
Sepuluh menit kemudian.
Revin menghentikan motornya didepan gerbang sekolah Vivian, gadis yang selalu ia panggil bocil.
Revin melihat kearah gerbang sekolah Vivian, tapi gadis itu belum juga keluar dari gerbang. Entah mengapa, Revin tiba-tiba gelisah, ia takut jika hal yang terjadi pada gadis itu terulang kembali.
Revin membuka helmnya kemudian berjalan mendekati gerbang sekolah untuk masuk dan mencari gadis itu.
Para siswi yang baru saja keluar dari gerbang sekolah, melihat kearah Revin dengan tatapan kagum melihat wajah tampan itu.
"Astaga Cogan,"
"Apa yang dilakukan oleh pria tampan itu disini? apakah untuk menjemputku,"
"Astaga! bahkan ketampanannya mengalahkan ketampanan ketua kelas XII,"
Ucap para siswi dengan mata yang tak lepas menatap Revin.
Security itu terkejut melihat Revin yang berjalan memasuki gerbang sekolah.
'Bukankah itu kekasih gadis yang hari itu ya," ucap Security dengan terus menatap Revin hingga semakin menjauh dari pandangannya.
"Tuh bocil kemana sih, bikin aku khawatir aja," ucap Revin kesal dengan mengarahkan pandangannya kesegala arah untuk mencari Vivian.
Revin mengernyit bingung saat melihat Vivian dari kejauhan tengan mengobrol dengan dua orang.
Revin mengepalkan tangannya saat melihat dengan jelas siapa yang mengobrol dengan gadia itu.
"Cih," Revin berdecak kesal kemudian berjalan mendekat kearah ketiga orang itu dengan tangan yang terkepal.
"Iya, kak Vino. Akan aku usahakan untuk datang," ucap Vivian dengan menundukkan kepalanya takut jika harus bertatap muka dengan wanita disamping Vino yang tidak lain adalah Syila.
Tiba-tiba seseorang menarik tangan Vivian lembut, hingga membuat kedua orang itu menoleh, melihat seorang pria yang menatap mereka dingin.
Vivian terkejut saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang hingga membuatnya menabrak dada bidang orang itu, yang tidak lain adalah Revin.
"Halo kak," sapa Vino dengan senyum diwajahnya begitu pun dengan Syila tersenyum pada Revin tapi menatap benci pada Vivian.
"Ayo pulang!" ucap Revin kemudian menarik tangan Vivian meninggalkan dua orang itu, yang terdiam ditempatnya.
Revin terus menarik tangan Vivian lembut menuju ke motornya.
Vivian hanya menurut tidak berniat melepaskan pengangan tangan Revin pada tangannya.
__ADS_1
'Kok jadi kayak orang pacarana ya,' ucap Vivian dalam hati dengan wajah yang tiba-tiba bersemu merah.
"Aku ngomong apa sih," ucap Vivian tiba-tiba, membuat Revin mengernyit kemudian melepaskan pengangan tangannya pada tangan Vivian kemudian menoleh pada gadis itu.
"Kamu kenapa?" tanya Revim dengan raut wajah bingung kemudian segera naik ke motornya.
"Tidak apa-apa," ucap Vivian segera naik ke motor Revin, dan segera memengang bahu Revin.
Revin segera menyalakan mesin motornya lalu melajukannya meninggalkan tempat itu.
Revin menghentikan motornya saat lampu lalu lintas berwarna merah.
"Kamu lapar?" tanya Revin tiba-tiba tanpa menoleh kebelakang.
"Sedikit," ucap Vivian merasa pegal dengan posisinya sekarang.
'Pinggangku sakit juga, kalau gini terus. Apa peluk aja ya?' ucap Vivian pada dirinya sendiri.
"Ya udah, kita pergi makan dulu," ucap Revin membuat gadis itu terdiam.
"Baiklah," ucap Vivian dan tiba-tiba memeluk pinggang Revin, Revin tersentak saat tiba-tiba Vivian memeluk pinggangnya.
Revin menghembuskan nafasnya dibalik helm, kemudian melajukan motornya saat lampu berubah menjadi hijau.
Sepuluh menit kemudian.
Vivian segera turun dari motor dan melihat sekeliling, sedang Revin membuka helmnya lalu mengacak rambutnya.
Vivian terdiam saat melihat hal dihadapannya, ia baru menyadari jika Revin benar-benar tampan.
