SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
AWAL PERTUNJUKAN


__ADS_3

Pukul 6 sore.


Revin tengah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan tubuh yang terlentang menatap langit-langit kamarnya.


Tiba-tiba Revin mendudukkan dirinya, lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Sepuluh menit kemudian.


Revin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya tidak lupa dengan rambut yang basah.


Drrrt ... drrrt ... drrrt.


Ponsel Revin tiba-tiba berdering, ia pun melangkah 'kan kakinya mendekat kearah meja disamping tempat tidurnya.


"Halo," ucap Revin saat mengangkat telfon dari Jiwon sekertaris pribadinya.


"Halo, Tuan Revin. soal hal yang anda minta untuk saya kerjakan, sudah selesai, tinggal menunggu perintah anda saja," ucap Jiwon pada Revin.


Sebenarnya Revin merasa sedikit aneh saat Jiwon yang jelas-jelas tua darinya, memanggilnya dengan sebutan tuan, sungguh mengelikan ditelinga Revin, tapi Jiwon akan tetap memanggilnya seperti itu, meski ia melarangnya seribu kali pun.


"Baiklah, terima kasih. kak Jiwon bisa menikmati waktu libur yang menyenangkan," ucap Revin dengan tersenyum kecil.


"Terima kasih, tuan Revin. kalau begitu, saya akan menikmati libur ini," ucap Jiwon dan Revin pun mematikan panggilannya.


"Kalian yang mencari masalah denganku, maka jangan salahkan aku jika berbuat sedikit kasar," ucap Revin dengan senyum iblis dibibirnya.


Lima belas menit kemudian.


Revin sudah rapi dengan setelan jasnya, yang berwarna navi melekat ditubuhnya dengan rambut yang sedikit acak-acakan, membuatnya tampil bak seorang pangeran, dari dunia modern.


( meski memang benar😂).


Revin keluar dari kamarnya dan segera menuruni tangga untuk kelantai dasar.


"Malam, mom, dad dan Rere," ucap Revin saat menghampiri kedua orang tuanya beserta adiknya diruang tamu.


"Tumben rapi, mau pergi kencan ya?" tebak Reana dengan menaik turunkan alisnya mencoba mengoda kakaknya itu.


"Tidak, ingin pergi kepesta teman sebentar, aku pamit, Mom, Dad," ucap Revin kemudian pergi dari ruang tamu, dan berjalan kegarasi rumahnya.


Revin berjalan ke garasi dengan bersiuk ria, sungguh suasana hatinya saat ini benar-benar sangat baik.


Revin tersenyum saat melihat mobil sport berwarna hitam yang akan menjadi kendaraannya malam ini, hadiah ulang tahunnya yang ke 15 oleh sang ayah.

__ADS_1


Meski sebenarnya, Revin tidak terlalu suka mengendarai mobil, tapi sepertinya malam ini adalah pengecualian.


Revin membuka pintu mobil lalu masuk kedalam, dan segera menutup kembali pintu mobilnya.


Revin menyalakan mesin mobilnya dengan hati yang begitu senang, karena pertunjukan besar akan terjadi tidak lama lagi dikediaman Luo.


Revin menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan garasi dan keluar dari gerbang rumahnya.


Hanya perlu waktu 2 menit dan Revin sudah tiba didepan gerbang kediaman Carlson.


Revin keluar dari mobilnya lalu menutup pintu dan kemudian menyandarkan tubuhnya pada mobilnya.


Revin merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya dan kemudian mengetik nomor seseorang disana dan menelfonnya.


Carlos yang tengah duduk bersantay dibalkon kamarnya, mengernyitkan alisnya saat mrlohat mobil sport berwarna hitam terparkir didepan gerbang rumahnya dengan seorang pria yang begitu familiar bersandar dengan gaya kerennya.


"Bukankah itu, Revin ya?" tanya Carlos pada dirinya sendiri.


Saat Carlos ingin beranjak dari tempatnya berniat untuk turun dan menemui sahabatnya itu, tiba-tiba ia melihat seseorang yang berjalan keluar dari gerbang rumah dengan memakai dress selutut berwarna pink dengan corak bunga senada sengan warna dressnya.


"Vivian?" ucap Carlos dengan raut wajah terkejutnya.


Carlos mematung ditempatnya saat melihat Vivian mendekat kearah Revin.


Revin terdiam sejenak saat melihat Vivian yang berjalan kearahnya dengan memakai dress berwarna pink yang membuatnya terlihat imut dan cantik.


