
Rafael berniat untuk masuk kedalam kamar rawat putranya. Namun ia terdiam saat mendengar percakapan Reon dengan seaeorang diseberang telfon, yang ia yakini adalah orang spesial bagi putranya.
Ia tersenyum kecil mendengar Reon yang berjanji akan membawanya dan Sarah ke kota M, Rafael masih setia mendengar percakapan putranya itu, tanpa ada niat untuk masuk.
"Kota M?" lirih Rafael lalu membuka pintu saat Reon selesai menelfon.
Reon menoleh dan menatap sang ayah yang juga menatapnya dengan tersenyum. Rafael berjalan mendekat kearah sofa didalam ruangan itu dengan sesekali melirik kearah putranya yang kini terlihat tengah memainkan game diponselnya.
Tiba-tiba Reon beranjak dari brangkar dan bergegas ke kamar mandi, meninggalkan ponselnya diatas brangkar.
Pintu kamar mandi tertutup, membuat Rafael segera berlari kecil untuk meraih ponsel putranya itu. Rafael membuka kata sandi ponsel Reon lalu mengecek nomor yang baru saja dihubungi oleh putranya beberapa saat yang lalu.
"Liona."
Rafael mengernyit dan segera melihat setiap digit dari nomor Liona, ia segera meletakkan ponsel Reon ditempatnya dan kembali duduk disofa tempatnya tadi.
Reon keluar dari kamar mandi, lalu menoleh pada Rafael yang tengah memainkan ponselnya.
* * *
"Kamu kok ngga jawab chatku beberapa hari ini sih, bikin aku khawatir tau."
Carlos tersenyum kecil melihat chat dari Felisia, sungguh sangat mengemaskan menurutnya.
"Maaf, sayang. Aku ngga bisa balas chat kamu kemarin, karena ada kecelakaan kecil buat aku jadi masuk rumah sakit," isi pesan Carlos dan menanti balasan dari pacarnya itu.
Tidak lama setelah itu, balasan dari Felisia masuk tanpa henti, membuat Carlos terkejut.
"Apa! Kecelakaan!"
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Ngga ada yang luka kan?
"Kok bisa sih, gimana ceritanya?"
Carlos sedikti terdiam, ia tidak percaya kalau reaksi Felisia akan semenakutkan ini, pacarnya itu benar-benar orang yang khawatiran tingkat tinggi, mambuat ia harus menyembunyikan kebenaran lagi kali ini.
"Iya, aku baik-baik aja kok. Cuma luka dikit aja di kepala, tapi udah diperban kok," isi pesan Carlos, mencoba untuk tidak membuat Felisia semakin khawatir.
"Beneran kamu ngga apa-apa? Kamu ngga bohongkan? Pasti ada yang luka parah, jangan bohong! Ada luka parah kan?"
__ADS_1
Carlos terdiam melihat pesan Felisia yang sungguh tepat sasaran, membuat ia merasa bersalah sekarang.
"Iya, ngga apa-apa, suer deh. Aku baik-baik aja," isi pesan Carlos menyakinkan Felisia.
"Syukur deh kalau baik-baik aja. Kamu udah makan belum?"
Carlos tersenyum kecil melihat hal itu, ia merasa sangat tenang sekarang, karena Felisia sudah tidak terlalu khawatir lagi.
"Iya, aku udah makan tadi. Udah minum obat juga."
"Bagus kalau gitu, awas aja ya kalau lupa minum obat."
"Iya, ngga akan lupa minum obat kok."
"Ya udah, aku mau belajar lagi ya, soalnya banyak tugas nih."
Carlos terdiam melihat hal itu, sepertinya ia harus berbicara sekarang dengan Felisia tentang hal itu.
"Sayang, aku mau ngomong sesuatu, penting banget."
"Ngomong apa?"
"Kamu serius?" isi pesan Felisia yang malah balik bertanya.
"Iya, sayang. Aku serius banget malahan."
"Kalau memang serius, buktiin ya. Jangan cuma naruh harapan palsu dan buat aku berharap lebih."
"Aku ngga bohong, aku serius. Dan aku bakal buktiin sama kamu, tinggal nunggu aku lulus, abis itu aku pasti bakalan ke rumah kamu, buat lamar kamu. Salah bukan lamar, lebih tepatnya segera nikahin kamu," isi pesan Carlos penuh keyakinan.
