SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
TANDA TANYA


__ADS_3

Semua orang didalam ruangan itu menatap Carlos dengan tatapan sulit diartikan, kecuali Revan dan Revin yang berusaha untuk menahan tawa mereka yang sudah hampir meledak.


"Kamu punya pacar?" tanya Reon dengan menatap Carlos tidak percaya.


"Ngga!" ucap Carlos singkat membuat Carlson, Rafael, Reon dan Arian mengernyit. "Udah tau nanya!" lanjut Carlos dengan nada kesalnya membuat Reon tersentak.


"Santai aja kali!" ucap Reon yang tidak kalah kesal.


"Kenapa kamu belum mempertemukannya dengan papa dan mama?" tanya Carlson menatap putranya dengan tatapan intimidasi.


"Nanti pas Carlos lulus, langsung pergi ke rumahnya untuk melamar," ucap Carlos membuat Carlson terdiam, dan sedetik kemudian tertawa.


"Hahaha, kamu memang putraku," ucap Carlson disela-sela tawanya, "Lihat, El. Dia masih mirip denganku," lanjut Carlson membuat Rafael menatap datar padanya.


"Sinting!" ucap kesal Rafael lalu mengalihkan pandangannya kearah lain, tidak berminat untuk menatap sahabatnya yang hanya akan membuatnya kesal.


Carlson yang melihat hal itu semakin tertawa lepas, menertawai Rafael adalah hal yang paling ingin dia lakukan setiap hari. Carlson kembali menatap Carlos yang terdiam dengan wajah datarnya.


"Baiklah, jika sudah lulus nanti kita akan segera pergi ke rumahnya, ingat untuk memberitahukan hal ini pada wanitamu," ucap Carlson menyandarkan punggungnya dengan santai pada sandaran sofa.


"Baik," ucap Carlos dan kembali menyuap bubur ke mulutnya, kemudian menoleh pada Reon yang terdiam dengan wajah kesalnya.


"Kamu kenapa?" tanya Carlos dengan mulut yang menguyah, "Kok kamu ngga makan bubur kamu sih? Ngga mau? Buat aku aja deh," ucap Carlos lalu menaruh mangkuk buburnya diatas meja, yang sudah kosong melompong.


Reon hanya diam melihat Carlos memakan buburnya, enggan untuk memberitahu Carlos tentang bubur itu.


"Kamu ingin makan makanan lain, Reon?" tanya Rafael membuat Reon menatapnya.


"Beli bubur saja, Pa," ucap Reon membuat Rafael mengernyit.


"Bubur? Lalu kenapa kamu tidak menghabiskan buburmu dan malah memberikannya pada Carlos," ucap Rafael dengan menatap Carlos yang begitu lahap memakan bubur Reon tanpa malu sedikitpun.


"Tadi Carlos nyemburin air dari mulutnya dan kena bubur Reon," jelas Reon membuat Carlos menyemburkan bubur dari dalam mulutnya hingga berserakan diatas meja.


"WOY! Jorok amat si Lo!" ucap Reon yang sudah tidak dapat menyaring ucapannya.

__ADS_1


Carlos terbatuk-batuk dan mencari air minum diatas meja, tapi semuanya telah habis ia minum tadi. Carlson yang melihat hal itu, segera berlari mendekat kearah brangkar Revan dan Revin, lalu mengambil salah satu gelas diatas meja.


Revin mengerjapkan matanya berkali-kali, dan menatap Carlson yang sudah lari membawa air minumnya. Revan menutup mulutnya agar bubur yang ia kunyah tidak menyembur keluar, Rania menatap bingung pada Revan yang mendadak menutup mulutnya seperti mau muntah.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Rania khawatir lalu segera mengambil gelas air minum diatas meja, padahal Revin baru saja ingin meraihnya untuk ia minum.


"Hahahaha!" Revan tertawa lepas, ia sudah tidak mampu menahan tawanya saat melihat ekspresi Revin yang terlambat meraih air minum dan didahului oleh Rania.


Semua orang menatap kearah Revan, sedang Revin menatap datar kakaknya itu, ingin sekali rasanya ia mengumpat sekarang juga.


"Aduh, perutku sakit," ucap Revan dengan menyentuh perutnya yang sakit karena tertawa.


