
Pukul 10:30 pagi.
Saat ini Revan, Revin, Reon dan Carlos tengah berada disalah satu cafe dinegara S, karena hari ini adalah hari minggu, waktu yang sudah ditentukan untuk mereka beristirahat dari hal yang menyiksa.
Mereka keluar tanpa pengawasan, dan juga mengunakan motor yang sudah disediakan oleh Daenji, motor besar yang hampir sama dengan motor mereka dinegara S.
"Kenapalah hidupku kayak gini," ucap Carlos lesuh dengan kepala yang bersandar pada punggung kursi dan mendongak keatas.
"Sudah nasibmu sial terus," ucap Revin dengan meminum jus yang mereka pesan tadi.
Carlos melirik sekilas kearah Revin, sungguh tidak bisa menghibur teman sendiri, yang ada malah menyindir.
"Oh iya, Vin. Bukankah kau memiliki pacar yang hari itu meminta ijin padamu untuk pergi ke negara S, melanjutkan pendidikannya. Dimana dia? apa sudah tidak terhubung dengamu?" tanya Reon pada Revin yang hanya berwajah datar.
"Kau masih mengingatnya? padahal itukan sudah lama sekali, bahkan sudah ada satu tahun, dan dia bukan pacarku lagi, cuma mantan," ucap Revin panjang lebar menekan kata terakhirnya.
"Iya mantan, masalah tambahan," ucap Carlos dengan nada menyindir yang tepat menusuk hati Revin, hingga membuat sesuatu dibawah meja bergerak dan menginjak dengan keras kaki Carlos.
"Aduuhh!" teriak Carlos dan reflesk berdiri dari duduknya saat kakinya diinjak dengan keras oleh Revin.
Orang yang berada didalam cafe tersebut menoleh kearah Carlos, dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sia**n kau, kau benar-benar akan membuat kakiku remuk tau!" ucap Carlos dengan kesal sembari mendudukkan dirinya kembali kekursi.
"Makanya jangan berbicara yang tidak-tidak jika kau tidak ingin terkena masalah baru," ucap Revin santai, sedang Revan hanya menghembuskan nafasnya, melihat tingkah laku dua orang itu.
"Besok giliran Carlos yang mencuci!" ucap Reon membuat Carlos terdiam, dan menoleh padanya.
"Kok aku?" tanyanya dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja kamu! Karena dua hari yang lalu sudah giliranku, bukannya perjanjiannya kita akan bergiliran mencuci pakaian, dan aku sudah, bahkan mencuci dengan bersih pakaian kalian!" ucap Reon dengan menaikkan sedikit nada suaranya, semakin membuat orang-orang didalam cafe, menatap aneh pada mereka.
Bagaimana tidak menatap aneh, mereka duduk didalam cafe dengan memakai jaket dan tidak lupa menutup kepala mereka dengan topi berwarna hitam, yang membuat mereka terlihat seperti stakler.
__ADS_1
Carlos dan Revin yang mendengar ucapan Reon, hanya tersenyum kikuk dengan mengaruk tengkuk mereka yang tidak gatal, sedang Revan memilih untuk menatap keluar kaca transparan cafe itu, yang memperlihatkan mobil yang berlalu lalang dijalan raya.
Revan mengernyit saat melihat seseorang yang ia kenal tengah berbicara dengan seorang pria, Revan mengepalkan tangannya dan bangkit dari duduknya, membuat ketiga orang itu menatapnya bingung.
Revan segera berjalan keluar dari cafe, meninggalkan Revin, Reon dan Carlos yang terdiam, tanda bingung.
"Ada apa dengan kakakmu?" tanya Reon pada Revin yang duduk dihadapannya.
Revin mengedikkan bahunya tanda tidak mengerti, dan dengan cepat bangkit dari duduknya mengikuti Revan yang pergi entah kemana.
Melihat hal itu, Reon dan Carlos segera bangkit setelah meletakkan beberapa lembar uang diatas meja.
* * *
"Saya minta maaf tuan, sekali lagi saya minta maaf," ucap seorang gadis yang tidak lain adalah Rania pada pria yang berdiri dihadapannya.
