SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
BENCI JADI CINTA


__ADS_3

Saat ini Revan dan Revin sedang dalam perjalanan pulang kembali ke rumah mereka, setelah tadi Revan sempat berbicara pada Rania agar masuk ke sekolah besok.


Revin melirik Revan yang begitu fokus pada jalanan, Revin menghembuskan nafasnya kemudian memejamkan matanya berusaha untuk memikirkan cara agar dia dapat membuat Revan dan Rania bersama.


Revan melirik Revin yang hanya terdiam membuatnya curiga jika sang adik pasti sedang memikirkan hal yang aneh-aneh.


"Kamu sedang memikirkan apa? bukan hal yang macam-macam 'kan," ucap Revan menebak isi fikiran sang adik.


Revin tersentak mendengar ucapan sang kakak, Revin menoleh pada Revan yang sudah kembali fokus pada jalan.


"Tidak ada, hanya saja, aku sedang berfikir kalau kita lulus nanti, kita akan masuk ke universitas mana ya?" ucap Revin berbohong pada Revan.


"Berharaplah, kita tidak jauh dari rumah," ucap Revan sedikit ragu dalam ucapannya.


Revin mengernyit mendengar ucapan sang kakak yang seperti ragu.


"Memangnya kemana kita bisa pergi, Brother," ucap Revin santay.


"Kamu mana tau isi fikiran Mommy, kalau Daddy sudah jelas tidak akan membiarkan kita pergi terlalu jauh, tapi Mommy," ucap Revan panjang lebar.


Revin tersentak, apa yang di katakan kakaknya ada benarnya, Mommynya itu bisa saja berubah fikiran, terlebih lagi jika tau Revin sering melakukan kesalahan di sekolah.


"Mati aku!" ucap Revin menelan salivanya dengan susah payah, membayangkan pergi terlalu jauh dari rumah saja sudah membuatnya merinding apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.


Lima belas menit kemudian.


Revan dan Revin tiba di rumah, Revan mematikan mesin mobilnya kemudian keluar dari mobil di ikuti oleh Revin.


Mereka melangkah masuk ke dalam rumah dan menatap sekeliling yang begitu sepi.


Revan dan Revin saling bertukar padang kemudian mengangkat bahu mereka dan segera naik ke lantai atas ke kamar mereka masing-masing.


Revan masuk ke dalam kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk.


"Hari ini benar-benar melelahkan," ucap Revan kemudian menghembuskan nafasnya lalu memejamkan matanya dan kemudian tertidur.


Sementara itu, Revin masuk ke dalam kamarnya dan segera mendudukkan dirinya di atas tempat tidur untuk segera bermain game karna tiba-tiba moodnya bagus.


* * *


Di sisi lain, di kediaman Rafael, Reon dan Dioan sedang duduk di sofa di ruang tamu dengan masing-masing sibuk dengan ponsel mereka.


"Dion, ada apa denganmu?" tanya Reon pada adiknya itu.


"Tidak apa-apa, kak. hanya malas saja," ucap Dion singkat.

__ADS_1


"Kamu kesal dengan siapa?" tanya Reon tiba-tiba membuat Dion mendongak dan menatap kakaknya itu.


"Dengan gadis cuek itu, kak." ucap Dion dengan kesal.


"Siapa?" tanya Reon yang mulai penasaran dengan siapa adiknya itu kesal.


Dion menghembuskan nafasnya kemudian menatap malas kakaknya itu.


"Anak paman Arian itu, kak. cuek kayak kulkas," ucap Dion kesal.


Reon terdiam kemudian mencoba mencerna perkataan adiknya itu.


'Gadis cuek? anak paman Arian! bukankah cuma Reana saja anak perempuan paman Arian, berarti ...,' ucap Reon dalam hati dan menatap adiknya itu dengan tatapan tidak percaya.


"Bukankah kamu menyukainya?" ucap Reon membuat Dion berdecak sebal.


"Aku cuma kagum saja, mana mau aku suka dengan gadis cuek kayak kulkas gitu dinginnya, dan lagi aku udah punya banyak pacar, lebih baik dari pada dengan gadis cuek itu," ucap Dion yang terlihat begitu kesal pada Reana.


