
DOR
Suara tembakan mengema diruangan itu, istri pria parubaya itu terkejut bukan main saat melihat suaminya yang ditembak oleh anak dihadapannya itu.
Revin menembak bagian perut pria parubaya itu berulang-ulang hingga pria parubaya itu tidak bernyawa.
Tujuh orang yang tersisa terkejut melihat kejadian itu, mereka gemetar dengan keringat dingin yang membesahi kening mereka.
Revin melirik kearah wanita yang menatapnya takut, Revin tersenyum devil membuat ketujuh orang itu merinding.
Revin berbalik dan kembali berjalan mendekati Desta yang hanya berdiri dengan raut wajah datarnya.
Revin mengarahkan pistol ditangannya pada 7 orang dibelakangnya dan kemudian menembak tanpa melihat.
Tujuh tembakan dan semuanya tepat sasaran, Revin memberikan Desta pistol yang sudah pelurunya sudah habis, Revin berjalan mendekati pintu dan bersiap untuk keluar ruangan itu.
Revin menoleh pada Desta dengan tangan yang memengang gagang pintu.
"Uncle tau apa yang harus dilakukan pada perusahaan itu 'kan," ucap Revin kemudian membuka pintu dan keluar.
Revin berjalan keluar dari markas Dragon night dengan hati yang senang, Revin berjalan dengan kedua tangan yang ia masukan kesaku celananya.
Saat Revin tiba di parkiran dan bersiap untuk naik kemotornya, tiba-tiba ponselnya berdering dan dengan cepat Revin merogoh ponselnya yang berada disaku jaketnya.
Revin terkejut saat melihat siapa yang menelfonnya yang tidak lain adalah mommynya.
'Bahaya nih, bakalan kena marah nih sama mommy, angkat tidak ya,' ucap Revin dalam hati bingung, antara mengangkat telfon dengan tidak.
'Angkat sajalah dari pada semakin marah mommy nanti,' ucap Revin dalam hati kemudian mengangkat telfon dari Ana.
"Ha ... halo, Mom," ucap Revin sedikit gugup saat mengangkat telfon dari sang ibu.
"Halo, Vin. kamu dimana? mommy dan daddy sudah dalam perjalanan pulang ini, kamu temani kakak kamu dirumah sakit ya, disana juga ada Rania, cepat jangan buat kakakmu menunggu," ucap Ana diseberang telfon.
Revin terdiam mendengar hal itu dan dengam cepat menjawab.
"Oke, Mommy. Revin segera kesana," ucap Revin kemudian mematikan panggilan sepihak dan segera memasukkan ponselnya kembali kesaku jaketnya lalu naik kemotornya.
Revin segera memakai helmnya dan kemudian menyalakan mesin motornya untuk segera kerumah sakit.
Sementara itu, Ana terdiam saat Revin mematikan panggilang sepihak membuat Ana mengernyitkan alisnya heran.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Arian pada istrinya itu.
"Revin matiin panggilannya, padahal aku belum selesai bicara," ucap Ana membuat Arian meliriknya sekilas kemudian kembali fokus kejalan.
"Mungkin dia lagi buru-buru kali, makanya matiin panggilan sepihak," ucap Arian pada Ana.
Ana hanya bisa menganggukan kepalanya, mungkin saja yang dikatakan oleh suaminya itu benar.
"Coba aja Reana juga ada dirumah sakit tadi, mungkin kita bisa menjaga Revan tanpa harus merepotkan Rania, padahal Rania besok harus sekolah, tapi dia tetap aja kekeh pengen jagain Revan," ucap Ana panjang lebar.
Arian hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.
"Bukannya tadi kamu yang bilang sama Reana buat ngga ikut, dan juga, bukannya bagus jika Rania dan Revan jadi dekat, 'kan itu bagus untuk mereka menjalin keakraban," ucap Arian membuat Ana tampak berfikir keras.
"Iya juga sih," ucap Ana dengan tersenyum kecil.
Arian tersenyum kecil melihat Ana yang masih terlihat polos seperti dulu.
* * *
Dua puluh menit kemudian.
