SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
ANCAMAN


__ADS_3

Revan tengah tiduran dikamarnya setelah tadi selesai mengerjakan pekerjaan kantornya. Revan menghembuskan nafasnya berulang-ulang, dengan sesekali mengecek ponselnya, menunggu pesan dari bawahannya.


Tiba-tiba terdengar deringan ponsel Revan menandakan pesan masuk. Dengan cepat Revan mengambil ponselnya dan segera melihat pesan itu.


"Bos, saya sudah mengirim video kegiatan nona Rania belakangan ini lewat email anda,"


Dengan cepat Revan beranjak dari tidurnya lalu meraih laptopnya diatas nakas disamping tempat tidur.


Revan segera membuka laptopnya dan melihat email yang baru saja dikirimkan oleh bawahannya.


Seutas senyum terbit dibibirnya saat melihat video Rania yang tengah menjalani aktifitasnya diluar rumah.


"Kau semakin cantik saja, Rania," ucap Revan dengan senyum dibibirnya.


"Aku akan segera kesana saat sekolahku disini selesai. Saat itu terjadi, maka aku akan mengawasimu sendiri tanpa meminta orang lain, kecuali jika aku berada jauh darimu," ucap Revan dengan menyentuh layar laptopnya, lebih tepatnya wajah Rania.


* * *


Disisi lain, Revin kini duduk berhadapan dengan Carlos, sedang Vivian duduk disampingnya.


Revin menatap tidak percaya pada sahabatnya yang satu itu. Revin menggelengkan kepalanya, sungguh tidak bisa dipercaya.


'Yang benar saja pria ini? Dia benar-benar tidak bisa memengang ucapannya, belum ada 6 bulan dia berucap tidak akan jatuh hati pada gadis gila disampingnya dan sekarang dia ....' ucap Revin dalam hati, tidak mampu melanjutkan ucapannya.


"Oh iya kak Feli, udah berapa lama pacaran sama dia?" ucap Vivian dengan menunjuk Carlos.


Carlos menelan salivanya dengan susah payah, ia tidak percaya jika adiknya akan menunjuknya seperti ini, terlihat sangat tidak suka padanya.


"Baru aja tadi, kenapa?" tanya Felisia yang penasaran karena Vivian tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Oh ternyata baru tadi toh, kirain udah lama kak. Biar kakak putus aja sama dia, terus jadian sama kak Carlos," ucap Vivian terang-terangan memperlihatkan ketidak sukaannya pada pria disamping Felisia yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.


Revin dan Carlos yang mendengar hal itu tersedak dengan ec cream yang mereka makan.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk," batuk Carlos dan Revin bersamaan dan kemudian menatap Vivian dengan tatapan tidak percaya, sedang Vivian hanya menatap bingung pada kedua pria itu, begitupun dengan Felisia


"Kalian kenapa?" tanya Felisia yang penasaran dengan kedua pria itu yang tiba-tiba tersedak.


"Tidak apa-apa," jawab Carlos dan Revin bersamaan.

__ADS_1


Vivian dan Felisia mengedipkan mata mereka mendengar kedua pria itu yang kompak menjawab.


Mereka pun memakan es cream mereka dengan lahap, tanpa ada yang berbicara.


Selesai menyantap es cream, Carlos menatap Revin, seolah memberi isyarat pada Revin untuk membawa Vivian pergi dari sana, agar dirinya bisa berkencan dengan Felisia.


Revin mendengus kesal, kemudian bangkit dari duduknya dan menarik pergelangan tangan Vivian lembut berjalan menjauh dari dua insan yang ingin berkencan itu.


"Apaan sih, lepasin ih," ucap Vivian yang mencoba melepaskan tangan Revin.


Revin menghentikan langkahnya kemudian menoleh dan menatap gadis kecil itu lekat.


Tiba-tiba .....


Cup


Revin mengecup singkat bibir Vivian membuat gadis itu terdiam, mematung ditempatnya.


Orang yang berlalu lalang dan melihat hal itu terkejut, sekaligus berdecak kagum, berharap merekalah yang mendapat kecupan singkat itu, terutama para gadis remaja yang melihat hal itu.


"Jika kau berisik lagi, maka selanjutnya tidak akan sesingkat itu," ucap Revin menyadarkan Vivian dari keterkejutannya dan segera menutup bibirnya dengan satu tangannya yang bebas, kemudian menatap horor pada Revin.


Vivian hanya mengikuti langkah Revin dalam diam dengan tangan yang masih menutup mulutnya sendiri.


