
Rania terkejut saat melihat Revan yang berdiri dihadapannya dengan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.
"Rania ..." ucap Revan yang menyadarkan Rania dari keterkejutannya dan menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.
"Ma ... maaf, aku ke sini hanya untuk mengantar makan malam saja, a ... aku permisi," ucap Rania gugup kemudian berjalan berniat melewati Revan.
Revan memengang pergelangan tangan Rania, membuat Rania menoleh dan terkejut saat Revan menatapnya intens.
Tiba-tiba Revan menyentuh pipi Rania dan membelainya lembut, lalu perlahan-lahan turun kesudut bibir Rania.
"Ada sisa es cream," ucap Revan yang menyadarkan Rania dari keterkejutannya dan segera berlari keluar dari apartemen dengan wajah yang merona merah.
Revan hanya berniat membersihkan sisa es cream disudut bibir Rania, tapi tida menyangka jika Rania akan bereaksi seperti tadi.
Revan tersenyum kecil melihat hal itu, dan kembali berjalan memasuki kamar untuk memakai bajunya dan makan malam.
Lima menit kemudian.
Revan keluar dari kamar dengan kaos rumahan milik Arian dan juga celana pendek.
"Aku tidak percaya, jika baju milik daddy akan pas ditubuhku," ucap Revan pada dirinya sendiri.
Revan mendekat kearah meja makan, dan melihat tupperware yang tersusun diatas meja makan dengan memiringkan kepalanya.
Revan mendudukkan diri dikursi setelah tadi mengambil air minum digelas.
"Ternyata bibi sudah menyiapkan makan malam yang banyak ya," ucap Revan pada dirinya sendiri lalu menyendokkan nasi ditupperware kepiringnya, lalu diikuti oleh lauknya.
Sebenarnya Revan bisa memasak makanannya sendiri, tapi karena bahan-bahan yang tidak ads dikulkas dan juga karena tadi Arian sudah mengatakan jika ia sudah menelfon Kimso dan memberitahu jika Revan akan berada dinegara S selama beberapa hari, dan Arian meminta bantuan Kimso untuk menjaga dan mengurus putranya itu untuk beberapa hari.
Revan memakan makanannya dengan lahap dengan sesekali tersenyum kecil melihat tingkah laku Rania yang begitu lucu menurutnya.
* * *
Disisi lain, diwaktu yang bersamaan. Revin keluar dari mobilnya diikuti oleh Vivian. Vivian merangkul tangan Revin layaknya sepasang kekasih sungguhan.
__ADS_1
"Nanti diam saja, jangan banyak bicara! kalau aku mengatakan pulang, berarti pulang! ingat untuk tidak banyak bicara," ucap Revin yang membuat Vivian mengernyit heran.
Tidak mau berdebat, Vivian hanya menganggukkan kepalanya, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah keluarga Luo, karena sepertinya pesta akan segera dimulai, begitu pun dengan pertujukan Revin.
Revin dan Vivian mendekat kearah Vino dan Syila yang sedang berbincang dengan tamu kedua orang tua mereka.
"Halo, kak Vino. selamat ya," ucap Vivian membuat Vino menoleh padanya dan kemudian tersenyum pada Vivian.
'Cih, dasar pria tidak peka, dia hanya mengingatkanku pada Brother, tapi aku rasa pria ini lebih parah dari Brother,' ucap Revin dalam hati dengan tatapan menilai pada Vino.
"Ini hadiah dari aku, kak Vino," ucap Vivian dengan memberi bungkus kado berwarna ungu pada Vino.
"Terima kasih," ucap Syila dengan mengambil kado itu dari tangan Vivian secara kasar.
Vivian hanya tersenyuk dengan wajah tertunduk takut melihat raut wajah Syila.
Revin yang melihat hal itu mengepalkan tangannya, kesal sekaligus marah pada gadis dihadapannya itu.
Vino hanya tersenyum mendengar hal itu sedang Syila tersenyum malu-malu pada Revin.
'Cih, jal*ng,' Revin berdecak dalam hati yang jengkel dengan Syila, ingin sekali ia menyingkirkan wanita itu untuk selama-lamanya dengan tangannya sendiri, tapi ia sadar, jika ia tidak boleh kasar pada perempuan, karena itu sama saja ia kasar pada ibunya sendiri.
Revin dan Vivian pun menikmati pesta itu dengan para gadia yang melirik kearah Revin, berharap dapat dilirik oleh pria tampan itu.
