
Rania menatap bingung pada pria yang berjalan disampingnya, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayah dari pacarnya itu.
"Maksud paman?" tanyanya bingung.
Arian menghentikan langkahnya membuat Rania ikut menghentikan langkahnya.
"Revan bukan pria yang sempurna, Rania," ucap Arian membuat Rania semakin bingung. "Dia memiliki banyak hal yang mungkin akan sulit diterima oleh orang lain, paman juga bukan orang yang baik, seperti yang kau lihat," lanjutnya membuat Rania terdiam.
"Dia manusia yang memiliki kesalahan yang sangat besar, sama seperti paman," ucapnya lagi dengan menaruh tangannya di dada.
"Paman, saya tidak mengerti dengan apa yang paman katakan. Tapi saya janji, saya tidak akan meninggalkan Revan dalam keadaan apapun, suka maupun duka, saya janji," ucap Rania dengan tersenyum kecil pada Arian.
Arian tersenyum senang mendengar hal itu, ia kemudian menyentuh rambut Rania mengusapnya dengan sayang, karena sekarabg gadis itu sudah menyandang status calon menantunya. Tinggal menunggu waktu sampai Revan menikahinya.
"Terima kasih," ucap Arian yang dibalas gelengan kepala oleh Rania.
"Tidak perlu berterima kasih, paman. Saya mencintai Revan dengan tulus, dan saya yakin kalau Revan juga mencintai saya. Jadi tidak perlu mengucapkan terima kasih, tanpa paman minta pun, saya akan tetap bersama Revan dalam keadaan apapun," ucap Rania membuat Arian mengigit bibir bawahnya, sungguh ia melihat duplikat istrinya dari gadis dihadapannya itu.
"Jangan panggil paman, panggil Daddy," ucap Arian dengan senyum diwajahnya.
"Da-daddy," ucap Rania gugup dengan wajah merona merah.
"Ayo, kita segera pergi membeli bubur," ucap Arian dan diangguki oleh Rania.
Mereka mulai berjalan kembali menuju kantin dengan sesekali Arian bersenda gurau dengan calon menantunya itu, Rania seperti melihat Revan versi tua dari diri Arian membuat ia terkikik geli sendiri.
'Apapun yang terjadi, aku akan tetap disamping Revan sampai mau memisahkan,' ucap Rania dalam hati dengan menyentuh dadanya.
* * *
Sementara itu dikamar rawat.
__ADS_1
Revan terus saja melihat kearah pintu masuk dengan tidak sabaran, membuat Revin yang tiduran dibrangkar disampingnya sedikit berdecak.
"Sepertinya anaknya Arian menduplikat sifat dan wajahnya ya, bahkan yang terburuk sekalipun diduplikat. Seperti melihat Arian waktu muda dulu," bisik Rafael dengan menatap Revan dan Revin bergantian.
Carlson hanya berdehem menanggapi ucapan Rafael yang memang ada benarnya, Carlos dan Reon yang mendengar hal itu, mempertajam pendengaran mereka, agar bisa mendengar sifat paman Arian yang terkenal begitu baik.
"Revan seperti sifat posesif dan kejamnya, sedang Revin seperti sikap jahil dan menyebalkannya, dibubuhi oleh sifat posesif tingkat tinggi. Sungguh ciptaan yang sempurna, duplikat tiada dua," ucap Carlson setengah berbisik.
"Benar sekali. Tapi kok sifat putra kita sama sekali tidak sama ya dengan sifat kita berdua," ucap Rafael membuat Carlson mendogak lalu menatap Reon dan Carlos yang berpura-pura acuh.
"Iya sih, mungkin saat kau membuatnya, kau memikirkan Arian," ucap Carlson membuat sebuah tangan melayang dan hampir mengenai kepalanya seandainya dia tidak menunduk.
"Sialan kau! Bukankah putramu juga tidak menduplikatmu dengan sempurna, apa yang kau pikirkan saat membuatnya," ucap Rafael dengan suara yang sedikit keras.
Revan dan Revin menoleh kearah dua pamannya itu, yang tengah berdebat, entah masalah apa. Reon dan Carlos menatap tidak percaya pada ayah mereka.