'Dasar pria pemaksa mesum!' umpat kesal Vivian dalam hati dengan menatap punggung Revin yang berjalan didepannya.


"Jangan mengumpatku dalam hatimu, jika kau melakukan hal itu sekali lagi, maka jangan salahkan aku jika bibirmu itu sedikit bengkak," ucap Revin tanpa menoleh pada Vivian dengan terus berjalan.


Vivian yang mendengar hal itu, menelan salivanya dengan susah payah.


Kini Vivian mengikuti langkah kaki Revin, tanpa berniat mengeluarkan umpatannya dalam hati, ia takut jika pria dihadapannya itu benar-benar melakukan apa yang dikatakannya tadi.


Revin menghentikan langkahnya saat tiba diparkiran, didepan motornya. Revin melepaskan tangan Vivian lalu berjalan menaiki motor besarnya itu.


"Jangan coba-coba melarikan diri!" ucap Revin penuh penekanan membuat Vivian yang berniat melarikan diri menghentikan langkahnya dan menoleh pada pria yang kini menatapnya tajam.


"Naik!" titah Revin tidak ingin dibantah.


Dengan kesal Vivian berjalan mendekat dan naik kemotor besar itu dengan wajah masamnya.

__ADS_1


"Kau ingin kemana hari ini?" tanya Revin saat berniat memakai helmnya.


"Kemana saja," ucap Vivian acuh dengan tangan yang berpengang pada bahu Revin.


Revin yang mendengar hal itu tersenyum kecil, kemudian memakai helmnya.


"Jika kau berpengang pada bahuku, maka besok kau tidak akan bisa pergi sekolah lagi," ucap Vivian tapi diabaikan oleh Vivian.


Revin yang melihat hal itu menghembuskan nafasnya, kemudian menyalakan mesin motornya, lalu sengaja menancap gas motornya hingga membuat Vivian refleks memeluk pinggangnya.


Revin tersenyum penuh kemenangan dibalik helmnya, sedang Vivian mengembulkan pipinya dengan wajah yang memerah.


"Dasar licik," lirih Vivian mengumpat pada Revin.


'Aku akan menghukummu nanti,' ucap Revin dalam hati, ia tahu jika gadis dibelakangnya itu tengah mengumpat padanya.


* * *


Disisi lain, Reon tengah duduk didanau bersama dengan Liona. Mereka berdua tengah piknik, sekaligus kencan.


"Bagaimana menurutmu tentang hal itu?" Liona menatap kekasihnya itu, dengan wajah sedikit tidak tega.


"Apa kau yakin hanya akan mengambil satu semester saja disini?" Reon bertanya dengan wajah sedihnya, ia tidak ingin Liona pergi begitu cepat kembali ke kotanya, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya itu.


"Iya, papa bilang aku harus pindah ketika semester satu selesai. Aku tidak bisa menentang keinginan papa, lagipula masih lamakan. Masih ada beberapa bulan lagi, jadi kita masih memiliki waktu bersama seperti ini, meskipun disekolah kita masih berjauhan seperti tidak kenal," ucap Liona dengan raut wajah yang mendadak murung.


"Baiklah, kita akan habiskan setiap akhir pekan dengan piknik seperti ini dan aku berjanji, ketika kau menyelesaikan kuliahmu. Maka aku akan segera pergi bersama keluarga untung melamarmu," ucap Reon dengan senyum diwajahnya dan menyentuh pipi mulus gadisnya.


Liona yang mendengar hal itu tersenyum dengan wajah yang memerah bak tomat matang di pohonnya.


"Itukan masih lama, sayang," ucap Liona malu-malu.


"Iya juga sih, tapi tidak apa-apakan kalau membuat janji sekarang," ucap Reon membuat Liona menatapnya dengan wajah yang merona.


"Bagaimana jika nanti kita tidak bersama, bagaimana jika aku memiliki seseorang yang aku suka disana, kita 'kan tidak tahu masa depan seperti apa," ucap Liona dengan menundukkan kepalanya.


"Kalau itu terjadi, maka yang harus kulakukan adalah mengambilmu kembali. Aku akan melakukan apapun saat hal itu terjadi, bahkan aku akan menculikmu juga jika perlu," ucap Reon membuat Liona terkekeh kemudian mengecup singkat pipi pacarnya itu.


"Janji," ucap Liona dengan mengacungkan jari kelingkingnya dihadapan Reon.

__ADS_1


Reon tersenyum kemudian mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Liona dan tersenyum manis pada gadis itu.


__ADS_2