
Revin, Reon dan Carlos tengah mengintip dicela pintu yang sedikit terbuka, mereka membelakakkan mata mereka saat melihat hal yang begitu mengejutkan.
"Astaga, Revan hebar juga, bisa melakukan kissing seperti itu," ucap Carlos yang berada paling bawah dengan kepala Revan yang berada ditengah dan kepala Reon yang berada paling atas.
Dari pandangan mereka, Revan dan Rania tengah berciuman padahal sebenarnya tidak sama sekali.
Di tengah keasyikan mereka tiba-tiba Carlos merasa keram dikakinya membuat keseimbangannya terngangu dan ...
BRUK.
"ADUH, badan Gue, berdiri woy, badanku sakit!" ucap.Carlos yang merasakan badannya remuk ditimpa oleh Revin dan Reon.
Revan dan Rania menoleh dan terkejut saat melihat Revin, Reon dan Carlos ternyata mengintip dibalik pintu.
"Revin, Reon, Carlos," ucap Revan dingin dan penuh penekanan.
Revin, Reon dan Carlos menoleh dan menatap Revan yang menatap mereka dengan tatapan tajam.
Mereka bertiga hanya mampu cengengesan melihat Revan yang menatap mereka dengan tajam.
"Halo, oh iya, aku segera kesana, mom," ucap Revin pura-pura menelfon dan segera bangkit membuat Reon yang belum berdiri sempurna menjadi oleng dan kembali menimpa tubuh Carlos.
"Aduhh, pinggangku!" rintih Carlos yang merasakan jika pinggangnya benar-benar sudah remuk.
Revin segera berlari keluar dari ruangan meninggalkan Reon yang masih dengan posisi menindih punggung Carlos.
"Woy Reon, kamu mau buat pinggangku remuk apa!" ucap Carlos dan Reon segera bangkit dan lari keluar ruangan meninggalkan Carlos.
Carlos mematung ditempatnya melihat kedua sahabatnya yang lari meninggalkannya sendiri dengan ditatap tajam oleh singa yang siap menerkam kapan saja.
"Aku ditelfon sama Vivian tadi, Bye," ucap Carlos segera mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan itu.
Revan dan Rania terdiam melihat tingkah laku ketiga pria itu.
"Cepat selesaikan!" titah Revan dan Rania pun kembali menyeka tubuh Revan masih dengan menelan salivanya dengan susah payah.
Sementara itu, Revin terus berlari dilobi rumah sakit dan berhenti saat sudah tiba didepan kantin rumah sakit.
__ADS_1
Revin mengatur nafasnya yang tidak beraturan karna berlari tadi.
'Bahaya! pasti Brother akan balas dendam nih,' ucap Revin dalam hati dengan nafas yang memburu.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Revin dan membuat Revin refleks melayangkan bogem mentahnya dan tepat mengenai kepala orang yang menepuk pundaknya.
"Aduh, kepalaku!" ringis Reon saat Revin memberikannya bogem mentah gratis dikepala.
"Ngga berperasaan banget sih loh, Vin. main pukul-pukul orang aja," ucap Reon dengan tangan yang mengelus kepalanya.
"Habis kamu ngangetin, aku 'kan selalu melakukan hal itu saat seseorang mengangetkanku," ucap Revin masih dengan nafas yang tidak beraturan..
" Aduh ... mati aku ... tuh singa bakal ngamuk ..," ucap Carlos yang baru saja menghentikan larinya tepat disamping kedua sahabatnya itu.
Revin, Reon dan Carlos saling bertukar pandang satu sama lain kemudian menghembuskan nafas panjang.
"Ini gara-gara kamu sih, Vin. pake ajarin cara sesat kayak tadi," ucap Carlos merasa paling benar dan polos.
"Hah ... bukankah kamu juga sangat bersemangat tadi," ucap Revin membela diri.
"Tidak peduli siapa yang mengajak, kita semua akan kena imbasnya, aku yakin dia akan sangat-sangat kejam nanti, tinggal nunggu hari aja," ucap Reon membuat Revin dan Carlos menelan salivanya dengan susah payah.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Ana yang baru saja keluar dari kantin rumah sakit dengan Arian yang berdiri disampingnya.
