SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
ISTIRAHAT


__ADS_3

Arian mengupas buat Apel untuk kedua putranya, kemudian membela menjadi dua bagian.


"Bagaimana Daddy bisa mengetahui jika kami ada dihotel itu?" tanya Revin yang penasaran dengan menguyah apel yang diberikan Arian.


"Daddy menaruh penyadap diponsel kalian, dan meminta anggota dragon night untuk mengintai dan melihat semua pergerakan kalian, lalu melaporkannnya pada Daddy," ucap Arian dengan terus fokus mengupas apel untuk kedua putranya.


Revan dan Revin terdiam, dan menatap ayahnya yang duduk dikursi ditengah-tengah brangkar mereka.


"Mereka mungkin berada cukup jauh dari lokasi kalian, tapi mereka selalu melaporkan semuanya pada Daddy," lanjut Arian semakin membuat kedua putranya terkejut.


"Mereka segera pergi ke hotel setelah memberitahu Daddy, tapi sayangnya mereka dihalau oleh cukup banyak pembunuh bayaran dijalan. Itu yang membuat mereka terlambat pergi ke hotel," jelas Arian lagi, membuat kedua remaja itu mematung dengan mulut terbuka.


"Ada apa dengan kalian?" tanyanya dengan menatap bergantian kedua putranya itu.


"Terus Reon dan Carlos ....," ucap Revin setelah menggelengkan kepalanya.


"Mereka berada cukup jauh dari tempat dragon night, hingga membutuhkan waktu lama untuk sampai ke dermaga itu," jelas Arian menceritakan semua yang dikatakan oleh anggota dragon night.


"Tapi mereka baik-baik saja kan, Dad?" tanya Revan, yang begitu khawatir dengan kedua sahabatnya.


"Iya, bahkan mungkin sekarang mereka tengah bermain game," ucap Arian kembali menyodorkan apel yang ia potong pada Revan dan Revin.


Revan dan Revin mengangguk mendengar hal itu, mereka sangat senang mendengar jika kedua sahabatnya baik-baik saja.


"Untuk tahun ini hingga tahun depan, mungkin masih akan aman tanpa penganggu. Jadi kalian bisa beraktifitas seperti biasanya. Tapi untuk beberapa hari ini, kalian akan dirawat dirumah sakit," ucap Arian yang terdengar seperti perintah ditelinga kedua putranya.


"Baik, dad," ucap mereka patuh lalu kembali menguyah apel ditangan mereka.


"Besok jangan lupa untuk menelfon mommy kalian, dia sangat khawatir," lirih Arian dengan kepala tertunduk.


"Baik, Daddy. Kami mengerti, terima kasih karena telah membesarkan kami dan merawat kami hingga saat ini. Kami tidak akan mengecewakan Daddy," ucap Revan dan Revin serentak.


Arian tersenyum mendengar hal itu, lalu mengacak rambut kedua putranya dengan bangga.


"Setelah memakan apel itu, segera kembali tidur, mengerti!" ucap Arian dan lagi-lagi diangguki oleh kedua anaknya.

__ADS_1


* * *


Pukul 9 pagi.


Revan menatap datar pada semua sudut ruangan rawatnya, ia menghembuskan nafasnya untuk kesekian kali karena bosan. Sedang Revin hanya bermain game dengan tangan yang sesekali mengambil apel diatas meja, yang sudah dipotong-potong oleh sang ayah.


Ia ingin menelfon Vivian, tapi takut jika menganggu konsentrasi belajar gadis itu.


Pintu kamar rawat mereka terbuka, menampilkan dua orang remaja laki-laki yang memakai baju pasien tengah berjalan menghampiri sofa, kemudian mendudukkan diri dengan santai dan tak lupa dengan tiang infus yang berada disamping sofa.


Revan menatap datar pada Carlos dan Reon, sedang Revin memilih untuk tetap memainkan gamenya tanpa berniat melihat rupa kedua sahabatnya itu.


"Wah, wajahmu bagus sekali, Car. Cantik dan mulus," ucap Revan menyindir Carlos yang membuat Reon menahan tawanya.


Carlos menatap datar pada pria yang tengah mengejeknya itu, ingin sekali rasanya ia berlari menghampiri Revan dan memukulnya. Tapi sayangnya, ia tidak ingin merasakan sakit lagi pada bagian yang mungkin akan dipukul oleh pria itu.


