
Carlos menghembuskan nafas kasar saat mendengar suara sang adik, yang dengan jelas menolak permintaannya.
"Ayolah, Vi. Bukankah kau ingin memiliki kakak ipar yang baik, maka lakukanlah apa yang kakakmu minta," ucap Carlos pada Vivian diseberang telfon, yang tengah menghembuskan nafas lelah dan Carlos dapat mendengar hal itu.
"Kakak gila ya? Apa kakak tau perjalanan ke kota M itu tidak cepat, tidak seperti naik motor kesekolah!" ucap Vivian semakin kesal dengan kakaknya itu, yang mendadak seperti orang gila.
"Jadi kamu menolak permintaan kakakmu ini? Kamu memang tidak kasihan padaku, Vi," ucap Carlos dengan nada suara dibuat sedih.
Vivian mengepalkan tangannya kesal, kakaknya itu sudah benar-benar tidak waras. Kenapa coba harus memintanya untuk pergi ke kota M hanya untuk memberikan Felisia bunga dan sekotak coklat, sungguh tidak waras kakaknya itu.
Setelah tadi Revin mematikan sambungan video call, tiba-tiba Carlos menelfon Vivian, membuat gadis itu mengernyit lalu mengangkat telfon kakaknya itu. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa sang kakak menelfonnya hanya untuk memintanya ke kota M dan memberikan bunga dan coklat pada seorang gadis. Oh, yang benar saja!
"Kakak ... berhentilah menjadi pria tidak waras, oke! Bukankah kau bisa mengunakan jasa kurir untuk mengirim bunga dan coklat ke kota M. Jadi kau tidak perlu repot-repot menelfon adikmu dan menganggu ketenangannya," ucap Vivian panjang kali lebar menjelaskan pada Carlos.
Carlos menghembuskan nafasnya, mencoba untuk tenang. Karena jujur saat ini perasaannya sedang kacau, pujaan hatinya tidak membalas pesan darinya, membuat ia takut setengah mati.
"Baiklah," ucap Carlos membuat Vivian menghembuskan nafas lega diseberang telfon, "Tapi kamu yang harus membeli bunga dan coklat itu, aku tidak ingin jika orang lain yang membelinya," lanjut Carlos membuat Vivian menepuk keningnya dan menatap langit-langit kamarnya.
'Ya tuhan, kenapa engkau memberikan kakak yang begitu menyebalkan dan menyeramkan seperti ini. Jika bisa memilih, maka aku kan meminta kakakku yang seperti dulu saja, jangan yang bucin akut seperti ini,' doa Vivian dalam hati, ia akan menangis sekarang juga karena kakak bucinnya itu.
"Oke, aku yang akan membelinya. Sudah puaskan, kakak bucinku," ucap Vivian menahan emosinya.
"Terima kasih, adikku yang manis seperti gulali," ucap Carlos yang hanya membuat Vibian memutar bola matanya malas.
"Ya sudah, aku pergi dulu," ucap Vivian yang langsung mematikan panggilan sepihak.
Carlos tersenyum senang, lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yabg empuk. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan dengan cepat Carlos melihat siapakah yang mengirim pesan padanya.
Seutas senyum terbit dibibir Carlos melihat Felisia membalas pesannya, meski cukup lama baru dapat pesan balasan dari pacarnya itu.
"Maaf ya, Car. Aku tadi lagi sibuk bantuin mama masak kue ulang tahun buat papa, maaf ya, baru balas pesan kamu."
"Iya, ngga apa-apa kok, Feli. Papa kamu ulangtahun hari ini?"
"Iya, Car. em, maksudku sayang,"
__ADS_1
balasan pesan Felisia yang masih malu untuk memanggil Carlos dengan sebutan sayang. Lagi-lagi Carlos tersenyum senang melihat hal itu.
"Hehe, kirain kamu ngga mau manggil aku sayang. Oh iya, aku ada kirim sesuatu buat kamu, mungkin paketnya tiba malam nanti, dan juga hadiah buat calon papa mertua,"
Carlos terkekeh sendiri membaca ketikannya pada layar ponselnya itu. Sedang Felisia tengah tersenyum-senyum sendiri melihat pesan balasan dari pacarnya itu, membuat sang ibu yang berada disampingnya, menatap aneh pada putrinya itu.
"Emangnya kamu kirim apa? Jadi penasaran deh. Bilang dong,"
"Kalau aku bilang, itu bukan kejutan lagi dong."
"Oke deh, aku bakal tunggu,"
"Ya udah, sayang. Aku mau kerjain sesuatu dulu ya, bye. Jaga mata disana, dan juga jaga hati," balas Carlos dengan emot love membuat hati Felisia senang tidak karuan.