"Aku pengang janji kamu, kalau kamu nyakitin aku sampai kapan pun ngga akan aku maafin."
"Iya, aku janji sama kamu. Dan ada satu hal lagi yang aku ingin kasih tau sama kamu," isi pesan Carlos yang merasa sedikit takut.
"Apa?"
"Kamu akan terima aku apa adanya kan? Ngga akan nolak aku saat tau siapa aku sebenarnya," isi pesan Carlos yang berusaha untuk menahan rasa takutnya, takut jika Felisia tidak akan menerimanya nanti, saat tau siapa dia sebenarnya.
"Akukan udah janji sama kamu, sekali aku janji ngga akan aku ingkari. Aku janji ngga akan ninggalin kamu dalam keadaan apapun, bahkan jika kamu tidak memiliki kekuasaan sekalipun."
Carlos tersenyum kecil melihat hal itu, ingin sekali rasanya ia melompat kegirangan saat ini. Tapi mengingat jika bekas operasinya belum mengering sempurna membuat ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"I Love you, aku sangat-sangat mencintaimu," ucap Carlos lalu kemudian mengirimkan pesan suara itu pada Felisia.
"I Love You too, Carlie," balas Felisia dengan pesan suara, membuat Carlos berteriak tidak karuan didalam kamar rawatnya.
* * *
Revin menatap ponselnya yang sama sekali tidak berdering sedari tadi, ia menantikan pesan balasan dari gadis kecilnya. Namun sudah tiga puluh menit ia menunggu, gadis itu belum juga membalas pesannya.
Ia melirik pada kakaknya yang masih tertidur pulas, sementara dirinya tidak bisa tidur sama sekali, padahal sudah waktunya tidur siang.
'Kenapa Vivian belum juga membalasnya,' ucap Revin dalam hati, tidak karuan.
Terdengar suara deringan ponsel Revin yang menandakan pesan masuk, dengan cepat ia mengambil ponselnya dengan tidak sabaran.
Senyum mengembang dibibir Revin saat melihat ternyata Vivian yang mengirimkannya pesan, akhirnya penantiannya terbalaskan.
"Maaf ya, tadi aku ngga bisa balas pesan kamu, cuma read doang. Soalnya tadi ada guru yang masuk ke kelas."
Revin tersenyum melihat balasan pesan Vivian, pantesan sedari tadi ia menunggu pesan balasan dari Vivian tapi sama sekali tidak ada, ternyata ada guru toh.
"Iya, tidak apa-apa. Kalau gitu aku nganggu kamu belajar dong?!" isi pesan Revin yang merasa jika menjadi penganggu konsentrasi belajar gadis itu.
Memang dia tidak ingin mengirim pesan pada Vivian, tapi rasa rindu mengalahkan segalanya, membuat ia dengan cepat mengirim pesan pada gadis itu.
"Ngga kok, ngga nganggu sama sekali."
Revin semakin tersenyum melihat hal itu, hingga tidak peduli dengan perawat yang masuk ke kamar rawatnya dan Revan untuk mengganti infus kakaknya dan dirinya.
"Dua tahun lagi kamu lulus sekolah kan?"
Revin menggenggam ponselnya dengan begitu erat setelah mengirimkan pesan itu pada Vivian, ia ingin bertanya pada gadis itu tentang masa depan mereka nantinya.
"Iya, Reana juga kan lulus dua tahun lagi."
Revin mengigit bibir bawahnya, antara ia menanyakannya dengan tidak. Perawat yang tengah menganti infusnya, menantapnya dengan tatapan aneh, hingga tiba-tiba Revin menoleh dan menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Saya tanya dia atau tidak?" tanyanya tiba-tiba, membuat perawat itu terdiam seketika.
"Em, ka-kalau menurut saya, lebih baik ditanyakan," jawab perawat itu dengan ragu, ragu jika bukan dirinya yang diajak berbicara oleh pria itu.
"Oh, oke. Terima kasih," ucap Revin berterima kasih pada perawat itu, yang semakin mematung ditempatnya.
__ADS_1