
Revan menghembuskan nafasnya melihat hal itu dimana Reon dan Carlos berusaha untuk menahan tawanya saat melihat Ana yang ingin menyuapi Revan seperti anak kecil.
"Ayo Revan, buka mulutmu, Aaa ...," ucap Ana pada putranya yang hanya berwajah datar.
"Mom, aku bisa sendiri, aku tidak perlu diperlakukan seperti anak kecil," ucap Revan dengan raut wajah datar dan nada suara yang sedikit memelas.
"Dokter bilang kamu tidak boleh terlalu mengerakkan tangan kananmu untuk sementara waktu," ucap Ana menceramahi putra sulungnya.
Revan menghembuskan nafasnya sementara Reon dan Carlos sudah merinding akibat menahan tawa mereka.
Tiba-tiba pintu terbuka membuat semua orang diruangan itu menoleh pada Revin yang berjalan masuk mendekati brangkar sang kakak.
"Brother baik-baik saja 'kan?" tanya Revin saat sudah berdiri disamping brangkar Revan.
Revan tidak menjawab dan hanya berwajah datar, Revin mengernyit kemudian menoleh pada sang ibu yang tengah memengang mangkok bubur ditangannya.
Revin melihat mangkok bubur itu kemudian menoleh pada Revan.
"Revan, buka mulutmu sayang, kamu harus makan bubur ini, biar ngga sakit! buka mulutmu, Aaa," ucap Ana membuat Revan menghembuskan nafasnya sedang Revin yang melihat hal itu terdiam.
"Huft ...," semua orang menoleh pada Revin yang tengah mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan tawanya.
Revan menatap tajam pada Revin, Revin yang ditatap seperti itu oleh sang kakak, segera merubah raut wajahnya menjadi normal, takut jika kakaknya itu dendam padanya pasti akan berakhir buruk nanti.
"Mommy ... jangan seperti itu, lebih baik mommy memberikan mangkok bubur itu pada Rania saja, biar dia yang menyuapi Brother," ucap Revin dengan tersenyum pada Ana.
Revan mengernyitkan alisya mendengar ucapan Revin, sedang Rania terkejut mendengar hal itu dan mendadak wajahnya merona merah.
Arian mengernyit bingung mendengar ucapan putra keduanya itu. Revin memberikan kedipan mata pada sang ayah sebagai kode untuk membujuk ibunya.
Arian yang mendapat kedipan mata dari Revin hanya bisa tersenyum kemudian mengelengkan kepalanya.
"Sayang, bagaimana jika kita makan siang diluar sebentar, biar Rania yang menyuapi Revan bubur itu, Ayo!" ajak Arian dengan menganggukkan kepalanya pada sang istri.
Ana nampak berfikir dan kemudian menghembuskan nafasnya lalu mengangguk.
"Rania, tolong jaga Revan sebentar ya, sayang. kami akan segera kembali," ucap Ana memberikan mangkok bubur itu pada Rania.
Rania hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Ana dan Arian pun segera keluar dari ruangan itu untuk makan karna siang tadi belum sempat makan siang.
Revin yang melihat hal iti tersenyum kecil kemudian berjalan dan segera menarik kerah baju kedua sahabatnya dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
"Kalian berdua ikut aku!" ucap Revin menarik kerah baju Reon dan Carlos dan menyeretnya keluar dari ruangan itu.
Revan dan Rania terdiam melihat hal itu.
"Ehem ...," Revan berdehem membuat Rania tersadar dan menoleh pada Revan yang menatapnya datar.
Rania menundukkan wajahnya yang memerah karna malu dan jantung yang berdetak seperti tengah lari marathon membuat Rania semakin gugup.
"Berikan mangkoknya, aku akan makan sendiri," ucap Revan datar membuat Rania mengangkat kepalanya yang menunduk dan menatap Revan.
"Bi ... biar aku saja yang ... menyuapi kak Revan, kata dokter kak Revan tidak boleh terlalu ...," ucap Rania yang terpotong karna Revan sudah berbicara.
"Baiklah," ucap Revan pasrah tidak berniat berdebat dengan gadis dihadapannya.
Rania tersenyum mendengar ucapan Revan, Rania pun mendekat dan duduk dikursi tempat Ana duduk tadi.
