
Carlos menatap punggung dosen itu dengan tatapan dingin, ingin sekali rasanya ia mendorong dosen itu agar terjatuh dan terluka.
"Terima kasih telah membantuku, tolong taruh saja buku itu dikursi belakang," ucap dosen itu dan Carlos mengangguk mengerti.
Carlos berjalan perlahan untuk membuka pintu mobil itu, dan sudah saatnya ia menjalankan rencananya. Carlos berpura-pura tersandung hingga membuat buku-buku yang ia bawa berserakan ditanah.
"Aduh," rintih Carlos membuat dosen itu menoleh padanya.
"Astaga!" pekik dosen itu dan segera menghampiri Carlos.
"Maaf, pak. Saya tidak sengaja," ucap Carlos dengan raut wajah bersalahnya, meski hanya pura-pura.
"Aish, kamu itu. Tidak apa-apa," ucap dosen itu sedikit kesal, lalu membantu Carlos memungut buku-buku itu.
Carlos tersenyum kecil, lalu tanpa dosen itu sadari, ia menaruh benda kecil berwarna senada dengan baju dosen itu, tepat dibelakang lipatan kerah baju dosen itu.
"Maaf, pak," ucap Carlos lagi dengan tersenyum penuh kemenangan dalam hati lalu dengan sengaja membersihkan punggung dosen tersebut dari debu.
"Sudahlah, tidak apa-apa," ucap dosen itu lalu segera masuk kedalam mobilnya, setelah menaruh buku-buku itu dikursi belakang mobil.
Revan, Revin dan Reon menghampiri Carlos yang masih berdiri ditempatnya, menatap mobil dosen itu yang kian menjauh dan menghilang.
"Good job," ucap Revan lalu bertos riah melihat hal yang dilakukan Carlos, dengan sangat baik.
"Sebaiknya kita pulang," ucap Revan, dan ketiga orang itu menganggukkan kepalanya.
Mereka kembali berjalan kaki pulang kemansion keluarga Su, meski sebenarnya hal itu sangat melelahkan bagi mereka.
"Revin, kau sudah menyalahkannya penyadap kecil itu?" tanya Revan pada adiknya yang berjalan disampingnya.
Revin tersenyum dan mengangkat ponselnya, memperlihatkan pergerakan sebuab titik merah dilayar ponsel itu, yang tidak lain adalah keberadaan dosen itu.
"Sebaiknya kita segera tiba dirumah, agar kita bisa mendengar dengan jelas apa yang ia katakan. Karena ia tidak berjalan kearah rumahnya, tapi ke tempat lain," ucap Revin dengan tersenyum penuh arti.
Ketiga orang itu mengangguk mengerti, lalu segera berlomba lari untuk segera tiba dirumah dan mendengar dengan jelas apa yang ingin mereka dengar.
Dua puluh menit kemudian.
Mereka kini tiba didepan gerbang kediaman Su, dan dengan sigap sang penjaga membuka gerbang untuk keempat remaja itu.
Mereka kembali berlari dengan tergesa-gesa memasuki rumah, untuk segera kekamar dan membersihkan diri.
"Kami pulang!" ucap mereka serempak membuat Daenji yang duduk disofa diruang tamu, terkejut.
__ADS_1
Mereka berempat naik kelantai dua seperti orang yang dikejar anjing gila tanpa henti, membuat Daenji semakin bingung.
"Tuan," panggil Franco pada Daenji yang mendadak terdiam.
"Ah, iya. Apa masih ada lagi?" tanya Daenji ketika mengingat sesuatu yang tadi ia bahas dengan Franco.
"Tidak, Tuan. Tapi sepertinya anda harus datang kesana pukul 7 malam nanti," ucap Franco yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Daenji.
"Baiklah, sebaiknya ketika aku pergi nanti, penjagaan diperketat. Aku tidak bisa terlalu percaya pada 4 bocah nakal itu, mereka jauh lebih menyeramkan dari pada ayah mereka," ucap Daenji panjang lebar.
Franco mengangguk mengerti, kemudian berlalu dari sana untuk memberi perintah pada para penjaga, untuk memperketat penjagaan nanti malam.
"Aku berharap, ketika pergi nanti ... mereka tidak akan membuat masalah," ucap Daenji dengan menoleh menatap kearah tangga, berharap agar ucapannya tidak didengar oleh bocah-bocah nakal itu.
* * *
Dua puluh menit kemudian.
Revan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, ia segera meraih earphone bluetooth diatas meja disamping tempat tidurnya, kemudian memasang ditelinganya sembari mencari pakaian didalam lemari.
