.


* * *


Dua hari kemudian.


Pukul 8:30 pagi.


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Revan dan Rania telah tiba. Banyak tamu undangan yang mulai berdatangan dan memenuhi aula tempat acara yang akan berlangsung tidak lama lagi.


Revan tengah berada salah satu kamar untuk menunggu pukul 9 pagi, waktu yang akan digunakan untuk pengucapan sumpah.


Revan memejamkan matanya dengan berusaha mengatur nafasnya untuk tetap tenang. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, menampilkan tiga orang pria yang memakai jas tidak jauh berbeda dengannya.


Revan menoleh dengan malas dan menatap Revin, Reon dan Carlos yang berjalan masuk kedalam dengan senyum diwajah mereka. Carlos menidurkan dirinya diatas tempat tidur yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar.


"Revan, nanti kalau cium Rania diatas altar, jangan lama-lama ya," ucap Carlos yang tengah tiduran, sedang Revan yang mendengar hal itu mengernyit bingung.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Nanti wajah semua orang merah lagi, gara-gara liatin kamu ciuman lama diatas altar," ucap Carlos dengan tertawa, diiringi dengan lemparan bantal sofa yang tepat mengenai wajahnya, membuat ia terduduk seketika dan menatap tajam pada Reon.


"Bisa tidak, jangan berfikir seperti itu! Bukan waktunya untuk bercanda, dia tenga gugup sekarang," ucap Reon, sok bijak membuat Carlos kembali melemparkan bantal sofa itu pada Reon.


"Kalau kalian tidak ada pekerjaan lain, sebaiknya keluar dari kamar ini!" ucap Revan malas, membuat Reon dan Carlos diam seketika.


Revan menoleh pada Revin yang duduk ditepi tempat tidur dengan kepala yang menunduk lesuh.


"Reon, Carlos ....," panggil Revan membuat kedua pria itu menatapnya.


"Sepertinya aku mendengar Liona dan Felisia berteriak memanggil kalian," ucap Revan dan seketika membuat dua pria itu bangkit dari duduk mereka dan berlari keluar dari kamar itu.


Revan menahan tawanya melihat tingkah dua sahabatnya itu, lalu ia kembali menoleh pada Revin yang masih terdiam dengan kepala menunduk.

__ADS_1


Revan mendudukkan diri disamping Revin, membuat adiknya itu menoleh padanya.


"Jangan sedih, semua pasti akan berjalan cepat," ucap Revan tersenyum pada adiknya itu.


Revin tersenyum kecil lalu menoleh pada kakaknya.


"Aku akan punya dua keponakan, baru menikah. Aku pasti akan tertinggal jauh dari kalian," ucap Revin lesuh membuat Revan menghembuskan nafasnya.


"Mungkin kalau anak, akan tertinggal jauh. Tapi kalau menikah, mungkin saja tidak akan jauh," ucap Revan membuat Revin mengernyit.


"Terserah kau sajalah, brother. Aku keluar dulu. Jangan terlalu gugup," ucap Revin lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar itu.


Revan tersenyum kecil melihat hal itu, lalu kembali mengatur nafasnya untuk segera keluar dari kamar itu menuju altar.


* * *


Revan dan Rania sudah berada diatas altar, bersiap untuk mengucapkan sumpah mereka. Revin menatap datar pada hal yang ia lihat, sedang Vivian yang berdiri disampingnya terus menerus menghembuskan nafasnya, jujur saat ini ia gugup karena sebentar lagi akan melakukan hal yang sulit dijelaskan.


Revan dan Rania mulai mengucapkan sumpah mereka, dengan sesekali Revan melirik sekilas Vivian dan mengedipkan matanya, meminta gadis itu untuk bersiap-siap.


Semua orang mulai bertepuk tangan saat Revan dan Rania sudah selesai mengucapkan sumpah mereka dan berciuman.


"Tunggu dulu, masih ada satu pasangan lagi yang akan mengucapkan sumpah," ucap Revan, membuat semua orang mengernyit.


Revan menoleh kearah Vivian dan Revin, sedang Revin yang tidak tahu apapun, mengernyit dan menatap Vivian yang terus saja menghembuskan nafasnya gugup.


Tiba-tiba Vivian menarik tangan Revin berjalan mendekati altar, sedang Revan tersenyum melihat wajah terkejut adiknya.


"Saya sudah siap," ucap Vivian saat tiba diatas altar dengan Revin yang berada dibelakangnya.


