SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
HOMO


__ADS_3

Revan menelan salivanya dengan susah payah melihat tatapan Revin dan ibunya.


Revin mengelengkan kepalanya tidak percaya, sangat tidak percaya.


Beberapa saat yang lalu.


Revin keluar rumah untuk bertemu dengan Viona, untuk membahas sesuatu dengan gadis itu yang muda 2 tahun darinya.


Saat ini Revin duduk disalah satu meja paling pojok didalam cafe itu, dengan sesekali meminum minumannya.


"Maaf membuat kakak lama menunggu," ucap Viona kemudian duduk dikursi berhadapan dengan Revin.


"Tidak apa-apa, santay saja," ucap Revin membuat gadis itu tersenyum.


"Kak Revin tidak berubah ya, selalu saja seperti ini," ucap Viona membuat Revin tersenyum kecil.


"Sampai kapan kau akan melakukan sandiwara ini? apa sampai para fansmu itu menikah semuakah?" tanya Viona yang terdengar seperti sindiran bagi Revin.


"Memangnya kenapa? bukankah kau yang tiba-tiba mengatakan hal itu didepan semua murid disana, dasar hacker," ucap Revin dengan sedikit mencibir Viona, yang membuat gadis itu tertawa.


"Hahaha ... Bukankah kak Revin juga hacker ya, bahkan kak Revan juga hacker tuh," ucap Viona dengan menaik turunkan alisnya.


"Ck, diamlah! bagaimana kabarmu, baik-baik saja kan?" tanya Revin dan Viona dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja, aku selalu baik. Oh iya, bagaimana keadaan gadis itu, gadis yang melihat semua yang kau lakukan didalam gudang itu! dia tidak benci padamu kan?" tanya Viona membuat Revin terdiam.


Revin menatap Viona dengan tatapan sendu, membuat gadis itu menghembuskan nafasnya, merasa ibah pada pria dihadapannya.


* * *


Viona adalah gadis yang sempat berteman dengan Revan dan Revin saat sekolah menengah pertama, dia adalah gadis yang paling dekat dengan Revin.


Revin berteman dengan Viona karena tertarik pada gadis itu yang sama sekali tidak tertarik pada ketampanannya, dan hanya tertarik pada Revan saja, yang jelas-jelas wajah mereka hanya 11/12 saja.


Hingga Revin menjadikan Viona sebagai teman baiknya selain Reon dan Carlos. Teman yang tau semua rahasia Revin, dan juga masalalu Revin 2 tahun yang lalu.


Viona mengagumi Revan, ia kagum pada Revan yang begitu pintar menyelesaikan masalah, dan hal itulah yang membuat ia bertekat untuk bisa menjadi sepintar Revan.

__ADS_1


Viona pindah kenegara M saat kejadian 2 tahun yang lalu, yang membuat keluarganya memutuskan untuk pindah, sejak saat itu, Revin atau pun Viona hanya bisa memberi kabar lewat pesan karena kesibukan masing-masing.


Dan tadi pagi, Viona sengaja mengungkapkan perasaannya pada Revin agar semua wanita penganggu itu menjauh dari Revin, meski ia dapat melihat jika wajah sahabatnya itu sempat murung sebelum menjawab ucapannya dengan senyum.


* * *


"Dia lupa ingatan, dia lupa semua yang ia lihat malam itu," ucap Revin membuat Viona tersentak.


"Baguslah kalau begitu, akan lebih baik jika ia lupakan? karena hal itu sangat mengerikan, aku tidak tau jika kakak memiliki sisi gelap seperti itu," ucap Viona yang memalingkan pandangannya kearah lain dan mengingat masalalu yang begitu menyakitkan baginya.


Tiba-tiba Revin berdiri dari duduknya, membuat Viona menatap heran pada sahabatnya itu.


"Aku pulang dulu ya, aku tidak bisa lama-lama disini," ucap Revin kemudian meletakkan uang diatas meja.


"Eh teman sia**n! aku baru saja sampai beberapa saat yang lalu, dan kau sudah ingin pergi? yang benar saja!" ucap Viona yang mulai sedikit meninggikan suaranya, kesal sekaligus geram pada sahabatnya itu.


"Kalau begitu, nikmati saja dulu, baru pulang" ucap Revin pada gadis itu yang memanyunkan bibirnya kesal.


