SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
REON DAN LIONA


__ADS_3

Kini Reon tengah berdiri dialtar dengan menatap Liona yang berjalan perlahan menghampirinya dengan didampingi oleh sang ayah.


Senyum diwajah Reon terus mengembang sempurna melihat Liona yang begitu cantik hari ini, lebih cantij dari hari-hari biasanya.


Ayah Liona memberikan tangan Liona perlahan pada Reon, yang diterima dengan senyuman oleh pria itu.


Revan, Revin dan Carlos yang melihat hal itu ikut tersenyum senang, mereka ikut bahagia melihat Reon yang sudah resmi menikah dengan Liona.


Carlos menatap wanita yang berdiri disampingnya, yang beberapa hari lagi akan menjadi istrinya. Ia mengecup singkat kening Felisia membuat gadis itu menoleh padanya dan tersenyum.


Revan yang melihat hal itu tersenyum dan menghembuskan nafasnya, ia merasa sepeti jomblo hari ini. Karena Rania yang tidak bisa hadir di pernikahan Reon.


"Kakak," ucap Reana yang kini berdiri disamping kakaknya itu dengan senyum diwajahnya.


Revan membalas senyum adiknya itu, lalu mengacak gemas rambut adiknya. Reana tersenyum dan tanpa sengaja tatapannya matanya bertemu dengan tatapan mata Dion, gadis itu segera mengalihkan pandangannya kearah lain, tidak ingin berlama-lama menatap pria itu. Karena jika Revin melihatnya, maka bisa saja kakaknya itu kembali marah besar.


Dion hanya menghembuskan nafasnya saat Reana mengalihkan pandangannya, ia berdecak lalu menatap pada Revin yang juga menatapnya tajam, dengan Vivian yang berdiri disampingnya.


"Revin?!" panggil Vivian membuat Revin segera merubah raut wajahnya dan menatap Vivian dengan tersenyum.


"Iya, kenapa?" tanya Revin yang sedikit penasaran, karena Vivian yang tiba-tiba memanggil namanya.


"Tidak apa-apa, hanya memanggil saja," ucap Vivian dengan tersenyum kecil.


"Dasar ya, awas aja nanti kalau dekat-dekat dengan cowok lain disana. Akan aku bawa pulang dan langsung ke kantor catatan sipil," ucap Revin membuat Vivian menjulurkan lidahnya lalu memeluk lengan Revin dengan sayang.


* * *


Saat ini pasangan pengantin tengah menyambut tamu yang datang dengan senyum diwajah mereka, berbeda dengan wajah dua pria yang berusaha menahan tawa mereka, siapa lagi jika bukan Carlos dan Revin.


"Lihat, tadi gugup sampai memukul kepalaku, dan sekarang senyum merekah dibibirnya, pasti karena mendapat ciuman diatas altar," canda Carlos membuat Reon menoleh dengan malas kebelakang.


'Teman tidak ada akhlak,' ucapnya dalam hati lalu kembali menoleh kedepan dan menyambut orang yang menghampirinya.

__ADS_1


"Menurutmu, dia akan minum obat kuat nanti malam atau tidak?" tanya Revin penasaran pada Carlos.


"Tidak tahu, yang aku dengar katanya Liona sedang datang bulan. Jadi sepertinya nanti malam tidak jadi deh," ucap Carlos menahan tawanya, membuat Revin ikut menahan tawanya.


"Gagal dong," ucap Revin dengan tubuh yang mulai merinding karena menahan tawanya.


"Ya iya, masa berhasil. Kecuali jika dia melakukannya lewat itu," ucap Carlos semakin membuat Revin menahan tawanya.


Reon mengepalkan tangannya, berusaha untuk menahan kesal pada kedua sahabatnya itu, yang sama sekali tidak malu mengatakan hal yang belum mereka rasakan. Bahkan dengan suara yang sedikit keras, membuat wajah Liona merona merah.


Revin memukul punggung Carlos dengan tertawa tanpa suara, jujur ia sudah merinding setengah mati saat ini.


"Bagaimana kau tau, jika Liona tengah datang bulan?" tanya Revin dengan menatap penuh tanda tanya pada sahabat gilanya itu.