"Vi ... kamu bilang apa?" tanya Revin tidak percaya dengan menatap gadis dihadapannya.


"Mulai pak pendeta," ucap Vivian semakin membuat Revin terkejut.


Revan menarik bahu adiknya untuk berdiri berhadapan dengan Vivian, dan dia yang berdiri disampingnya.


"Brother, kau ....," Revin mengantung ucapannya saat Revan tersenyum disampingnya.


Sedang Rania menyentuh pundak Vivian yang masih dengan kegugupannya.


"Santai saja," ucap Rania dengan tersenyum pada gadis disampingnya.


Posisi mereka sekarang, Revan berdiri disamping Revin yang berdiri dihadapan pendeta, begitupun dengan Vivian yang berdiri dihadapan pendeta dengan Rania disampingnya.


"Vi, kamu ....," Revin lagi-lagi mengantung ucapannya saat Vivian tersenyum lembut padanya.


"Apa kalian sudah siap?" tanya sang pendeta, Revin dan Vivian mengangguk dengan mantap.


Pendeta pun memulai hal yang ingin dimulai, dan setelah itu Revin dan Vivian pun mengucapkan janji mereka.

__ADS_1


Revin masih tidak percaya pada apa yang terjadi sekarang, ia kemudian mencium Vivian saat pengucapan sumpah selesai, membuat semua orang bersorak riah pada saudara kembar itu.


Revin tersenyum pada Vivian dengan kening yang saling menempel, sedang Rania dan Revan saling menatap satu sama lain, tak lupa dengan senyum diwajah mereka.


Acara pun berlangsung dengan meriah, dengan begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Revin pada istri kecilnya.


Revin menoleh pada kakaknya yang tengah menyambut tamu, dan tersenyum karena mengetahui jika kakaknya itu yang sudah membuat Vivian merubah apa yang ia ucapkan dan dengan dukungan Revan juga, Vivian bisa berdiri diatas altar bersamanya.


'Terima kasih, Brother,' ucap Revin dalam hati, lalu tersenyum pada tamu yang datang mendekat padanya, untuk mengucapkan selamat.


* * *


Esoknya.


Pukul 8 pagi.


Revin tengah berada di bandara dengan Vivian yang berdiri dihadapannya, bersiap untuk berangkat kembali ke negara B untuk melanjutkan kuliahnya.


Revan, Reon dan Carlos sudah berangkat ke tempat yang sudah mereka siapkan untuk bulan madu.


"Maaf ya, aku tidak bisa menghabiskan waktu bersamamu," ucap Vivian merasa bersalah pada pria dihadapannya yang sudah menyandang status sebagai suaminya.


Revin mengecup lama kening Vivian, lalu menatap lekat wajah wanita itu.


"Terima kasih, karena sudah menarikku ke altar kemarin. Aku janji akan selalu berkunjung kesana, agar bisa menemanimu setiap waktu," ucap Revin lalu kembali mengecup kening istrinya.


"Aku janji, tidak akan melalukan hal yang aneh disana. I Love you, my husband," ucap Vivian lalu mengecup bibir suaminya.


"I Love you too, my little wife," ucap Revin lalu mencium setiap inci wajah istrinya.


"Aku pergi dulu," ucap Vivian lalu berbalik dan melambaikan tangan pada Revin.


Revin melambaikan tangannya pada Vivian dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, biarlah jauh yang penting mereka sudah terikat akan hubungan suami istri itu sudah lebih dari cukup bagi Revin. Dan jika ingin, tinggal terbang saja ke negara B.


"I Love You, Vivian," ucap Revin dengan menatap Vivian yang telah naik ke pesawat.


"Aku akan selalu mencintaimu," ucap Revin lagi lalu segera berbalik untuk pulang ke rumah dan menikmati tempat tidur yang sudah ia dan Vivian tempati.


END


* * *


- Ngga terasa aja udah tamat🤧🤧.


Terima kasih pada semua orang yang baca SOTR 1 & 2. Aku terharu banget Ampe sekarang masih banyak yang like🤧🤧 dan baca.


Jangan sedih, jangan nangis. Nantikan kelanjutan SOTR season 3🤭🤭 masih lama🤭


Doain ya, biar aku sehat terus dan bisa cepat up novel kelanjutan SOTR, aku mau nulis yang adeknya dulu🤭.

__ADS_1


Salam dari aku, Kaniana "Kan" semoga suka😘😘


jangan lupa likenya🤭🤭


__ADS_2