"Yang penting aku memikirkan istriku saat melakukan itu, jadi sifatnya mirip dengan Fania. Sedang kamu, hampir semua mirip Arian," ucap Carlson dengan melirik kearah Reon yang terdiam, tanpa tahu maksud dua pria dewasa itu.
Empat remaja itu terdiam dengan mulut terbuka mendengar perdebatan dua orang itu, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Ekhem," suara deheman terdengar dari arah pintu, membuat mereka semua menoleh dan terkejut melihat Arian dengan wajah datarnya menatap kearah dua sahabatnya itu.
"Jika ingin bertengkar, lebih baik diluar. Kalian menganggu istirahat mereka," ucap Arian lalu berjalan mendekat ke sofa dan meletakkan dua buah bubur untuk Reon dan Carlos yang berada didalam gresek berwarna putih.
"Iya, kami tidak akan bertengkar lagi," ucap Carlson dan Rafael bersamaan, seperti anak yang patuh pada orang tuanya.
Revan, Revin, Reon dan Carlos semakin terdiam mendengar hal itu. Arian kembali berjalan mendekat ke brangkar dua putranya itu lalu menaruh bubur itu diatas meja yang berada ditengah-tengah brangkar Revan dan Revin.
"Rania, kau bisa menyuapi Revan. Tangannya tidak bisa terlalu digerakkan," ucap Arian dengan tersenyum membuat Rafael dan Carlson terdiam dengan mulut yang terbuka.
"Apa benar, jika putrinya Kimso itu adalah calonnya Revan?' bisik Rafael ditelinga Carlson.
__ADS_1
"Aku rasa memang iya," ucap Carlson dengan menatap tidak percaya pada apa yang ia lihat.
"Car, kapan kamu membawa gadis yang akan menjadi menantu papa kerumah?" tanya Carlson tanpa menoleh pada putranya itu.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" batuk Carlos dan segera menyambar air yang disodorkan oleh Reon.
Carlson dan Rafale menoleh pada Carlos yang tiba-tiba tersedak, padahal yang ia makan adalah bubur. Kini mereka tau, jika bubur juga bisa membuat orang tersedak dengan begitu tragis sampai menghabiskan satu gelas air minum.
"Kamu ayah yang kejam, Carl. Anakmu tersedak malah kau liatin seperti itu, bukannya memberikannya air minum," ucap Rafael dengan menatap tidak percaya pada Carlos yang baru saja menghabiskan air satu gelas.
"Aku baru ingin memberikannya air, tapi sudah di dahului oleh Reon," ucap Carlson lalu kembali menatap putrinya, menanti jawaban yang akan keluar dari bibir putranya itu.
Saat Carlos ingin menjawab, Reon sudah lebih dulu berbicara membuat remaja itu kembali tersedak.
"Carlos tidak punya pacar, paman," ucap Reon yang memang masih belum mengetahui kebenaran bahwa Carlos dan Felisia berpacaran, bahkan wanita itu saja belum mengetahui hingga sekarang, jika Carlos adalah Carlie.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Carlson segera menyodorkan air putih milih Reon pada putranya. Carlos menatap tajam Reon dengan meneguk air minum digelas yang diberikan ayahnya.
"Berarti papa perlu mencarikanmu pasangan," ucap Carlson membuat Carlos menyemburkan air yang ia minum.
"Maksud papa?" ucap Carlos setelah menyeka air yang menetes dari mulutnya.
Reon menatap datar hal itu, lalu menaruh mangkuk buburnya diatas meja, nafsu makannya menghilang karena air yang menyembur dari mulut Carlos mengenai buburnya.
Revan dan Revin yang melihat hal itu berusaha untuk menahan tawa mereka, karena jujur hal yang mereka lihat saat ini benar-benar lucu. Seorang ayah ingin mencarikan putranya calon, padahal putranya sudah memiliki calon, bagaimana ceritanya coba.
"Ya papa akan meminta mama-mu untuk mencari pasangan untukmu, agar kau tidak sendiri lagi," jelas Carlson pada putranya itu.
"Tidak! Aku sudah memiliki pasangan, Pa," ucap Carlos membuat Reon menatap tidak percaya padanya, begitupun dengan Carlson.
__ADS_1