SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
CEWEK GILA


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya


Carlos dan Felisia tengah bersiap untuk berangkat sekolah.


"Cepet dikit kek! lama banget jadi cewek!" ucap Carlos kesal karna Felisia belum juga selesai makan.


Fania menatap heran putranya itu, sedang Vivian sudah keluar untuk berangkat dengan Carlson, katanya.


"Car, sopan sedikit dengan tamu!" ucap Fania membuat Carlos menghembuskan nafasnya.


"Iya, Ma," ucap Carlos pasrah.


Carlos segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi saat Felisia sudah naik ke motor.


Felisia reflesk memukul bahu Carlos karna hampir saja ia terjatuh karena belum duduk dengan baik.


"Aduh," rintih Carlos saat Felisia memukul bahunya dengan keras.


'Nih cewek gila bar-bar banget,' ucap Carlos dalam hati tidak ingin berdebat dengan gadis di belakangnya.


Saat Carlos tiba di gerbang sekolah, ia segera membujuk security agar membukakannya gerbang, dan security pun menurutinya.


Carlos menghentikan motornya di parkiran disamping motor Revin. Felisia segera turun dengan mencengkram bahu Carlos kuat membuat Carlos.


"ADUH, cewek gila Sia**n," umpat Carlos pada gadis yang berlari meninggalkannya tanpa menoleh ke belakang.


* * *


Kini Revin dan Carlos tengah berada di kantin istirahat setelah lari sepuluh putaran dilapangan sekolah.


Revin terdiam mendengar cerita Carlos yang begitu mengenaskan menurutnya.


"Kasian, yang sabar ya, kita senasib," ucap Revin menepuk bahu Carlos pelan.


Carlos mengernyit bingung dengan apa yang di ucapkan oleh orang di sebelahnya itu.


"Maksudnya?" ucap Carlos bertanya pada sahabatnya itu.


"Kamu dirumahmu ada cewek yang buat kamu kesel, sedang aku dapet saudara sadis minta ampun, aku di mandi di atas tempat tidur tadi pagi, gara-gara aku bilang ke daddy kalau bibirnya udah ngga suci," ucap Revin panjang kali lebar, menjelaskan pada Carlos.


Carlos tersedak minuman yang ia minum saat mendengar perkataan Revin.


"Uhuk ... uhuk." batuk Carlos yang tersedak minuman yang ia minum kemudian menatap Revin yang juga menatapnya heran.


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Carlos mencoba memastikan apa yang ia dengar barusan.


"Bibirnya Brother udah ngga suci lagi," ucap Revin santay dan Carlos mengebrak meja.


Brak.


Untung saja kondisi kantin masih sepi karna bel istirahat belum berbunyi.

__ADS_1


"WHAT! kok bisa?" ucap Carlos sedikit berteriak membuat Revin menatapnya heran.


"Bisalah," ucap Revin santay.


"Sama siapa?" tanya Carlos penasaran dengan wajah terkejutnya.


"Dengan kakak iparku 'lah," ucap Revin membuat Carlos melongo.


"HAH, kapan Revan nikah, kok ngga undang aku sih," ucap Carlos yang mencoba mengingat apa ia pernah mendapar surat undangan atau tidak.


Revin menatap kesal pada Carlos kemudian memukul kepala Carlos.


Plak


"Aduh, sakit Revin!" ucap Carlos kembali duduk dan mengelus kepalanya yang sakit akibat pukulan cap 5 dari Revin.


"memang kamu fikir Brother akan nikah sekarang, belum resmi, tapi setidaknya wanita itu yang akan jadi kakak iparku," ucap Revin penuh percaya diri.


"Dari mana kau mendapat kepercayaan diri seperti itu, bagaimana jika itu tidak terjadi, dan wanita itu nanti akan menikah dengan orang lain," ucap Carlos yang memang ada benarnya.


Revin tersenyum devil membuat Carlos merinding.


"Aku yakin mereka itu jodoh dan pasti akan bersama, kalau mereka tidak menyadarinya dan berusaha untuk bersama dengan orang lain, maka aku yang akan membuat mereka bersama meski apapun yang akan terjadi, dan kamu yang akan membantuku," ucap Revin membuat Carlos mengangguk kemudian tersadar.


"Hah, kok aku?" ucap Carlos menunjuk dirinya sendiri.


"Terus siapa, Reon yang bucin itu," ucap Revin menyindir Reon yang mendadak jadi bucin.


"Dih, emang kamu ngga bucin," ucap Carlos membuat Revin terdiam sejenak.


"Aku tidak akan menjadi bucin jika wanita yang mendekatiku semuanya hanya wanita yang singgah, aku juga sedang menanti jodoh yang akan datang dan akan menetap bukannya datang kemudian pergi lagi," ucap Revin membuat Carlos menatapnya heran.


