
Pukul 8 malam.
Mereka berempat kini berada dimeja makan bersama dengan Daenji. Tangan Revan sudah diperban dan Rania juga sudah di antar oleh Revin dengan taksi tadi siang, setelah keributan yang terjadi pada para siswa dan siswi yang melihat Rania dikecup singkat oleh pria tampan.
Daenji menatap Revan yang memakan makanannya dengan lahap tanpa berniat bersuara, sedang Revin berusaha untuk makan dengan tenang, meski sebenarnya ia ingin sekali memukul seseorang disamping kakeknya itu, yang tidak lain adalah Franco.
Reon dan Carlos hanya makan dengan kepala tertunduk seolah takut untuk mendogak.
"Maaf, karena kelalaian kakek, kalian harus merasakan hal seperti ini, terutama Revan," ucap Daenji memecah keheningan yang melanda.
Revan mendogak dan menatap kakeknya yang juga menatapnya.
"Tidak perlu minta maaf, aku baik-baik saja," ucap Revan acuh dan kembali menyuap makanan ke mulutnya.
Daenji menghembuskan nafasnya, berbicara dengan Revan sama saja dengan berbicara dengan Arian. Irit tapi pedas.
* * *
Dua bulan kemudian.
Sudah dua bulan sejak kejadian itu, dan penjangaan ketat sudah diberikan untuk melindungi Rania. Sedang ke empat sahabat itu harus menghadapi hidup bagai di neraka karena selalu mendapat ngangguan dari para wanita.
Sudah dua bulan kehidupan ke empat orang itu tenang, karena pria itu belum juga menyerang mereka lebih dulu, membuat mereka berempat harus sabar menanti serangan selanjutnya. Karena kali ini mereka tidak boleh terlalu gegabah, orang yang mereka hadapi juga memiliki kekuasaan yang besar dinegara S.
"Aduh, bosan," ucap Carlos dengan kepala yang berada diatas meja dan menatap nanar keluar kaca transparan dikantin itu.
Mereka sudah berada dikantin beberapa saat yang lalu, saat jam kelas berakhir mereka segera keluar menuju kantin. Dan disinilah mereka sekarang, duduk dikursi paling pojok didalam kantin yang tetap saja menarik perhatian para mahasiswi.
"Apakah hidupku selama dua tahun kedepan akan tetap sama seperti ini," ucap Carlos lesuh dengan wajah yang di tekuk.
Revan, Revin dan Reon hanya mengabaikan ucapan Carlos yang entah sudah keberapa kali ia ucapkan hari ini.
"Oh iya, Car. Aku dengar Vivian akan datang hari ini ya? Kapan?" tanya Reon yang sedikit penasaran dengan kedatangan adik sahabatnya itu yang begitu tiba-tiba.
Revin menoleh kearah Reon, lalu menatap Carlos yang terlihat sedikit berfikir. Revin terus menatap Carlos, menanti jawaban yang akan keluar dari mulut pria itu.
"Entah, aku tidak tau. Hanya Grandpa saja yang tau," ucap Carlos membuat raut wajah Revin berubah kecewa.
Revan menatap adiknya itu dengan geli, ia mencoba menahan tawanya melihat tingkah laku Revin yang terlihat sedikiy aneh. Suka takut bilang, begitu mungkin fikir Revan
"Dan lagi, karena besok kita libur, berarti kita bisa menginap malam ini diapartemen kan?" ucap Carlos kegirangan.
__ADS_1
Sehari setelah kejadian dua bulan yang lalu, Arian datang dan menemui Daenji. berdebat dengan kakeknya itu, bahkan hampir membunuh Wertons karena telah lalai menjalani tugasnya.
Arian memberitahukan pada Daenji untuk mengijinkan keempat remaja itu tinggal diapartemen setiap malam minggu dan Daenji hanya mampu menuruti ucapan Arian.
Arian berniat untuk membantu putranya, tapi lagi-lagi mereka mengatakan ingin menyelesaikan masalah ini. Jadi Arian meminta 100 orang anggota dragon night untuk menetap dan berada tidak jauh dari lokasi empat remaja itu, untuk jaga-jaga.
"Brother, bisa gantikan aku malam nanti tidak?" tanya Revin menatap kakaknya itu.
Revan mengernyit dan menatap adiknya itu, sedang kedua sahabatnya menatap aneh pada Revin.
"Gantikan apa?" tanya Revan penasaran.
"Temani Laura ke pesta sahabatnya malam ini, aku sudah berjanji pada gadis itu. Jadi tidak enak jika aku tidak datang, tapi aku merasa tidak enak badan sekarang. Gantikan aku ya Brother," jelas Revin panjang lebar menatap kakaknya itu.
