SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
MEMULAI


__ADS_3

Mereka terdiam mendengar ucapan Revan yang mengatakan jika ada mata-mata dikampus itu.


"Bagaimana mungkin ... berapa orang mata-mata dikampus itu?" tanya Reon dengan raut wajah tidak percayanya.


"Tiga orang," ucap Revan semakin membuat suasana dikamar mencekam.


"Brother, apa kau yakin hanya tiga?" tanya Revin mencoba memastikan, mereka tidak akan heran lagi jika Revan bisa mengetahui ada mata-mata dikampus itu, karena tingkat kewaspadaannya yang cukup baik untuk mendeteksi bahaya.


"Iya, dan salah satunya adalah dosen," ucap Revan membuat ketiga pria itu berfikir keras.


"Kenapa bisa ada mata-mata? Bisa saja mereka mengawasi orang lain, mungkin bukan kita kan?" ucap Carlos dengan menatap Revan.


"Memang tidak mengawasi kita ... tapi mencari keberadaan kita," ucap Revan membuat mereka bertiga tersentak.


"Karena penampilan kita yang seperti pria culun, dan juga dengan kabar yang beredar jika kita masuk karena mahasiswa pindahan, membuat keberadaan kita disana aman, tapi tidak tahu sampai kapan akan terus seperti ini," ucap Revan panjang lebar menjelaskannya pada tiga pria itu.


"Jadi ... apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin kan diam saja seperti ini? Kita bahkan belum mengetahui seperti apa rupa orang itu," ucap Reon mulai berfikir keras.


"Karena itu aku ingin memberitahukan kalian hal penting," ucap Revan dengan menatap serius pada Revin, Reon dan Carlos.


"Pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui siapa yang membayar mata-mata itu," ucap Revan serius.


"Jangan bilang jika kau ingin melakukan hal itu ....," Reon mengantung ucapannya, karena melihat Revan yang menganggukkan kepalanya.


"Kita perlu melacak tempat mereka. Tidak hanya tempat, tapi juga menyadap suara mereka," ucap Revan lalu tatapannya tertuju pada Revin.


Reon dan Carlos mengikuti arah pandang Revan, membuat Revin mengernyitkan alisnya.


"Apa?" tanyanya yang mulai sedikit bingung dengan tatapan ketiga pria dihadapannya.


"Sepertinya kami harus merepotkanmu lagi, Revin," ucap Revan membuat saudaranya itu menaikkan sebelah alisnya.


"Jangan bilang ....," Revin mengantung ucapannya dengan perasaan yang tidak menentu.


"Tepat sekali. Malam ini kau harus begadang untuk membuat penyadap suara sekaligus lokasi mereka. Soal cara membuat benda itu ada pada mereka, serahkan pada Carlos," ucap Revan serius membuat Carlos tersedak salivanya sendiri.


Revan, Revin dan Reon menatap aneh pada Carlos yang mendadak terlihat resah.


"Aku?" ucapnya menunjuk dirinya sendiri.


Revan, Revin dan Reon mengangguk, membuat pria beriris mata sedikit merah itu, terkejut.

__ADS_1


"Jangan bilang jika kau tidak ingin melakukannya?!" ucap Revin menatap tajam adik beberapa bulannya itu.


Carlos menghembuskan nafasnya, lalu mengelengkan kepalanya.


"Bukan aku tidak mau melakukannya. Tapi aku sama sekali tidak mengetahui siapa saja mata-mata itu," ucap Carlos jujur.


"Aku akan memberitahu kalian, tenang saja," ucap Revan yang diangguki oleh Carlos, tanda ia mengerti.


"Baiklah, mari kita lanjutkan diskusi ini," ucap Revan memulai topik awal mereka.


Revan mulai menjelaskan semua yang harus mereka lakukan, dan ketiga orang itu mengangguk patuh.


"Baiklah. Aku akan mengerjakannya malam ini juga," ucap Revin antusias yang diangguki oleh kakak dan dua sahabatnya.


"Sepertinya sudah waktunya tidur," ucap Revan melirik kearah jam diatas nakas, disamping tempat tidurnya yang sudah menunjukkan pukul 9:30 malam.


"Baiklah, kami kembali kekamar dulu," ucap Reon dan beranjak dari duduknya, kemudian keluar dari kamar Revan, diikuti oleh Carlos.


