SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
JALAN KAKI


__ADS_3

Revin menoleh keluar kelas dan terkejut melihat seorang wanita yang sedang merangkul lengan seorang pria dengan begitu mesra, lalu berjalan masuk kekelas mereka.


"Itu mantan kamu 'kan, Vin?" tanya Carlos dengan suara yang begitu pelan.


"Hm," Revin hanya berdehem dan kembali pada aktifitasnya yang menidurkan kepalanya dimeja dengan tangan sebagai bantal.


Revan, Reon dan Carlos hanya terdiam melihat hal itu, lalu mengedikkan bahu mereka, tanda tidak peduli. Toh, Revin saja tidak peduli, jadi untuk apa mereka peduli.


Wanita dan pria itu berjalan lalu duduk dikursi masing-masing masih dengan bermesraan, membuat beberapa orang iri.


"Entah siapa yang akan menjadi istrimu nanti, Vin? Sepertinya dia akan bernasib sial," lirih Carlos yang masih didengar oleh Revan dan Reon.


"Kenapa sial?" tanya Reon yang penasaran, kenapa bisa seorang wanita yang menikah dengan Revin bisa bernasib sial.


"Karena suaminya sama sekali tidak punya rasa cemburu sekalipun, sama seperti itu," ucap Carlos dengan menunjuk kearah Revan, mengunakan dagunya.


Revan hanya menatap datar pada sahabatnya itu, mereka hanya belum melihat sifat posesivnya pada Rania, jadi bisa berkata seperti itu, dan soal adiknya ... entah dia akan seperti apa, Revan tidak tau.


Revin yang mendengar ucapan Carlos, hanya diam dengan hati yang terus berbicara.


'Bodoh! Jika kau mengatakan hal itu, sama saja kau mengatakan adikmu sial. Aku tidak menyangka akan memiliki kakak ipar yang super duper menyebalkan, entah apa pendapatnya nanti saat mengetahui jika adiknya yang aku sukai,' ucap Revin dalam hati, dengan sesekali melirik Carlos yang memainkan ponselnya dibawah meja.


* * *


Reon menghembuskan nafasnya, dengan sesekali menyeruput jus yang dipesankan oleh Carlos tadi.


Saat ini mereka tengah berada dikantin, dikursi paling pojok, yang sama sekali tidak menarik perhatian, terutama dengan penampilan mereka.


"Aku sangat bersyukur, karena penampilan ini ... tidak ada tatapan seperti saat disekolah dulu," ucap Carlos yang begitu senang.


Revan, Revin dan Reon hanya menyantap makanan mereka, tanpa berniat berbicara dan meladeni sahabat mereka itu.


Hening melanda, hanya terdengar suara senda gurau para mahasiswa dan mahasiswi lain yang sedang makan siang disana.


"Jadi ... apa selanjutnya?" tanya Reon memecah keheningan.


Revin dan Carlos menatap Revan dengan tatapan meminta jawaban.


Revan memberi isyarat pada ketiga orang itu untuk mendekat padanya.


"Kita tidak boleh membahas hal ini disini, tidak aman. Kita akan membahasnya nanti saat pulang, dikamarku," ucap Revan dan ketiga remaja itu hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.


Suasana diantara mereka kembali hening, hingga jam kelas berikutnya tiba.

__ADS_1


* * *


Tidak terasa sudah waktunya untuk pulang, mereka pun bergegas untuk keluar dari kelas, hingga tiba-tiba tanpa sengaja, Revin disenggol oleh seseorang.


Tubuh Revin mundur beberapa langkah lalu menatap seorang pria yang tersenyum meremehkan pada mereka berempat.


"Makanya kalau jalan hati-hati, dasar kutubuku," ucap pria itu, kemudian berlalu bersama pacarnya yang juga memandang remeh kearah Revin.


Revin mengepalkan tangannya, bersiap untuk memukul wajah pria itu. Tapi sebuah tangan menyentuh bahunya, membuat ia mengundurkan niatnya.


Revin menghembuskan nafasnya, mereka pun kembali melangkah keluar dari kelas, untuk segera pulang kerumah.


Mereka tiba diluar gerbang kampus, menunggu jemputan mereka tiba.


Sepuluh menit kemudian.


Sudah sepuluh menit mereka menunggu, bahkan Revin dan Carlos sudah menaikkan beberapa level mereka pada game yang mereka mainkan, tapi jemputan belum juga datang.


"Kenapa belum datang sih! Jangan bilang kalau kita harus jalan kali untuk pulang!" geram Carlos yang sudah bosan menunggu kedatangan mobil jemputan mereka.


"Hati-hati dengan perkataan yang keluar dari mulutmu, bisa saja ....," Reon mengantung ucapannya, kala mendengar suara deringan ponsel Revan.


