SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PENYERANGAN DADAKAN


__ADS_3

Pintu gerbang rumah besar keluarga Su telah tertutup rapat, saat empat remaja itu telah berada diluar.


Carlos menelan salivanya dengan susah payah, ia menoleh kearah kanan dan kirinya, dimana tiga orang sudah siap untuk memberikan pelajaran tambahan padanya.


"Carlos sia**n!" umpat kesal Revin dan segera memberi pelajaran pada sahabatnya itu.


"Revin, Hentikan! Kau membuat rambut rapiku menjadi acak-acakan!" teriak Carlos berusaha melepaskan lengan Revin yang memgunci lehernya, dengan kepalan tangan yang terus memanaskan kepala Carlos.


"Bodo amat! Mulutmu itu harusnya kau jaga, bodoh!" ucap kesal Revin dengan terus memberikan gratisan pada kepala Carlos.


Revan dan Reon hanya menghembuskan nafasnya, mereka tidak jadi memberi pelajaran pada Carlos, melihat betapa ganasnya Revin membuat mereka ibah juga pada sahabatnya itu.


Beberapa saat kemudian.


Revin menghembuskan dan menepuk pelan tangannya, ia merasa lega telah memberi pelajaran untuk pria yang selalu berhasil membuat ia sial.


Carlos segera merapikan rambutnya seperti semula dengan pomade yang ia bawa ditasnya, membuat Revan dan Reon menatapnya dengan tatapan datar.


"Sebaiknya sekarang kita cari tempat makan untuk mengisi perut kita," ucap Revan yang diangguki oleh Reon.


Revin dan Carlos melangkahkan kakinta dibelakang Revan dan Reon, dengan sesekali menghembuskan nafasnya lelah.


"Brother ... memangnya ada restoran yang buka jam segini kah?" tanya Revin yang mulai cemas, karena perutnya yang sudah demo minta diisi.


Revan menghentikan langkahnya, membuat ketiga pria itu ikut menghentikan langkah mereka.


Revan menoleh kearah Reon dengan tatapan yang sulit diartikan. Reon mengernyit tanda tidak mengerti dengan sahabatnya itu, yang tiba-tiba menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Revan menghembuskan nafasnya, lalu melihat jam tangan yang melingkar sempurna dipergelangan tangannya, lagi-lagi ia menghembuskan nafasnya, ini masih jam 5:40 dimana mereka bisa menemukan restoran yang buka jam segini.


"Bagaimana jika kita membeli sesuatu di minimarket saja?" usul Revan yang hanya mampu diangguki oleh ketiga pria itu.


Mereka pun kembali melangkahkan kaki mereka menuju kampus, yang jaraknya sekitar 1 kilo meter lebih dari kediaman Su.


"Revin, Carlo ...," panggil Revan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh pada Carlos dan Revin.

__ADS_1


Revan menyodorkan kartu debit pada Revin, dan menoleh kearah seberang jalan, dimana ada minimarket yang sudah buka.


"Ayo Carlos!" ajak Revin dan menarik kerah baju Carlos untuk segera menyebrang jalan, dan untungnya jalanan saat itu cukup sepi membuat mereka mudah untuk menyebrang jalan.


Revan dan Reon duduk dibangku taman yang ada didekat mereka, sembari menunggu kedatangan Revin dan Carlos.


"Apa menurutmu Grandpa tau soal orang itu?" tanya Reon tiba-tiba memecah keheningan.


Revan terdiam, dengan pandangan lurus kedepan melihat kesebrang jalan, tepatnya keminimarket itu.


"Tidak! Dia tidak tau siapa orang itu. Tapi firasatku mengatakan, jika orang itu memiliki dendam masalalu dengan orang tua kita," ucap Revan dengan pandangan lurus kedepan, dan melihat jika Revin dan Carlos tengah membayar belanjaan mereka lalu keluar dari minimarket itu.


Reon menghembuskan nafasnya, lalu menoleh kearah Revan.


"Re ....," ucapan Reon terhenti, saat tiba-tiba Revan menarik kepalanya untuk menunduk, hingga terdengar suara tembakan yang mengenai pohon dibelakang mereka.


Reon terkejut kemudian mendongak dan mendapati seseorang didepan gedung lima lantai yang tidak jauh dari mereka, tengah membidik kearah mereka.


