SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
TERKEJUT


__ADS_3

Pukul 6:30 pagi.


Kini Revan, Arian, Ana dan Reana tengah duduk dikursi dimeja makan untuk sarapan pagi.


"Revan ... kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Ana khawatir pada putra sulungnya itu yang terlihat pucat.


"Aku baik-baik saja, Mom. tidak perlu khawatir," ucap Revan dengan tersenyum pada sang ibu.


Arian sedikit mendongak dan menatap putra sulungnya itu dengan tatapan khawatir dan juga prihatin.


"Reana! apa kamu sudah selesai makan?" tanya Revan yang kini berdiri dari duduknya dan segera memakai jaketnya perlahan.


Reana menganggukkan kepalanya kemudian berdiri dari duduknya lalu mencium pipi kedua orang tuanya dan berlari kecil mengikuti sang kakak yang sudah keluar tadi setelah meminta izin pada kedua orang tuanya.


Dua puluh menit kemudian.


Arian tengah bersiap-siap untuk berangkat kekantor hingga suara langkah kaki menuruni anak tangga membuatnya menoleh dan terkejut saat melihat Revin yang baru saja turun dari lantai 2 dengan berlari.


"Astaga, Aku telat!" ucap Revin segera menyambar roti diatas meja yang sudah Ana beri selai strobery kesukaan Reana.


"Amu pegi dumu, Mom, Dad (Aku pergi dulu, mom, dad)" ucap Revin dengan mulut yang mengigit Roti dan segera berlari keluar dengan penampilan yang bisa dibilang acak-acakan.


Bagaimana tidak acak-acakan, rambut tidak dirapikan, baju seragam yang tidak terkancing semua, Ana yang melihat hal itu hanya bisa mengelengkan kepalanya, sedang Arian hanya bisa menghembuskan nafasnya.


Revin segera memakan dengan cepat roti yang ada dimulutnya kemudian segera memakai helmnya.


Revin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah, karena dia sudah benar-benar terlambat.


Di tengah perjalanan, Revin terus merutuki dirinya sendiri dan juga sang kakak.


'Sia**n, bagaimana bisa aku bangun telat, padahal tadi malam sudah tidur cepat,' rutuk Revin dalam hati kesal karena dirinya yang telat bangun padahal dirinya sudah tidur cepat tadi malam yaitu jam 3 pagi.


'Tumben tadi pagi Brother tidak membangunkanku, apa jangan-jangan dia tengah marah besar ya,' ucap Revin dalam hati mencoba berfikir kenapa sang kakak tidak membangunkannya seperti biasanya.


Delapan menit kemudian.


Revin segera menghentikan motornya diparkiran sekolah dan segera membuka helmnya dan berlari kearah kelas dengan cepat.

__ADS_1


Semua siswa dan siswi terkejut saat melihat Revin berdiri diambang pintu dengan keadaan yang acak-acakan dan juga nafas yang memburu akibat berlari.


Untung saja guru yang mengajar belum ada didalam kelas, jadi Revin tidak akan dihukum karena terlambat masuk kelas.


Revin mendudukkan diri dikursinya kemudian mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat berlari.


Carlos melirik malas kearah Revin, kemudian menatap Revin dari atas hingga bawah, lalu mengelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Ada apa melihatku seperti itu?" tanya Revin yang merasa aneh ditatapa seperti itu oleh Carlos.


"Akan lebih baik, jika penampilanmu itu kau benahi terlebih dahulu, bisa-bisa kau akan tetap terkena hukuman," ucap Carlos dengan menghembuskan nafasnya.


Revin mengernyit bingung, kemudian menundukkan kepalanya untuk melihat penampilannya yang menurutnya biasa saja, sama sekali tidak bermasalah.


"Jangan fikir jika penampilanmu itu sudah baik, itu benar-benar kacau tau!" ucap Carlos membuat Revin menghembuskan nafasnya.


Revin segera mengancing kancing baju seragamnya lalu sedikit merapikan rambutnya agat tidak terlalu berantakan.


* * *


"Bagaimana bisa, penampilanmu jauh lebih kacau dari sebelum-sebelumnya, apa yang terjadi pagi ini?" tanya Carlo yang penasaran dengan penampilan Reon yang begitu acak-acakan tadi pagi.


"Aku kesiangan," ucap Revin singkat padat dan jelas.