"Maaf ya, harus merepotkanmu," ucap Revan merasa bersalah pada adiknya itu.


Revin tersenyum melihat hal itu, kakaknya itu selalu merasa tidak enak hati jika menyangkut hal yang merepotkannya.


"Siapa juga yang memintamu ikut," sindir Revan membuat Revin memutar bola matanya malas.


"Baiklah, aku kembali kekamar dulu, untuk mengerjakan hal itu," pamit Revin lalu berjalan mendekat kearah pintu kamar Revan.


"Good night," ucap Revan saat Revin bersiap untuk membuka pintu kamarnya.


"Good night too, Brother," ucap Revin lalu keluar dari kamar Revin.


* * *


Pukul 5 pagi.


"AAAAA," teriakan terdengar membangunkan Revan dari tidurnya.


Revan mengatur nafasnya, kini tubuhnya bermandikan keringat dingin karena terkejut. Pertama kalinya ia mendengar, suara teriakan yang begitu awal dari biasanya.


Revan menoleh kearah jam dimeja disamping tempat tidurnya.


"Kenapa pagi sekali?" ucap Revan yang terkejut melihat bahwa sekarang masih pukul 5 pagi.

__ADS_1


Sedang dikamar Reon, ia mengatur nafasnya berulang-ulang. Sungguh teriakan yang mampu membuat penderita penyakit jantung mati seketika.


"Untung jangtungku masih kuat," lirihnya dengan nafas yang tidak beraturan.


"Kamp**t," umpat Revin yang terkejut dan duduk seketika dikursinya. Revin tidak tidur ditempat tidur, karena semalam ia mengerjakan hal yang diminta oleh sang kakak, membuat ia tidur dengan posisi duduk dikursi didepan layar laptopnya.


"Aduh, sakitnya badanku," rintihnya lalu menoleh kearah jam diatas meja disamping tempat tidurnya.


"Kenapa paman kejam itu sudah membangunkan Carlos sepagi ini?" tanyanya pada dirinya dan segera bangkit dari duduknya, beranjak ke kamar mandi.


Carlos menatap takut pada Franco yang kini berdiri dihadapannya. Setelah tadi memutar pergelangan kaki Carlos, sungguh membuat remaja itu terbangun dari mimpi indahnya.


"Paman ... ini masih pagi sekali ... kenapa kau sudah membangunkanku?" tanya Carlos dengan menatap Franco yang hanya berwajah datar. Carlos jadi berfikir, percuma ia menyiapkan alarm, jika ujung-ujungnya juga dibangunkan dengan cara kejam seperti ini.


"Maaf, tuan muda. Tuan besar mengatakan jika saya harus membangunkan kalian lebih awal dari kemarin," ucapnya dengan wajah datar, yang membuat mata Carlos berkedip kesal.


"Kalau begitu, saya permisi," ucap Franco dan berlalu tanpa dosa.


"Sabar Car, sabar ....," rafalnya dalam hati dengan mengelus dadanya pelan, hingga ucapan Revin kembali tergiang dibenaknya.


Orang sabar selalu diberi musibah.


"REVINN!" teriak Carlos membuat Revin tersedak air yang ia gunakan berkumur.


"CARLOS SIA**N," umpat Revin kesal, membuat Revan dan Reon mengelengkan kepala mereka.


Lima belas menit kemudian.


Mereka telah berkumpul diruang tamu, dengan sesekali menghembuskan nafas lelah mereka.


'Ini belum pukul enam, kenapa kami harus bangun sepagi ini sih,' rintih Revin dalam hati dengan menatap sang kakak yang hanya mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu.


"Baiklah, karena kalian sudah berkumpul disini ... aku akan memberi tahu kalian sesuatu," ucap Daenji menatap keempat remaja yang duduk disofa panjang dihadapannya.


"Apalagi ini? Jangan bilang jika kita harus jalan kaki pergi kampus," lirih Carlos dengan menghembuskan nafas lelah.


"Kalian akan berjalan kaki ke kampus hari ini, karena mobil berada dibengkel, sedang motor kalian juga diservis," ucap Daenji menjelaskan, membuat keempat remaja itu terdiam dengan mulut yang terbuka.


Revan, Revin dan Reon melirik horor pada Carlos, yang hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah.


'Mulut sial,' umpat Carlos dalam hati, bersiap menerima amukan tiga sahabatnya nanti.

__ADS_1


__ADS_2