
Pukul 4 sore.
Revin bersiap untuk pulang, sudah ada Carlos yang berdiri didekatnya dengan menunggu Felisia keluar dari kelasnya.
"Aku duluan," ucap Revin dan kemudian memakai helmnya.
"Jangan lupa jemput Vivian!" ucap Carlos mengingatkan sahabatnya itu.
Revin hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, Revin menyalakan mesin motornya kemudian pergi meninggalkan Carlos yang masih setia bersandar pada motornya, menunggu kedatangan Felisia.
Sepuluh menit kemudian.
Revin menghentikan motornya didepan gerbang sekolah Vivian, Revin mengernyitkan alisnya saat melihat dari kejauhan seorang pria yang bersimpuh dihadapan Vivian dengan bunga mawar ditangannya menunggu Vivian mengambilnya.
"Sia**n," umpat Revin dan segera turun dari motornya dan berlari mendekat kearah kerumunan siswa dan siswi sekolah itu.
Tanpa ba bi bu, Revin melayangkan bogem mentah kearah pipi pria itu, hingga membuat pria itu sedikit terpental menjauh.
Hal itu membuat seluruh siswa dan siswi yang melihat hal itu terkejut, sedang pria itu berusaha untuk bangkit dibantu oleh kedua sahabatnya.
"Woy! kamu siapa sih, main pukul orang aja," ucap pria itu sedikit berteriak dengan memengang pipinya yang terkena bogem mentah Revin dan menatap Revin marah.
Revin yang mendengar hal itu, menatap tajam pria remaja itu, yang berani-beraninya berteriak seperti itu padanya.
Vivian yang melihat hal yang terjadi dihadapannya terkejut bukan main, kemudian berbicara dengan sedikit berteriak pada Revin.
"Kamu apaan sih, main pukul orang aja, kamu itu ...," ucap Vivian yang terhenti kala Revin menatapnya tajam.
Nyali Vivian menciut seketika, ia pun menundukkan kepalanya takut melihat wajah Revin yang merah padam, menahan emosi.
"Jika lain kali kamu berani melakukan hal seperti tadi pada gadia ini, maka aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja," ucap Revin dingin, penuh penekanan disetiap kata-katanya.
Para siswa yang mendengar hal itu, menelan salivanya dengan susah payah, Revin segera menarik pergelangan tangan Vivian dan pergi dari sana untuk segera pulang kerumah.
"Naik!" ucap Revin yang masih dalah keadaan emosi.
Vivian segera naik kemotor dengan tangan yang berada dibahu Revin dan kepala yang menunduk.
Revin memakai helmnya, dan segera menyalakan mesin motornya lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi membuat Vivian mencengkram kuat bahunya.
Revin tidak peduli dengan Vivian yang mencengkram bahunya kuat, karena saat ini, ia benar-benar emosi, emosi tingkat tinggi.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian.
Revin menghentika motornya didepan gerbang kediaman Carlson, dan dengan cepat Vivian segera turun dari motor berniat untuk berterima kasih, tapi Revin sudah melajukan motornya pergi meninggalkannya.
Vivian segera berlari masuk kedalah rumah dengan perasaan kesal, sedih bercampur aduk menjadi satu.
Vivian masuk kedalam rumah dan melewati ruang tamu, dimana sang ibu tengah menonton siaran tv favoritnya.
"Dia kenapa?" tanya Fania pada dirinya sendiri.
Fania menghembuskan nafasnya, dan kembali fokus pada tv yang sedang menyiarkan film kesukaannya.
Vivian masuk kedalam kamar lalu menjatuhkann tubuhnya diatas tempat tidur, dengan posisi tengkurap.
Tidak lama itu, Vivian terisak, ia kesal pada Revin, bukan karena Revin memukul teman sekolahnya, melainkan karena pergi tanpa menunggunya mengucapkan terima kasih.
Dan soal ia sedih, Vivian tidak tahu kenapa, ia mendadak ingin menangis saat melihat Revin dengan raut wajahnya yang tidak bersahabat, meski ia sudah terbiasa melihatnya dulu, tapi entah mengapa, sekarang terasa berbeda, Vivian tidak suka melihat Revin menatapnya seperti itu, ia lebih suka melihat Revin yang tersenyum kecil padanya.
Vivian semakin terisak dengan menutup kepalanya dengan bantal, agar suaranya tidak terdengar keluar kamar.
* * *
Sementara itu, Revin tiba didepan rumah, dan segera memasukkan motornya kegarasi dan bergegas memasuki rumah.
Revin naik ketangga kelima kemudian menolah kanan-kiri mencoba mencari keberadaan sang ibu.
