
Arian dan Reana memakan sarapannya dengan lahap, hingga tiba-tiba Revan berlari menuruni tangga dan menghampiri mereka berdua.
"Revan, ada apa?" tanya Arian dengan tatapan tanda tanya pada putranya itu.
"Revin demam, Dad!" ucap Revan yang sukses membuat Ana yang baru saja keluar dari dapur terkejut.
"Apa!" ucap Ana segera meletakkan nampan yang berisi cangkir kopi dimeja makan dan segera berlari menaiki tangga kelantai 2 diikuti oleh Arian dan Reana.
Revan segera mengambil ponselnya diatas meja dan segera menelfon seseorang.
"Halo," ucap Revan saat orang diseberang telfon mengangkat telfon darinya.
"Ada apa, Van? ada masalah?" tanya Carlos diseberang telfon dengan mulut yang mengunyah.
"Hari ini Revin tidak masuk kesekolah, jadi beritahu guru disekolahmu," ucap Revan dengan melangkahkan kakinya naik kelantai 2.
Carlos yang mendengar hal itu mengernyitkan alis nya.
"Dia kenapa?" tanya Carlos yang penasaran diseberang telfon.
"Dia sakit," ucap Revan membuat Carlos berteriak diseberang telfon yang membuatnya refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.
"APA!" teriak Carlos tidak percaya membuat ayah dan ibunya terkejut, bahkan Vivian dan Felisia tersedak makanan yang mereka kunyah.
"Uhuk! uhuk!"
Felisia dan Vivian segera meminum air putih disamping mereka dan menatap horor pada Carlos.
Carlos yang ditatap seperti itu, hanya mampu memperlihatkan deretan giginya.
"Kok bisa si Revin sakit? yang benar saja!" ucap Carlos pada Revan diseberang telfon.
Vivian yang mendengar hal itu terdiam dan menatap Carlos dengan tatapan tidak percaya.
"Iya, dia demam. Mungkin karena kemarin dia pulang dengan keadaan basah kuyub, entah berapa lama dia berada dibawa guyuran air hujan," ucap Revan dengan melangkahkan kakinya memasuki kamar Revin.
"Baiklah, aku akan beritahu guru nanti," ucap Carlos dan Revan pun mematikan panggilan.
"Revin sakit apa, Car?" tanya Fania menatap putranya itu.
"Demam, ma. Katanya kemarin dia pulang dengan keadaan basah kuyub, mungkin karena itu dia sakit," ucap Carlos menjelaskan.
Fania dan Carlson mengangguk mengerti, sedang Vivian yang mendengar hal itu, berusaha untuk mengatur nafasnya.
* * *
Revan menatap Revin yang masih memejamkan matanya dengan Arian yang duduk ditepi tempat tidur disampingnya.
__ADS_1
Ana sudah turun kelantai dasar untuk mengambil air hangat yang akan ia gunakan untuk mengompres kening Revin.
"Kalian berdua segera bersiap untuk pergi ke sekolah, nanti kalian telat!" ucap Arian pada kedua anaknya itu.
Revan mengangguk mengerti kemudian memanggil Reana untuk segera keluar kamar Revin.
Reana mendekat kearah Arian lalu mencium pipi ayahnya itu dan tersenyum, kemudian melirik kearah Revin.
"Cepat sembuh kakak," ucap Reana segera berlari kecil menyusul Revan yang sudah keluar dari kamar.
Arian menatap wajah putra keduanya itu dengan sayu, ia menghembuskan nafasnya dan tidak lama kemudian, Ana datang dengan wadah kecil yang berisi air hangat dengan handuk kecil ditangan kanannya.
Arian berdiri dari duduknya digantikan oleh Ana dan segera mengompres kening Revin.
"Aku sudah menelfon Dokter, mungkin sebentar lagi tiba disini. Aku tidak pergi ke kantor?" ucap Arian membuat Ana menolah padanya.
"Jangan seperti itu, pergilah ke kantor. Putra kita baik-baik saja, percayalah," ucap Ana dengan tersenyum manis pada suaminya itu.
Arian menghembuskan nafasnya kemudian berjalan mendekat pada Ana.
Cup.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya," ucap Arian setelah mengecup singkat kening istrinya itu.
"Hati-hati di jalan," ucap Ana dan Arian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
* * *
Arian masih berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk dihadapannya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk dan Arian dapat menebak siapa gerangan yang masuk kedalam ruangannya.
