SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PEMBERSIHAN


__ADS_3

Keempat orang didalam ruangan mulai menembakkan peluru dipistol mereka, saat pintu tiba-tiba terbuka.


Suara tembakan terus mengema hingga tiba-tiba sebuah pedang menembus tepat didada salah satu dari empat orang itu, hingga ketiga orang lainnya menghentikan tembakan mereka.


Ketiga orang yang melihat hal itu, terkejut kemudian menoleh dan membelalakkan matanya saat melihat seorang pria yang mengunakan topeng berdiri diambang pintu dengan pistol yang mengarah kearah mereka.


Saat mereka ingin menarik pelatuk pistol mereka untuk menembak pria diambang pintu itu, tapi mereka kalah cepat, pria diambang pintu itu sudah menarik pelatuk pistol ditangannya lebih dulu dan tepat mengenai kaki tangan ketiga pria itu hingga membuat mereka mengerang kesakitan.


Revan berjalan perlahan memasuki ruangan itu dimana 3 orang mengerang kesakitan dan satu tewas dengan pedang yang tertusuk kedadanya.


Revan membuang salah satu pistol yang ia ambil tadi diluar, pistol milik anggota Blue Dragon yang tewas karena ulahnya.


Tiga pria itu menatap Revan dengan perasana marah bercampur takut, mereka tidak bisa apa-apa sekarang kedua kaki mereka telah lumpuh total begitu pun dengan kedua tangan mereka.


"SIA**N, SIAPA KAU, BERANI SEKALI KAU MENGANGGU KETENANGAN KAMI!" sarkas salah satu pria itu.


Revan hanya menatap dingin pada ketiga pria itu, lalu berjongkok dan mengambil pistol yang tergeletak didepan tiga orang itu.


"Aku siapa? kau tidak perlu tahu, aku hanya ingin kalian tahu, jika berurusan dengan 3 keluarga besar akan mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan apa yang kalian lakukan," ucap Revan kemudian berdiri dan berjalan mendekat kearah mayat pria yang terkena pedangnya tadi.


Ketiga pria itu menelan saliva mereka ketika Revan mencabut pedangnya dengan begitu santaynya lalu kemudian kembali menusukkannya berkali-kali ditubuh mayat itu.


"Baiklah, mari kita mulai permainannya," ucap Revan yang kini berada dihadapan tiga pria itu.


Ketiga pria itu menelan salivanya dengan susah payah, lalu kemudian menatap kearah Revan yang kini menopang dirinya dengan pedangnya ditangan kanannya dan ujung pedang yang menyentuh lantai.


"Permainannya adalah, Aku puas kau hidup, yang artinya, jika aku tidak puas dengan jawaban kalian, maka kalian akan menyusul pria itu, tapi dengan keadaan yang mungkin lebih mengerikan darinya," ucap Revan dengan tatapan dingin yang mampu membekukan tempat itu.


Ketiga pria itu gemetar, dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup.


"Aku akan mulai denganmu," ucap Revan berjalan kearah pria yang terduduk disamping sebelah kiri.


Pria itu gemetar bukan main saat Revan berdiri dihadapannya dan menatapnya dingin.


"Apa jabatan presiden negara A, sebelum menjadi pemimpin negara ini?" tanya Revan pada pria dihadapannya.


Belum membuka suara, Revan sudah menebas kepalanya hingga terputus dan jatuh ke lantai tepat dihadapan Revan.

__ADS_1


Kedua pria yang masih hidup membulatkan matanya dengan sempurna seakan ingin keluar dari tempatnya melihat kejadian dihadapan mereka.


"Lambat sekali, pertanyaan yang mudah saja tidak tahu jawabannya, Cih," Revan berdecak membuat kedua pria itu merinding.


"Baiklah, kita bermain keorang kedua," ucap Revan berjalan kearah pria sebelah kanan yang berusaha untuk memundurkan tubuhnya.


Tiba-tiba Revan menancapkan pedangnya dikaki pria itu hingga membuat pria itu berteriak kesakitan.


"AAAA!" teriak pria itu, tapi Revan hanya menatap dingin tidak berniat untuk menarik pedannya.


"Pertanyaan kedua ... Apa yang dilakukan kucing saat melihat anjing berlari menghampirinya?" tanya Revan semakin menekan pedangnya untuk menusuk lebih dalam pada kaki pria itu.


