SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
FIRST KISS


__ADS_3

Rania membulatkan matanya dengan sempurna begitu pun dengan Revan yang terkejut dengan apa yang terjadi sekarang.


Rania segera memundurkan tubuhnya hingga sedikit menjauh dari Revan lalu menunduk dengan wajah yang memerah bak tomat matang.


'Ciuman pertamaku,' ucap Rania dalam hati kemudian sedikit mendongak menatap Revan yang masih terdiam.


Rania segera menundukkan kepalanya saat tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan mata Revan.


Semua siswa dan siswi didalam kelas itu terkejut bukan main, bahkan ada siswi yang seakan ingin pingsan melihat hal yang terjadi tadi.


"Ma ... maaf," ucap Rania membungkukkan badannya pada Revan.


Revan menyentuh bibirnya kemudian menatap Rania yang membungkukkan badan padanya.


Revan berdiri dari duduknya membuat Rania tersentak kemudian sedikit mengangkat kepalanya dan terkejut saat Revan sudah berdiri dihadapannya.


Revan menarik tangan Rania keluar kelas, Rania hanya mampu mengikuti langkah Revan yang menarik tangannya entah akan berakhir dimana.


Revan membawa Rania kearah ruangan latihan musik lalu kemudian menutup pintu membuat Rania menatap heran pada Revan.


Revan menutup pintu kemudian berjalan mendekat pada Rania yang perlahan-lahan mundur hingga punggungnya terbentur di dinding.


"Kamu kenapa?" tanya Revan yang penasaran kenapa gadis dihadapannya ini memundurkan tubuhnya.


"Ka ... kamu mau apa?" bukannya menjawab Rania malah bertanya kembali pada Revan.


Revan mengernyit bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rania kemudian menghembuskan nafasnya.


"Kamu takut padaku?" tanya Revan tiba-tiba membuat Rania mengangkat kepalanya dan menatap pria dihadapannya yang terlihat begitu tampan.


Wajah Rania merona merah kemudian berusaha untuk mengalihkan pandangannya kesegala arah agar tidak melihat pria dihadapannya.


Revan yang melihat hal itu mulai menyimpulkan jika gadis dihadapannya itu takut padanya.


Revan lagi-lagi menghembuskan nafasnya kemudian berbalik berjalan menuju pintu untuk segera keluar.


Saat Revin memengang gagang pintu berniat untuk membukanya, ia menoleh pada Rania yang menatapnya.


"Jangan lupa nanti," ucap Revan kemudian membuka pintu lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Revan, Rania menyentuh dadanya yang berdetak dengan cepat seperti sedang melakukan lomba lari marathon di dalam.


"Apa aku menyukainya?" ucap Rania pada dirinya sendiri kemudian segera mengelengkan kepalanya menyingkirkan semua fikirannya tentang menyukai Revan.


"Ciuman pertamaku," ucap Rania lagi pada dirinya sendiri kemudian menyentuh bibirnya dan memgingat saat bibir Revan yang begitu lembut menyentuh bibirnya.

__ADS_1


"Ah, apa yang aku fikirkan," ucap Rania sedikit berteriak kemudian menepuk pipinya pelan lalu berjalan keluar dari ruangan itu untuk segera ke kantin.


Sementara itu, Revan kini berada di kantin dengan Reon dan Liona yang sedang duduk di hadapannya dengan sesekali bersenda gurau membuat Revan serasa ingin mengatai sahabatnya itu Bucin.


"Reon, apa aku menakutkan?" tanya Revan tiba-tiba membuat Reon refleks meremas botol yang sedang ia minum dan mengakibatkan air mengenai wajah dan bajunya yang sedikit basah.


"Uhuk ... uhuk." batuk Reon dan Liona segera mengambil tisu dan menyeka air di wajah Reon.


Reon menatap Revan dengan tatapan tidak percaya, sedang Revan hanya berwajah datar.


"Kamu habis minum obat apa?" tanya Reon tiba-tiba membuat Revan mengernyit heran.


"Aku tidak sakit, untuk apa aku minum obat," ucap Revan malas membuat Reon menghembuskan nafasnya.


"Jika menurutku, iya. kamu memang menakutkan," ucap Reon santay membuat Liona terdiam.


Revan nampak berfikir sejenak kemudian menatap Reon yang juga menatapnya.


'Kata Reana juga begitu,' ucap Revan mencoba mengingat perkataan adik perempuannya.


* * *


Sementara itu, Carlos dan Revin tengah berada di kantin untuk makan siang.