Revin dan Carlos yang baru saja keluar dari minimarket dan berniat untuk menyebrang jalan, terkejut mendengar suara tembakan itu dan melihat Revan dan Reon yang mendadak berdiri dari duduk mereka, lalu berlari untuk menyebrang jalan, meninggalkan tas mereka diatas bangku taman.


Revin dan Carlos saling menatap satu sama lain, lalu menatap kearah Revan dan Reon yang berlari kearah bangunan yang tidak jauh dari minimarket tersebut, dan terlihat seorang pria yang tengah berlari menjauh dari mereka.


"Aku rasa tidak," ucap Revin santai dan mereka pun memyebrang jalan, untuk makan roti yang baru saja mereka beli.


Revin dan Carlos mendudukkan diri dibangku taman, disamping bangku yang diduduki oleh Revan dan Reon tadi.


"Coba tebak, apa yang akan terjadi pada pria itu?" ucap Carlos dengan mulut yang menguyah roti.


"Mati!" ucap Revin dan kemudian mengigit roti ditangannya.


Mereka pun menyantap roti mereka dengan tenang, tanpa sedikit pun rasa takut, jika dua orang itu terluka.


* * *


BUK!

__ADS_1


Pria itu terjatuh saat Revan menendangnya hingga masuk ke gang kecil yang sangat sepi, tidak jauh dari tempat awal mereka.


Pria itu beringsut mundur dan melihat kebelakang, dimana hanya ada tembok.


"Jawab dengan baik, kenapa kau melepaskan timah panas itu kearah kami?" tanya Revan dengan aura membunug yang kini keluar dari tubuhnya.


"Dasar anak kecil, kau fikir bisa menakutiku dengan wajahmu itu, cih," pria itu berucap dengan memandang remeh kearah Revan dan Reon, meski sebenarnya ia sudah merinding.


"Biar aku yang memulainya," ucap Reon kemudian melangkahkan kakinya mendekat kearah pria itu yang semakin memundurkan tubuhnya.


Pria itu mengarahkan pistol kearah Reon dan menarik pelatuknya, tapi sama sekali tidak ada yang terjadi.


Pria itu mulai berkeringat dingin, hingga tiba-tiba bogem mentah mendarat keras dipipinya, membuat ia terpental dan jatuh ditanah.


"Itu untuk peluru yang hampir mengenaiku," ucap Reon dingin dan berjalan menghampiri pria itu yang berdiri lalu berniat berlari, tapi Reon dengan cepat menghentikannya.


"AAAAA!" teriak pria itu saat tangan kanannya dipatahkan oleh Reon.


Tidak hanya disitu, Reon kembali mematahkan tangan kiri pria itu dan teriakan kembali mengema digang kecil itu.


"AAAAA!" teriakan pria itu semakin keras hingga membuat Reon membungkam mukut pria itu dan menekan kepala pria itu ketanah dengan sangat keras.


"Aku belum selesai tau," ucap Reon dan mengangkat kepala pria itu dengan tangannya, dan membenturkannya dengan keras berkali-kali hingga kepala pria itu mengelurkan darah, dan perlahan-lahan menutup mata untuk selamanya.


Reon bangkit kemudian membersihkan tangannya dengan sapu tangan yang ia bawa.


"Kita apakan mayatnya?" tanya Reon, karena ia tahu, saat ini tidak ada anggota Dragon night yang berada didekat mereka.


"Bakar, aku rasa pria itu memiliki pemantik api," ucap Revan santai dan Reon segera berjongkok dan mencari pemantik api disaku celana pria itu.


"Ketemu," ucap Reon ketika menemukan pemantik api disaku jas pria itu.


Reon menyalakan pemantik api itu dan kemudian membuangnya diatas tubuh pria itu, yang perlahan-lahan menyebar keseluruh pakaian pria itu.


"Ayo!" ucap Revan lalu berbalik meninggalkan gang kecil itu, dengan Reon yang mengekor dibelakangnya.

__ADS_1


Mereka berjalan kembali kebangku tempat mereka duduk tadi dan melihat dari kejauhan, dimana Revin dan Carlos tengah makan roti dengan tenang tanpa gangguan.


'Aku rasa perkiraanku salah kali ini, bukan hanya satu orang yang mengincar kami di negara S, melainkan ada beberapa. Kami harus segera menemukan orang-orang itu, jika tidak ... akan sangat berbahaya bagi kami,' ucap Revan dalam hati dan semakin melangkahkan kakinya mendekat kearah Revin dan Carlos.


__ADS_2