Dengan bibir yang gemetar, pria itu mencoba untuk menjawab, tapi belum keluar sepatah kata dari mulutnya, Revan sudah berbicara.


"Lama sekali, waktu habis!" ucap Revan kemudian menarik pedangnya dengan kasar dari kaki pria itu lalu mengayungnya ke tangan kiri pria itu.


"AAAA!" teriakan kesakitan pria itu dengan darah yang terus keluar dari lengangnya yang sudah tidak tersambung dengan tubuhnya.


Pria disebelahnya semakin gemetar kala Revan kembali mengayungkan pedangnya dan menebas lengan kanan pria itu lalu ke kepala.


"To ... to ... tolong ... le ... lepaskan ... a ... aku," lirih pria yang masih hidup itu dengan tubuh gemetar ketakutan.


'Monster ... iblis ... psycopat,' batin pria itu dengan menatap Revan takut.


"Seharusnya kau memikirkan 1000 kali saat ingin menganggu kehidupan 3 keluarga besar, tapi semuanya sudah terlambat, mari kita mulai permainan terakhir," ucap Revan dan kini berdiri dihadapan pria itu yang sudah benar-benar ketakutan.


"Siapa nama orang itu?" tanya Revan dengan tatapan iblis kearah pria itu.


"A .. aku tidak ta ... tahu," lirih pria itu dengan suara gemetar.


"Kau tidak membuatku puas dengan jawabanmu," ucap Revan kemudian sedikit berjongkok dan menarik kaki pria itu keatas.


Pria itu membulatkan matanya dengan sempurna, dan tidak lama kemudian terdengar suara jeritan kesakitan diruangan itu.


Beberapa saat kemudian.


Revan berjalan keluar dari ruangan itu setelah melakukan hal yang begitu menyenangkan baginya.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja," ucap Revan yang ditujukan untuk orang misterius itu.


Revan berjalan keluar dari bangunan itu, setelah memberi isyarat pada anggota Dragon night untuk membersihkan semua kekacauan yang mereka buat.


"Bersihkan, setelah itu ledakan tempat ini," ucap Revan kemudian memakai helmnya lalu segera meninggalkan tempat itu dengan keadaan pakaian yang terkena cipratan darah tapi tidak terlalu kentara karena jaket dan celana Revan berwarna hitam.


Dua puluh menit kemudian.


Revan tiba dimarkas Dragon night dan segera turun dari motornya kemudian berjalan memasuki markas dengan helmnya ditangannya.


Revan melewati semua anggota Dragon night yang membungkuk padanya, tanpa mengeluarkan suara dengan topeng yang masih terpasang diwajahnya.


Revan memasuki ruangan tempat Desta dan Revin berada.


Revin yang sudah selesai dengan pekerjaannya, segera menutup hidungnya lalu menoleh pada Revan yang berjalan kesalah satu pintu didalam ruangan itu.


"Saya akan menyiapkan keperluan anda," ucap Desta kemudian keluar ruangan itu untuk segera menyiapkan semua keperluan Revan saat ini.


"Sia**n, sama sekali tidak menyisakan sedikit pun untukku, Brother sia**n," ucap Revin kesal saat Revan memasuki pintu didalam ruangan itu yang merupakan kamar mandi.


Lima menit kemudian.


Desta datang dengan membawa paperbag yabg berisi pakaian Revan, memgurus Revan dan Revin sudah seperti mengurus putranya sendiri bagi Desta.


Tidak lama setelah Desta masuk, Revan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang hingga pahanya.


"Brother, apa lukamu sudah tidak peris lagi terkena air seperti itu?" tanya Revin yang sedikit penasaran karena luka dilengan sang kakak bekas operasi itu sedikit terbuka.


"Tidak," ucap Revan singkat padat dan jelas.


Revan segera memakai pakaiannya setelah Revin dan Desta keluar dari ruangan itu.


Setelah selesai, Revan segera keluar dengan membawa helmnya yang lain, dan menyimpan helmnya yang satu itu, yang sedikit berbau amis.


"Ayo!" ucap Revan kemudian berjalan kearah parkiran setelah berpamitan pada Desta.


Revin segera mengikuti sang kakak dari belakang dengan perasaan kesal, kesal karena kakaknya itu sama sekali tidak menyisakan seorang pun untuk ia bersenang-senang.

__ADS_1


__ADS_2