Rania menyendok bubur itu lalu menyuapi Revan, Revan memakan bubur yang di sendokan Rania padanya tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Rania tersenyum kecil melihat Revan yang memakan bubur yang ia berikan tanpa menolak sedikit pun, entah mengapa, Rania merasa begitu bahagia bisa dekat dengan Revan seperti sekarang.
Lima belas menit kemudian.
Bubur dimangkok pun habis, Rania segera mengambilkan Revan air diatas meja, Revan meminum air yang diberikan Rania lalu kembali memberikan gelas kosong itu pada Rania.
"Rania ...," ucap Revan membuat Rania menghentikan langkahnya dan menoleh pada Revan.
"Iya, kak Revan?" ucap Rania kembali mendekati Revan.
Revan turun dari brangkarnya membuat Rania membelalakkan matanya.
"Apa yang kak Revan lakukan! kakak mau kemana?" ucap Rania menahan Revan.
Revan mengernyit melihat hal itu lalu menghembuskan nafasnya.
"Aku mau ke kamar mandi, badanku lengket," ucap Revan datar.
"Tangan kakak yang itu tidak boleh terkena air, kata dokter kalau merasa lengket tidak perlu mandi," ucap Rania dengan raut wajah khawatir tingkat tinggi.
"Terus ... kau ingin membuatku tidak mandi seharian?" ucap Revan bertanya pada gadia dihadapannya itu.
Rania segera berlari masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Revan yang terdiam ditempatnya.
__ADS_1
Rania keluar dari kamar mandi dengan wadah kecil yang berisi air dan tidak lupa dengan handuk kecil ditangannya.
Revan menatap gadis itu aneh, Rania menaruh wadah kecil itu diatas meja disamping brangkar.
"Kakak naik ke brangkar, aku yang akan mengelap tubuh kak Revan, agar kak Revan tidak merasa lengket lagi," ucap Rania membuat Revan terdiam.
"Kamu yakin?" tanya Revan pada gadis dihadapannya itu.
Rania segera menganggukkan kepalanya, Rania merasa bersalah jadi dia akan merawat Revan saat ini sampai Revan sembuh.
Revan menghembuskan nafasnya lalu membuka kancing baju pasiennya.
Rania terdiam saat Revan membuka kancing baju pasiennya lalu membukanya hingga memperlihatkan perut sixpac yang membuat Rania melongo.
Tiba-tiba wajah Rania merah bak tomat matang dan segera membalikkan badannya membelakangi Revan.
Revan terdiam melihat Rania yang tiba-tiba membalikkan badannya, Jantung Rania kini berdetak sangat-sangat cepat membuat wajah Rania semakin memerah.
'Astaga! apa yang aku lihat,' ucap Rania dalam hati dengan sesekali menelan salivanya dengan susah payah.
"Apa kau akan terus seperti itu, kapan kau akan melakukan hal yang kau katakan tadi," ucap Revan datar membuat Rania tersadar dan segera berbalik menghadap Revan dengan menundukkan kepalanya.
Rania terus menundukkan kepalanya membuat Revan mengernyitkan alisnya.
'Kapan selesainya jika dia seperti ini,' ucap Revan dalam hati dengan menghembuskan nafasnya.
"Cepatlah!" ucap Revan datar sedatar-datarnya.
Rania tersentak mendengar hal itu kemudian memberanikam diri untuk mengangkat kepalanya lalu menatap Revan yang juga menatapnya.
"Kau deman?" tanya Revan yang heran melihat wajah Rania yang memerah.
"Ti ... tidak kok, aku baik-baik saja," ucap Rania dan lagi-lagi menundukkan kepalanya.
Revan menghembuskan nafasnya lalu mengelengkan kepalanya.
Rania perlahan mendekat kearah Revan kemudian mengelap perut sixpac Revan dengan tangan yang gematar karna gugup.
Revan lagi-lagi menghembuskan nafasnya lalu mengerakkan tangan kirinya menyentuh tangan Rania agar tidak gematar lagi.
Revan menuntun tangan Rania untuk membersihkan dadanya, Rania hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
'Ya tuhan, cobaan apa ini,' ucap Rania dalam hati dan mengangkat kepalanya dan terkejut saat wajahnya dan wajah Revan hanya berjarak bebedapa centi saja.
Tanpa mereka berdua sadari, 3 orang diluar pintu sedang mengintip kedalam dengan begitu serius.