SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
CARLOS DAN FELISIA


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Carlos tiba juga. Revan dan Revin tengah berdiri dipojok ruangan dengan menatap tamu undangan yang mulai berdatangan. Mereka menatap kearah Reon yang tengah bercengkrama dengan tamu bersama dengan istrinya.


"Maaf," ucap Revin tiba-tiba, membuat Revan menoleh padanya.


"Untuk?" ucapnya singkat dan kembali meminum wine digelas ditangannya.


"Karena sudah berbicara lantang padamu dua hari yang lalu, aku tidak bermaksud melakukan hal itu," ucap Revin merasa bersalah pada kakaknya, terlebih lagi dua hari ia dan Revan tidak saling berbicara karena malam itu.


"Hm, aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf padaku," ucap Revan santai, membuat Revin tersenyum kecil.


"Aku benar-benar hanya ingin yang terbaik untuk Reana," lirih Revin dengan kepala menunduk.


"Yang terbaik menurut kamu, belum tentu baik untuk Reana," ucap Revan lalu menghembuskan nafasnya, "Tidak perlu bahas itu lagi, aku akan kembali emosi kalau mengingat hal itu," lanjut Revan dengan menatap datar kedepan.


Revin hanya terdiam dan mengernyit ketika melihat Reon mendekat kearah mereka tanpa Liona disampingnya.


"Daripada tinggal diam disini, lebih baik pergi menemui Carlos!" ajak Reon lalu menarik paksa kedua tangan sahabatnya itu, setelah Revan memberi gelas winenya pada pelayan yang lewat didepannya.


* * *


Carlos menghembuskan nafasnya perlahan, lalu menghirupnya lagi perlahan dan terus melakukan hal itu hingga pintu terbuka, membuat ia menoleh dan menatap malas pada tiga sahabatnya.


"Gugup?" goda Reon dengan berjalan santai ke sofa.


"Tidak!" ucap Carlos singkat, membuat Reon seakan ingin memukul kepala sahabatnya itu.


"Cih, berbohong itu tidak baik tau," ucap Reon berdecak kesal.


"Bukannya kita semua adalah pembohong besar," ucap Revin menimpali ucapan Reon, membuat mereka seketika terdiam.


Hening melanda keempat orang itu, hingga tiba-tiba Carlos berbicara membuat Revin memutar bola matanya malas.


"Revin, sabar ya," ucap Carlos dengan senyum kecil dibibirnya.


"Sialan!" umpat kesal Revin, lalu menidurkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Menunggu tiga tahun lagi," ucap Reon lalu bertos riah dengan Carlos.

__ADS_1


"Kalian berdua sialan!" ucap Revin semakin mengumpat pada dua orang itu.


Reon dan Carlos hanya tertawa menanggapi umpatan sahabatnya itu, sedang Revan memilih diam dengan meminum wine milik Revin yang ditaruh dimeja didepannya.


"Lima hari setelah hari ini adalah pernikahan Revan, semoga hari itu tidak ada hal buruk yang terjadi," ucap Carlos membuat Revan mendogak dan menatapnya.


"Iya," ucap Revan singkat lalu kembali meminum wine milik Revin.


"Brother, harusnya kau tidak minum wine milikku. Aku kan belum meminumnya hingga setengah," ucap Revin yang kini duduk dan menatap kakaknya yang dengan santainya meminum wine miliknya.


"Masih banyak diluar," ucap Revan santai, membuat Reon dan Carlos menahan tawa mereka.


"Oh iya, Reon. Sudah malam pertamanya?" tanya Carlos kembali mengungkit hal yang membuat Reon kesal padanya.


"Diam kau!" ucap kesal Reon dan perlahan-lahan mendekat pada Revan yang duduk disofa.


Kini Revin yang tertawa bersama dengan Carlos, sedang Revan hanya mengelengkan kepalanya.


"Dua orang sinting!" ucap Reon semakin membuat tawa Revin dan Carlos mengema dikamar itu.


Revan melirik kearah arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, yang sudah hampir menunjukkan pukul 9 pagi.


"Brother, lepaskan! Jasku kusut," ucap Revin tapi Revan tetap saja menarik kerah bajunya keluar dari kamar.