Revin hanya acuh, tidak berniat untuk meladeni para gadis itu, ia benar-benar sudah berhenti menjadi playboy tahun ini, tidak tau tahun berikutnya.
Pukul 7:30 malam.
Seorang pria berjas hitam memasuki kediaman keluarga Luo dengan langka terburu-buru dan kemudian menghampiri pria parubaya yang tidak lain adalah ayah Vino.
Revin hanya menatap datar hal itu, menatap datar ekspresi tuan Luo saat bawahannya itu berbisik ditelinganya.
Perlahan tapi pasti, senyum kecil terbit diwajah tampan Revin, senyuman kecil yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, kecuali Vivian yang berada disampingnya.
__ADS_1
'Nih cowok playboy kenapa? apakah salah minum obat tadi?' ucap Vivian dalam hati bertanya pada dirinya sendiri.
"Ayo pulang!" ucap Revin kemudian menaruh gelas yang ia pengang diatas meja.
Vivian yang mendengar hal itu terkejut, ingin menolak tapi tangannya sudah ditarik oleh Revin, Vivian hanya pasrah dengan hal itu.
"Kita harus berpamitan dulu, pada kak Vino," ucap Vivian membuat Revin menghentikan langkahnya.
"Tidak usah, kira segera pulang saja," ucap Revin dan kembali ingin melangkahkan kakinya, tapi terdengar suara yang membuat keduanya menoleh.
"Tunggu!" ucap Tuan Luo dan berjalan mendekat kearah Revin dan Vivian.
Semua orang melihat kearah mereka dengan tatapan penuh tanda tanya, bahkan mulai salibg berbisik satu sama lain.
Revin menoleh dan menatap kearah tuan Luo dengan tatapan datarnya, sedang Vivian tiba-tiba merasa merinding disekujur tubuhnya.
"Siapa kau? jika kau adalah orang yang terhormat, aku merasa tidak pernah menganggu kehidupanmu 'kan?" tanya tuan Luo tiba-tiba membuat semua tamu semakin bertanya-tanya, terutama tuan Gi, ayah dari Syila.
Vivian terdiam dengan mengernyitkan alisnya, lalu menatap Revin yang masih menatap lurus pada tuan Luo.
"Bocil, keluar dan masuk kedalam mobil! aku akan segera kembali ke mobil saat sudah selesai," ucap Revin dengan menatap datar pada Vivian.
Saat Vivian ingin berbicara dan bertanya pada Revin, tapi Revin segera berbicara membuat Vivian bungkam seketika.
"Cepat! aku tidak suka dibantah!" ucap Revin dengan nada lembut tapi penuh tuntut bagi Vivian.
Vivian segera berjalan keluar dari rumah itu, untuk segera masuk kedalam mobil, sementara Revin memasukkan kedua tangannya disaku celananya kemudian berjalan perlahan hingga hanya berjarak 1 meter dari tuan Luo dan tuan Gi yang berdiri bersama dengan istrinya tidak jauh dari mereka.
"Tuan Luo, apa anda berfikir, harus anda yang membuat masalah, baru kemudian saya membalas, cih ... salahkan karena anda memilih calon menantu yang salah, dan satu lagi ... satu orang masuk rumah sakit cukup untuk hal yang dilakukan calon menantu keluarga Luo, dan lagi ... anggap saja hal yang kau dapatkan itu, adalah hadiah dariku," ucap Revin dengan raut wajah dinginnya kemudian segera berbalik dan meninggalkan tuan Luo yang mematung ditempatnya dan kemudian pingsan membuat para tamu dan keluarganya panik seketika.
Revin berjalan dengan santay kearah mobilnya, dimana Vivian sudah duduk manis didalam dengan wajah cemberutnya.
Revin membuka pintu mobilnya dan segera duduk dikursi kemudi dan menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan tempat itu, yang kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya, tinggal pembesihan saja.
Diperjalan pulang, hanya hening yang melanda kedua orang itu, Vivian ingin sekali bertanya tapi ia urungkan lantaran sedikit takut dengan ekspresi Revin sekarang, yang begitu aneh menurutnya.
__ADS_1
'Astaga, ya tuhan. kenapa pria gila ini harus menjadi teman dekat kakakku, aku berharap agar aku bisa jauh darinya, ini sunggu memyebalkan,' ucap Vivian dalam hati dengan melirik kesal pada Revin yang tersenyum penuh kemenangan, seperti memenangkan lotre.