"Mati aja sana!" ucap Revin kesal membuat Arian menoleh dan menatapnya.


Arian menghembuskan nafasnya lalu segera berjalan mengambil air minum untuk putranya.


"Lain kali, jangan bahas hal yang tidak-tidak saat makan," ucap Arian dan kembali berjalan mendekat kearah Revin dengan segelas air putih ditangannya.


Carlson dan Rafael terdiam seribu bahasa mendapat sindiran dari Arian, sungguh menyayat hati.


"Iya, tidak akan kami ulangi lagi," ucap Carlson dan Rafael patuh dengan kepala tertunduk.


Setelah hal itu, tidak ada lagi yang berbicara didalam kamar itu. Rania yang menyuapi Revan dan Revin yang menyuapi dirinya sendiri, sedang Reon menunggu sang ayah yang baru saja keluar untuk membeli bubur baru untuknya dan Carlos menghabiskan bubur itu dengan lahap tanpa protes ataupun menyemburkannya keluar dari mulutnya.


* * *


Dua jam kemudian.


Rania menatap Revan yang tertidur pulas diatas tempat tidur, setelah tadi makan dan minum obat. Sedang Revin memilih untuk bermain game, sembari berbalas pesan dengan Vivian.


Rania berbalik untuk segera pulang, dan akan kembali lagi besok. Ia terkejut ketika melihat Arian yang baru saja memasuki ruangan.


"Sudah ingin pulang?" tanya Arian dengan tersenyum pada pada Rania.


"Iya, Da-daddy," ucap Rania yang masih gugup jika harus memanggil Arian dengan Daddy, padahal dirinya belum resmi menikah dengan Revan.

__ADS_1


Revin yang mendengar hal itu, mendogak dan menatap punggung calon kakak iparnya yang membelakanginya.


"Ayo, Daddy antar!" ucap Arian membuat gadis itu mendogak.


"Ti-tidak perlu, Daddy. Aku naik taksi saja," ucap Rania merasa tidak enak pada Arian, pasalnya pria itu seperti tidak pernah tidur dan penampilannya yang sedikit berantakan.


"Tidak apa-apa. Daddy juga ada perlu dengan ayah kamu," ucap Arian dengan tersenyum pada calon menantunya itu.


"Baiklah, Daddy," ucap Rania dengan kepala menunduk.


Arian dan Rania pun berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Revin yang terdiam hingga tidak sadar jika Hero yang ia mainkan dalam game telah mati.


"Sialan!" umpat kesal Revin saat melihat bahwa heronya telah mati.


Ia menoleh pada kakaknya yang tengah tertidur pulas, sangat tenang tanpa beban. Revin tersenyum kecil melihat hal itu, ia berharap agar semuanya berjalan lancar tanpa hambatan saat resepsi pernikahan kakaknya itu.


Ia menatap langit-langit ruangan itu dengan menghembuskan nafasnya dan mengingat Vivian yang saat ini tengah berbalas pesan dengannya.


'Aku juga berharap, agar kehidupan kita nanti bisa bahagia hingga mau memisahkan,' ucap Revin dalam hati dengan tersenyum lalu segera membalas pesan Vivian.


* * *


Dua puluh menit kemudian.


Arian menghentikan mobilnya tepat dibasemant apartemen Kimso, Rania segera membuka pintu dan keluar disusul oleh Arian yang juga keluar dari mobil.


Mereka berdua berjalan mendekat kearah lift yang akan membawa mereka kelantai apartemen Kimso.


"Sudah berapa lama pacaran dengan Revan?" tanya Arian tiba-tiba saat pintu lift tertutup.


"Belum lama, dad," jawab Rania dengan kepala menunduk, karena wajahnya yang merona merah saat ini.


"Dia sering posesif ya?" tanya Arian lagi, dengan tersenyum kecil mengingat dirinya dulu.


"Iya, tapi itu wajar menurut Rania," ucap Rania dengan menoleh pada Arian.

__ADS_1


Arian semakin mengembangkan senyumnya lalu mengaca gemas rambut gadis disampingnya.


'Aku harus segera berbicara pada Kimso tentang ini,' ucap Arian dalam hati, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari lift, saat sudah tiba dilantai apartemen Kimso.


__ADS_2