"Semoga malam pertamamu lancar, Car!" teriak Revin dan perlahan-lahan pintu kamar pun tertutup, meninggalkan Carlos yang bersiap untuk keluar dan mengucapkan janji dengan Felisia diatas altar.


* * *


Saat ini pengucapan sumpah tengah berlangsung, semua orang menatap kearah altar, tapi Revan memilih menatap seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.


'Jika kau memang menyukai adikku, maka kau tidak akan menyerah meski Revin menghalangiku berkali-kali,' ucap Revan dalam hati dengan menatap kearah Dion.


Dion merasa seperti ada yang menatapnya, ia pun menoleh dan mendapati Revan yang menatanya dengan wajah serius.


Dion mengernyit saat melihat Revan yang pergi dari tempatnya, dan berjalan keluar dari ruangan. Karena penasaran, ia pun mengikuti Revan keluar dari ruangan itu.


Dion mengernyit saat keluar dari sana dan tidak mendapati Revan, ia berdecak kesal kemudian berbalik untuk kembali masuk.


Dion tersentak saat melihat Revan tengah bersedekap dengan punggung yang bersandar pada dinding.

__ADS_1


"Mencariku!" ucap Revan membuat Dion berkeringat dingin seketika.


"Ikut aku," ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju kesuatu tempat.


Dion hanya menghembuskan nafasnya dan mengikuti langkah Revan yang entah akan tiba di mana.


Dion mengernyit saat mereka tiba didepan toilet pria, sedang Revan segera masuk kedalam dan mau tidak mau, Dion ikut masuk kedalam toilet.


"Kunci pintunya!" titah Revan, dan Dion kembali berbalik untuk mengunci pintu toilet itu.


"Kau menyukai adikku?" ucap Revan, atau lebih tepatnya pertanyaan.


Dion tersentak lalu menoleh dengan wajah mengeras karena emosi, kini ia tahu jika Revan mengajaknya ke toilet untuk mengatakan peringatan agar ia menjauhi Reana.


Mengingat hal itu, membuat Dion bedecak kesal, sampai matipun dia tidak akan pernah menjauhi wanita yang ia cintai.


"Kalau iya kenapa?! Kau juga ingin memukulku seperti Revin?! Kalau begitu pukul! Tapi sampai matipun aku tidak akan menjauhi Reana!" ucap Dion dengan menatap marah pada Revan dan tangan yang terkepal kuat.


Revan terdiam, lalu tersenyum kecil.


"Apakau fikir pemikiranku dan Revin sama? Apakau fikir aku akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang Revin ucapkan?" ucap Revan membuat Dion mengernyit tidak mengerti.


"Terima kasih untuk jawabanmu," ucap Revan lalu menepuk bahu Dion dan segera membuka pintu untuk kembali keruangan tempat pengucapan sumpah Carlos dan Felisia.


Dion terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Revan, ia menoleh kebelakang dan menatap pintu yang sudah tertutup.


"Dasar saudara kembar yang aneh," ucapnya kesal, lalu segera mendekat ke westafel untuk membasuh wajahnya.


* * *


Revan berjalan dengan santai kembali keaula, dengan tangan yang ia masukkan ke saku celana. Perkataan adik dari sahabatnya itu terus-menerus berputar diotaknya, kini hanya tinggal bertanya pada adiknya, tentang perasaannya pada Dion.


"Brother! Kau darimana?" tanya Revin yang sudah berada diluar pintu dengan menatap Revan yang berjalan dengan santai untuk kembali memasuki aula.


"Dari buang air kecil, kenapa? kau mau ikut tadi?" tanya Revan membuat Revin mengedikkan bahunya.


"Tidak, hanya saja aku mencariku sedari tadi didalam. Tapi tidak menemukanmu," jelas Revin yang hanya dibalas oh riah tanpa suara oleh Revan.


"Ya udah, ayo masuk!" ajak Revan lalu melangkah masuk kedalam ruangan itu.

__ADS_1


Revin menghembuskan nafasnya dan mengikuti langkah kakaknya dengan malas, meski ada banyak pertanyaan didalam hatinya yang ingin ia tanyakan pada kakaknya.


__ADS_2