SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
JANJI


__ADS_3

Rania tengah berbicara dengan seorang pria yang tadi membantunya memungut buku-bukunya, yang tidak sengaja terjatuh saat berjalan.


"Terima kasih, Tuan," ucap Rania dengan tersenyum lembut pada pria dihadapannya itu.


"Sama-sama, cantik," ucap pria itu dan berniat untuk menyentuh rambut Rania.


Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangan Rania lembut, Rania terkejut saat tangannya ditarik oleh seseorang dan tubuhnya tiba-tiba dekap oleh orang yang menarik pergelangan tangannya.


Rania mendongak dan terkejut saat melihat orang yang memeluknya dan menatap tajam pada pria dihadapannya, yang tidak lain adalah Revan.


Revan semakin kesal saat melihat pria dihadapan Rania, yang ingin menyentuh rambut Rania, dan hal itu benar-benar membuatnya kesal.


Pria itu menurunkan tangannya dan menatap Revan yang juga menatapnya tajam dengan Rania yang berada didekapannya.


"Tuan, mobilnya sudah siap," ucap supir pria itu dengan membungkukkan kepalanya.


Pria itu hanya tersenyum kemudian, melihat kearah Revan yang tengah mendekap Rania dengan begitu erat, sangat posesif.


Pria itu berbalik dan pergi meninggalkan Rania dan Revan yang menatapnya tajam.


"Kak ... kak Revan. to ... tolong lepasin," ucap Rania gugup jika harus terus dipeluk seperti ini oleh Revan.


Revan melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Rania lembut kearah motornya yang terparkir tidak jauh dari mereka.


Revan terus menarik tangan Rania hingga tiba didekat motornya, barulah ia melepaskan tangan Rania.


"Jangan berdekatan dengan pria lain, aku tidak suka," ucap Revan menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan.


Rania terdiam mendengar ucapan Revan barusan.


"Maksudnya?" tanya Rania yang tidak mengerti sama sekali.


Revan menghembuskan nafasnya, lalu menatap lekat gadis dihadapannya itu.


"Sesuatu yang sudah aku klaim sebagai milikku tidak boleh disentuh oleh siapapun, aku tidak suka! kamu hanya milikku, tidak akan menjadi milik orang lain," ucap Revan kemudian naik ke motornya.

__ADS_1


Rania terkejut mendengar perkataan pria dihadapannya itu, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


'Ya tuhan, jika ini mimpi, maka jangan bangunkan aku, biarkan aku terus tertidur agar bisa mendengar ucapannya yang seolah-olah cemburu,' ucap Rania dalam hati dengan wajah yang merona merah.


"Naik!" ucap Revan menyadarkan Rania dari keterkejutannya dan juga lamunannya.


Ditengah perjalanan, Rania hanya terdiam dengan memeluk pinggang Revan erat, dengan sesekali tersenyum kecil.


Revan menghentikan motornya diparkiran, bukan diparkiran apartemen, melainkan diparkiran dekat danau yang menjadi salah satu wisata dinegara S, yang cukup digemari para pasangan yang baru saja jadian.


Rania hanya terdiam ketika turun dari motor, kemudian menoleh kearah Revan yang juga menatapnya.


Revan lagi-lagi menarik tangan Rania hingga mendekat kearah danau, dimana ada beberapa pasangan yang sedang menikmati kencan mereka.


"Aku akan pulang besok, karena ternyata pekerjaanku disini selesai lebih cepat," ucap Revan tiba-tiba dan melepaskan tangan Rania.


Rania hanya terdiam, dan kembali menyentuh dadanya yang lagi-lagi terasa sakit, mendengar Revan akan pulang kembali ke negara A.


'Kamu mengharapkan apa Rania, dia hanya simpati padamu, dia sama sekali tidak ada rasa padamu, mungkin yang tadi itu hanya kebetulan saja, atau hanya keisengannya,' ucap Rania dalam hati dengan menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih.


"Mungkin aku tidak akan datang kesini lagi dalam waktu dekat, mungkin dalam kurung waktu yang cukup lama," ucap Revan dengan posisi membelakangi Rania.


"Apa aku bisa meminta sesuatu padamu," ucap Revan membuat Rania tersentak kemudian mendongak dan menatap punggung Revan.


