
Tiba-tiba seorang pria menginjak kacamata Revin hingga patah dan kacanya pecah. Pria itu tersenyum meremehkan hingga tiba-tiba bogem mentah mengenai pipinya, membuat tubuhnya oleng kebelakang dan tubuhnya mengenai meja dibelakangnya.
Revin menolehkan wajahnya dengan ekspresi marah, ia dengan kasar mengusap pipinya dengan punggung tangannya.
Revin menarik kerah baju pria itu dan menghajarnya dengan membabi buta tanpa henti pada wajah pria itu, membuat mahasiswi berteriak histeris.
Teman dari pria itu berniat untuk menolong temannya, Carlos yang melihat hal itu, sengaja merentangkan kakinya, membuat dua pria itu tersandung hingga jatuh tersungkur dilantai kantin.
Para mahasiswa tidak berani mendekat karena melihat Revin yang tanpa ampun memukul pria itu.
* * *
Revan dan Reon yang baru saja tiba didepan pintu masuk kantin, terkejut dan melihat semua mahasiswa dan mahasiswi berdiri dari duduk mereka dan menatap takut pada pertengkaran yang terjadi.
"Revin," panggil Revan saat membela kerumunan dan mendapati Revin yang tengah menindih tubuh seorang pria dan memukul wajahnya, hingga kini terlihat penuh luka dan bahkan mengeluarkan darah tanpa henti.
Revin menghentikan tangannya dan mendongak menatap sang kakak, yang menatap kearahnya.
Revin bangkit dan membersihkan bajunya lalu sedikit mengacak rambutnya.
Reon menatap prihatin pada pria yang terlentang dengan nafas yang mulai melemah dan wajah yang penuh luka yang terus mengeluarkan darah.
"Apa yang terjadi disini?" teriak seorang dosen saat memasuki kantin bersama salah satu mahasiswa yang datang melapor padanya.
Dosen itu terkejut melihat pria itu yang terbaring lemah dengan wajah yang babak belur.
"Cepat bawah dia kerumah sakit!" titah dosen itu dan beberapa mahasiswa mulai mendekat lalu membopong tubuh pria itu, untuk segera dibawah kerumah sakit.
"Siapa yang melakukan hal itu!" ucap sang dosen dengan nada suara meninggi.
"Jawab!" ucapnya lagi, lalu semua mahasiswa dan mahasiswi menatap kearah Revin dengan penampilan acak-acakannya.
"Kamu! Ikut dengan saya!" ucap Dosen itu lalu berbalik dan keluar dari kantin.
"Re-Revin," ucap wanita yang bersama pria itu, menatap tidak percaya pada Revin yang berdiri membelakanginya.
Revin menoleh dengan sinis, berniat pergi mengikuti dosen itu.
__ADS_1
"Revin, tunggu!" ucap wanita itu menahan lengan Revin, dan dengan cepat Revin menghempaskan tangan wanita itu kasar.
"Jangan menyebut namaku!" ucap Revin dan berlalu pergi, meninggalkan sang kakak dan kedua sahabatnya.
"Revin!" teriak wanita itu berniat mengejar Revin, tapi ditahan oleh Revan.
Revan menatap tajam pada wanita yang berdiri dihadapannya, membuat wanita itu menelan salivanya dengan susah payah.
"Jangan menganggu adikku, jika kau tidak ingin mendapat masalah," ucap Revan dingin lalu berjalan keluar untuk menyusul Revin, dan membantu adiknya untuk memberi penjelasan, meski ia tidak tau apa sebab yang membuat adiknya itu marah besar seperti ini.
Wanita itu terdiam ditempatnya dengan suara yang tercekal, tidak bisa keluar dari mulutnya. Wanita itu segera berlari keluar dari kantin.
Reon mendekat kearah Carlos yang duduk santai dengan melahap makanannya, membuat Reon hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian melihat jelas wajah pria cupu itu? Tiba-tiba aku merasa ia sangat tampan."
"Ia benar sekali! Ternyata pria itu begitu tampan. Siapa tadi namanya?"
"Kalau aku tidak salah dengar sih, Revin deh,"
"Ah, aku ingin sekali jadi pacarnya."
Reon dan Carlos hanya mengabaikan hal itu, Reon menatap orang dihadapannya dengan tatapan aneh.
