SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
SADIS


__ADS_3

Revan terdiam saat melihat apa yang di tonton di tv oleh ibunya yang tidak lain adalah 3 perusahaan besar yang tiba-tiba anjlok dengan harga saham yang menurun drastis.


Revan tersenyum kemudian duduk di samping sang ibu dengan wajah datarnya.


"Kenapa nonton yang beginian, Mom? apa tidak ada hal lain?" ucap Revan acuh tapi di dalam hatinya tersenyum, terlebih lagi dia sudah melakukan apa yang di katakan oleh sang ayah, membersikan sampai ke akarnya.


Mungkin besok akan keluar di berita tentang keluarga yang bunuh diri akibat terlilit hutang.


"Apa kamu tidak merasa aneh, Van. Mommy jadi ingat kejadian dulu, dimana 2 perusahaan juga tiba-tiba bangkrut dalam satu malam," ucap Ana mengingat kejadian di masa lalu.


Revan menghembuskan nafasnya lalu berbicara.


"Tidak usah di fikirkan, mom. mungkin memang sudah waktunya bagi mereka untuk bangrut," ucap Revan santay yang mendapat gelengan kepala dari sang ibu.


"Kalian berdua benar-benar mirip!" ucap Ana dengan mengelengkan kepalanya.


Revan menoleh pada sang ibu yang kembali asyik menonton berita.


"Siapa?" tanya Revan yang penasaran.


"Siapa lagi, ya daddymu lah," ucap Ana dengan menatap putranya itu lalu mencubit pipi Revan gemas.


"Kan Revan anaknya Daddy, mom. dan juga anak mommy," ucap Revan kemudian mencium pipi sang ibu lalu beranjak dari duduknya dan naik ke tangga.


Tiba-tiba Ana memanggil nama Revan, membuat Revan menghentikan langkahnya yang sudah naik ke tangga ke tujuh lalu menoleh pada sang ibu.


"Revan ...," ucap Ana memanggil putranya itu.


"Yes, Mommy," ucap Revan dengan menatap wajah ibunya.


"Kamu dari mana?" tanya Ana tiba-tiba membuat Revan mengernyitkan alisnya.


"Dari luar, mom. sama Reon, ada apa?" ucap Revan berbohong tentang pergi bersama dengan Reon.


"Kok kamu bau amis gitu, kayak bau darah," ucap Ana membuat Revan terkejut dan kemudian menelan salivanya dengan susah payah.


Revan memaksakan senyum di wajahnya lalu menatap sang ibu yang masih menatapnya curiga.


"Mungkin cuma perasaan mommy kali, orang Revan wangi gini kok," ucap Revan berbohong meski sebenarnya dia juga mencium aroma darah dari pakaiannya, aroma darah dari orang yang sudah membuatnya kesal.


Ana nampak berfikir dan kemudian menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


"Mungkin saja, oh iya, hampir aja mommy lupa untuk masak makan malam," ucap Ana segera beranjak dari duduknya menuju dapur.


Revan menghembuskan nafasnya lega dan segera naik ke lantai atas untuk segera mandi agar aroma darah di tubuh dan pakaiannya segera hilang.


Revan tiba di depan kamar dan kemudian membuka pintu hingga tiba-tiba saja Revin sudah berada di sampingnya, membuat Revan terkejut dan refleks memukul bahu Revin membuat Revin berteriak.


"Aaa, sakit Brother!" ucap Revin dengan memengang bahunya yang di pukul oleh sang kakak di mana bahu itu juga tempat Vivian mengigitnya yang masih cenat-cenut sampai sekarang.


Revan menghembuskan nafasnya lalu menatap Revin dengan tatapan sedikit khawatir.


"Maaf, tidak sengaja," ucap Revan santay.


"Dasar kamu brother, tingkat waspada tinggi kayak gunung!" ucap Revin membuat wajah Revan mendadak datar.


Revan segera masuk ke kamarnya dan kemudian menutup pintu dengan keras membuat Revin terjingkat kaget.


Revin menghembuskan nafasnya dan kemudian berbalik ke kamarnya dan segera membuka pintu.


