
Carlos menatap 1 pak pembalut yang tergeletak di lantai lalu menoleh pada orang yang menepuk pundaknya.
Carlos terdiam saat melihat orang yang menepuk pundaknya juga menatap ke arah pembalut yang tergeletak di lantai.
"Re ... Revan?" ucap Carlos yang terkejut melihat Revan di belakangnya.
Revan menatap Carlos yang menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Kak Revan!" ucap Reana yang berjalan mendekati Revan yang masih terdiam dengan mengigit bibir bawahnya berusaha untuk tetap terlihat cool.
"Oh, kak Carlos ngapain di sini?" ucap Reana yang terkejut melihat Carlos yang tidak suka pergi ke tempat ramai bisa ada di supermarket ini.
"Ehem," Revan yang berdehem kemudian sedikit membungkuk mengambik 1 pak pembalut yang tergeletak di lantai itu.
"Ini Carlos," ucap Revan memberikan pembalut yang ia ambil dari lantai kepada Carlos.
'Revan sia**n,' umpat Carlos dalama hati kemudian mengambil pembalut dari tangan Revan.
"Wah, kak Carlos perhatian sekali, beli pembaluy untuk siapa?" ucap Reana yang berhasil menarik perhatian para pembeli di supermarket itu.
Revan semakin memgigit bibir bawahnya agar tawanya tidak keluar, Carlos menatap kesal pada pria sok cool di hadapannya yang pasti sedang tertawa terbahak-bahak dalam hati.
"Untuk Vivian," ucap Carlos singkat dengan bibir yang tersenyum paksa di balik masker.
"Ya udah, aku duluan dulu ya," ucap Carlos segera mendekati kasir dan membayar pembalut yang ia beli dengan terus berbicara kesal dalam hati.
'Tidak akan ada lain kali, tidak akan ada!' ucap Carlos dalam hati titik tidak pake koma.
Sementara itu, Revan dan Reana kembali melanjutkan membeli barang-barang yang di minta oleh sang ibu.
'Aduh perutku, sakit sekali,' ucap Revan dalam hati dengan sesekali menyentuh perutnya yang sakit akibat menahan tawa.
Tiga puluh menit kemudian.
Revan dan Reana tiba di rumah, Reana segera turun dari mobil dan bergegas masuk membawa separuh belajaan mereka.
Revan mematikan mobilnya kemudian keluar dan mengambil belanjaan yang tersisa di bangku belakang dan kemudian membawanya masuk ke rumah.
Revan menghentikan langkahnya dan kemudian melirik ke arah motor Revin yang sudah terparkir sempurna di samping motornya.
"Dia sudah pulang?" ucap Revan pada dirinya sendiri kemudian kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Revan masuk ke dalam dapur kemudian meletakkan belanjaan di tangannya di samping Reana yang tengah asyik menyusun semuanya di dalam kulkas.
"Kak ...," ucap Reana membuat Revan menghentikan langkahnya yang berniat untuk keluar dari dapur.
__ADS_1
Revan menoleh pada adiknya itu lalu berbicara.
"Apa?" ucap Revan singkat padat dan jelas.
"Sini dulu!" ucap Reana memayunkan bibirnya membuat Revan berjalan mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Revan yang kini berdiri di samping Reana yang kembali asyik menyusun belajaan di dalam kulkas.
"Kakak punya seseorang yang kakak suka ngga?" tanya Reana dengan masih fokus pada apa yang ia kerjakan.
Revan mengernyit dan menatap bingung adiknya itu.
"Tidak ada," ucap Revan singkat.
Reana menghentikan gerakan tangannya yang asyik menyusun buah-buahan di dalam kulkas kemudian menoleh pada sang kakak yang hanya berwajah datar.
"Masa sih," ucap Reana tidak percaya.
"Masa kakak bohong, 'kan tidak mungkin," ucap Revan masih dengan wajah datarnya.
"Kakak pernah kesal ngga sama orang lain?" tanya Reana lagi yang semakin membuat Revan mengernyit bingung.
"Pernah," ucap Revan singkat.
"Terus apa yang kakak lakuin sama orang yang udaha buat kakak kesal?" tanya Reana lagi membuat Revan menlipat tangannya di depan dada dan menatap adiknya itu dengan tatapan menyelidik.
