SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
TERAKHIR KALI


__ADS_3

Revin menghentikan motornya membuat Vivian segera melepaskan pelukannya dan melipat tangannya didepan dada dengan wajah garangnya.


Revin yang melihat Vivian dari spion motornya hanya tersenyum kecil, kemudian melepaskan helmnya lalu menaruhnya diatas motor.


"Turun!" ucap Revin dengan nada memerintah membuat gadis itu mengerang kesal.


Dengan cepat Vivian turun dari motor dengan pipi yang mengembul membuat Revin seakan ingin mencubit pipi gadis itu gemas.


Tiba-tiba Revin menarik tangan Vivian dan gadis itu hanya pasrah tidak berniat memberontak atau melepaskan tangan pria itu, karena jelas ia tidak akan bisa.


"Bisakah wajahmu itu sedikit tersenyum? kau akan membuat semua orang mengira aku penculik," ucap Revin tanpa menoleh pada gadis dibelakangnya yang masih dengan wajah masamnya.


Vivian yang mendengar hal itu memutar bola matanya malas.


'Dasar playboy! Kenapa coba dia harus kayak gini, kemarin-kemarin bahkan tidak pernah menampakkan wajahnya di hadapanku lagi dan sekarang malah seperti ini, maunya apa sih?' ucap kesal Vivian dalam hati.


Vivian mengedarkan pandangannya dan mengernyit saat menyadari jika mereka tengah berada di taman bunga yang begitu indah.


"Apa ini?" tanya Vivian heran dengan apa yang ia lihat.


'Indah sekali,' ucap Vivian dalam hati, terkesima dengan taman bunga itu.


Revin melepaskan tangan Vivian saat mereka tiba ditengah-tengah taman bunga itu, disamping air mancur mini.


Vivian mengedarkan pandangannya kesegala arah, sangat-sangat takjub dengan apa yang ia lihat.


Tiba-tiba .....


Cup


Revin mencium bibir Vivian, bukan ciuman singkat. Vivian membulatkan matanya dengan sempurna seperti ingin keluar dari tempatnya saat merasakan bibir Revin yang perlahan-lahan bergerak melu**t bibir mungilnya.


Vivian tidak melawan atau pun mencoba mendorong Revin, ia hanya terdiam. Entah mengapa ia merasa ingin waktu berhenti sekarang agar hal ini tidak cepat berlalu.


Revin melepas pangutannya setelah hampir 2 menit tidak juga ada balasan dari Vivian yang kini terdiam bagai patung.


"Ini hukuman karena kau mengumpat padaku tadi," ucap Revin menyadarkan Vivian dari keterkejutannya.

__ADS_1


Revin tersenyum kecil melihat wajah Vivian yang merona merah hingga ke telinga.


"Kalau kamu masih ingin melakukannya, dengan senang hati aku bersedia," ucap Rehin dengan senyum liciknya membuat Vivian menatapnya horor.


"Dasar gila!" ucap Vivian kesal pada pria yang dengan santaynya duduk dipinggiran air pancuran itu.


"Sudahlah, sini duduk di sampingku!" ucap Revin dengan menepuk tempat duduk disampingnya.


Vivian membuang muka kemudian duduk sedikit jauh dari Revin dipinggir air mancur mini itu.


Revin menghembuskan nafasnya melihat hal itu, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Vivian.


Vivian melirik tajam Revin yang kini duduk disampingnya. Vivian berniat beranjak dari duduknya tapi Revin menahan tangannya, sehingga mau tidak mau Vivian kembali duduk dengan wajah kesalnya.


Tiba-tiba Revin menyentuh kepala Vivian, membuat gadis itu menoleh dan terkejut saat wajah Revin begitu dekat dengan wajahnya, kemudian kening Revin dan Vivian bertemu.


Revin menatap lekap iris mata Vivian yang juga menatap lekat padanya.


"Maaf jika aku sudah melakukan kesalahan dimasalalu, maaf juga karena sudah membuatmu menjadi seperti sekarang. Mungkin tidak baik bagiku untuk merahasiakannya padamu sampai sekarang ini, tapi kali ini aku akan memberitahukan hal yang sudah aku rahasiakan dari semua orang padamu," ucap Revin panjang lebar masih dengan kening yang bersentuhan dengan kening Vivian.