"Kamu kenapa, tidak seperti biasanya saja," ucap Revin yang heran melihat tingkah laku sahabatnya itu.


Carlos menghembuskan nafasnya kasar membuat Revin menatap prihatin pada pria di hadapannya.


"Kamu tidak tau, Vin. aku lagi kena sial tau ngga, kenapalah hidupku begini banget," ucap Carlos yang perlahan-lahan curhat pada Revin.


"Sial gimana lagi, karena kamu punya adik gila yang suka gigit orang atau karena kamu punya tamu di rumahmu," ucap Revin menekan kata tamu.


Carlos mengacak rambutnya hingga menjadi berantakan, kemudian menatap sahabatnya yang hanya menatapnya santay, selow yang membuatnya ingin memberikan cap 5 di wajah mulus Revin.


"Kamu bodoh banget sih, dikasih tamu cantik malah nolak," ucap Revin mengelengkan kepalanya.


"Cih, cantik-cantik tapi ngalak mah ngga mau aku, Vin. lebih baik adik aku aja yang nyusahin dari pada tuh cewek Gila," ucap Carlos menekan kata gila lalu melirik ke arah seorang siswi yang sedang bersenda gurau tidak jauh dari meja mereka.


"Kenapa harus aku sih yang ketiban sial gini," ucap Carlos menghembuskan nafasnya.


"Sabar, orang sabar selalu diberi musibah," ucap Revin santay yang membuat Carlos mengumpat dalam hati.


'Sia**n, teman tidak ada belas kasih banget,' ucap Carlos dalam hati kemudian menatap malas sahabatnya itu.


* * *

__ADS_1


Kemarin saat Carlos pulang dari Mall setelah melawan beberapa pembunuh dijalan.


Pukul 7:30 malam.


Awalnya Carlos beserta Carlson, Fania dan Vivian makan malam dengan tenang. dan sesudah itu pun masih tenang-tenang saja, hingg tiba jam 8 malam dimana tamu ibunya datang.


Tamu ibunya datang tidak sendiri melainkan bersama putrinya yang membuat Carlos terkejut bukan main.


Karna anak teman ibunya itu adalah Felisia Di.


Dan yang paling membuat Carlos terkejut adalah dimana teman ibunya itu menitipkan putri mereka untuk dijaga karna putri mereka yang ingin sekali sekolah di kota A.


Dan tentu saja, Fania akan dengan senang hati menjaga anak temannya itu dan akan tinggal dirumahnya hingga naik kelas.


Dan tadi pagi, Carlos harus berangkat bersama dengan Felisia ke sekolah hingga membuatnya harus mendengar Celotehan minta ampun dari mulut gadis itu.


* * *


Revin berusaha untuk menahan tawanya mendengar cerita sahabatnya itu tadi, sungguh nasib yang malang, sudah jatuh, tertimpa tangga lagi. (Kasian sekali).


Bel masuk kelas pun berbunyi, Revin dan Carlos berjalan ke arah kelas.


Carlos berjalan dengan malas membuat Revin serasa ingin menendang bokong sahabatnya itu agar cepat sampai di dalam kelas.


Carlos dengan malas mendengarkan penjelasan guru di dalam kelas.


'Aku akan sial lagi kalau pulang nanti, ya tuhan, semoga cewek gila itu segera pergi dari rumahku,' ucap Carlos berdoa dalam hati.


Revin yang melihat hal itu hanya tersenyum kecil, sungguh ironis sekali nasib sahabatnya yang satu ini.


Pukul 4 sore.


Revin segera berlari ke arah parkiran saat bel pulang sekolah berbunyi. Revin segera naik ke motornya membuat Carlos menatap aneh sahabatnya itu.


"Mau kemana?" tanya Carlos yang penasaran dengan Felisia yang berjalan mendekatinya.


"Mau pergi liay orang PDKT, aku duluan," ucap Revin kemudian menancap gas setelah memakai helm dan jaketnya.


Setelah kepergian Revin, Carlos dan Felisia saling memandang satu sama lain, kemudian membuang muka.


Carlos segera naik ke motornya kemudian memakai helmnya dan Felisia pun naik ke boncengan dengan menekan bahu Carlos sebagai pengangan.


'Dasar cewek sint*ng,' umpat Carlos dalam hati berusaha untuk menahan rasa kesalnya pada gadis di belakanganya.


'Dasar cowok gila,' umpat Felisia dalam hati yang di tujukan untuk Carlos.

__ADS_1


__ADS_2