
Bel istirahat berbunyi beberapa saat yang lalu, dan saat ini, Revan tengah duduk dikursi didepan meja tempat ia dan Reon biasa duduk.
Reon asyik dengan ponselnya, sedang Revan diam dengan wajah datarnya.
"Kamu dari mana semalam?" tanya Reon tiba-tiba dengan mata yang fokus pada Revan dihadapannya.
"Tidak ada," ucap Revan santay.
"Jangan bohong, Van. aku melihatmu dan Revin semalam, kalian pergi dengan begitu terburu-buru, seperti dikejar waktu," ucap Reon dengan menopang dagunya dengan tangannya.
Reon yang sedang duduk dibalkon kamarnya melihat motor Revan dan Revin yang melaju dengan cepat, entah kemana.
Reon ingin bertanya hal itu sedari tadi, tapi ia begitu fokus pada dunianya, karena sedang chatan dengan kekasihnya.
"Mengurus masalah," ucap Revan singkat, Reon yang mendengar hal itu, mengernyit bingung.
"Apa masalah tentang orang-orang itu?" tanya Reon dan Revan memganggukkan kepalanya.
Orang yang dimaksud oleh Reon adalah, orang-orang yang mengincar mereka untuk dibunuh atau dijadikan sandera.
"Jadi?" ucap Reon dengan memiringkan kepalanya menanti jawaban Revan.
"Belum selesai sepenuhnya," ucap Revan lagi, dan kini menghembuskan nafasnya.
"Ada apa denganmu? sedang ada masalah besar? apa kau sedang merindukan seseorang?" tanya Reon berturut-turut dengan sebelah alisnya yang ia naikkan.
"Hm," singkat pada dan jelas, tapi mampu membuat Reon terkejut bukan main.
"Aku pergi ke toilet dulu," ucap Revan beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kantin meninggalkan Reon yang terdiam.
"Apa aku salah dengar? dia benar-benar merindukan seseorang, siapa?" tanya Reon pada dirinya sendiri.
* * *
Sementara itu, seorang gadis tengah duduk ditaman belakang sekolahnya yang terbilang cukup sepi.
Rania menghembuskan nafasnya berkali-kali, ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan agar bayangan Revan tidak berputar dikepalanya.
"Aku kembali ke Negara S agar bisa menjauh darinya, tapi kenapa begitu sulit untuk melupakannya," ucap Rania dengan memhembuskan nafasnya gusar.
Sudah 2 hari ia berada di Negara S, tapi bayangan Revan terus mengisi kepala Rania, membuatnya benar-benar sulit untuk move on.
"Apa yang harus aku lakukan," ucap Rania yang mulai lelah dengan dirinya sendiri yang sama sekali tidak bisa menghilangkan wajah pria itu, Cinta pertamanya, Revan Li.
"Rania ...," teriak seorang gadis yang mendekat kearah Rania yang duduk dibangku taman.
"Ada apa Ty?" tanya Rania pada gadis yang seumuran dengannya itu yang bernama Tyana Su, anak dari Anson Su, cucu angkat Daenji.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini? bukannya kekantin buat makan siang," ucap gadis itu kemudian duduk dibangku taman disamping Rania.
"Aku ngga laper, Ty." ucap Rania dengan senyum kecil dibibirnya.
"Ish, selalu aja begitu, saat kamu pulang dari negara S, kamu jadi kayak sering melamun gitu, lamunin apa sih?" tanya Tyana yang mulai penasaran dengan apa yang membuat sahabat sekaligus sepupunya itu melamun.
"Bukan hal penting, Ty." ucap Rania beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kelas.
"Kamu bohong, Ra. aku tahu kamu sedang memikirkan seseorang, tapi siapa? tidak mungkin 'kan laki-laki," ucap Tyana pada dirinya sendiri, karena tidak mungkin sepupunya itu memikirkan seorang pria, karena setiap ada yang menyatakan perasaan pada Rania, maka Rania akan menolaknya, tentu saja dengan halus.
* * *
Sementara itu, Revin dan Carlos tengah menikmati makan siang mereka dikantin sekolah.
Revin hanya mrmgunyah makanannya tidak berniat untuk berbicara membuat Carlos merasa seperti duduk dengan orang asing.
"Kamu kenapa?" tanya Carlos yang penasaran.
"Tidak apa-apa," ucap Revin singkat.
"Apa jangan-jangan karena kamu abis putusin semua pacar kamu ya, jadi diam kayak gini," tebak Carlos yang memang mengetahui jika Revin telah memutuskan semua pacarnya, karena Revin baru saja menceritakannya beberapa saat yang lalu.
"Tidak juga, santay aja tuh," ucap Revin kemudian meminum jusnya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kantin.
"Tuh anak kenapa? tumben kayak gitu, apa jangan-jangan hari ini dia lagi PMS ya," ucap Carlos dengan raut wajah berfikirnya.
"Aduhh, siapa yang mukul," ringis Carlos saat kepalanya dipukul seseorang dari belakang.
