SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PERANG


__ADS_3

Revan, Revin, Reon dan Carlos jatuh ke kolam renang membuat semua orang disana terkejut.


Seorang pria tersenyum penuh kemenang ketika berhasil menjatuhkan empat orang yang ia benci kedalam kolam renang.


"Akh, sialan! Siapa yang berani melakukan hal ini, hah!" teriak kesal Carlos yang kini berdiri disamping Reon yang masih berada didalam air.


Semua orang disana terkejut melihat Carlos yang dalam keadaan basah kuyub tanpa kacamata, Reon berdiri dengan kesal disamping Carlos dan dengan Revan yang berdiri disampingnya mengusap wajah dari air yang terus menetes dari rambutnya.


"Sialan! Siapa yang berani mendorong, HAH!" kesal Revin lalu menatap satu persatu orang yang berada disana hingga tatapannya jatuh pada pria yang menampakkan wajah biasa saja.


Revin mengepalkan tangannya dan bersiap untuk segera menghampiri pria sialan yang sudah berani mendorong mereka. Tapi sebelum ia melangkahkan kakinya, Revan sudah lebih dulu memengang bahu adiknya itu, mengisyaratkan untuk diam.


Semua orang menatap Revan, Reon dan Carlos dengan tatapan tidak percaya, sedang Revin terus menerus menatap tajam pria sialan yang sudah membuat mereka jatuh ke kolam.


"Apa aku salah lihat, tiga pria itu berubah menjadi tampan."


"Astaga! Ternyata tiga pria itu juga sangat tampan."


"Ya Tuhan, apa ini yang dikatakan dari cupu jadi raja."


bisik-bisik para mahasiswi menatap keempat orang yang kini berjalan mendekat ketepi kolam untuk segera beranjak dari kolam itu.


Mereka semua terkejut ketika Revan, Revin, Reon dan Carlos naik dari kolam itu.


"Astaga! Mataku termanjakan melihat pemandangan indah ini."


"Kenapa mereka bisa memiliki tubuh yang begitu mengoda seperti itu."


"Ah, aku siap untuk menjadi pemuas nafsu mereka."


Lagi-lagi para mahasiswi berbisik melihat tubuh atletis empat orang itu, meski baru berumur 18 tahun Revan, Revin, Reon dan Carlos memiliki tubuh yang sangat-sangat mengiurkan bagi para wanita ketika melihatnya.


"Berakhirlah ketenanganku," lirih Carlos segera berjalan meninggalkan tempat itu, mengikuti ketiga sahabatnya yang telah pergi lebih dulu.


Revin menutup pintu saat mereka berempat masuk kedalam ruang ganti, Revin menatap Reon dan Carlos sedang Revan tengah menelfon seseorang untuk membawa pakaian ganti mereka.


Tiba-tiba Revin tersenyum lebar, membuat Reon dan Carlos memandang aneh padanya. Reon dan Carlos bertukar pandang lalu kembali menatap Revin yang tak henti-hentinya tersenyum lebar.


'Dia sudah gila,' ucap Reon dan Carlos dalam hati.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" tanya Reon yang begitu penasaran karena Revin masih saja tersenyum.


Revan menoleh kearah tiga orang itu setelah mematikan panggilan sepihak pada seseorang yang akan membawa baju ganti untuk mereka.


"Aku hanya senang saja," ucap Revin ambigu membuat Reon dan Carlos mengernyit bingung.


Reon dan Carlos lagi-lagi saling menatap dengan kening mengerut.


'Dia benar-benar sudah gila,' ucap Reon dan Carlos dalam hati dengan menatap ngeri pada Revin.


"Apa yang membuatmu senang?" tanya Revan yang begitu penasaran dengan apa yang membuat adiknya itu senang.


"Karena aku tidak akan menderita sendiri," ucap Revin dengan nada suara begitu ceria.


Revan, Reon dan Carlos terdiam mendengar hal itu, lalu kemudian mengumpat pada Revin.


"Dasar sinting!" umpat Reon dan Carlos, sedang Revan hanya terdiam dengan sesekali mengedipkan matanya.


Revin hanya acuh, tidak menanggapi umpatan kedua sahabatnya itu.


Lima belas menit kemudian.


"Sialan! Kenapa orang-orang itu lama sekali sih!" ucapnya kesal, lalu kembali bersin.


Revan, Revin dan Reon menatap prihatin pada Carlos, karena sepertinya sahabat mereka itu tidak lama lagi akan terkena flu.