"Siang, Ran. Kau tidak keluar untuk makan siang?" tanya Rafael yang kini duduk di sofa didalam ruangan Arian.
"Tidak lapar," ucap Arian singkat padat dan jelas.
Rafael yang mendengar hal itu menatap datar pada Arian.
"Bagaimana dengan hal yang aku minta padamu?" tanya Arian tanpa menoleh pada Rafael, membuat pria itu seakan ingin mengumpat.
"Kau itu selalu saja memintaku melakukan hal yang bisa kau lakukan sendiri, merepotkan aku saja," ucap Rafael kesal yang kini tengah tiduran disofa panjang.
"Kau kan selalu luang, El. Sedang aku sibuk," ucap Arian yang kini menandatangani berkas.
Rafael yang mendengar hal itu, seketika duduk disofa dan menatap kesal pada Arian.
"Yang benar saja kau! Aku juga sibuk tau! Apa kau tau, karena kau memintaku melakukan hal itu, aku jadi tidak bisa bermesraan dengan Sarah, teman sia**n!" ucap Rafael mengeluarkan semua kekesalannya.
Arian yang mendengar hal itu mendongak dan menatap Rafael dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Oww," ucap Arian acuh dan kembali fokus pada berkas ditangannya.
"Sia**n," umpat kesal Rafael yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Arian.
"Jadi apa yang kau dapat?" tanya Arian menoleh sekilas pada Rafael.
"Putramu yang satu itu pandai sekali menutupi rahasia besar seperti itu," ucap Rafael santai membuat Arian mengernyitkan alisnya kemudian menatap Rafael.
"Maksudnya?" tanya Arian tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Revin sudah menyentuh darah 2 tahun yang lalu, maksudku dia sudah membunuh sejak usia 15 tahun," ucap Rafael yang membuat Arian terkejut.
"Keluarga Zang, keluarga itu yang Revin bunuh dalam keadaan tidak sadar," sambung Rafael yang membuat Arian berfikir keras.
Arian terdiam kemudian menatap Rafael dengan tatapan tajam seolah meminta penjelasan lebih.
"Aku tidak terlalu tau jelasnya, mungkin akan baik jika ia yang menjelaskannya secara langsung padamu dan hari itu tepat saat Vivian kecelakaan," ucap Rafael membuat Arian mematung ditempatnya.
"Ada apa nih, bahas anak gue," ucap Carlson yang membuat kedua pria itu terkejut, kemudian menoleh pada Carlson yang berjalan mendekat kesofa lalu duduk disamping Rafael.
'Sejak kapan dia disana?' tanya Rafael dan Arian dalam hati dengan menatap Carlson.
"Jelasin woy, kenapa bawa-bawa anak gue?" tanya Carlson membuat kedua pria itu tersadar dari keterkejutan mereka.
"Tidak apa-apa, cuma kalian berdua sepertinya akan jadi besan deh," ucap Rafael santai selow.
Arian dan Carlson menatap Rafael dengan tatapan terkejut, sedang orang yang ditatap hanya santai selow saja.
Arian dan Carlson bertukar pandang satu sama lain.
"Kamb**g!" teriak Arian dan Carlson bersamaan membuat Rafael terkejut dan menatap Carlson yang teriak tepat ditelinga nya.
"Dasar gila! Kau ingin membuat gendang telingaku rusak ya!" ucap Rafael sedikit meninggikan suaranya pada Carlson.
"Makanya kalau berbicara itu difilter dulu, baru dikeluarin!" ucap Carlson membuat Rafael menatap kesal padanya.
"Terserah! Mau kalian percaya atau pun tidak, aku tidak peduli. Bodo amat!" ucap Rafael acuh kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu ruangan pribadi Arian.
"Mau apa kau?" tanya Arian saat melihat Rafael yang hendak memutar knock pintu ruangan pribadinya.
"Mau bobo ganteng dulu," ucap Rafael dan segera masuk kedalam ruangan itu.
"Sia**n!" ucap Arian dan segera beranjak dari duduknya dan berjalan kearah ruangan pribadinya.
Carlson yang melihat hal itu hanya mengedipkan matanya berkali-kali, bingung harus berbuat apa.
"Maksud Rafael tadi apa?" ucap Carlson bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1