"Baiklah," ucap Revan malas, untung saja malam ini ia tidak ada janji dengan Rania, maka ia bisa membantu adiknya itu.
Revin tersenyum senang, sedang Reon dan Carlos menatap malas pada pria itu.
* * *
Pukul 7 malam.
Saat ini Revan dan Revin tengah berada diapartemen milik ayahnya, apartemen yang sudah sedikit diubah, hingga memiliki 3 kamar yang dulunya hanya dua kamar. Kamar tamu dan kamar Arian, tapi kini kamar Revan dan Revin dan kamar tamu.
Revan sudah selesai mandi, ia kini bersiap-siap untuk memakai baju yang akan dipakai adiknya malam ini, tapi sayangnya ia yang harus memakainya.
Revan sudah mengirim pesan pada Rania, jika malam ini ia akan pergi dengan Laura, kakak dari Tyana yang kini sekolah di negara F, meninggalkan Rania hari itu.
"Brother, nanti disana jangan lupa senyum ya, buat agar semirip mungkin denganku, agar Laura tidak curiga kalau bukan aku yang datang," ucap Revin santai dengan posisi tiduran disofa.
"Hm," Revan hanya berdehem lalu segera berlalu keluar dari apartemen, setelah selesai memakai pakaiannya.
"Hati-hati dijalan, brother," ucap Revin sedikit berteriak yang entah Revan dengar atau tidak.
"Vivian, apa kamu sudah sampai?" lirih Revin dengan menatap langit-langit apartemen.
* * *
Satu jam kemudian.
Sudah satu jam lebih Revan menemani Laura sebagai Revin, mereka berada di mall terbesar di negara S, mall yang sudah disediakan hari ini khusus untuk merayakan ulang tahun salah satu teman Laura.
__ADS_1
Gadis itu mengundang Revin untuk menemaninya, karena pacarnya tengah pergi keluar kota mengikuti ayahnya hari ini. Jadi Laura tidak punya pilihan lain selain mengajak Revin pergi, padahal yang disampingnya sekarang adalah Revan.
"Astaga, Laura pacar kamu ganteng banget," ucap salah satu sahabat Laura, karena saat ini mereka tengah bercengkrama berbincang-bincang ringan.
"Hehe, terima kasih atas pujiannya," ucap Laura dengan tersenyum, sedang Revan berusaha memaksa senyum diwajahnya, senyum tulus hanya bisa untuk Rania dan keluarganya, untuk orang lain akan sangat sulit untuknya tersenyum tulus.
Tiba-tiba seseorang tidak sengaja menyenggol Laura membuat gadis itu memeluk Revan untuk mempertahankan keseimbangannya.
Revan membantu Laura untuk berdiri dan tiba-tiba matanya tidak sengaja menatap seorang gadis yang berdiri didepan pintu diluar restoran didalam mall itu.
"Dia kan ...," lirih Revan dan terkejut saat gadis itu berbalik dan berlari menjauh dari restoran itu.
"Laura, kamu disini dulu. Aku ingin ke toilet," ucap Revan beralasan dan segera keluar dari restoran itu berlari untuk mengejar gadis yang entah lari kemana.
"Sialan! Kemana dia?" ucap Revan saat tiba diparkiran mall, tapi tak juga melihat gadis itu.
"Apa aku pergi mencarinya ditempat lain, tapi kalau meninggalkan Laura sendirj disini juga berbahaya," ucap Revan sedikit bingung sekarang, ia teringat akan sesuatu dan segera merogoh saku celana lainnya dan menelfon nomor seseorang disana.
* * *
Revin sibuk dengan memakan buah apel yang entah sudah keberapa, masih asik menguyah buah apel ditangannya, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
Revin mengernyit saat melihat siapa yang menelfonnya, ia pun segera mengangkat telfon itu dengan malas.
"Halo, kenapa?" tanya malas dengan mulut yang menguyah.
Revin terdiam saat mendengar penjelasan orang yang menelfonnya, membuat ia terdiam dan seketika berdiri dari duduknya.
Ia memutuskan panggilan sepihak lalu segera memasuki kamarnya mangambil jaket beserta kunci motornya, lalu segera keluar dari pintu apartemen dengan tergesa-gesa.
* * *
-
-Halo pembaca setia SOTR
PENGUMUMAN KECIL BUAT KALIAN NIH😁
PENASARAN SAMA HIDUP ADIK DUA R?
BACA KISAHNYA YUK UDAH TERBIT LOH😉
__ADS_1
R & D (REANA & DION) MENUNGGU KALIAN🥰
JANGAN LUPA LIKE😘