Ketiga pria itu hanya tersenyum dengan dada yang naik turun akibat berlari.
"Tidak apa-apa, Mom. hanya tadi lomba lari aja, hehe," ucap Revin dengan cengegesan.
Reon dan Carlos menganggukkan kepalanya dengan cepat membenarkan ucapan Revin tadi.
Ana mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku ketiga remaja itu.
"Ya udah, ayo kembali keruangan Revan dan makan disana," ucap Ana tersenyum pada ketiga pria itu dengan menunjukkan bungkusan makanan pada ketiga pria itu.
Revin, Reon dan Carlos saling bertukar pandang lalu menelan salivanya dengan susah payah, jika mereka kembali sekarang, bisa-bisa mereka akan mendapat sial.
"Kami akan makan disini saja, mom," ucap Revin dengan tersenyum pada Ana.
__ADS_1
"Tidak boleh, mommy sudah menyiapkan semuanya untuk kalian, kita akan keruangan Revan, kasihan Rania pasti kewalahan sekarang!" ucap Ana yang membuat ketiga pria itu pasrah.
Mereka pun kembali berjalan kearah ruangan Revan.
Saat tiba didepan pintu ruangan Revan, Ana segera membuka pintu dan berjalan masuk diikuti oleh keempat pria dibelakangnya.
Rania tersenyum melihat Ana memasuki ruangan dan mendekatinya setelah menaruh bungkusan makanan diatas meja didepan sofa diruangan itu.
"Makasih ya, Rania. udah jagain Revan," ucap Ana berterima kasih pada gadis dihadapannya.
"Sama-sama, Bibi. lagi pula ini sudah kewajibanku untuk menjaga kak Revan, karna dia jadi seperti sekarang karena aku," ucap Rania menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Tidak perlu seperti itu, aku tidak menyalahkanmu," ucap Revan datat membuat Rania menoleh padanya.
Ana hanya tersenyum melihat hal itu, lalu mendekati Revan setelah meminta Rania untuk duduk disofa, karna pasti sangat lelah mengurus Revan tadi.
Rania hanya mengangguk kemudian duduk disamping Arian yang duduk disofa panjang.
"Kamu pasti merasa lengket, biar mommy ambilkan air untuk membersihkan tubuhmu ya," ucap Ana berniat untuk pergi mengambil air untuk Revan.
"Tidak perlu, mom. tadi Rania sudah membantuku untuk melakukannya," ucap Revan santay membuat Rania tersedak soda yang baru saja ia minum.
Ana terkejut mendengar hal itu, sedang Arian menoleh pada Rania dan mengelus tengkuk putri adik angkatnya itu.
Revin, Reon dan Carlos hanya bisa menahan tawanya melihat Rania dan Revan yang begitu santay mengatakan hal itu.
Ana menoleh pada Rania lalu menatap Revan yang memejamkan matanya dengan punggung yang bersandar pada brangkar dengan posisi duduk.
"Revan, bagaimana kau bisa sesantay itu mengatakan hal yang akan membuat Rania malu," ucap Ana membuat Revan membuka matanya lalu menatap sang ibu.
Rania lagi-lagi tersedak dengan air yang baru saja diberikan oleh Revin padanya.
"Bukankah itu hanya hal biasa, mom," ucap Revan santay membuat Revin menepuk keningnya pusing dengan kakaknya itu yang begitu tidak peka tentang masalah seperti ini, tapi begitu peka dengan masalah lain.
Ana hanya mampuh mengelengkan kepalanya mendengar ucapan putranya itu, sementara Arian terdiam kemudian menoleh pada Revin yang hanya bisa mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Revin menatap sang ayah yang juga menatapnya, Arian menatap Revin seolah bertanya.
__ADS_1
'Apakah kamu berusaha untuk mendekatkan Revan dengan Rania,' pertanyaan yang tersirat dari tatapan Arian kepada Revin.
Revin yang mengerti hal itu hanya bisa menganggukkan kepalanya membuat Arian tersenyum kecil lalu mengelengkan kepalanya.