Revin meletakkan helmnya diatas motor dan mengernyit saat melihat Vivian terdiam dengan pandangan fokus padanya.
"Hey ..." ucap Revin dengan melambaikan tangannya di depan wajah Vivian.
"Ah i ... iya," ucap Vivian terkejut kemudian memalingkan wajahnya kearah kanan dengan telinga yang memerah karena malu.
Revin tersenyum melihat hal itu, dan muncullah ide jahil dikepalanya.
"Kenapa liat aku kayak tadi? suka ya?" ucap Revin ditelinga Vivian.
Vivian yang mendengar hal itu terkejut kemudian berniat menoleh pada Revin dan tanpa sengaja, terjadi sesuatu yang membuat keduanya terkejut.
Revin dan Vivian membelakakkan matanya saat tanpa sengaja bibir mereka bertemu.
__ADS_1
Revin segera menjauhkan dirinya dari Vivian begitu pun sebaliknya.
"Astaga! bibir suciku ternoda, bocil sia**n," ucap Revin dengan menyentuh bibirnya yang sudah tidak suci lagi.
"Ish, apaan sih, lebay banget deh, harusnya aku yang teriak kayak gitu, tadi itu ciuman pertamaku," ucap Vivian yang mulai meninggikan suaranya.
"Hey bocil, kamu fikir cuma kamu aja, tadi itu juga ciuman pertamaku tau, seharusnya itu hanya kuberikan pada istriku nanti," ucap Revin dengan menatap kesal pada gadis dihadapannya.
Vivian terkejut mendengar ucapan Revin yang mengatakan jika itu ciuman pertamanya.
"Yang benar saja," ucap Vivian tidak percaya.
Revin mengepalkan tangannya mencoba untuk tenang, bibir yang sudah ia jaga agar para kekasihnya tidak mendapat ciumannya, kini harus ia relakan pada seorang gadis kecil yang masih bau kencur, menurutnya.
"Sudah, lupakan saja," ucap Revin dan kemudian melangkahkan kakinya memasuki Cafe dengan perasaan kesal.
Revin segera mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang berada dipojok, Revin terus berusaha untuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat menahan kesal.
Vivian masuk kedalam cafe, dan kemudian mendekat kearah Revin yang duduk dikursi meja paling pojok didalam cafe itu.
Vivian mendudukkan dirinya dikursi yang berhadapan dengan Revin yang masih memasang raut wajah kesal padanya.
Revin terus menghembuskan nafasnya secara berulang-ulang, setelah merasa tenang, ia pun segera memanggil pelayan cafe untuk memesan makanan.
"Kau mau makan apa?" tanya Revin dengan raut wajah datar pada Vivian, setelah salah satu pelayan cafe menghampirinya dan kini berdiri disampingnya.
"Pasta dan orange jus," ucap Vivian kemudian mengalihkan wajahnya kearah luar cafe.
"Orange jus 2 dan pasta 1," ucap Revin dan pelayan cafe itu pun mencatatnya, kemudian berbalik meninggalkan Revin dan Vivian untuk segera menyiapkan pesanan 2 orang itu.
"Apa yang pria itu katakan padamu?" tanya Revin dengan menatap lurus pada Vivian.
Vivian terkejut mendengar apa yang blRevin ucapkan, Vivian menoleh kearah Revin yang juga menatapnya.
"Tidak ada," ucap Vivian singkat.
Revin mengubah raut wajahnya menjadi datar dengan tangan yang semakin terkepal.
"Jangan berbohong, Vivian. Aku tidak suka mengulang ucapanku, aku hanya ingin kau baik-baik saja, dan tidak terjadi hal yang buruk lagi nantinya," ucap Revin dengan menghembuskan nafasnya.
"Dia mengundangku untuk datang ke pertunangannya minggu depan dengan Syila, dikediamannya pukul 7 malam," ucap Vivian dengan raut wajah sedih, meski ia sudah mengatakan akan melupakan pria itu, tapi tidak ia pungkiri jika ia masih ada sedikit rasa pada Vino, pria yang tua beberapa bulan darinya.
Revin mengepalkan tangannya mendengar hal itu.
__ADS_1
'Wanita itu ternyata memang tidak bisa hanya dengan mengambil kedudukan ayahnya dan juga kekuasan perusahaan ayahnya, sepertinya aku harus menjatuhkan satu perusahaan lagi,' ucap Revin dalam hati, kini targetnya adalah keluarga Vino.