Revin menghembuskan nafasnya, kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Revin membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya masuk, kemudian menutup pintu kamarnya.
Revin melemparkan ranselnya keatas tempat tidur, lalu menghempaskan tubuhnya disamping ranselnya itu, dengan posisi terlentang.
Revin menatap nanar langit-langit kamarnya dengan nafas yang memburu menahan emosi.
"Sia**n," umpat Revin kesal, sangat kesal.
Revin terkejut saat melihat hal tadi, pria itu, pria yang bersimpuh dihadapan Vivian dengan mengatakan hal-hal manis dari mulutnya, dan menyatakan perasaannya pada Vivian ditempat umum, sungguh membuat Revin marah.
Revin beranjak dari tidurnya kemudian berjalan kekamar mandi, untuk mandi air dingin, untuk mendinginkan diri akibat emosi, yang tidak terlampiaskan dengan sempurna.
Revin menyalakan shower dan membasahi kepalanya dan mencoba tenang.
__ADS_1
"Sia**n ... sia**n ... sia**n," umpat Revin berkali-kali dengan memukul dinding kamar mandinya dengan masih dibawah guyuran air.
"Gadia bodoh, dasar bocil, akh," ucap Revin dengan mengacak rambut basahnya frustasi.
"Akan ku beri kalian pelajaran sia**n," umpat Revin kesal.
Kali ini Revin benar-benar kesal, ia kesal karena pria playboy itu dengan berani mengutarakan perasaannya pada adik sahabatnya itu, tapi Revin tau, dia kesal bukan hanya karena itu, tapi juga karena menyukai gadis itu.
Gadis kecil yang membuatnya kesal sedari kecil, gadis yang selalu ia anggap bocil, entah kapan perasaan itu mulai tumbuh, Revin tidak tau, Revin jelas tidak seperti Revan yang sama sekali tidak peka pada perasaannya sendiri, Revin menyukai gadis itu, Vivian Sia.
Revin memejamkan matanya sejenak dibawa guyuran shower, mencoba tenang, tapi bayangan Vivian lagi-lagi melintas difikirannya.
Revin memukul dinding kamar mandinya, dengan nafas yang memburu.
"Bagaimana pun, aku harus menjauh darinya, harus!" tekat Revin pada dirinya sendiri.
Revin menyudahi mandinya dan mematikan shower lalu segera mengenakan handuk dan keluar dari kamar mandi.
Revin terdiam saat melihat Revan ada didalam kamarnya, dan duduk tepi tempat tidurnya.
"Brother?" ucap Revin membuat Revan menoleh padanya.
"Sejak kapan Brother disini?" tanya Revin dengan sesekali menelan salivanya dengan susah payah, ia takut, jika kakaknya itu, mendengar apa yang ia katakan didalam kamar mandi tadi.
"Sejak seseorang berteriak frustasi didalam kamar mandi tadi," ucap Revan santay membuat Revin membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Siapa yang berteriak frustasi?" ucap Revin gugup dan kemudian berjalan kearah lemari bajunya.
"Sejak kapan kau menyukainya?" tanya Revan yang sukses membuat Revin mematung didepan lemari pakaiannya.
"Menyukai siapa?" ucap Revin mencoba untuk tetap tenang.
Revan menghembuskan nafasnya, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan perlahan kearah pintu kamar Revin.
Revin berpura-pura mencari baju yang cocok ia kenakan, meski sebenarnya sudah ada didepan matanya.
Revin terdiam saat mendengar ucapan Revan sebelum keluar dari kamarnya.
"Aku tidak melarangmu menyukainya, Vin. tapi ingat, 2 tahun yang lalu, seseorang berjanji bahkan bersumpah dan berkata tidak akan mengingkarinya, karena sampai kapanpun ia tidak akan pernah menaruh hati pada gadia kecil itu, aku tidak masalah jika kau menginkari janji itu, dan mungkin ....," ucapan Revan terhenti karena mendengar suara berat sang adik.
"Aku tidak akan menginkari janjiku, tidak akan pernah," ucap Revin dengan suara yang begitu berat ia keluarkan.
__ADS_1
"Kau akan tersiksa jika melakukan hal itu, cinta dalam diam, lebih menyakitkan dari pada ketidak pekaan, Revin," ucap Revan kemudian keluar dari kamar, meninggalkan Revin yang menundukkan kepalanya dengan mata sayunya menatap lantai.
"Aku orang jahat, ia tidak pantas denganku," ucap Revin tersenyum miris pada dirinya sendiri, pada janjinya yang mengikatnya, dan membuatnya tidak berdaya.