
Pukul 6:05 pagi.
Carlos terbangun dari tidurnya lalu beranjak menuju kamar mandi, untuk segera membersihkan diri dan bersiap untuk pergi kesekolah.
Lima belas menit kemudian.
Carlos keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, hingga memperlihatkan dada bidangnya dan juga perut sixpack nya.
Carlos segera mengenakan kaos hitam sebagai dalaman, baru kemudian seragam sekolahnya.
Lima menit kemudian.
Carlos keluar dari kamarnya dengan penampilan yang rapi, tapi tidak dengan rambutnya, yang memang ia biarkan acak-acakan.
Carlos menuruni tangga dengan santay dan bersiul ria. Carlos sedikit terdiam saat tiba dimeja makan, Carlos mengernyit saat melihat sudah tidak ada ayah dan juga musuhnya disana, yaitu Felisia.
"Pagi, Ma. Papa mana? dan juga ...," tanya Carlos yang mendadak lidahnya keluh saat ingin menyebut nama Felisia.
"Siapa, Car? kalau ngomong itu diselesain, jangan digantung kayak gitu," ucap Fania menasehati putranya itu.
Carlos hanya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian berjalan mendekat dan duduk dikursi disamping Vivian.
"Kakak cari kak Feli ya?" tanya Vivian dengan menatap sang kakak dan menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih, aku tidak bilang begitu," kilah Carlos dan kemudian memakan sarapannya.
Vivian memayunkan bibirnya mendengar ucapan sang kakak.
'Dasar cowok, ngengsi amat sih,' ucap Vivian dalam hati kesal pada kakaknya itu.
"Kak Feli diantar sama papa, karena papa tiba-tiba ada rapat dadakan diperusahaan, dan karena Vivi belum selesai sarapan, jadinya kak Feli deh yang ikut papa, karena kak Feli udah selesai sarapan," ucap Vivian panjang lebar, menjelaskan pada kakaknya itu.
Carlos yang mendengar hal itu, mengernyitkan alisnya, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.
Vivian mengernyitkan alisnya saat mendapati Carlos yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Apaan sih, jangan liatin Vivian kayak gitu kali, Kak." ucap Vivian dengan raut wajah kesalnya.
"Kamu bilang apa sih, ngga jelas banget tau," ucap Carlos kemudian kembali fokus pada sarapannya.
Vivian yang mendengar hal itu, mendadak kesal.
__ADS_1
"Makanya jangan kelamaan jomblo, liat sekarang udah kayak batang kayu yang lapuk, ngga tau apapun tentang cewek, bahkan perasaannya sendiri pun ngga peka, dasar jones," ucap Vivian kesal kemudian meminum air putih disampingnya lalu beranjak dari duduknya, dan keluar dari rumah.
Fania yang mendengar hal itu terdiam, sementara Carlos menatap tidak percaya pada adiknya itu.
"Sia**n, adik durhaka," ucap Carlos sedikit menaikkan nada suaranya agar Vivian mendengarnya.
Fania yang mendengar ha itu, menatap tajam pada Carlos, yang membuat Carlos terdiam seketika dan kembali memakan sarapannya dalam keadaan hening.
* * *
Selesai sarapan, Carlos berpamitan pada Fania dan kemudian berjalan keluar dari rumah untuk segera kegarasi.
Carlos menoleh kekanan dan kekiri, mencari keberadaan sang adik.
"Apa dia sudah benar-benar pergi ya, tapi sama siapa?" tanya Carlos pada dirinya sendiri, kemudian naik kemotornya lalu memakai helmnya.
Carlo menyalakan mesin motornya, lalu melajukannya keluar dari garasi dan melewati gerbang rumahnya untuk segera tiba disekolah.
Lima belas menit kemudian.
Carlos menghentikan motornya saat sudah tiba diparkiran sekolahnya, tidak lama setelah itu, sahabat baiknya pub tiba disampingnya dan segera mematikan mesin motornya.
"Sia**n," umpat Revin kesal kemudian turun dari motornya dan berjalan kearah kelas, diikuti oleh Carlos.
"Kenapa lagi?" tanya Carlos yang kini berjalan beriringan dengan Revin menuju kelas.
"Tau ah, kejam banget jadi saudara, masa dia bangunin gue pake cara itu sih, sadis banget," ucap Revin dengan terus melangkahkan kakinya menuju kelas.
"Maksudnya?" tanya Carlos yang masih beluk mengerti dengan apa yang diucapkan Revin.