"Tadi aku mendengar ibu Liona sedikit berbisik pada Liona, jadi aku mendengarnya cukup jelas. Bahkan aku bertanya langsung pada ibunya Liona untuk memastikan benar atau tidaknya," ucap Carlos membuat tawa Revin pecah seketika.


"Hahahaha!" Tawa Revin membuat semua orang menoleh padanya.


Revin dan Carlos terus-menerus tertawa tanpa henti, bahkan tidak menyadari jika Reon sudah berada dihadapan mereka.


Revin terdiam, lalu memukul punggung Carlos untuk membuatnya berhenti tertawa dan menatap kedepan.


Revin dan Carlos tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Reon.


"Aduh! Reon sakit!" teriak Revin dan Carlos bersamaan saat Reon menarik telingan keduanya dengan cukup kuat.


Reon tersenyum ramah pada para tamu yang menatap kearah mereka, ia segera menarik dua sahabat yang tidak ada akhlaknya itu sedikit menjauh dari sana.


Revan hanya menatap datar pada Revin dan Carlos, ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Reana yang belum juga kembali dari toilet.


Dengan malas, Reva berjalan menghampiri Reon yang tengah menatap tajam Revin dan Carlos dipojok ruangan itu.


"Revin?!" panggil Revan membuat Revin menoleh padanya.

__ADS_1


Revin mengernyit saat melihat Revan yang hanya sendiri, tidak bersama dengan adik perempuannya.


"Reana mana?" tanya Revin cepat, membuat Revan menghembuskan nafasnya.


"Katanya tadi mau ke toilet sebentar, aku fikir kau sudah melihatnya kembali dari toilet," ucap Revan membuat Revin segera pergi dari sana menuju toilet untuk menemukan adiknya.


"Aku berharap bukan adikmu yang memperlambat Reana untuk kembali dari toilet," ucap Carlos membuat Reon terdiam, sedang Revan mengernyit berang. Sepetinya ada hal yang belum ia ketahui.


Revin berjalan dengan cepat menuju toilet wanita untuk segera membawa Reana kembali ke acara. Ia terdiam saat melihat dari kejauhan, seorang pria yang menyentuh kedua pundak adiknya.


"Sialan!" umpat kesal Revin lalu berjalan cepat untuk menghampiri Reana dan pria yang ia benci.


"Reana, dengarkan aku meski hanya sebentar," ucap Dion dengan wajah menekannya, sedang Reana berusaha untuk segera pergi, sebelum kakaknya datang dan kembali memukul Dion.


"Dion, lepasin. Nanti kak Revin datang, dan akan memukulmu lagi," ucap Reana dengan raut wajah khawatirnya.


"Aku tidak peduli, meski dia memukulku berkali-kali sekalipun. Aku tidak peduli!" ucap Dion dan tiba-tiba tubuhnya terdorong kesamping dengan cukup keras.


Reana menoleh dengan takut pada pria yang menatap marah pada Dion.


"Sudah ku bilang berapa kali! Jauhi adikku sialan!" ucap marah Revin lalu segera menarik lengan Reana untuk segera pergi dari sana sebelum kesabarannya menghilang dan kembali memukul Dion.


Dion berdecak kesal, Revin memang tidak pernah main-main dengan ucapannya dan dia paling tidak ingin dibantah.


"Walau kau tidak merestui sekalipun, aku akan tetap berusaha untuk membuat Reana menjadi milikku, sialan!" ucap kesal Dion dengan menatap marah pada Revin.


Reana terus mengikuti langkah cepat kakaknya, ia tahu jika kakaknya tidak akan pernah membiarkan dia berdekatan dengan Dion.


"Sudah ku bilang berapa kali, untuk tidak lagi bertemu dengannya berdua seperti tadi! jika bukan karena ini pesta pernikahan Reon, mungkin aku sudah memukulnya hingga babak belur," ucap Revin dengan penuh penekanan, membuat Reana tersentak.


"Maaf," lirih Reana dengan kepala menunduk.


"Ingat untuk tidak bertemu seperti tadi, jangan sampai aku menemukannya berdua bersamamu dengan tempat sepi seperti itu ataupun tempat ramai sekalipun!" ucap Revin dan Reana hanya mampu menganggukkan kepalanya patuh.

__ADS_1


__ADS_2