Carlos mengucek matanya berkali-kali mencoba memastikan orang dihadapannya itu.


"Kamu ... Revin apa Revan?" tanya Carlos heran dengan raut wajah terkejut.


Revin menatap Carlos dengan tatapan terkejut bukan main.


"Kamu Carlos apa Cirlos?" ucap Revin membuat Carlos menatap aneh sahabatnya itu.


"Kamp**t, aku tanya kamu Revan apa Revin? kalau aku jelas Carlos, karena aku tidak memiliki kembaran sepertimu," ucap Carlos yang mulai meninggikan suaranya membuat mereka menjadi pusat perhatian.


"Sepertinya kamu perlu dibawah kerumah sakit J, agar bisa berfikir baik," ucap Revin dengan nada suara yang khawatir sekaligus kesal.


Carlos mengernyit bingung mendengar ucapan Revin, yang mengatakan rumah sakir J.

__ADS_1


"Sejak kapan dikota A, ada rumah sakit J, perasaan tidak ada deh," ucap Carlos mencoba mengingat nama rumah sakit yang Revin ucapkan tadi.


"Adalah, Rumah sakit JIWA," ucap Revin dengan meninggikan suaranya diakhir ucapannya.


"Sia**n," umpat Carlos yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Revin.


Revin terus meminum jusnya dengan fikiran yang menjalar kemana-mana.


* * *


Hari ini, Vivian memutuskan untuk masuk sekolah, karena sudah merasa lebih baik.


Awalnya biasa-biasa saja karena Vivian sama sekali tidak bertemu dengan 4 orang yang sudah menguncinya digudang.


Hingga jam istirahat tiba, Vivian terkejut saat dirinya tengah duduk dikursi dikantin sekolahnya dan tiba-tiba 3 orang wanita bersujud dihadapannya.


"VIVIAN! KAMI MINTA MAAF SOAL KEJADIAN, KAMI BENAR-BENAR MINTA MAAF, TOLONG MAAFKAN KAMI, KAMI JANJI TIDAK AKAN MELAKUKAN APAPUN PADAMU, KAMI MOHON," ucap ke 3 gadia itu dengan bersujud dihadapan Vivian.


"A ... ada apa ini, aku sama sekali tidak mengerti," ucap Vivian dengan nada suara yang sedikit takut pada ke 3 orang itu, terutama dengan orang yang sudah menatapnya bingung dari kejauhan yang tidak lain adalah Syila.


"Kami mohon ampuni kami, kami berjanji, tidak akan malakukan hal itu lagi," ucap ke 3 gadis itu yang semakin membuat Vivian terkejut. pasalnya, ia sama sekali tidak pernah memberi tahu pada sang ayah soal kejadian yang menimpanya dan juga, Carlos sudah berjanji padanya tidak akan mengatakan hal apapun pada Ibu dan ayah mereka.


"Baiklah, aku sudah memaafkan kalian, jadi kalian tidak perlu minta maaf," ucap Vivian membuat ketiga gadis itu berbinar senang dan tiba-tiba, ketiga ponsel gadis itu berdering tanda panggian masuk.


Mereka bertiga pun mengangkat telfon bersamaan dengan hati yang sedikit senang, tapi tiba-tiba raut wajah ketiga gadis itu berubah menjadi terkejut bukan main.


Mereka terduduk lemas dengan pandangan kosong dan sedetim kemudian nereka bertiga pingsan.


Para siswa dan siswi mulai panik, mereka mulai memanggila guru-guru kekantin sedang Vivian menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


Syila yang melihat hal itu terkejut bukan main, ia segera menghampiri ketiga sahabatnya dengan Vino yang memberi arahan pada siswa laki-laki untuk segera membopong tubuh ketiga murid itu keruang UKS dengan segera.


Syila mulai menatap Vivian dengan tatapan benci sekaligus marah, tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya segera mengangkat telfon yang tidak lain dari sang ayah.


"Halo, Pa," ucap Sila saat mengangkat telfon dari sang ayah membuat Vivian menatap ngeri kearah Syila.


Raut wajah Syila berubah menjadi pucat, dan tiba-tiba ponsel yang ia pengang terjatuh dari tangannya dengan wajah yang begitu terkejut membuat Vivian semakin merasa aneh.

__ADS_1


__ADS_2