Revin mengernyit mendengar ucapan yang keluar dari mulut kakaknya, ia pun mendogak dan menatap Carlos.


Satu ....


Dua ....


"Hahahaha," Revin tertawa sangat keras, membuat Reon tidak mampu lagi menahan tawanya dan ikut tertawa lepas.


"Aduh, perutku," rintih Revin berusaha menghentikan tawanya karena perutnya yang mendadak sakit.


"Mam**s! Itulah akibatnya menertawakan sahabatmu," ucap kesal Carlos membuat Reon semakin tertawa.


"Diamlah, Reon! Jangan sampai apel bulat ini mendarat dimulutmu," ucap Carlos membuat Revin kembali tertawa, sedang Reon berusaha untuk menahan tawanya.


"Kenapa wajahmu begitu kacau, Car. Kau bahkan lebih parah daripada diriku," ucap Revin dengan mengangkat bajunya dan memperlihatkan bekas operasi yang belum ada 24 jam.


"Kenapa kalian suka sekali menertawakan diriku yang kacau ini, dasar teman kampret!" umpat kesal Carlos, dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Sudahlah, kalian berdua mau dijahit lagi," ucap Revan yang akhirnya mengeluarkan suara setelah diam karena tawa adik dan sahabatnya.

__ADS_1


Hal itu sukses membuat Reon dan Revin terdiam, lalu kembali ke aktifitas sebelumnya.


Mereka hanya diam, dengan fokus pada pemikiran masing-masing, hingga suara pintu terbuka membuat mereka menoleh dan mendapati seorang gadis yang berjalan mendekat kearah brangkar Revan.


Revin, Reon dan Carlos berwajah datar, ingin sekali rasanya mereka keluar dari kamar itu secepatnya, daripada harus melihat adegan yang akan membuat mereka rindu pada seseorang yang jauh disana.


Rania menatap Revan dengan mata yang berkaca-kaca, siap untuk meneteskan air matanya.


"Kamu kesini? Kenapa tidak pergi ke sekolah?" tanya Revan dengan tersenyum manis pada Rania, agar gadis itu tidak khawatir akan keadaannya.


Revin, Reon dan Carlos seolah ingin muntah mendengar hal itu, alasan pertama mereka tidak ingin dekat-dekat dengan Revan saat Rania ada.


'Bucin,' ucap mereka bertiga dalam hati, lalu menatap Revan yang juga menatap pada mereka.


'Tidak sadar tuh,' ucap Revan dalam hati, yang mengerti arti tatapan tiga orang itu.


'Ngga tuh,' ucap mereka bertiga dalam hati, masih dengan bertatapan dengan Revan.


'Cih, jika langit runtuh baru ku percaya,' batin Revan membalas tatapan mata ketiga orang itu.


Rania hanya terdiam melihat Revan yang saling menatap dengan tiga pria yang berada diruangan itu, seperti tatapan perang batin tiada akhir.


"Em, kak Revan benar-benar baik-baik saja?" tanya Rania memecah keheningan itu.


Revan segera menoleh dan menatap Rania yang berdiri disampingnya.


"Iya, aku baik-baik saja. Seharusnya kamu tidak perlu kesini sekarang, kan bisa saat kamu pulang sekolah nanti," ucap Revan lembut dengan tangan yang menyingkirkan rambut diwajah imut Rania dan menyelipkannya ditelinga gadis itu.


Tiga orang pria yang melihat hal itu berusaha untuk menahan air umpatan kekesalan yang siap keluar dari mulut masing-masing, melihat kemesraan yang sengaja dipamer oleh Revan.


'Sialan,' umpat kesal Reon dalam hati.


'Revan kampret!' umpat Carlos dengan memalingkan kepalanya kearah pintu masuk.


'Brother sialan, suka sekali membuat orang LDR kesal,' ucap Revin dalam hati dan segera memalingkan kepalanya kearah lain.

__ADS_1


"Aku kupaskan buah ya," tawar Rania dan segera berjalan untuk mengambil pisau dan buah diatas meja didepan Reon dan Carlos.


"Kami juga Rania," ucap Reon dan Carlos bersamaan, membuat Revan menatap tajam keara dua sahabatnya itu


__ADS_2