Rania benar-benar tidak sengaja, ia yang baru saja datang dari toko buku dan berniat pulang ke rumah, malah tidak sengaja menabrak pria itu, membuat beberapa buku yang ia beli, berserakan didepan pria itu.
Rania mengambil buku itu dengan mengucapkan terima kasih.
"Ini sudah dua kali kita bertemu, sepertinya kita berjodoh, bagaimana jika kita berkenalan," ucap pria itu mengulurkan tangannya pada Rania, berniat mengenal gadis itu, gadis yang menarik perhatiannya.
Rania terdiam sejenak lalu menatap pria itu dengan tangan yang masih mengulur padanya, saat Rania berniat membalas uluran tangan pria itu, tiba-tiba seseorang menarik pinggangnya hingga membuat ia kini berada didekapan seseorang yang tidak tau siapa, karena ia belum menoleh kebelakang.
Pria itu terdiam saat seseorang dengan posesif memeluk pinggang Rania dan menatap tajam padanya, pria itu tidak melihat jelas wajah orang itu karena tertutup topi dan tudung jaketnya.
"Baiklah, semoga kita bertemu lagi, nona," ucap pria itu lalu berbalik untuk pergi, hingga sebuah suara membuat ia tersentak.
"Semoga hal itu tidak terjadi dan tidak akan ada pertemuan selanjutnya," ucap seseorang yang memeluk Rania, dengan dingin dan datar.
Pria itu hanya mengelengkan kepalanya lalu berlalu pergi. Sementara Rania terdiam mendengar suara seseorang yang memeluknya dari belakang, ia menoleh dan terkejut melihat iris mata orang itu, yang sangat familiar baginya.
"Kak Revan ...," ucapnya lirih dan seketika ditarik lembut untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Revan menarik Rania hingga masuk kedalam gang sepi yang tidak jauh dari tempat mereka tadi.
"Kak ...," ucap Rania terhenti kala melihat Revan yang menaruk jari telunjuk dibibirnya, mengisyaratkan untuk diam.
Rania menurut dan tiba-tiba Revan memeluknya erat, membuat wajah Rania merona merah.
* * *
Sementara itu Revin, Reon dan Carlos tengah menoleh kesegala arah untuk mencari seseorang yang berhasil membuatnya terkejut.
"Apa kau yakin tadi itu dia?" tanya Carlos pada Revin yang mencoba untuk mencari keberadaan kakaknya.
"Iya, apakau fikir aku salah lihat tadi? itu benar-benar dia, dan dia tengah memeluk seseorang, yang pastinya seorang wanita," ucap Revin semakin membuat kedua sahabatnya itu bertanya-tanya.
"Kenapa kakakmu itu selalu suka bersembunyi sih, apa salahnya jika kita tau dia menyukai seseorang?" ucap Carlos frustasi, ia benar-benar ingin tau siapa yang berhasil meluluhkan gunung es itu.
"Sebaiknya kita segera pulang, ini sudah siang. Kita akan bertanya padanya nanti," ucap Reon dan mau tidak mau, kedua orang itu menurut dan bergegas menuju motor masing-masing.
Revan menghembuskan nafasnya saat melihat ketiga pria kepo itu pergi.
"Kak Revan ...," lirih Rania yang wajahnya sudah memerah sempurna, karena dengan posisi sekarang, ia dapat mendengar suara detak jantung Revan yang sangat cepat.
Revan melepaskan pelukannya membuat Rania bernafas lega dengan pipi merona, dan tiba-tiba sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya yang perlahan-lahan menjadi luma**n.
Revan melepaskan pagutannya pada bibir Rania, lalu berbicara.
"Jika kau bertemu dengan pria itu, segera pergi. Jangan hiarukan dia, mengerti!" ucap Revan dengan raut wajah seriusnya, tepat didepan wajah Rania.
"Kenapa?" tanya Rania yang tidak mengerti.
"Karena aku tidak suka, aku tidak suka calon ibu anak-anakku bersama pria lain," ucap Revan terus terang, membuat Rania terdiam.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Revan lalu menarik tangan Rania lembut kearah motornya.
__ADS_1