"Bye," ucap Revin kemudian pergi meninggalkan Viona yang menatap kepergiannya dengan kesal.


Lima menit kemudian.


Revin menghentikan motornya digarasi, disamping motor Revan. Revin pun bergegas memasuki rumah dan menaiki tangga setelah menyapa ayah dan ibunya yang duduk disofa diruang keluarga.


Revin berjalan dengan santay menuju pintu kamarnya hingga tiba-tiba ia menghentikan langkahnya didepan pintu kamar Revan yang sedikit terbuka.


Revin melihat kekanan dan kekiri kemudian masuk kedalam kamar Revan, Revin menyapu pandangannya kesegala sudut kamar sang kakak, berharap menemukan pemilik kamar itu.


Revin menghembuskan nafasnya karena tidak menemukan sang kakak didalam kamar itu, Revin berniat keluar kamar Revan, hingga matanya tidak sengaja melihat sesuatu didalam tempat sampah didalam kamar itu.


Revin mengernyit kemudian mendekat dan sedikit membungkukkan badannya meraih buku didalam tempat sampah itu.


Revin semakin mengernyitkan alisnya melihat judul buku itu, kemudian membukanya dan membacanya sedikit, hingga tanpa sengaja menemukan tulisan yang membuatnya bergidik ngeri.


Revin segera menutup buku itu dengan nafas yang memburu.


"Astaga! kenapa buku lak**t seperti ini ada disini?" tanya Revin pada dirinya sendiri hingga tiba-tiba matanya melotot dengan sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan Brother menyukai yang batang!" ucap Revin tidak percaya hingga otaknya mulai berfikir yang tidak-tidak, dan sedikit terlintas dibenaknya membayangkan sang kakak yang berciuman mesra dengan sesama jenis.


Revin merinding bukan main, bahkan serasa ingin muntah, ia pun segera berlari keluar kamar Revan dan menuruni tangga untuk memberitahukan hal ini pada sang ibu, sebelum sang kakak bertindak lebih jauh, ia tidak ingin hanya dia anak laki-laki ayahnya yang normal.


* * *


Dan sekarang Revan duduk disofa tunggal dengan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, pusing harus menjelaskannya pada sang ibu.


"Ini apa Revan? kamu suka yang ...." ucap Ana tidak mampu melanjutkan ucapannya.


"Brother Gay," ucap Revin yang berbicara dengan menekan kata terakhirnya membuat Revan membelalakkan matanya tidak percaya.


"Yang benar saja kau, aku laki-laki normal tau," ucap Revan tidak terima dengan ucapan Revin.


"Terus yang ini apa?" tanya Revin dengan mengambil novel ditangan sang ibu.


Hanya yang melihat hal itu hanya mampu terdiam, sedang Arian dan Reana hanya berduduk disofa panjang dengan meminum teh mereka tanpa berniat mencampuri masalah yang mereka sudah tau jelas, jika Revan itu normal.


Ana mengernyit bingung melihat suami dan putrinya yang begitu santay, entah mengapa Ana jadi melihat Arian ketiga dari diri Reana.


'Reon maafkan aku,' ucap Revan dalam hati, meminta maaf pada Reon, karena sebentar lagi ia akan mengunakan Reon sebagai tamengnya untuk tetap merahasiakan perasaannya dengan Rania dari ibu dan adik laki-lakinya itu.


"Reon yang membelinya untukku, dia bilang itu akan bagus untukku baca," ucap Revan membuat Arian dan Reana terdiam kemudian mengelengkan kepala mereka.


Revin yang mendengar hal itu terkejut bukan main, sedang Ana semakin terdiam ditempatnya.


"APA! si Reon Gay!" ucap Revin tidak percaya.


* * *


"Hachiuu," Reon menutup hidungnya sejenak, entah mengapa telinganya mendadak panas dan hidungnya yang sedikit gatal.


"Ada apa kak?" tanya Dion yang duduk disamping Reon, karena saat ini mereka tengah asyik menonton diruang keluarga dengan kedua orang tua mereka.


"Tidak apa-apa," ucap Reon santay dengan memijit tengkuknya yang mendadak tegang.


'Kok perasaanku jadi tidak enak ya, aku berharap tidak ada yang berbicara aneh tentangku,' ucap Reon dalam hati kembali fokus pada film yang sedang tayang ditv.

__ADS_1


__ADS_2