Reana menutup kulkas kemudian menatap kakaknya itu yang menatapnya serius.
"Tidak ada, kak. aku cuma nanya aja, lagian mana ada orang yang mau mengangu Reana adik dari Revan dan Revin," ucap Reana bangga membuat Revan tersenyum kecil kemudian mengelus rambut adiknya itu.
"Jika ada yang mengangumu, katakan pada kakak! jangan ragu untuk bilang sama kakak," ucap Revan semakin mengacak rambut Reana.
"Iya, kak. Reana janji," ucap Reana dengan senyum di wajahnya.
Revan kemudian pergi keluar dari dapur dan naik ke lantai atas untuk segera ke kamarnya.
Revan tiba di depan pintu kamarnya dan berniat untuk masuk, tapi kemudian ia menoleh pada pintu kamar Revin yang tertutup.
Revan mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya dan memilih untuk berjalan mendekati pintu kamar Revin.
Revan membuka pintu kamar Revin yang sama sekali tidak terkunci dan kemudian melangkah masuk ke dalam dan terkejut melihat Revin yang tidur di tempat tidur dengan terlentang dan wajah yang masam.
"Ada apa?" ucap Revan berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
Revin tersentak kemudian segera bangun dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Brother," ucap Revin malas.
"Apa kamu mau menemaniku ke apartemen paman Kimso?" ucap Revan membuat Revin mengernyit bingung.
"Untuk apa?" ucapnya yang tidak mengerti sama sekali.
"Untuk menjenguk seseorang," ucap Revan singkat yang semakin membuat Revin bingung.
"Mau tidak?" tanya Revan membuat Revin mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, ayo!" ucap Revan keluar dari kamar Revin.
Revin segera turun dari tempat tidur kemudian memakai sepatunya dan segera menyusul sang kakak.
"Kak, bukankah sebaiknya kita mengunakan motor saja, kenapa harus naik mobil," ucap Revin kesal dan menatap Revan yang begitu fokus pada jalanan di depannya.
Revan tidak peduli dengan keluh kesah Revin yang memang sama sekali tidak suka naik mobil dan lebih suka naik motor.
Lima belas menit kemudian.
Revan menghentikan mobilnya di parkiran apartemen tempat Kimso tinggal.
Revan keluar dari mobil diikuti oleh Revin yang dengan malas mengikuti langkah sang kakak.
Pintu lift terbuka, Revan berjalan keluar dari lift dengan Revin yang mengekor di belakangnya.
Revan memencet bel apartemen Kimso dan tidak lama kemudian pintu terbuka.
Rania terkejut ketika membuka pintu dan melihat Revan yang berdiri di hadapannya dengan wajah datar dan juga Revin yang tersenyum di belakang Revan.
"Hay, Rania," Sapa Revin pada Rania dengan senyum di wajahnya.
Rania mempersilahkan Revan dan Revin masuk, Rania segera masuk ke dapur untuk membuatkan kedua pria itu air panas.
Revin duduk di sofa dengan senyum di wajahnya membuat Revan mengelengkan kepalanya dengan tingkah adiknya yang berubah secepat bunglon.
"Eh, Revan dan Revin, paman kalian belum pulang," ucap Fira kemudian duduk berhadapan dengan dua bersaudara itu.
"Kami ke sini bukan untuk bertemu dengan Paman Kimso, Bibi. saya ke sini untuk melihat Rania apakah sudah baikan atau belum," ucap Revan santay dan Fira hanya tersenyum menangapi ucapan Revan.
Revin menoleh pada sang kakak dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
'Apa Brother suka pada Rania? jika itu terjadi, maka aku harus membuat mereka bersama,' tekat Revin dalam hati dengan semangat 45.
"Ada apa denganmu?" tanya Revan curiga melihat ekspresi Revin yang begitu aneh menurutnya.
__ADS_1
"Ti ... tidak apa-apa," ucap Revin cengegesan dan mengaruk tengkukknya yang tidak gatal dengan menatap Revan.
Revan memutar bola matanya malas melihat tingkah laku adiknya yang begitu cepat berubah.