Didalam kamar Reon tidak jauh berbeda, ia segera juga memasang earphone bluetooth ditelinganya sembari memakai baju.
Sedang Carlos tengah menyikat giginya setelah mandi dan mengambil earphone bluetooth dimeja samping tempat tidurnya.
Revin mulai mengetik sesuatu dilaptopnya, untuk segera mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mata-mata itu, pada orang rahasia yang mengincar mereka.
Suara mulai terdengar diearphone masing-masing, membuat mereka menghentikan gerakan sesaat guna mendengar dengan baik.
"Maaf, Tuan. Sepertinya keempat pewaris itu tidak ada diuniversitas itu, bahkan kedua orang itu sama sekali tidak melihat mereka,"
Mereka mengenal suara itu, suara mata-mata yang menyamat menjadi dosen dikampus, hingga terdengar suara yang membuat mereka terdiam dan mematung.
"***Apa kau ingin mengatakan jika mereka tidak ada disana**?"
"Iya, Tuan*."
"***Tapi firasatku mengatakan jika mereka ada disana, karena semua orang yang kukirim dimasing-masing universitas dikota ini mengatakan jika tidak menemukan mereka**!"
"Jadi apa yang harus kita lakukan, tuan."
"Pergilah! Aku akan memikirkannya lagi, aku tidak akan melepaskan hal ini begitu saja. Kesempatan mengambil kekuasaan 3 keluarga besar dinegara A tidak akan datang dua kali."
"....."
__ADS_1
"Bagaimana pun, aku harus menemukan mereka. Dan menangkap mereka, hidup ataupun mati, ini demi balasan yang dilakukan orang tua mereka, terutama Arian Li*!"
Revan, Revin, Reon dan Carlos terkejut, kini mereka mengetahu jika orang itu tidak hanya mengincar mereka untuk membunuh dan mengambil kekuasaan. Tapi juga untul balas dendam.
Mereka kembali terdiam, karena mendengar orang itu kembali bersuara.
"***Kau boleh pergi, selidiki lebih dalam lagi kampus itu, aku ingin segera menemukan mereka**!"
"Baik, Tuan. Saya permisi*,"
Keempat remaja itu mulai berfikir keras dikamar masing-masing, mereka harus bisa mengatur rencana selanjutnya dengan cepat agar tidak membuat mereka dalam masalah.
Mereka bisa saja meminta bantuan orang tua mereka, tapi hal itu jelas tidak akan mereka lakukan, karena satu hal yang melekat difikiran mereka, seseorang harus menyelesaikan masalahnya sendiri, jika sudah tidak mampu bergerak lagi, barulah meminta bantuan pada yang lebih dewasa.
Tidak ada apapun yang terdengar diearphone itu membuat mereka berniat melepasnya, hingga sesuatu yang kembali terdengar membuat mereka menengang karena terkejut.
"Aku merasa curiga pada empat mahasiswa berkacamata dikelas itu, tapi jika dugaanku salah, aku yang akan menanggung akibatnya. Lebih baik aku periksa lebih detail lagi informasi keempat remaja itu,"
Mereka terkejut bukan main, dosen itu mulai curiga pada mereka, bisa berbahaya jika ketahuan sebelum mengenali akar masalahnya.
"Harus menyingkirkan orang itu!" ucap mereka dikamar masing-masing dengan tatapan dingin kedepan.
* * *
Pukul 7:30 malam.
Kini mereka berempat berada dimeja makan, makan dalam keadaan hening tanpa melihat Daenji sedari tadi.
Mereka bertukar pandang satu sama lain dan memberi kode pada Revin untuk bertanya pada salah satu pelayan yang melayani mereka.
"Em, kakak pelayan yang cantik, Grandpa kemana?" tanya Revin dengan tersenyum manis pada pelayan yang berada disampingnya.
Wajah pelayan itu bersemu merah, sedang Revan, Reon dan Carlos menatap datar pada Revin, sungguh gombalan plus senyuman yang mematikan.
"Tu ... tuan besar tengah keluar untuk menghadiri acara penting, tuan muda. Jadi tidak bisa makan bersama dengan anda," ucap palayan itu dengan suara lemah lembutnya.
"Owh, terima kasih, karena telah memberitahukan hal ini pada kami," ucap Revin dengan tersenyum semakin manis pada pelayan itu.
Pelayan itu hanya tersenyum malu-malu membuat Revan seolah ingin mengumpat adiknya itu.
Revin menatap ketiga pria yang juga menatapnya penuh arti, dan kemudian berkata dalam hati dengan sorak gembira tiada tara.
'Saatnya kabur untuk bersenang-senang,' ucap mereka dalam hati, dengan tersenyum tipis.
__ADS_1