"Apa?" tanya Carlos ketus dengan mulut yang menguyah makanan.
"Kenapa kau tidak menghentikannya?" ucap Reon balik bertanya.
Carlos menatap datar pada Reon, ia jadi berfikir, mungkin sahabatnya ini ingin dia yang masuk rumah sakit.
"Apakau fikir aku mau mendapat bogem gratis, jelas tidak!" ucap Carlos dengan menggelengkan kepalanya, bingung dengan isi otak sahabatnya itu. Apa mungkin sudah diisi semua dengan nama Liona?
"Tapikan setidaknya hentikan dia untuk membuka kacamatanya," ucap Reon pelan dan hal itu sukses membuat nafsu makan Carlos lenyap seketika.
Carlos dengan malas menunjuk kearah kacamata Revin yang telah hancur akibat diinjak oleh mahasiswa teman pria tadi.
Reon terdiam melihat hal itu, lalu menoleh pada Carlos yang menatapnya malas.
__ADS_1
"Pertama, aku tidak bisa menghentikannya karena pria itu yang memulai duluan. Kedua, kacamata itu terlepas dari wajah Revin saat pria babak belur itu melayangkan bogem mentah dipipi mulus Revin. Ketiga, aku tidak ingin menghentikannya karena bisa saja aku yang akan masuk rumah sakit, tau!" ucap Carlos panjang lebar menjelaskan pada Reon.
Reon terdiam mendengar hal itu, sepertinya sahabatnya itu mulai pintar memperkirakan situasi yang akan terjadi.
"Baiklah, aku berharap dia tidak mendapat hukuman yang berat," ucap Reon dengan menoleh ke kanan dan melihat pemandangan taman bunga dari balik kaca transparan yang menjadi pembatas kantin dan taman.
Carlos hanya berdehem dan mengikuti arah pandang sahabatnya itu, hingga ucapan yang keluar dari mulutnya, membuat ia mendapat pukulan dikepala.
"Kau melihat bunga seperti ini, membuatmu terlihat seperti perempuan," ucap Carlos dengan sedikit terkekeh geli.
PLAK!
"aduh! Apa yang kau lakukan?" rintih Carlos dan menatap tidak percaya pada Reon.
"Diam!" ucap Reon penuh penekanan, membuat Carlos terdiam seketika.
* * *
Sementara itu, diruang Dosen.
Revin tengah berdiri didepan meja dihadapan seorang dosen pria yang tadi melihat kejadian dikantin.
"Apa kau tau kesalahanmu?" tanya dosen itu pada Revin yang acuh tanpa berniat menjawab.
Dosen itu mulai geram dan mengebrak meja membuat beberapa dosen yang ada di ruangan itu tersentak dan mulai melihat kearah mereka berdua.
Revan yang berada diluar ruang dosen, mengepalkan tangannya kesal. Ingin sekali ia masuk dan membela adiknya itu, tapi mengingat Revin tadi memberitahunya untuk tidak ikut campur, dan hal itu sukses membuat Revan kesal.
"Saya bertanya padamu, Revin Su!" bentak dosen itu yang mulai membuat Revan naik pitam.
"Adik saya tidak bersalah, pak!" teriak Revan yang mulai masuk dan mendekat kearah Revin, yang menepuk keningnya, kakaknya itu memang keras kepala, mungkin begitulah fikir Revin.
Dosen itu mulai menatap kearah Revan bergantian menatap Revin, dan ia menyadari sesuatu. Jika kedua pria itu terlihat mirip, ralat sangat mirip.
"Saya tidak bertanya padamu! Saya bertanya pada mahasiswa bermasalah ini!" ucap dosen itu dan menatap tajam pada Revin, yang juga membalas menatap tajam pada dosen itu.
"Apa dikantin itu tidak ada cctv? Jika anda tidak percaya pada perkataan saya, bahwa adik saya tidak bersalah! Maka sebaiknya bapak melihat cctv langsung! dan melihat siapa yang memulai lebih dulu!" ucap Revan membuat beberapa dosen diruang itu terkejut.
__ADS_1
Dosen itu terdiam dan berniat untuk menjawab, hingga seseorang yang masuk keruangan itu, membuat para dosen yang berada di ruangan itu, terkejut.