
Revin mengernyit bingung membaca pesan dari Vivian.
"Saat pulang sekolah nanti datang ke cafe kemarin," Begitulah isi pesan Vivian membuat Revin mengernyitkan alisnya dengan kepala yang ia miringkan sedikit.
"Nih anak ngga kerasukan Jin 'kan?" ucap Revin bertanya pada dirinya sendiri.
Revin mengelengkan kepalanya kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana dan segera masuk ke dalam kelas.
Revin duduk di kursinya dan kemudian menoleh pada Carlos yang tengah asyik bermain game tanpa menoleh padannya.
"Car, adik kamu ngga salah minum obatkan kemarin?" tanya Revin tiba-tiba membuat Carlos menghentikan gamenya dan kemudian menoleh pada pria di sebelahnya yang menatapnya aneh.
"Ngga tuh, kemarin dia cuma minum obat yang biasa dia minum kalau lagi datang bulan," ucap Carlos santay.
"Ada apa?" tanya Carlos yang penasaran karna tiba-tiba Revin bertanya seperti itu padanya.
Revin hanya mengelengkan kepalanya menangapi pertanyaan sahabatnya itu, Carlos yang melihat hal itu kembali bermain game.
Bel masuk kelas berbunyi, pelajaran pun di mulai, Revin menjadi tidak fokus entah mengapa dia merasakan firasat buruk, akan ada hal buruk yang menimpanya jika ia datang ke cafe.
'Datang tidak, datang tidak, akh pusing,' kesal Revin dalam hati kemudian mengebrak meja membuat semua orang di dalam kelas terutama guru yang mengajar, menatap ke arah Revin bingung.
"Saya izin ke toilet, pak," ucap Revin kemudian keluar dari kelas menuju ke toilet.
Revin membasuh wajahnya beulang-ulang dan kemudian menatap pantulan dirinya di cermin.
Revin menghembuskan nafasnya kemudian keluar dari toilet untuk kembali ke kelas.
Tidak terasa jam 4 pun tiba, Revin bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
"Revin, kamu baik-baik saja?" tanya Carlos yang khawatir melihat sahabatnya itu.
"Aku baik-baik saja, kalau begitu aku duluan," ucap Revin dan Carlos pun mengangguk.
Revin menyalakan mesin motornya kemudian melajukannya meninggalkan parkiran sekolah berniat untuk pulang.
Revin menghentikan motornya saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah, Revin menunggu dengan sesekali menghembuskan nafasnya di balik helm.
Revin melajukan motornya setelah lampu lalu lintas berubah hijau, Revin tidak melajukan motornya ke arah rumah melainkan cafe.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian.
Revin tiba di parkiran cafe kemudian mematikan mesin motornya lalu membuka helmnya dan berjalan masuk ke dalam cafe.
Revin mengedarkan pandangannya ke segala arah agar dapat menemukan bocil yang sudah membuatnya tidak nyaman seharian dengan pesan aneh yang di tulisnya.
Revin berjalan mendekat ke arah kursi di pojokan tempat dimana sudah ada Vivian yang duduk di sana beserta 2 orang lainnya yang duduk membelakanginya.
Vivin berdiri dari duduknya saat melihat Revin yang berjalan mendekatinya, kedua orang itu menatap heran pada Vivian yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
Vivian menghampiri Revin dan Tiba-tiba memeluk Revin membuat Revin tersentak.
"Hay sayang, lama banget sih, aku udah nungguin dari tadi loh sama teman-teman aku," ucap Vivian manja dan kemudian memeluk erat Revin.
Revin terkejut bukan main dengan apa yang di lakukan oleh Vivian.
'Wah, sepertinya bocil ini benar-benar kerasukan Jin gila!' ucap Revin dalam hati kemudian memengang satu bahu Vivian dengan satu tangannya yang memengang tasnya.
"Kamu sakit?" tanya Revin tiba-tiba dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Hay kak," sapa 2 orang di belakang Vivian pada Revin.