Revin memasuki lift menuju ruangan kakaknya yang berada dilantai 5.
Revin keluar dari lift kemudian berjalan mendekati pintu ruangan sang kakak.
Revin menghentikan langkahnya saat sudah berada didepan pintu, Revin mencoba mengatur nafasnya yang mendadak tidak beraturan karena takut dengan kakaknya itu.
Revin membuka pintu dengan perlahan dan masuk secara perlahan.
Revin berjalan mengendap kearah sofa dan berniat untuk tidur, hingga suara deheman membuatnya mematung ditempatnya.
"Ehem," suara deheman yang membuat Revin menoleh dan tersenyum kikuk salah mendapati Revan yang belum tertidur dan menatapnya tajam.
Revin hanya bisa tersenyum kikuk dengan mengaruk kepalanya yang tidak gatal, Revin terdiam saat melihat Rania yang tertidur dikursi dengan kepala yang berada dibrangkar Revan dengan tangannya sebagai bantal.
Revan memberi kode pada Revin untuk mengangkat tubuh Rania kesofa agar besok badan Rania tidak terlalu sakit.
Revin menghembuskan nafasnya kemudian berjalan perlahan mendekati brangkar Revan untuk segera mengangkat Rania untuk tidur disofa.
Revin dengan perlahan mengendong tubuh mungil Rania ala bridel style dan kemudian berjalan kearah sofa lalu menurunkan tubuh Rania keatas sofa panjang.
__ADS_1
Selesai meletakkan Rania, Revin berniat untuk duduk tapi lagi-lagi Revan berdehem membuat Revin menoleh pada sang kakak.
Revin menoleh pada Revan dan seolah bertanya.
'Ada apa,' ucap Revin dalam tatapan matanya pada sang kakak.
Revan memberikan isyarat pada Revin untuk mendekat padanya, dengam malas Revin berjalan mendekati Revan yang hanya berwajah datar.
"Dari mana saja kau?" tanya Revan dengan suara kecil saat Revin berada disamping brangkarnya.
"Abis urua sesuatu," ucap Revin singkat.
"Habis dari markas Dragon night dan membasmi para tikus itu," ucap Revan membuat Revin tersentak kemudian menoleh pada kakaknya itu.
"Itu ...," ucap Revin mengantung ucapannya karna takut jika sang kakak marah besar karna dirinya yang begitu tidak sabaran.
"Lupakan, lain kali kamu tidak boleh terlalu ceroboh, tidurlah besok kamu harus pergi sekolah!" titah Revan dan Revin pun segera menganggukkan kepalanya dan berjalan kearah sofa.
Revin segera membaringkan badannya diatas salah satu sofa panjang yang berhadapan dengan sofa yang ditempati tidur oleh Rania, hanya meja ditengah sofa saja yang menjadi pemisah.
Pukul 6 pagi.
Revan terbangun dari tidurnya saat jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Revan berniat untuk turun dari brangkar tapi kemudian sebuah tangan mungil menyentuh lengan kirinya.
Revan menoleh dan mendapati Rania yang menatapnya dengan tatapan khawatir dengan tangan yang menyentuh lengan kiri Revan mencoba untuk memapah pria itu.
Revan hanya bisa menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kearah kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan Rania yang memengang lengan kirinya sekedar menjaga keseimbangan Revan meski sebenarnya hal itu tidak perlu.
Lima menit kemudian.
Revan kembali naik keatas brangkarnya setelah tadi membasuh wajahnya dengan dibantu oleh Rania.
"Rania ...," ucap Revan tiba-tiba membuat Rania menoleh pada pria itu.
"Iya kak?" ucap Rania dengan nada yang sedikit bertanya.
"Bisa tolong bangunkan Revin," ucap Revan dan Rania pun mengangguk mengerti kemudian berjalan mendekati sofa dimana Revin tidur.
Rania membangunkan Revin dengan cara mengoyangkan tubuh Revin, tapi tetap saja Revin tidak bangun.
"Siram saja pake air," ucap Revan membuat Rania menoleh dan menautkan alisnya sedikit terkejut.
__ADS_1