"Dih, Bagaimana jika jodohmu itu selalu ada di dekatmu, tapi kamu hanya belum menyadarinya," ucap Carlos dan lagi-lagi membuat Revin terdiam.


"Kalau begitu tunggu dia muncul aja, mudahkan," ucap Revin santay.


Carlos hanya memutar bola matanya malas kemudian kembali menenguk kaleng soda ditangannya.


* * *


Bel istirahat berbunyi, Revan dan Reon kini berada di kantin sekolah untuk makan siang.


"Kamu kenapa?" tanya Reon yang bingung dengan sikap Revan yang mendadak murung, emang sih sehari-hari pendiam tapikan, tidak seperti sekarang juga, dimana wajahnya terlihat sepeti banyak masalah.


"Sebaiknya mulai sekarang, jaga jarak dengan Liona," bisik Revan membuat Reon terdiam kemudian menatap Revan dengan tatapan terkejut.


"Ada apa?" tanya Reon yang penasaran kenapa tiba-tiba sahabatnya itu berkata seperti itu.


Revan menatap Reon dengan tatapan serius kemudian menghembuskan nafasnya membuat Reon mendapat firasat buruk.


"Saat ini kita menjadi incaran dari musuh ayah kita, dan Liona bisa berada dalam bahaya jika dia bersamamu terus menerus dan para mata-mata sia**n itu melihatnya, dia bisa menjadi sandera sekaligus calon mayat," ucap Revan berbisik dengan nada dingin dan serius.

__ADS_1


Reon terdiam dengan tangan yang gemetar takut jika hal yang dikatakan oleh Revan terjadi.


"Halo, Yang," ucap Liona yang baru saja tiba dan kini duduk disamping Reon.


Reon tersentak sedang Revan segera mengubah raut wajahnya menjadi datar.


"Hay," ucap Reon singkat.


Liona mengernyit heran mendengar hal itu, tidak biasanya Reon hanya mengatakan hal singkat seperti itu.


"Ada apa?" ucap Liona menatap Reon dengan tatapan bertanya.


Revan berdiri dari duduknya kemudian berjalan menjauh dari sepasang kekasih itu untuk mengerjakan sesuatu.


"Ada sesuatu yang ingin aku beritahu padamu," ucap Reon membuat Liona menatapnya serius.


Reon mendekatkan wajahnya ke wajah Liona kemudian berbisik dan ....


Tiba-tiba Liona menampar Reon membuat semua siswi dan siswa di kantin itu terkejut bukan main.


"Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu, kamu fikir aku apa, HAH. mulai sekarang kita PUTUS," ucap Liona kemudian pergi dengan menangis meninggalkan kantin.


Seorang pelayan kantin yang tengah meletakkan pesanan siswi di sebelah meja Reon turut mendengarkan semua yang di katakan oleh Liona dan melihat dengan jelas saat Liona menampar pipi Reon.


Pelayan itu berjalan keluar dari kantin untuk pergi ke tempat yang sepi untuk memberi tahu seseorang tentang apa yang ia dengar barusan.


"Halo tuan, sepertinya kita tidak bisa menjadikan gadis itu sebagai sandera, dia sama sekali tidak berarti bagi pewaris keluarga Sang," ucap pria pelayan kantin itu pada seseorang di seberang telfon.


"Oh, baiklah, terus intai mereka," ucap seseorang di seberang telfon kemudian mematikan panggilan sepihak.


Pria itu kembali memasukkan ponselnya disakunya dan berniat untuk masuk kembali ke kantin.


Pria itu terkejut ketika melihat seseorang dengan santaynya bersandar didinding dan menatapnya dingin.


Pria itu menelan salivanya dengan susah payah kemudian berjalan perlahan untuk masuk tapi.


Pria itu terlempar dan tersungkur ke tanah saat orang itu menendangnya yang tidak lain adalah Revan.


Revan berjalan mendekat kemudian menginjak kepala pria itu membuat pria itu mengepalkan tangannya.


"Sepertinya, kamu benar-benar harus mati hari ini," ucap Revan dingin membuat Pria itu terkejut.


Revan mengeluarkan pisau lipat yang selalu ia bawa di saku celananya lalu kemudian.


"Akh ... akh, ib ... lis," ucap pria itu dan tewas saat Revan dengan sadisnya menusuk tepat dijantung beberapa kali, hingga pria itu tidak bernyawa.


Revan berdiri dari duduknya dan mengisyaratkan pada Anggota Dragon nigth yang menyamar menjadi security dan bersembunyi di balik tembok.


"Bereskan," ucap Revan santay dan membersihkan darah di pisau lipatnya dengan tisu.


"Hah, selesai juga," ucap Revan dan berjalan kembali ke kantin.

__ADS_1


"Pergilah," ucap Revan santay dan kembali duduk di tempatnya tadi.


Reon berdiri dari duduknya untuk pergi keliar dari kantin.


__ADS_2