"Oke, bye. Jangan lupa buat jaga kesehatan ya disana, dan juga jaga hati kamu,"
Carlos tersenyum senang melihat hal itu, ia dengan cepat menelfon seseorang untuk memberitahunya hal baru yang harus dilakukan.
* * *
Saat Vivian ingin membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan dengan malas ia mengangkatnya, yang tidak lain dari kakak bucin plus gilanya itu.
"Halo, Vi. Jangan lupa untuk membeli sesuatu yang cocok digunakan untuk pria diatas 50 tahun ya, kirim kealamat yang sama," ucap Carlos diseberang telfon, saat Vivian mengangkat telfonnya.
Wajah Vivian berubah menjadi datar, ingin sekali rasanya ia berteriak pada kakaknya itu, dan mengeluarkan semua unek-unek yang ada dihatinya.
"Hm," Vivian hanya berdehem lalu mematikan panggilan sepihak, saat ini ia malas berbicara dengan kakaknya itu.
Vivian berjalan menuruni anak tangga, dan melewati ruang tamu, dimana sang ibu tengah bersama ayahnya, bercerita ria tanpa melihat Vivian yang berjalan mendekat kearah pintu keluar.
Vivian terkejut saat membuka pintu dan terlihat seorang kurir yang berniat memencet bel rumah, tapi terhenti karena melihat Vivian yang membuka pintu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vivian pada kurir itu.
"Ini ada paket untuk, nona Vivian?" ucap kurir itu, lalu menyodorkan sebuket bunga Lily dan sekotak coklat pada Vivian.
__ADS_1
Gadis itu menerima bunga dan coklat itu dengan perasaan tidak menentu dan terus bertanya-tanya dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi," ucap kurir itu, setelah Vivian menandatangani surat terima.
Vivian menganggukkan kepalanya pada kurir itu, lalu menutup pintu berniat untuk menyimpan bunga dan coklat itu dulu, baru kemudian pergi.
Lagi-lagi ponsel Vivian berdering, membuat gadis itu bersusah payah untuk mengangkat telfon yang tidak lain dari Revin.
"Halo, ada apa?" tanya saat mengangkat telfon dengan terus berjalan kearah ruang tamu.
"Apa bunga dan coklatnya sudah tiba di rumahmu?" tanya Revin membuat Vivian menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap bunga dan coklat ditangannya.
Ia tidak percaya jika Revin mengirimkannya bunga dan coklat dihari Valentine.
"Em, iya. Terima kasih," ucap Vivian dengan berusaha menetralkan nada suaranya yang mendadak gugup.
"Tidak perlu berterima kasih. Oh iya, apa yang kamu lakukan sekarang?" tanya Revin dengan nada suara yang begitu senang.
"Aku ingin menyimpan bunga dan coklatmu dulu, karena aku harus keluar membeli bunga dan coklat, dan juga hadiah," ucap Vivian menjelaskan pada Revin, entah mengapa ia ingin memberitahu pria itu, bahwa ia tengah mendapat masalah dari kakaknya.
Revin mengernyit mendekar ucapan Vivian, ia terus bentanya dalam hati, kenapa gadis itu ingin membeli coklat dan bunga, dan juga sebuah hadiah yang entah apa.
"Untuk apa kamu membeli itu?" tanya Revin yang penasaran, kini perasaannya sedikit resah, ia takut jika gadis itu menyukai laki-laki lain disana.
"Kak Carlos yang memintaku untuk membeli bunga dan coklat, dia sangat menyebalkan. Ya sudah, aku matikan dulu ya, lagi buru-buru," ucap Vivian mematikan panggilan sepihak, lalu menaruh bunga dan coklat diatas meja diruang tamu, membuat ibu dan ayahnya menoleh dan menatap bingung padanya.
"Aku pergi dulu, ma, pa," ucap Vivian lalu berbalik untuk segera pergi dan membeli coklat dan bunga, dan hadiah kecil yang entah apa.
'Sepertinya aku harus meminta bantuan Reana,' ucap Vivian dalam hati lalu segera berjalan keluar gerbang rumahnya.
* * *
Revin terdiam mendengar ucapan Vivian sebelum mematikan panggilan sepihak.
"Tadi dia bilang apa? Carlos memintanya untuk membeli bunga dan coklat? Dasar! Kenapa dia merepotkan Vivian!" ucap kesal Revin, lalu bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar, untuk kekamar pria gila yang sudah berani menyusahkan gadisnya.
__ADS_1