"Kak Vino dan Syila pacar aku udah datang, aku pulang dulu ya," ucap Vivian pada temannya itu.
"Ayo sayang, kita pulang," ucap Vivian kemudian merangkul tangan Revin dan mengajaknya keluar dari cafe.
Revin hanya terdiam melihat tingkah laku Vivian, ingin menengur tapi seperti tidak bisa keluar dari mulutnya.
Revin dan Vivian tiba di dekat motor Revin, mendadak raut wajah Vivian berubah sedih membuat Revin menatap heran gadis itu.
Revin segera naik ke motornya di ikuti oleh Vivian yang kemudian memeluk pinggang Revin dengan begitu erat.
Revin pun melajukan motornya meninggalkan parkiran Cafe itu, Tiba-tiba Revin merasakan basah di punggungnya membuat ia tersentak.
Kemudian menghentikan motornya secara mendadak di pinggir jalan dan tidak lama kemudian Revin mendengar suara isak tangis dari Vivian membuat Revin mengernyit bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Revin dan memperbaiki posisi tasnya yang berasa di depan dada.
Vivian tidak menjawab pertanyaan Revin malah semakin terisak membuat Revin memijit keningnya karna tiba-tiba merasa pusing.
__ADS_1
"Kamu itu kalau nangis jelek tau, cengeng amat sih, baru juga kemarin aku bilangin jangan nangis buat orang yang sama sekali tidak peduli padamu," ucap Revin kemudian menghembuskan nafasnya.
"Tapi aku sayang sama dia," ucap Vivian di sela-sela tangisnya.
Revin lagi-lagi menghembuskan nafasnya.
"Percuma kamu sayang sama dia, kalau dia sudah punya orang lain, kamu itu udah jadi bodoh gara-gara suka sama laki-laki ngva peka, tau ngga!" ucap Revin yang mendadak emosi.
Vivian tersentak saat Revin mulai meninggikan suaranya yang seperti sedang kesal.
"Jangan bilang kalau yang tadi itu, laki-laki yang kamu suka?" ucap Revin menebak.
Vivian mengangguk dan Revin dapat melihat hal itu dari spion motornya. Revin berdecak kesal entah mengapa tiba-tiba dia seakan ingin memukul pria tadi.
"Kalau begitu jangan pernah dekati dia lagi, kalau tidak jangan salahkan aku jika aku memberi tahu Carlos kalau pria itu sudah membuatmu menangis, kamu tau 'kan kalau Carlos itu marah kayak gimana," ucap Revin panjang lebar mengancam Vivian.
"Apa yang dia beri tahu padamu?" tanya Revin tiba-tiba membuat Vivian terdiam.
"Hari ulang tahunnya besok malam, dia ngundang aku untuk datang, katanya undang pacar aku juga, karna semua orang datang berpasangan," ucap Vivian dengan masih sesungukan.
Revin mengepalkan tangannya mendengar hal itu, Revin paling tidak suka jika ada laki-laki yang membuat perempuan menangis, terutama Reana dan juga Vivian yang sudah seperti keluarganya sendiri.
Revin segera menyalakan mesin motornya dan melaju dengan cepat agar bisa segera mengantar Vivian pulang ke rumahnya, karna dia harus mengurus sesuatu.
Lima belas menit kemudian.
Revin menghentikan motornya di depan gerbang rumah Vivian, Vivian pun turun dari motor dan kemudian mengucapkan terima kasih lalu masuk ke rumah.
Revin berdecak kesal dan kemudian melajukan motornya ke arah rumahnya.
Revin masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal yang tidak bisa ia jelaskan sebabnya.
"Kamu kenapa?" tanya Revan yang baru saja dari dapur dengan segelas jus di tangannya.
Revin mengambil gelas jus di tangan kakaknya kemudian meminumnya hingga tandas lalu memberikan gelas kosong itu di tangan Revan.
Revan mengepalkan tangannya dan ...
"ADUUUUH" teriak Revin.
__ADS_1