Carlos terdiam dengan menatap Revin yang sudah berdiri dibelakangnya dengan raut wajah kesal.
"Hehe, Piss," ucap Carlos dengan mengangkat tangannya dengan jari yang membentuk huruf V.
Revin berniat untuk ke toilet, tapi ia urungkan dan kembali masuk kekantin dan kesal saat mendengar Carlos yang mengatakan sesuatu yang membuatnya marah.
"Makanya, kalau bicara itu, disaring dulu, baru dikeluarin," ucap Revin menaikkan nada suaranya.
"Maaf, cuma becanda tadi." ucap Carlos pada Revin yang kini duduk kembali ke kursinya.
Revin hanya memadang wajah datarnya, membuat Carlos jadi berfikir, 2 kali sebelum ingin mengucapkan kata-katanya.
"Tumben, tadi pagi datang cepat, Vin?" ucap Carlos mencoba mencairkan suasana hening 2 menit yang mencengkam baginya.
"Lagi buru-buru aja, males dimarahin sama guru BK," ucap Revin dengan malas.
Seandainya bukan karena malas mendengar omelan guru BK nya yang sering menganti guru kelasnya yang kadang tidak masuk mengajar, mungkin Revin akan tiba seperti biasa.
Carlos hanya ber oh ria mendengar jawaban sahabatnya itu, karena dirinya sedikit heran saat melihat Revin tiba lebih dulu darinya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Bel masuk pun berbunyi, semua siswa dan siswi kembali masuk kedalam kelas masing-masing.
"Eh, Vin. nanti jemput Vivian lagi ya," ucap Carlos pada Revin saat ingin beranjak dari duduknya untuk masuk kembali ke kelas.
Revin hanya menganggukkan kepalanya, sekalian melihat anak kecil itu, yang entah mengapa sudah mulai jarang mengajaknya debat, karena beberapa hari yang lalu, Carlson yang mengantar sekaligus menjemput Vivian, membuat Revin sedikit merasa aneh pada dirinya sendiri.
Pukul 4 sore.
Revin keluar dari kelas dan berjalan beriringan dengan Carlos menuju parkiran.
"Car, tuh cewek masih tinggal dirumah kamu?" tanya Revin dengan menoleh pada Carlos yang berjalan disampingnya.
Wajah Carlos mendadak berubah suram, seperti ada awan gelap diatas kepalanya, membuat Revin bergidik ngeri melihat hal itu.
"Masih ... Masih, dia bakalan tinggal dirumah lebih dari 9 bulan lagi, masih lama banget balik kerumahnya, bikin aku susah aja," ucap Carlos dengan nada suara yang begitu kecil, lantaran melihat Felisia yang sudah berdiri disamping motornya dan fokus pada ponselnya.
"Semoga harimu menyenangkan," ucap Revin dengan menepuk bahu Carlos pelan, lalu berjalan mendekati motornya.
Felisia menoleh dan mendapati Carlos yang sudah berdiri dihadapannya dengan raut wajah yang sedih, membuat Felisia mengernyit bingung.
"Aku duluan," ucap Revin pada kedua orang itu, kemudian memakai helmnya lalu menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan parkiran sekolah menuju sekolah Vivian.
Carlos mendekati motornya lalu berniat naik, tapi tiba-tiba Felisia menarik lengan bajunya membuat Carlos menoleh pada gadis itu.
"Ada apa?" tanyanya, dan Felisia hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Aku mau ke mall dulu, bisa anterin ngga?" tanya Felisia dengan tangan yang masih menarik lengan baju Carlos dengan kepala tertunduk.
Carlos menghembuskan nafasnya kasar, lalu berbicara.
"Buruan naik!" ucap Carlos kemudian segera naik ke motornya setelah Felisa melepas pengangan pada lengan bajunya.
Felisia mengangkat kepalanya yang tertunduk kemudian tersenyum senang, lalu segera naik ke motor.
Carlos terdiam melihat Felisia yang tersenyum untuk pertama kali dihadapannya, karena biasanya hanya wajah kesal, marah dan lain sebagaianya, yang tidak bersahabat dengan Carlos.
'Nih cewek manis juga kalau senyum,' ucap Carlos dalam hati dan sedetik kemudian terkejut.
'Dih, aku bicara apa barusan,' ucap Carlos dalam hati lalu segera mengelengkan kepalanya dan memakai helmnya.
Carlos segera menyalakan mesin motornya dan bersiap untuk menancap gas meninggalkan parkiran sekolah, hingga tiba-tiba sebuah tangan melingkat dipinggangnya dengan kepala yang bersandar dipunggungnya.
'Lah, nih cewek kenapa?' tanya Carlos dalam hati pada dirinya sendiri.
"Kok belum jalan sih," ucap Felisia menyadarkan Carlos dari keterkejutannya.
Lagi-lagi Carlos mengelengkan kepalanya kemudian menancap gas menuju mall.
__ADS_1