Mereka bertiga menatap Revan yang mengernyit ketika melihat layar ponselnya.


"Halo, Grandpa. Ada apa?" tanya Revan saat mengangkat telfon yang tidak lain dari Daenji.


"Kalian dimana? kenapa belum pulang?" tanya Daenji diseberang telfon dengan nada datarnya.


Revan mengernyit dan semakin membuat ketiga pria itu bertanya-tanya.


"Kami menunggu mobil jemputan, kenapa belum datang sampai sekarang, keadaan kampus sudah sepi," ucap Revan panjang lebar, membuat Revin dan Reon menatap Carlos.


"Oh, aku lupa memberitahu kalian, kalau kalian harus pulang dengan jalan kaki," ucap Daenji tanpa rasa bersalah pada keempat remaja itu.


Revan terdiam mendengar hal itu, sedang Revin yang mendekatkan kepalanya pada ponsel sang kakak mengernyitkan alisnya, lalu menatap tajam pada Carlos.


Daenji memutuskan panggilan sepihak, dan hal itu semakin membuat Revin menatap horor pada Carlos.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada apa sih Revan?" tanya Carlos yang sudah merasa ngeri dengan tatapan Revin.


"Kita harus jalan kaki pulang kerumah," ucap Revan dengan memengang kepalanya, lalu mengacak rambutnya gusar.


Reon terdiam lalu menatap Carlos dengan tatapan horor, yang membuat remaja itu menelan salivanya dengan susah payah.

__ADS_1


Satu ... dua ... tiga ....


Carlos segera berlari membuat Reon dan Revin segera mengejarnya, dengan teriakan yang membuat Revan mengelengkan kepalanya.


"DASAR MULUT SIAL, JANGAN LARI CARLOS! MULUTMU ITU BENAR-BENAR SIAL!" teriak Revin dan Reon bersamaan, mencoba mengapai Carlos yang memiliki mulut yang begitu sial.


"Tidak mau! Kalian akan membunuhku jika aku berhenti!" ucap Carlos semakin mempercepat larinya.


Banyak orang yang berlalu lalang menatap kearah tiga pria culun yang bermain kejar-kejaran layaknya anak kecil, sedang satu orang berjalan dengan santai dan sesekali menghembuskan nafasnya.


* * *


Dua puluh lima menit kemudian.


"Sudah ... cukup ...," ucap Carlos dengan nafas tidak beraturan, "Aku sudah tidak sanggup," lanjutnya dengan bersandar pada tembok gerbang kediaman keluarga Su.


Revin dan Reon tidak jauh berbeda dengan Carlos, mereka benar-benar lelah dengan aksi kejar-kejaran mereka, sedang Revan berjalan dengan santai dibelakang mereka.


Gerbang terbuka saat keempat remaja itu berada tepat didepan pagar besi, seseorang membungkukkan badan mereka pada keempat remaja itu, dengan pelayan dibelakangnya yang membawa nampan berisi empat gelas air putih.


Revin, Reon dan Carlos dengan cepat menyambar gelas itu dan meminumnya hingga tandas, sedang Revan hanya mengambilnya dengan santai, lalu meminumnya hingga setengah, dan kembali menaruh gelas itu dinampan.


Pelayan itu berbalik dan masuk kedalam rumah, diikuti oleh keempat remaja itu yang sudah bermandikan keringat dengan keadaan yang sedikit berantakan dari sebelumnya.


"Akhirnya kalian sampai juga," ucap Daenji saat ketiga remaja itu masuk dan melewati ruang tamu, dimana dirinya tengah bersantai dengan membaca surat kabar.


"Kami pulang," ucap mereka serempak dan berlalu menaiki anak tangga, untuk segera masuk kekamar masing-masing, lalu membersihkan diri.


* * *


Pukul 8 malam.


Saat ini mereka tengah berkumpul dikamar Revan, setelah tadi makan malam bersama dengan kakek mereka yang kejam tanpa ampun itu.


"Jadi apa rencananya?" tanya Reon setelah mengunci rapat pintu kamar Revan.


Revan terdiam sejenak dengan kepala yang tertunduk, mereka duduk bersila dilantai, dengan tangan yang dilipat didepan dada.


Revan menghembuskan nafasnya, perlahan-lahan lalu kemudian berbicara.


"Sebelum kita membahas rencana, aku ingin mengatakan sesuatu ...," ucap Revan mengantung ucapannya, membuat ketiga orang itu terdiam, "Dikampus itu ada mata-mata," lanjutnya membuat Revin, Reon dan Carlos membeku.


"Tapi bukan mata-mata yang dikirim oleh kakek, melainkan orang lain," ucap Revan membuat ketiga pria itu terdiam seribu bahasa dengan menelan saliva mereka.

__ADS_1


__ADS_2