
Pukul 7 malam.
Semua orang berkumpul diruang tamu dirumah Arian. Arian, Ana, dan ketiga anak mereka tengah menatap pada Rania dan Kimso yang tengah berpelukan disana, serta Fira yang menangis bahagia karena putrinya baik-baik saja.
"Maafkan ayah, karena tidak bisa melindungimu," ucap Kimso merasa bersalah pada putrinya itu.
"Iya, ayah. Tidak perlu minta maaf, ayah tidak ada salah dengan Rania, jadi untuk apa minta maaf," ucap Rania saat pelukan sang ayah terlepas dari tubuhnya.
Kimso hanya menganggukkan kepalanya, lalu menoleh pada Revan yang berdiri dengan menatap kearah mereka.
"Terima kasih," ucap Kimso dengan menatap Revan.
Revan hanya tersenyum menanggapi ucapan calon mertuanya itu, sedang Revin hanya terdiam dan memilih melihat ponselnya.
"Baiklah, tidak perlu lagi membahas hal yang akan menguras air mata, beberapa hari lagi, Revan dan Rania akan menikah. Jadi sebaiknya kita mempersiapkan semuanya mulai dari besok," ucap Arian yang diangguki oleh Kimso dan Fira.
"Sebaiknya kita makan malam, ini sudah saatnya makan malam," ucap Ana dengan tersenyum.
Mereka pun berjalan kearah meja makan, untuk segera makan malam. Ditengah makan malam, mereka mulai membicarakan hal yang akan mereka lakukan beberapa hari ini.
* * *
Pukul 10 pagi.
Arian, Ana dan tiga anaknya tengah duduk diruang tamu, bersama dengan Fira dan Kimso. Rania berjalan keluar dari dapur, setelah tadi mengambil buah didalam lemari pendingin, buah yang ingin Revan makan.
Revan tersenyum saat melihat Rania berjalan mendekat kearahnya, dan kemudian meletakkan piring berisikan buah yang telah dipotong-potong oleh Rania.
"Tiga hari lagi adalah pernikahan kalian, semua dekorasi sudah hampir selesai dipasang. Apa masih ada yang ingin kalian tambahkan?" tanya Arian pada calon pengantin dihadapannya itu.
"Tidak, Daddy. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Revan dengan mulut yang menguyah apel.
"Baiklah," ucap Arian dengan menganggukkan kepalanya.
"Selamat pagi, paman, bibi," ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam rumah dengan tersenyum pada setiap orang yang ada diruang tamu.
"Eh, Vivian," ucap Ana dengan tersenyum, lalu menepuk sofa disamping kirinya. Karena Rania sudah duduk disamping kanannya.
"Makin cantik aja deh," ucap Ana yang membuat pipi Vivian merona merah.
__ADS_1
"Bibi bisa aja deh," ucap Vivian dengan kepala menunduk malu.
"Beneran tau, mirip kayak aku dulu," ucap Ana semakin membuat wajah Vivian merona merah.
"Mana ada! Kamu masih jauh lebih imut dulu," ucap Arian menimpali, membuat Vivian tersenyum kecil, begitupun dengan Rania.
"Iya, memang imut aku dulu. Sampai buat pria berusia 24 tahun kebelet nikah," ucap Ana membuat Arian tersenyum kecil.
Semua orang disana mulai diam, dan memilih menyimak ucapan suami istri itu.
"Iya ya, dan pengen terus dalam kamar buat bikin Revan sama Revin," ucap Arian membuat wajah istrinya merona, sedang kedua putranya mengernyit bingung.
"Dasar mesum, ada anak-anak tau," ucap Ana dengan wajah meronanya.
"Kan jujur sayang, masa harus bohong," ucap Arian membuat Ana mengelengkan kepalanya.
"Memang pas bibi nikah sama paman, umur bibi berapa?" tanya Vivian yang mulai penasaran dengan kisah cinta orang tua pacarnya itu.
"Waktu itu 19 tahun," ucap Ana membuat Vivian terdiam.
"Sembilan belas tahun? Serius mom?" tanya Revin tidak percaya.
