SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
DADDY AND SON


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian.


Mobil berhenti ditepi jalan yang hanya dikelilingi hutan. Revan segera keluar dengan tergesa-gesa, membuat ayahnya menghembuskan nafas.


Gi keluar dari mobil dan berjalan perlahan untuk menunjukkan jalan ke tempat persembunyian mereka, untuk mengintai orang itu beberapa saat yang lalu.


Dua menit perjalanan, akhirnya Revan dan Arian tiba ditempat persembunyian dragon night yang tengah mengintai gudang tua tidak jauh dari mereka.


"Selamat datang, tuan," ucap lima orang anggota Dragon night dengan suara yang cukup kecil.


"Di mana yang lain?" tanya Arian dengan suara yang tidak jauh berbeda dengan para bawahannya tadi.


Mereka mengangkat tangan lalu membentuk lingkarang, tanda anggota dragon night telah mengepung setiap sudut dari tempat itu.


Tiba-tiba Revan mengambil senjata salah satu anggota dragon night dan berlari mendekat kearah gudang itu.


"Revan!" ucap Arian yang terkejut ketika melihat Revan yang berlari setelah mengambil belati dan pistol salah satu anggota dragon night.


Tanpa fikir dua kali, salah satu anggota dragon night menembak kelangit, tanda penyerangan dimulai.


Beberapa penjaga diluar gudang itu terkejut, ketika mendengar suara tembakan yang mengema disana, dan terlihat seorang pria berlari dengan cepat kearah mereka.


Mereka membidik kearah Revan yang sama sekali tidak terlihat takut, saat mereka ingin menarik pelatuk masing-masing pistol mereka, terdengar suara tembakan dan tepat mengenai tangan mereka yang berniat menarik pelatuk pistol mereka.


"KITA DIKEPUNG!" teriak salah satu penjaga itu dengan peluru yang tiba-tiba menembus kepalanya.


Mulai terdengar suara tembakan beradu disana, sedang Revan semakin mendekat kearah pintu gudang, hingga tiba-tiba seseorang menghadang jalannya.


Tanpa ba bi bu, Revan memukul pria itu hingga terpental dan mengenai pintu gudang yang seketika terbuka lebar-lebar.


Revan terdiam melihat pemandangan yang tersaji untuknya, seorang pria tengah mencekrang dagu calon istrinya dengan tersenyum sinis kearahnya.


"SIALAN!" teriak Revan lalu berlari masuk untuk segera memukul pria itu, pria yang berani mencekram kuat dagu calon istrinya.


Lagi-lagi seseorang menghadang jalan Revan, dan Revan dengan cepat melayangkan bogem mentahnya pada orang yang menghalangi jalannya.


Pria itu mundur beberapa langkah setelah mendapat pukulan diwajahnya yang diberikan oleh Revan. Tanpa menunggu pria itu siap, Revan sudah melayangkan tendangannya hingga mengenai leher pria itu, dan terpental cukup jauh hingga menegani beberapa barang yang tersusun didalam gudang itu.

__ADS_1


"Cih!" pria itu berdecak, lalu menghempaskan dagu Rania dengan kasar. Sehingga membuat amarah Revan semakin meluap.


"SIALAN KAU!" Revan melayangkan pukulannya ke wajah pria itu, tapi dengan sigap ditangkis oleh pria itu.


"DEVAN CHU SIALAN!" umpat kesal Revan, lalu melayangkan tendangannya. Tapi lagi-lagi Devan menangkisnya, hingga Revan melayangkan tendangan dengan kakinya yang lain dan tepat mengenai Devan hingga mundur beberapa langkah.


Revan kembali menyerang Devan dengan bertubi-tubi, sehingga membuat pria itu hanya mampu menahan. Tapi tidak bisa menyerang.


"Sialan!" umpat kesal Devan, dan menundukkan kepalanya untuk menghindar dan bermaksud untuk menyerang Revan.


Revan yang mengetahui hal itu, segera menghantam dagu Devan dengan lututnya, lalu kembali melayangkan pukulan didagu Devan hingga membuat pria itu terpental cukup jauh darinya.


Nafas Revan masih tidak beraturan, ia segera berlari menghampiri Devan untuk kembali memukul pria itu. Tapi sebelum ia tiba didekat Devan, Rania meneriaki namanya hingga membuat ia refleks menunduk, karena seseoarng yang berniat untuk memukulnya dari belakang.