Vivian masih terdiam seribu bahasa mendengar hal itu, ia bingung dengan apa yang ingin akan dikatakan oleh Revin.


"Aku tidak bermaksud untuk membuat dia meninggal, aku tidak sengaja saat itu, percayalah. Aku tau kau pasti berfikir apa yang aku katakan saat ini 'kan?" tanya Revin disela-sela ucapannya.


Vivian menganggukkan kepalanya pelan, masih dengan posisi kening mereka saling menyentuh satu sama lain.


"Viera Zang keluarga yang masih ada dua tahun yang lalu, tapi mendadak menghilang." ucap Revin yang membuat suasana mendadak tegang.


Entah mengapa Vivian tiba-tiba menelan salivanya dengan susah payah.


"Aku yang telah membunuh mereka semua," ucap Revin membuat Vivian membelalakkan matanya tidak percaya.


Revin tau jika gadis dihadapannya sangat terkejut, tapi ia tetap akan melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan.


"Viera Zang adalah teman baikmu dulu, apa kau ingat?" ucap Revin masih dengan posisi mereka.


Tiba-tiba terlintas diingatan Vivian tentang masa lalunya 2 tahun yang lalu dan hal buruk yang ia lihat sebelum kejadian itu.

__ADS_1


Vivian menjauhkan Revin, mendorong tubuh pria itu, kemudian berlari menjauh dari pria itu dengan memori yang perlahan-lahan berputar didalam fikirannya.


'Pembunuh,' ucap Vivian dalam hati dengan terus berlari hingga menemukan taksi yang berlalu lalang jalan.


Ia menghentikan salah satu taksi itu lalu segera naik dengan keringat dingin dikeninyanya.


"Jalan pak!" ucap Vivian dengan nafas yang memburu, karena takut.


Vivian menyentuh kepalanya yang mendadak sakit, dan perlahan-lahan semua memori yang terlupakan muncul.


* * *


Disisi lain, Revin masih setia duduk dipinggiran air mancur mini itu dengan wajah sayunya.


"Sudah kuduga, kejadiannya pasti akan seperti ini, ini terakhir kalinya aku menemuinya, kalau setelah dia ingat semuanya dan masih tidak ingin bertemu denganku .... maka aku harus menjauh darinya," ucap Revin dengan kepala yang tertunduk dengan tangan yang mengacak rambutnya.


Revin mendongak saat merasakan setetes air mengenai tengkuknya.


"Hujan, heh. Tau saja kalau aku sedang bernasib sial," ucapnya pada dirinya sendiri dengan tersenyum getir.


* * *


Tiga puluh menit kemudian.


Revan menuruni tangga dengan terburu-buru, membuat Ana dan Reana yang tengah menonton tv dengan memakan ec cream yang dibelikan oleh Carlos, menoleh pada Revan yang berjalan melewati mereka.


"Kau mau kemana Revan?" tanya Ana pada putranya itu, sedang Reana memakan es creamnya dengan menatap sang kakak.


Revan menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada sang ibu.


"Ingin mencari Revin, Mom. Diluar tengah hujan deras, tapi dia belum juga pulang. Reana berhenti memakan es creammu, kau bisa sakit perut nanti," ucap Revan menjelaskan sembari menasihati adiknya itu.


Ana hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah sedari tadi menasehati putrinya itu, tapi sama sekali tidak mendengarkan apa yang ia ucapkan dan akhirnya pasrah.


"Tanggung kak, tinggal dikit lagi," ucap Reana dengan memperlihatkan cup es cream coklat porsi jumbo pada kakaknya itu.


"Terserah kau sajalah," ucap Revan yang pasrah dengan adiknya yang pencinta es cream itu.

__ADS_1


"Tapi Revan, sekarang diluar sedang hujan deras, pakailah jas hujan atau mobil saja untuk mencari Revin," ucap Ana dan dengan cepat Revan menganggukkan kepalanya.


Saat Revan ingin melangkahkan kakinya menuju garasi, ia melihat seseorang yang masuk kedalam rumah dengan kondisi basah kuyub.


__ADS_2