Pintu ruangan diketuk dari luar, Revan berjalan mendekat kearah pintu lalu membuka dan menatap datar pada seseorang dihadapannya.


"Tuan muda, ini baju untuk kalian," ucap Franco dengan tersenyum pada Revan.


"Terima kasih," ucap Revan singkat.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Franco lalu berbalik dan pergi dari hadapan Revan.


Reva segera menutup pintu lalu berbalik dan memberikan masing-masing paper bag pada tiga orang itu. Setelah menerima paperbag dari Revan, mereka segera mengganti pakaian mereka agar tidak terkena flu seperti Carlos.


* * *


BUG!

__ADS_1


Satu bogem mentah mendarat dipipi seorang pria yang tengah duduk santai didalam kelas, karena kelas selanjutnya akan dimulai 30 menit lagi. Jadi para mahasiswa dan mahasiswi bisa sedikit bersantai.


Beberapa orang terkejut melihat hal itu, sedang pria yang mendapat pukulan itu menatap marah pada orang yang sudah memukulnya.


"Sialan!" umpatnya kesal lalu bangkit dan melayangkan bogem mentahnya pada orang yang memukulnya.


Orang itu menghindar dan kembali melayangkan pukulan keras diperut pria itu.


"Ugh," rintih pria itu dengan terduduk dilantai mendapat hantaman kuat diperutnya, "Kenapa ka memukulku sialan!" ucapnya kesal pada orang yang memukulnya itu.


"Itu pukulan karena kau sudah mendorong kami kekolam renang tadi," ucap Revin yang menatap marah pada pria yang sudah ia pukuli sebanyak dua kali itu.


Pria itu mengepalkan tangannya, lalu mematap satu persatu orang yang berdiri dibelakang Revin.


"Cih, kalian bertiga hanya bisa bersembunyi dibelakangnya kan? Hanya wajah kalian saja yang menjadi daya tarik untuk wanita, tapi kalian sama sekali tidak punya kekuatan ataupun kekuasaan!" gertak pria itu yang membuat Revin mengepalkan tangannya, lalu berniat untuk kembali memukul pria dihadapannya itu.


BUG!


Satu tendangan keras mengenai pria itu, hingga membuat tubuhnya terpental cukup jauh dari tempatnya dan mengenai meja dibelakangnya.


Revin terdiam melihat hal itu, ia menatap Carlos yang mengepalkan tangannya dengan nafas yang memburu. Ia masih tidak puas jika hanya memberikan tendangan pada pria yang sudah berani mendorongnya hingga jatuh kekolam.


Semua orang yang ada di ruangan itu hanya mampu terdiam, mereka tidak berani untuk ikut campur dan menolong pria yang tengah dipukuli itu, karena bisa saja mereka juga akan kena imbasnya.


"Sebaiknya kau jaga mulutmu itu, jika kau tidak ingin mendapatkan hal yang lebih buruk dari ini!" kesal Carlos berusaha untuk meredam amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun.


Revan menatap datar pada pria itu, ia ingat nama pria itu yang adalah anak tertua dari keluarga Fu dikota S. Keluarga yang cukup sombong dan pelit menurut Revan, karena mereka sama sekali tidak peduli pada orang-orang kurang mampu disekitar mereka.


Carlos berjalan kearah kursinya, lalu duduk disana, berusaha untuk menenangkan fikirannya. Karena ia tidak ingin membunuh siapapun dikampus ini, kecuali orang yang berniat untuk membunuh mereka.


Revan, Revin dan Reon melangkahkan kaki mereka kekursi masing-masing, mengabaikan pria yang masih terdiam ditempatnya menatap penuh dendam kearah mereka.


Saat Revan ingin mendudukkan diri dikursinya, tiba-tiba ponselnya berdering, ia dengan cepat melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


"Perang akan segera dimulai, coba tebak ... apa yang akan menjadi pembukanya?"


Isi pesan dari nomor yang sama seperti yang mengirimkan pesan padanya kemarin, Revan mengepalkan tangannya berusaha untuk mengabaikan pesan itu sekarang. Tapi lagi-lagi ponselnya berdering membuat ia mengerang kesal lalu kembali membuka pesan dari pria itu.


"Dia akan menjadi pembuka perang ini."

__ADS_1


Isi pesan yang lalu diikuti oleh foto seorang gadis manis membuat Revan terkejut bukan main.


__ADS_2