SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
MALL 3


__ADS_3

Revin melompat dengan satu kaki saat Revan menginjak kakinya dengan keras hingga membuatnya berteriak.


"Ambilkan aku jus yang baru dan bawa ke kamar!" titah Revan pada Revin yang masih meringis kesakitan.


"Sadis banget dah," ucap Revin kemudian berjalan pinjang ke arah dapur dengan gelas kosong yang di berikan Revan tadi.


Beberapa menit kemudian.


Revin tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah tadi mengantarkan jus pada sang kakak.


"Jadi kakak kok sadis banget dah, aduh, kakiku masih ngilu aja," rintih Revin dengan kakinya yang masih cenat-cenut.


Pukul 5 sore.


Revin tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya hingga deringan ponselnya membangunkannya dari tidur lelapnya.


"Halo ...," ucap Revin dengan suara khas bangun tidur.


"Vin, temani aku ke mall," ucap orang di seberang telfon yang tidak lain adalah Reon.


"Buat apaan?" tanya Revin yang begitu malas beranjak dari tempat tidurnya.


"Mau beli sesuatu buat cewek, cepetan bangun atau mau aku minta sama Revan buat bangunin kamu!" ucap Reon di seberang telfon memgancam Revin.


Revin segera mematikan telfonnya kemudian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri dari pada harus menunggu sang kakak masuk ke dalam kamarnya dan hal itu pasti akan berujung buruk baginya, terlebih lagi orang yang mengancamnya adalah orang yang akan melakukan apapun yang ia katakan.


Sepuluh menit kemudian.


Revin selesai berpakaian dan segera berjalan keluar dari kamar dan terkejut saat melihat sang kakak yang sudah berdiri di depan pintunya dengan penampilan yang rapi meski sedikit acak-acakan.


"Brother? Reon telfon Brother juga?" tanya Revin dan Revan pun mengangguk.


Revan dan Revin pun turun ke lantai dasar untuk segera pergi ke mall dimana Reon sudah menunggu mereka.


"Mommy, daddy, kami pergi dulu," ucap Revin pada Ana dan Arian yang duduk di ruang tamu.


Ana dan Arian mengangguk membuat Revan dan Revin tersenyum.

__ADS_1


Revan dan Revin pun naik ke motor masing-masing dan bersiap untuk pergi ke mall.


Dua puluh menit kemudian.


Revan dan Revin tiba di parkiran mall, dimana sudah ada Reon dan Carlos yang menunggu mereka dengan wajah yang masam.


"Lama banget dah, mau bikin aku mati kepanasan baru sampai," ucap Carlos yang mulai berkeringat.


Revin hanya cengegesan sedang Revan hanya berwajah datar.


Mereka berempat pun masuk ke dalam mall dan berjalan mengelilingi mall untuk membantu Reon untuk memilih hadiah entah untuk siapa.


"Kamu mau beli hadiah apaan sih, Reon. dari tadi keliling tapi ngga ada yang kamu suka, pantas aja kamunya belum punya pacar, mana ada cewek yang mau sama orang yang ribet kayak kamu!" keluh Revin yang mulai lelah berkeliling tapi Reon belum juga menemukan Barang yang ia cari.


"Cerewet banget sih, Vin. udah kayak mulut perempuan aja," ucap Reon santay sedang Revan masih dengan wajah datarnya.


Revin menghembuskan nafasnya, entah mengapa, lama-lama dia jadi kesal dengan Reon dan ingin sekali menceburkannya ke kolam renang di rumahnya.


"Reon, Van, Vin, aku pergi ke toilet dulu ya, kebelet," ucap Carlos berpamitan pada ketiga sahabatnya.


Ketiga orang itu mengangguk kemudian kembali melihat-lihat boneka yang terpajang di toko boneka itu.


"Aduhh, bokongku sakit," rintih seorang gadis yang menabrak Carlos.


Carlos segera berdiri dan memengang bokongnya yang sedikit sakit.


"WOY KALAU JALAN ITU PAKE MATA DONG!" teriak gadis itu pada Carlos dan kemudian berdiri dan menatap Carlos kesal.


Carlos yang mendengar ha itu mendadak tensi darahnya naik.


"HEY! YANG ADA ORANG ITU JALAN PAKE KAKI BUKAN MATA, DAN LAGI BUKANNYA MINTA MAAF KARNA UDAH NABRAK ORANG MALAH TERIAK-TERIAK KAYAK GITU, SITU WARAS!" teriak Carlos yang kesal.


Gadis itu mengepalkan tangannya karna kesal mendengar ucapan pria di hadapannya.


"DASAR COWOK SINTING," ucap gadis itu sedikit berteriak kemudian berlalu pergi dengan menghentakkan kakinya.


"DASAR CEWEK GILA!" teriak Carlos kesal kemudian pergi kembali ke tempat teman-temannya karna mendadak keinginannya untuk buang air kecil hilang seketika.

__ADS_1


Sementara itu, Reon, Revan dan Revin tengah berada di sebelah toko boneka dan melihat-lihat sesuatu yang membuat Revin menepuk keningnya pelan bingung dengan jalan fikiran Reon.


Carlos berjalan mencari para sahabatnya dengan suasana hati yang kesal minta ampun.


Carlos menoleh dan melihat Ketiga sahabatnya yang berada di dalam toko di sebelah toko boneka, Carlos pun masuk dan segera menghampiri ketiga sahabatnya itu.


Revan hanya berwajah datar kemudian menoleh saat Carlos berjalan memasuki toko dan mendekat ke arah mereka.


"Sudah selesai?" tanya Revan yang heran karna Carlos yang begitu cepat dari kamar mandi.


Carlos mendekat dan kemudian berdiri di samping Reon dan meremas barang yang ada di hadapannya dengan kesal.


Revan, Revin dan Reon terkejut melihat apa yang di lakukan oleh sahabatnya itu hingga menjadi pusat perhatiaan dari para pembeli yang masuk ke toko itu untuk membeli.


"Astaga lihat apa yang dia lakukan"


"Astaga apa yang di lakukan pria itu,"


Begitulah bisik-bisik para pembeli yang hendak membeli di toko itu ketika melihat Carlos meremas benda di tangannya.


Revin kembali menepuk keningnya dan megusap wajahnya kasar.


'Mati aku, urat maluku serasa sudah putus,' ucap Revin dalam hati malu semalu-malunya.


Revan dan Reon menatap Carlos dengan tatapan tidak percaya, Setelah merasa kekesalannya suda sedikit mereda karna meremas benda di tangannya, Carlos menatap ketiga sahabatnya di mana Revan dan Reon menatapnya hingga mematung di tempatnya sedang Revin sudah seperti kehilangan urat malunya.


"Kalian kenapa?" tanya Carlos yang belum melihat apa yang ia remas kesal di tangannya.


"Mati aja sana!" ucap Revin kemudian keluar dari toko itu karna sudah begitu malu akibat ulah dua sahabatnya.


Carlos bingung dengan apa yang di katakan oleh Revin, Carlos kembali menatap kedua orang yang masih menatapnya terkejut itu.


"Apaan sih?" ucap Carlos semakin penasaran pasalnya ia tidak melakukan kesalahan tapi Revin malah mengatakan hal seperti itu.


Revan dan Reon menunjuk ke arah tangan Carlos dan Carlos pun mengikuti arah pandang kedua sahabatnya itu dan terkejut.


"ASTAGA!" ucap Carlos dan refleks melepaskan hal yang ia remas tadi.

__ADS_1


Revan dan Reon mengelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Carlos.


"Tidak sengaja," hanya itu yang keluar dari mulut Carlos.


__ADS_2