Revin tidak menjawab dan memilih untuk terus berjalan, hingga tiba dikelasnya dan duduk dikursinya dengan perasaan kesal.
"Masa dia teriak ditelinga gue pagi-pagi, kenceng banget, bikin gendang telingaku berasa mau pecah aja, brother sia**n," umpat Revin disela-sela ucapannya.
Carlos yang mendengar hal itu, mematung ditempatnya, sungguh tidak mampu berkata-kata lagi.
"Kan kamu sendiri yang mau cepat dia balik kesini, masa kamu juga yang kesel, makanya tidur cepet, jangan begadang terus, kan jadi gitu," ucap Carlos saat tersadar dari keterkejutannya dan menasehati sahabatnya itu.
Revin hanya terdiam dengan nafasnya perlahan-lahan teratur dan tidak lama itu, bel masuk pun berbunyi.
* * *
__ADS_1
Ber istirahat berbunyi, Revin dan Carlo segera meninggalkan kelas, menuju kantin untuk segera mengisi perut mereka dengan makanan.
Revin dan Carlos pun masuk kekantin membuat para siswi melirik kearah mereka.
Revin dan Carlos mendudukkan bokong mereka dikursi dimeja paling pojok dikantin itu, mereka pun memesan makanan dan tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun tiba.
Revin memakan makan siangnta dengan lahap, dan menatap aneh pada Carlos yang belum juga menyentuh makan siangnya dan senyum-senyum sendiri
"Kamu ngapain? dari tadi senyum-senyum kayak orang gila aja," ucap Revin menatap lurus pada Carlos yang duduk dihadapannya dengan mata yang fokus pada ponselnya.
"Lagi chatan sama pacar," ucap Carlos tanpa menoleh kearah Revin.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk," batuk Revin segera menyambar air mineral botol disampingnya hingga tinggal setengah.
"Kamu kenapa, Vin? kayak ngga pernah dengar orang chatan aja," ucap Carlos melirik sekilas pada Revin, dan kembali fokus pada ponselnya.
"What! kapan kamu punya pacar?" tanya Revin tidak percaya pada sahabatnya itu.
"Baru aja tuh," ucap Carlos santay membuat Revin membelalakkan matanya tidak percaya.
"Yang benar saja kau," ucap Revin sedikit menaikkan volume suaranya, membuat para siswa dan siswi lain menatap aneh pada mereka berdua.
"Santay aja kali, kan semalam kamu bilang buat cari jodoh diaplikasi gitu, semalam aku donwload aplikasi cari jodoh gitu, terus masukin foto orang lain, pake kacamata dan yang paling jelek banget, terus palsuin nama, terus lagi edit sedikit data diri, dan ternyata tadi pas aku aktif, ternyata ada cewek yang chat, dan dia bilang aku tipe dia banget, dan ini lagi chatan bareng, mau liat?" ucap Carlos panjang lebar membuat Revin melongo dan dengan cepat mengambil ponsel Carlos.
Revin terdiam dengan apa yang ia lihat, teman jomblonya itu benar-benar melakukan hal yang ia katakan semalam, dan lebih parahnya lagi, foto yang ia jadikan profil sangat-sangat jelek dan culun.
Revin mengernyit saat melihat foto profil wanita yang chatan dengan sahabatnya itu, Revin semakin mendekatkan ponsel itu dan seketika membelalakkan matanya.
'Kok nama akun ini, kayak ngga asing ya, Lisia? kayak pernah denger atau pernah liat deh,' ucap Revin kemudian menatap Carlos yang tersenyum padanya.
'Wah, nih anak udah ngga waras, cuma karena ada wanita yang ingin menjadi kekasihnya meski ia sudah memasang foto sejelek ini, dia menjadi sesenang ini, apakah ini karena kelamaan jomblo ya. Bahaya, sepertinya aku harus segera cari pacar lagi, dari pada nanti aku jadi seperti Carlos,' ucap Revin dalam hati bergidik ngeri membayangkan hal terburuk yang akan terjadi padanya.
Revin mengembalikan ponsel yang ia pengang pada Carlos kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Jadi apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Revin tanpa menatap wajah Carlos.
"Aku akan mengajaknya ketemuan akhir pekan ini, bagaimana?" tanya Carlos meminta pendapat sahabatnya itu.
"Terserah kau sajalah," ucap Revin acuh.
Carlos kemudian kembali berbalas pesan dengan wanita pujaannya, ia benar-benar sudah menjadi bucin mendadak kali ini.
__ADS_1