SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
SEKALI UNTUK SELAMANYA


__ADS_3

Reon berjalan mendekat ke pintu kamarnya dengan tangan yang menggenggam botol air dingin yang ia ambil di kulkas tadi. Ia merasa senang, karena Liona telah menerima hadiah yang ia kirim beberapa hari yang lalu, tentu saja hadiah valentine yang sudah ia siapkan jauh hari. Karena Reon sama sekali tidak ingin merepotkan orang lain.


Reon menghentikan tangannya yang berniat memutar knock pintu untuk masuk ke kamarnya, ia mencoba mempertajam pendengarannya pada suara bising dari arah kamar Carlos.


Karena penasaran, Reon pun berjalan perlahan ke pintu kamar Carlos, ia ingin tahu apa yang menyebabkan suara teriakan yang begitu menyakitkan ditelinga.


"Aduh, Revin! Hentikan! Kau ingin menghancurkan tubuhku kah?" ucap Carlos diiringi dengan rintihan kesakitan yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Reon mengernyit mendengar hal itu, ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


Reon mematung diambang pintu saat melihat sesuatu yang terjadi dihadapannya, mulutnya sedikit terbuka dengan pemandangan dihadapannya itu.


"Kau itu benar-benar tidak tahu ya, selalu saja menyusahkan orang!" ucap Revin kesal dengan menarik kaki Carlos dan menginjak bokong pria itu yang kini tengkurap dengan kaki yang terus berontak minta dilepas.


"Lepasin woy! Sakit tau b**o," ucap Carlos yang sudah tidak bisa menyaring lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Reon masih mematung diambang pintu, ia enggan untuk masuk kedalam dan memilih melihat keintiman dua sahabatnya itu, yang membuat tubuhnya meremang seketika.


Revin menoleh kearah pintu dan terkejut mendapati Reon yang diam mematung diambang pintu, Revin melepaskan kaki Carlos, membuat pria itu bernafas lega. Namun kejadian selanjutnya, membuat ia meringis.


BRUK!


"Aduh!" rintih Carlos saat Revin menendang bokongnya hingga terjatuh dari tempat tidur dengan kepala yang terbentur ke lantai, untung saja tidak berdarah.


"Sia**n kau! Apa kau tidak bisa tidak menendang bokongku kah?" tanya Carlos mencoba sabar, ia belum menyadari jika bukan hanya mereka berdua disana.


Carlos mengernyit saat melihat Revin yang hanya terdiam, gugup sendiri dengan pandangan lurus ke pintu kamar. Carlos mengikuti arah pandang Revin, dan terkejut melihat Reon yang menatap tidak percaya padanya.


Reon mengelengkan kepalanya tidak percaya, lalu satu kata keluar dari mulutnya, membuat kedua orang itu terkejut.


"Homo!" ucap Reon dan segera berlari memasuki kamarnya, karena ia benar-benar merinding saat ini.


Revin dan Carlos bertukar pandang satu sama lain, kemudian segera tersadar dan berteriak memanggil nama seseorang yang telah salah paham pada mereka berdua.

__ADS_1


"REON!" teriak Carlos dan Revin lalu segera beranjak dari tempat mereka untuk segera mengejar Reon yang berlari memasuki kamarnya.


BRAK!


Reon menutup pintu dengan keras, dengan nafas yang tidak beraturan dan bulu kuduk yabg meremang, merinding mengingat keintiman kedua sahabatnya itu.


"Pantas saja Carlos masih jomblo dan Revin yang tiba-tiba memutuskan semua pacarnya dan menolak semua wanita yang menyatakan cinta padanya, rupa-rupanya mereka ....," Reon menggantung ucapannya sendiri, tidak mampu jika harus melanjutkan ucapannya.


Sedang diluar kamarnya, dua orang dengan keras mengetuk pintu kamarnya, dan berteriak membuat para pelayan yang tengah istirahat mengelengkan kepala mereka. Rumah tuan mereka selalu ramai setiap hari sejak kedatangan empat remaja itu.


"REON! BUKA PINTUNYA!" teriak Revin dan Carlos bersamaan, dengan terus mengedor pintu kamar Reon begitu keras.


"Pergilah kalian! Jangan mendekat padaku! Aku tidak ingin tertular hal memalukan itu!" teriak Reon dari dalam kamar membuat Carlos dan Revin saling menatap satu sama lain.


"Kamu salah paham bodoh! Kami tidak seperti itu!" ucap kesal Revin, yang diangguki oleh Carlos.