Reana terdiam mendengar hal itu, lalu menatap sang ayah dari atas kebawah.
"Masa sih, mom. Orang Daddy cakep gitu dibilang pelayan?" tanya Reana tidak percaya.
"Serius tau, mommy ngga bohong," ucap Ana membela diri.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dari arah pintu masuk, membuat mereka semua menoleh dengan tatapan datar.
"Selamat pagi semua!" teriak Rafael yang berjalan mendekat kearah ruang tamu bersama Sarah disampingnya, dengan Carlos dan Fania dibelakangnya.
"Lagi bahas apaan nih?" tanya Rafael kepo dan mendudukkan diri disofa panjang bersama dengan Sarah.
"Lagi bahas mommy dan Daddy," jawab Reana, sedang Carlos memilih untuk duduk disamping Revin dan Fania yang duduk disampingnya.
"Memangnya Daddy kalian kenapa?" tanya Rafael, semakin penasaran.
"Katanya dulu pas mommy nikah sama Daddy, dia ngira kalau Daddy itu pelayan, emang benar paman?" tanya Reana menatap lekat Rafael yang terdiam lalu menatap Arian.
__ADS_1
"Hahaha, kakak ipar masih ingat saja," ucap Rafael dengan tertawa, sementara Carlson mengelengkan kepalanya.
"Kan, mommy bener. Bahkan dulu daddymu dikira gig**o sama orang-orang," ucap Ana membuat Carlson dan Rafael terdiam dan menatap Arian.
"Hahahaha," Rafael dan Carlson tertawa keras membuat Arian memutar bola matanya malas.
"Kamu dikira gig**o dimana? Kenapa ngga cerita sama kami Woy," ucap Rafael disela-sela tawanya.
"Malas," ucap Arian membuat Rafael menatap datar padanya.
"Ck," Rafael berdecak, lalu menatap Kimso yang sedari terdiam. "Dia dikira ****** di mana, Kimso? Kenapa tidak cerita pada kami!" ucap Rafael membuat Kimso mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Di pestanya pernikahan Melinda," ucap Ana, membuat Rafael dan Carlson tertawa semakin keras.
"Seandainya aku ada disana, mungkin aku yang akan tertawa paling keras," ucap Rafael membuat Arian ingin menguburnya hidup-hidup sekarang.
"Sudah puas ketawanya," ucap Arian dengan malas membuat Rafael bungkam seketika.
Vivian hanya diam, dengan pikiran melayang kemana-mana. Ia menatap Ana yang tersenyum kecil kearah Arian, lalu tiba-tiba menoleh pada Vivian.
"Kenapa?" tanya Ana membuat semua ornag fokus padanya dan Vivian.
"Bibi serius, nikah diumur sembilan belas tahun?" tanya Vivian sekali lagi, membuat ibunya tersenyum kecil.
"Iya, Vi. Bahkan Sarah juga menikah diusia sembilan belas tahun," ucap Fania membuat putrinya menoleh padanya.
"Beneran?" ucap Vivian dengan menatap Sarah.
"Iya, tanya aja sama orang mesum ini," ucapnya dengan menunjuk suaminya sendiri.
"Apaan sih, sayang. Aku kan cuma mesum sama kamu, kalau sama orang ngga mungkin. Ngga nafsu," ucap Rafael yang hanya membuat Sarah memutar bola matanya malas.
"Lagi bahas apaan nih?" tanya Carlos tiba-tiba membuat semua orang disana terkejut dan menoleh padanya dan Reon yang juga ada disana, dengan istri masing-masing.
"Tidak ada sayang. Cuma bahas masa lalu aja," ucap Fania pada putranya itu.
Carlos hanya ber-oh riah, lalu menarik tangan istrinya ke sofa panjang disana. Arian sengaja membuat ruang tamu dengan ukuran besar dan banyak sofa, karena hal yang seperti sekarang biasa terjadi.
Tiba-tiba Carlson mengusap kepala Revin, membuat pria itu tersentak dan menoleh padanya.
__ADS_1
"Sabar ya, nanti kalau sudah tiba waktunya, pernikahanmu yang paling meriah," ucap Carlson dengan tersenyum pada Revin.