"Apa," ucapnya lirih dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang.


Revan berbalik dan berjalan mendekat kearah Rania dan menatap gadia itu intens.


"Jaga hatimu untukku, dan berjanjilah, ketika aku kembali, aku ingin melihatmu pertama kali ditempat ini, aku tidak terima bantahan," ucap Revan dan tiba-tiba mengecup bibir Rania yang lama-lama menjadi *******.


Rania tidak membalas dan hanya terdiam dengan keterkejutannya.


Revan menjauhkan wajahnya dari wajah Rania dan tersenyum kecil melihat bibir Rania yang sedikit bengkak akibat ulahnya tadi.


"Jika kau berani melanggarnya, maka jangan salahkan aku, mengikatmu saat itu juga, mengikatmu hingga tidak bisa lepas dari tanganku dan juga dari hidupku," ucap Revan dengan senyum dibibirnya yang semakin membuat jantung Rania berdetak kencang.

__ADS_1


"Ayo pulang," ucap Revan lembut dan lagi-lagi menarik tangan Rania ke motornya.


* * *


Pukul 7 pagi.


Kini Revan berada dibandara, bersiap untuk kembali ke Negara A. Hanya Kimso yang mengantar Revan kebandara, karena Rania harus pergi kesekolah, dan soal tadi malam, Rania sama sekali tidak bisa bertemu dengan Revan setelah tiba diapartemennya, ia segera masuk kekamar dengan wajah yang merona merah.


Bahkan disaat makan malam, Rania tidak ikut makan, dikarenakan malu pada Revan, begitu pun dengan tadi pagi, dan semua hal yang terjadi didanau itu sama sekali tidak diketahui oleh Kimso dan Fira.


"Salam untuk Daddy dan mommymu, dan juga pada Revin dan Reana ya, hati-hati dijalan," ucap Kimso dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Revan.


Revan pun naik ke jet pribadi milik sang ayah, yang akan membawanya kembali kenegara S.


Revan mendudukkan dirinya ditempat tidur didalam jet pribadi itu dan perlahan-lahan membaringkan tubuhnya.


"Pria itu ... orang yang berbahaya, melihat wajahnya saja sudah membuatku kesal, untung saja aku sudah meminta seseorang untuk menjaga Rania, aku tidak tenang jika harus meninggalkannya tanpa seseorang yang menjaganya, aku berharap waktu akan cepat berlalu," ucap Revan kemudian memejamkan matanya dan tiba-tiba wajah pria itu terlintas difiikirannya.


'Firasatku mengatakan, jika aku akan bertemu lagi dengannya, dan mungkin pertemuan selanjutnya, tidak akan berakhir baik,' ucap Revan dalam hati dengan raut wajah marah.


* * *


Sementara itu dikediaman Arian.


Revin berlari dengan cepat menuruni anak tangga, dengan tas yang ia bawa ditangannya beserta dasi dan juga sepatunya.


Revin membuang semua barangnya diatas sofa, kemudian mengancingkan seragam sekolahnya dengan cepat, baru kemudian memakai sepatunya dengan cepat.


Revin memasang dasinya dengan cepat kemudian berlari kearah meja makan, untuk mengambil sarapannya pagi ini yang berupa roti dengan selai coklat kesukaannya.


"Pagi, mom, dad," ucap Revin kemudian mengambil roti yang sudah diberi selai coklat oleh Ana.


Revin segera berlari kembali keruang tamu, dengan mengigit roti itu dimulutnya, dan dengan cepat mengambil tasnya disofa, lalu berlari keluar rumah untuk segera berangkat kesekolah.


Arian dan Ana hanya terdiam melihat hal itu, lalu bertukar pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Sia**n, aku telat lagi, mana mommy tidak membangunkanku lagi, dan juga Reana udah pergi lebih dulu, ngga tau sama siapa, akan ku potong tangan orang itu jika berani macam-macam pada adikku," omel Revan dengan mulut yang mengunyah roti dan kemudian memakai helmnya dan segera menyalakan mesin motornya keluar gerbang rumahnya.


'Aku harap brother segera pulang,' ucap Revin dalam hati dengan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi karena ia benar-benar sudah terlambat.


__ADS_2