Revin segera mengelengkan kepalanya lalu meminta Vivian untuk masuk kemobil agar mereka bisa segera berangkat.


'Nih bocil imut juga kalau pakai dress kayak gini, aku mikir apa sih,' ucap Revin dalam hati dengan mengelengkan kepalanya berulang-ulang.


Revin segera masuk kedalam mobilnya lalu menyalakan mesin mobil menuju kediaman Luo, karena hari ini adalah hari pertunangan Vino dan Syila, sekaligus kebangrutan keluarga Luo.


* * *


Sementara itu disisi lain, Revan sudah tiba di Negara S dan segera turun dari jet pribadi milik sang ayah, kemudian berjalan keluar dari bandara, dimana sudah ada mobil yang menunggunya.


Revan masuk kedalam mobil dan dengan sigap sang supir menutup pintu kembali.


Ditengah perjalanan menuju keapartemen milik ayahnya, Revan hanya terdiam tidak berbicara dengan melihat kearah luar jendela mobil.


"Berhenti!" ucap Revan tiba-tiba membuat sang supir mengerem mendadak mobil itu.


"Ada apa, tuan muda?" tanya sang supir dengan melirik kebelakang.

__ADS_1


"Tuan muda, anda ingin pergi kemana? kita belum sampai diapartemen tuan Arian," ucap supir itu saat Revan tiba-tiba membuka pintu mobil tempat ia duduk dan melangkah keluar.


"Aku akan keapartemen sendiri, aku tahu alamatnya, kau pergilah," ucap Revan kemudian melangkahkan kakinya kearah bangunan besar yang tidak jauh dari tempat mobilnya berhenti.


Supir itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Revan yang sudah berjalan cukup jauh dan sudah masuk kedalam bangunan.


"Selamat datang, Tuan. ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pengaway tempat itu.


"Aku ingin beli motor," ucap Revan dengan nada suara datarnya.


"Mari saya tunjukan," ucap pegaway itu.


* * *


Saat ini Revan sudah berads diatas motor barunya yang berwarna Navy yang baru saja ia beli tadi.


Revan melajukan motornya dengan kecepan tinggi, tentu saja dengan mengunakan helm yang baru ia beli tadi, tidak mungkin Revan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi jika tidak mengunakan helm.


Dua puluh menit kemudian.


Revan tiba dibangunan apartemen sang ayah, yang bisa dibilang cukup sepi, Revan melajukan motornya dengan kecepatan sedang memasuki basement apartemen itu.


Revan mematikan menghentikan motornya disamping mobil berwarna hitam, yang bisa ia pastikan adalah milik Kimso.


Revan berjalan santay menuju lift lalu menekan tombol lift ke lantai atas.


Lift terbuka, Revan segera melangkahkan kakinya menuju ke pintu apartemen milik sang ayah yang berada dilantai 5, sedang Kimso di lantai 2.


Revan pintu aparteme Arian setelah memasukkan kunci apartemen itu yang mengunakan sandi 4 angka yang sangat mudah diingat oleh Revan.


Revan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar ayahny itu, Revan terdiam ketika membuka pintu kamar sang ayah.


"Kenapa kamarnya begitu polos? hanya warna putih saja, apa Daddy tidak menyukai warna lain ya," ucap Revan dan kemudian melangkahkan kakinya memasuki kamar sang ayah yang bernuansa putih, seperti kamar pasien dirumah sakit.


Revan merebahkan dirinya diatas tempat tidur sang ayah, lalu memejamkan matanya sejenak.


"Sepertinya apartemen ini selalu dibersihkan dengan teratur, sama sekali tidak ada debu, mungkim besok saja bertemu dengannya, dia pasti lelah dari sekolah," ucap Revan pada dirinya sendiri kemudian bangkit dari tidurnya lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk segera mrmbersihkan diri.


Sepuluh menit kemudian.


Revan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya, saat Revan ingin membuka lemari pakaian sang ayah, tiba-tiba ia mendengar suara berisik diluar.


Revan mengernyit kemudian berjalan mendekat kearah pintu kamar dan keluar dengan hanya memakai handuk.

__ADS_1


Revan melihat sekeliling lalu berjalan kearah dapur dan sedikit terkejut saat melihat seseorang yang tengah berjongkok kelantai untuk memungut wajan besi yang tidak sengaja jatuh.


Setelah mengambil wajan itu, wanita itu kembali menengangkan tubuhnya dan terkejut saat melihat Revan yang berdiri dihadapannya dan melihat kearahnya.


__ADS_2