Revin masuk ke kamarnya dan segera mengambil ponselnya yang berada di tempat tidur dan melanjutkan gamenya yang sempat tertunda.


* * *


Pukul 6:25 pagi.


Di dalam kamar Revin.


"BROTHER LEPASKAN!" ucap Revin saat Revam menarik satu kakinya dan menyeret Revin ke arah kamar mandi.


Revan tidak peduli dengan teriakan Revin dan terus menarik kaki saudara kembarnya itu ke kamar mandi.


Revan melepaskan pengangan tangannya pada kaki Revin membuat Revin menghembuskan nafasnya lega, hingga tiba-tiba mengangkat seember air membuat Revin lagi-lagi berteriak.


"BROTHERRR!" teriak Revin saat Revan menyiram tubuhnya dengan seember air dingin di dalam kamar mandinya.


Lima belas menit kemudian.


Revin duduk di kursi tempat ia biasa duduk di meja makan dengan bibir yang sedikit bergetar karna di mandi air dingin seember oleh sang kakak.


"Brother ... kau kejam," ucap Revin pada orang di hadapannya yang sama sekali tidak peduli.


Arian dan Reana saling bertukar pandang lalu kemudian menghembuskan nafas mereka bersamaan.

__ADS_1


"Makanya, kalau di bangunkan dengan cara baik-baik segera bangun, jangan sampai aku melakukan hal yang kejam," ucap Revan santay membuat Revin bergidik ngeri.


Revan tidak bermaksuh membangunkan Revin dengam cara sesadis itu, tapi apalah daya tingkat kesabarannya yang begitu rendah.


Revan sudah membangunkan Revin dengan cara baik-baik yaitu memanggil namanya berkali-kali tapi, Revin tetap tidak bangun membuay Revan kesal dan segera menarik satu kaki Revin hingga membuat tubuh Revim jatuh dari tempat tidur dan kemudian menyeretnya ke arah kamar mandi.


Revin menatap kakaknya itu dengan tatapan takut dan juga tatapan aneh lainnya yang membuat Revan menatap datar adiknya itu.


Revan dan Reana segera berangkat ke sekolah setelah meminta izin pada ayah dan ibu mereka, sedang Revin belum juga selesai sarapan.


"Kamu kenapa?" tanya Arian tiba-tiba pada Revin.


Revin mendongak dan menatap sang ayah yang menatapnya khawatir.


"Tidak apa-apa, Dad. baiklah, aku berangkat dulu," ucap Revin berpamitan pada Arian dan segera keluar rumah untuk segera berangkat ke sekolahnya.


'Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak ya, sepertinya aku akan terkena sial hari ini, aku harap bukan hal yang akan membuatku malu,' ucap Revin dalam hati kemudian menyalakan mesin motornya dan menancap gas keluar dari kediaman mereka.


* * *


Di sekolah Revin memperhatikan mata pelajaran dengan begitu serius membuat Carlos menatap aneh sahabatnya itu.


Pukul 5 sore.


Revin tengah berada di kamarnya bermain game dan terus menerus menang dan mulai bosan.


Revin segera mengambil jaketnya untuk segera keluar rumah berjalan-jalan ke cafe Reon untuk menghilangkan rasa bosannya.


"Mau kemana?" tanya Revan yang tengah sibuk dengan laptopnya di ruang tamu.


"Mau keluar, Brother. mau senang-senang," ucap Revin membuat Revan meliriknya tajam.


"Jangan macam-macam!" ancam Revan pada saudara kembarnya itu.


"Jangan coba-coba untuk mengunakan namaku di luar sana untuk mendekati wanita, kalau tidak ...," ucap Revan membuat Revin segera memberi hormat padanya seperti memberi hormat pada seorang komandan.


"Siap, Brother." ucap Revin segera berjalan ke arah pintu untuk keluar.


Revin menghentikan langkahnya saat sudah berada di ambang pintu dan kemudian menoleh kebelakang dam sedikit berteriak.


"Tapi aku tidak janji!' ucap Revin sedikit berteriak membuat Revan mendongak dan kemudian berteriak.

__ADS_1


"REVINN!" teriak Revan dan Revin hanya tertawa dan segera naik ke motornya untuk segera pergi jalan-jalan.


__ADS_2