Revan menunduk dan berbalik, lalu melayangkan bogem mentahnya diperut orang yang berniat memukulnya.


BUK!


Satu pukulan Revan mendarat diperut pria itu, disusul oleh tendangan kuat yang membuat tubuh orang itu terpental jauh dengan kepala membentur ke tiang besi, hingga membuat kepala pria itu berdarah.


"Jangan berani mendekat!" ancam Devan yang kini sudah berada didekat Rania dengan belati berada dileher wanita itu.


Seseorang berniat untuk kembali memukul Revan dengan kayu, tapi Revan dengan cepat mencekal tangan pria itu, lalu menariknya dan membanting tubuh pria itu ke lantai.


BUK!


Revan menatap tajam pada Devan dengan tangan yang memengang tangan pria yang berada dibawah kakinya, ia menarik tangan pria itu dengan kuat dan terdengar suara tulang yang patah diiringi oleh suara teriakan kesakitan.


"AAAA!" teriak pria itu saat Revan mematahkan tangannya.


Rania mendogak saat pisau itu semakin menekan kulit lehernya, siap menyayatnya kulitnya.


"Jika kau bergerak sedikit saja, maka ....," belum selesai Devan berucap, satu tembakan telah mengenai tangannya hingga membuat pisau yang ia pengang terjatuh ke lantai.


Revan yang melihat hal itu bangkit dan berjalan mendekat kearah Rania. Rania menundukkan kepalanya dan satu tendangan mengenai wajah Devan hingga terpental cukup jauh dari Rania.


"Ugh!" Devan mendudukkan dirinya dan menatap marah pada Revan yang kini memeluk Rania yang mengeluarkan air mata dengan tubuh yang gemetar ketakutan.

__ADS_1


Devan menoleh dan menatap Arian yang perlahan-lahan berjalan mendekat kearahnya dengan pakaian yang berlumuran darah, dan bisa dipastikan jika itu bukan darahnya.


"Kau!" ucap marah Devan saat melihat Arian yang kini berdiri tidak jauh darinya.


Arian menatap datar pada Devan, dengan wajah yang terkena cipratan darah orang yang ia bunuh diluar tadi.


"Wajahmu memang sangat mirip dengan ayahmu," ucap Arian membuat Devan semakin menatap marah padanya.


"Cih! Kau menyebutnya seolah sangat mengenalnya!" ucap Devan berteriak pada Arian yang hanya berwajah datar.


"Aku mengenalnya lebih dari yang kamu tau," ucap Arian santai dengan menatap datar Devan.


Devan terkekeh geli mendengar hal itu, lalu menatap Arian meremehkan.


"Pembunuh!" ucap Devan dan kemudian bangkit, berniat untuk memukul Arian.


Devan menangkis bogem mentah Devan, lalu memberikan bogem mentahnya diperut Devan, hingga membuat pria itu merosot dan duduk dihapadannya dengan memengang perutnya yang begitu sakit menerima pukulan Arian.


"Aku tidak membunuh ayahmu, dia yang memintaku untuk membunuh dirinya," ucap Arian membuat Devan tersentak.


"Tapi dengan syarat, aku harus menyelematkanmu dari bahaya yang menimpa keluargamu. Aku hanya mengarahkan pistol ku dikepalanya, dan dia sendiri yang menarik pelatuknya," jelas Arian semakin membuat Devan terdiam.


"KAU FIKIR AKU AKAN PERCAYA DENGANMU, HAH!" teriak Devan dan bangkit untuk kembali memukul Arian, tapi lagi-lagi suara tembakan mengema digudang itu.


DOR!


Satu tembakan dilepaskan oleh Revan dengan masih memeluk erat Rania, tubuh Devan tumbang dihadapan Arian dengan kepala yang terus mengeluarkan darah.


Arian menoleh kearah Revan yang hanya terdiam setelah melepas satu tembakan yang tepat mengenai kepala Devan.


Arian menghembuskan nafasnya, lalu berjongkok dan menutup mata Devan perlahan.


"Jangan terlalu percaya pada apa yang orang lain katakan, atau apa yang tidak kau lihat. Karena hal itu belum tentu benar adanya, dan malah akan menimbulkan masalah untuk dirimu sendiri. Perjelas hal itu, maka kedamaian hati akan selalu bersamamu."


*Kaniana


***

__ADS_1


Kan, senam jantung lagi aku๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ hatiยฒ ya, jantungnya ๐Ÿคญ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜˜


__ADS_2