"Jika kau tidak membuka pintunya, maka aku akan menendangnya hingga terbuka!" ancam Revin dan sedetik kemudian, pintu pun terbuka.


"Hentikan sia**n! Itu sakit woy!" teriak Reon yang sudah tidak tahan dengan kedua sahabatnya yang terus menerus memberikan gratisan pada kepalanya.


"Makanya kalau liat sesuatu yang seperti itu, jangan langsung menyimpulkan!" ucap Revin saat menghentikan kegiatan tangannya yang memberikan pelajaran pada Reon.


"Iya tuh, Apa kau fikir kami akan melakukan hal seperti itu?!," ucap Carlos dengan menampilkan raut wajah tidak percayanya.


"Iya-iya, aku percaya," ucap Reon meski masih ada sedikit keraguan dihatinya.


"Oh iya, Revan belum pulang?" tanya Reon membuat Revin dan Carlos saling menatap, lalu menolah pada Reon dan mengelengkan kepala mereka bersamaan.


"Kok dia lama keluarnya ya? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Reon yang membuat mereka seketika khawatir.


Revin dan Carlos segera berlari kekamar masing-masing untuk mengambil jaket, sedang Reon segera masuk kamarnya dan mengambil jaketnya yang tergeletak diatas sofa didalam kamarnya.


Ia segera keluar dan berlari menuruni anak tangga, diikuti oleh Revin dan Carlos. Kini mereka sudah benar-benar khawatir, takut terjadi sesuatu pada Revan, dan membuat pria itu dalam bahaya tanpa mereka tahu.

__ADS_1


"Grandpa! Grandpa!" teriak mereka berdua memanggil Daenji.


Mereka bertiga terkejut saat tiba dihadapan Daenji diruang tamu. Mereka menatap satu persatu orang yang duduk disofa ruang tamu, seorang pria yang berumur seperti ayah mereka dan juga wanita yang dapat mereka yakini adalah istri pria itu.


Mereka mengerutkan kening mereka, tanda begitu bingung melihat seorang gadis yang begitu lengket pada Daenji, selain Reana tentu saja.


Gadis itu terdiam melihat tiga pria yang kini berdiri dihadapannya, ia mengernyit saat melihat seorang pria beriris mata berwarna keemasan, dan wajah yang begitu mirip dengan Rafael.


"Kami ingin keluar! Kunci motor!" ucap Revin dengan menatap Daenji dan tangan yang terulur meminta kunci motor mereka.


"Benar-benar duplikat!" ucap pria itu dengan tersenyum dan menatap ke tiga remaja itu.


Revin, Reon dan Carlos menoleh dan menatap pria itu penuh tanda tanya.


Daenji menghembuskan nafasnya, "Kunci motor kalian ada di motor masing-masing, masih melekat setelah tadi pagi mesinnya dipanaskan," ucap Daenji dan ketiga remaja itu segera berlari kearah garasi.


"Dasar bocah nakal!" ucap kesal Daenji pada ketiga cucunya, setelah tadi cucu pertamanya datang dan meminta kunci motor dengan terburu-buru.


"Terus yang satu mana, kakek?" tanya pria itu yang tidak lain adalah Anson.


"Dia sudah pergi sedari tadi sebelum kalian datang," ucap Daenji singkat.


Laura masih terus menatap kearah tiga pria itu, yang kini telah menghilang dari pandangannya.


"Kenapa kau terus menatap kearah mereka? Kau menyukai salah satu dari mereka?" ucap Daenji menyadarkan Laura dari lamunannya.


"Tidak! Aku sudah punya pacar, kakek. Jadi tidak akan tertarik pada siapapun, hanya saja seperti pernah melihat mereka secara langsung sebelumnya. Bukan paman Arian, Carlson dan Rafael. Aku lupa dimana," ucap Laura mencoba mengingat dimana ia melihat tiga pria itu secara langsung.


"Syukurlah, jika kau tidak menyukai salah satu dari mereka," ucap Daenji dengan tersenyum kecil, Laura mendogak dan menatap wajah kakeknya itu, "Karena sepertinya mereka semua sudah memiliki pilihan hati masing-masing," lanjut Daenji dengan senyum diwajahnya.


Laura yanga ber oh riah tanpa suara menanggapi ucapan kakeknya itu.


'Jika hal itu memang benar. Maka sudah pasti mereka tidak akan melepaskan wanita mereka, karena sekali keturunan keluarga Li, Sia dan Sang jatuh hati, tidak akan dilepaskan begitu saja,' ucap Daenji dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2