Reon mengernyit bingung dengan apa yang di katakan oleh sang adik.


"Dion, ada yang bilang, benci lama-lama jadi cinta loh," ucap Reon membuat Dion bergidik ngeri.


"Dih ... siapa juga yang akan suka dengan cewek kulkas kayak gitu, dan juga ngga tau bilang terima kasih baik-baik malah bilang terima kasih dengan ekspresi datar kayak gitu," ucap Dion panjang lebar mengingat saat dimana dirinya membantu Reana saat hari ulang tahun Ana dan Reana hanya berterima kasih dengan ekspresi dingin tanpa senyum.


Membayangkan hal itu, membuat Dion semakin kesal.


'Kita lihat saja nanti,' ucap Reon dalam hati kemudian kembali fokus pada ponselnya dimana dirinya sedang chatan dengan sang kekasih.


* * *


Di sisi lain, di kediaman Carlson.


"Terima kasih, kak." uca0 Vivian tersenyum pada sang kakak yang sudah bersedia membelikannya pembalut.


"Hm," hanya itu yang keluat dari bibir Carlos yang tengah asyik memainkan ponselnya memainkan game yang sama yang di mainkan oleh Revin.


Fania sedang menyiapkan makanan di dapur dan meminta Carlos untuk menemani Vivian yang sudah merasa lebih baik setelah minum obat.


"Kak, kakak punya temen ngga? yang masih jomblo?" tanya Vivian pada kakaknya itu.


Carlos mengernyit bingung kemudian menghentikan gamenya sejenak dan menatap adiknya itu bingung.


"Kenapa?" tanya Carlos yang penasaran.


"Ngga ada sih, cuma nanya aja," ucap Vivian kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Kakak tidak punya banyak teman, hanya Revan, Revin, dan Reon aja," ucap Carlos menyebut semua nama orang yang ia anggap teman sekaligus keluarga.


"Di antara mereka, siapa yang belum punya pacar?" tanya Vivian lagi yang semakin membuat Carlos penasaran.


"Untuk apa kamu nanya kayak gitu," ucap Carlos yang penasaran karna tumben sang adik bertanya padanya tentang hal seperti itu.


"Jawab aja kali, kak," ucap Vivian membuat Carlos menghembuskan nafasnya.


"Revan sama Revin, Reon udah punya pacar katanya," ucap Carlos menjelaskan.


Vivian mengangguk mengerti mendengar penjelasan sang kakak kemudian tersenyum tipis.


"Jangan aneh-aneh, Vi." ucap Carlos memperingati adiknya itu.


"Vivi ngga mikirin hal yang aneh-aneh kok, kak," ucap Vivian tersenyum manis pada sang kakak.


'Dia bisa di coba,' ucap Vivian dalam hati dengan semangat 45.


* * *


Pukul 6:20 pagi.


Revan menurini tangga bergegas ke ruang makan dan terkejut ketika melihat seseorang yang sudah rapi dengan seragam sekolah tengah duduk dan menyantap sarapannya dengan lahap.


"Tumben bangusn pagi hari ini," ucap Revan menyindir Revin yang duduk di kursinya.


Revin menatap malas kakaknya itu yang duduk di sampingnya.


"Udah kapok di bangunin kayak kemarin," ucap Revin malas kemudian memakan sarapan buatan sang ibu.


Revan tertawa kecil kemudian berbicara.


"Kalau aku tau, kamu akan kapok jika aku membangunkanmu dengan cara seperti itu, mungkin aku akan melakukannya lebih awal," ucap Revan membuat Revin bergidik ngeri.


Lima menit kemudian.


Revan, Revin dan Reana sudah selesai sarapan dan kemudian berpamitan pada ibu dan ayah mereka lalu pergi mengunakan motor menuju sekolah.


Sepuluh menit kemudian.


Revin tiba do parkiran sekolahnya kemudian segera mematikan mesin motornya dan kemudian berjalan ke arah kelas.


Tiba-tiba ponsel Revin berdering menandakan ada pesan yang masuk.


Revin merongoh saku jaketnya kemudian membuka sandi ponselnya dan melihat pesan yang baru saja masuk.

__ADS_1


Revin terkejut melihat seseorang yang mengirim pesan padannya.


__ADS_2