SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
BERHASIL


__ADS_3

Mereka berempat tengah berada dikamar Revan, setelah tadi menghabiskan makan malam mereka dan berpamitan untuk tidur.


Revan tengah duduk diatas tempat tidurnya, sedang kedua sahabatnya duduk dikursi didalam kamarnya.


"Revin, apakau tidak pusing mondar-mandir tanpa henti seperti itu?" tanya Carlos yang bingung dengan sahabatnya itu, yang tidak henti-hentinya mondar-mandir dengan mengigit kuku jarinya.


Revin menoleh kearah Carlos, yang menatapnya dengan kepala yang miring kesamping kanan, dan tak lupa wajah polos minta tampol.


"Tidak! Jangan memasang wajah polos seperti itu, Car. Kau membuatku ingin muntah," ucap Revin kesal.


Carlos hanya mengedikkan bahu tanda tidak peduli.


"Bagaimana sekarang?" tanya Revin pada sang kakak.


"Kita harus cepet ketempat mata-mata sialan itu, mereka bertiga tengah berkumpul. Kesempatan tidak datang dua kali seperti ini," ucap Revin membuat ketiga orang yang duduk bersantai menatapnya.


Revan bangkit dari duduknya, lalu berjalan kearah balkon kamarnya, hingga ia dapat melihat semua pergerakan para penjaga yang begitu ketat dari biasanya.


"Tidak ada cara lain, kita akan memanjat tembok itu," ucap Revan dengan suara pelan, dan menatap kearah tembok pembatas setinggi lima meter.


"Dengan penjagaan seketat itu, mana bisa," ucap Carlos seketika bangkit dari duduknya.


"Pasti bisa," ucap Revan mantap.


Reon dan Carlos saling bertukar pandang, lalu menganggukkan kepala tanda setuju dengan apapun yang akan dilakukan sahabatnya itu.


* * *


Revan, Revin, Reon dan Carlos tengah mengendap-endap menuju ketaman belakang rumah, karena hanya disana yang penjagaan tidak ketat seperti dipintu gerbang utama.


Carlos melihat kekanan dan kiri memastikan keadaan aman tanpa ada penjaga yang melihat mereka.


Mereka berempat bertukar pandang satu sama lain, kemudian menganggukkan kepala bersamaan, dan berlari dengan cepat untuk memanjat tembok setinggi lima meter itu.


Mereka mulai melangkah menaiki tembok, hingga tangan mereka mengapai ujung tembok itu, bersyukur karena diatas tembok tidak dipasangkan besi runcing, sehingga aman untuk mereka.


Dengan sekuat tenaga, mereka mengangkat bobot mereka dan melompat keseberang tembok dan mendarat dengan sempurna.


Mereka tersenyum penuh kemenangan dan segera berlari dari sana, untuk segera mencari kendaraan yang bisa mengantar mereka.


"Aku rasa ... sudah cukup ... jauh," ucap Reon dengan nafas yang tidak beraturan, meski ia merasa tidak terlalu lelah.


"Sepertinya, lari pagi selama sebulan membuahkan hasil yang baik," ucap Carlos yang diangguki oleh ketiga sahabatnya.


Revin merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya.


"Mereka sudah tiba ditempat pertemuan mereka, dan tempat itu tidak jauh dari sini," ucap Revan melihat titik merah diponselnya, yang sama sekali tidak bergerak dan jaraknya lumayan dekat dari tempat mereka berada sekarang.


"Ayo mulai!" ucap Revan, dan mereka semua memakai topi jaket mereka, dan berjalan ketempat tujuan.


* * *


Ditempat lain, Daenji tengah berada disebuah pesta ulang tahun seorang gadis, anak dari cucu angkatnya yaitu Anson Su.

__ADS_1


"Terima kasih kakek, karena telah datang ke pesta ulang tahunku," ucap seorang gadis dan memeluk Daenji erat.


"Sama-sama, sayang. Maaf ya, karena kakek tidak sempat datang tahun lalu," ucap Daenji merasa bersalah dengan cicit perempuannya itu, meski hanya dari cucu angkatnya.


"Bagaimana keadaan mereka berempat, dan kenapa kakek tidak mengajak mereka?" tanya Anson dengan menatap Daenji penuh tanda tanya.


Gadis itu mengernyit heran, bingung dengan apa yang dibahas oleh kakek dan ayahnya.


"Aku ingin mengajak mereka, tapi aku tidak ingin mereka terlihat oleh beberapa orang disini, yang mungkin mengenal Arian, Carlson dan Rafarl. Kau taukan, wajah mereka itu sebelas dua belas dengan ayah mereka," ucap Daenji yang hanya dibalas kekehan oleh Anson.


"Kalian lagi bahas apa sih? Bikin Laura penasaran aja deh," ucap gadis itu dengan mengembuskan pipinya.


Daenji dan Anson yang melihat hal itu, hanya tertawa dan mencubit gemas pipi gadis itu, Laura Su.


"Ish, jangan dicubit kakek, ayah. Sakit tau," rengeknya manja dan semakin membuat Daenji tertawa, hingga menarik perhatian beberapa tamu disana.


"Maaf, sayang. Yang kami bahas itu adalah anak-anak dari paman-pamanmu itu," ucap Daenji membuat gadis itu mengernyit.


"Paman Arian?" tanyanya mencoba menebak.


"Iya, tapi bukan hanya anak paman Arianmu, ada juga anak paman Rafael dan Carlson," ucap Daenji yang diangguki oleh Anson.


"Benarkah? Apa yang mereka lakukan dinegara S?" tanya Laura penasaran, ia sangat penasaran dengan wajah anak-anak pamannya itu. Ia pernah melihat wajah Rafael sekali, tapi Arian dan Carlson hanya lewat foto saja.


"Meneruskan pendidikan mereka, tapi entah mengapa aku menjadi gelisah," ucap Daenji membuat Laura dan Anson menatapnya bingung.


"Kenapa, kakek? Apa ada masalah dengan keempat remaja itu?" tanya Anson penasaran.


Anson tersenyum kecil mendengar keluhan kakeknya itu.


Laura yang mendengar hal itu, semakin penasaran. Ia semakin ingin bertemu dengan keempat pria yang tinggal bersama dengan kakeknya itu.


Tiba-tiba Franco menghampiri Daenji dengan menyodorkan ponsel pada tuan besarnya itu.


"Ada apa?" tanya Daenji saat ponsel berada ditelinganya.


"Tuan besar, maaf menganggu anda. Keempat orang itu kabur, Tuan," ucap seseorang diseberang telfon, membuat Daenji terkejut bukan main.


"Bagaimana mungkin?" ucapnya tidak percaya, membuat Anson dan Laura terkejut, begitupun dengan seseorang diseberang telfon.


"Sepertinya mereka memanjat tembok pembatas tuan," ucap penjaga diseberang telfon, takut jika tuannya itu marah.


Daenji mematikan panggilan sepihak dan bergegas pergi dari sana, diikuti oleh Franco yang mengekor dibelakangnya.


Anson dan Laura bertukar pandang satu sama lain, bingung dengan situasi yang menimpa Daenji.


* * *


Digang kecil tidak jauh dari restoran, empat orang remaja berjalan mendekati tiga orang yang terpojok tidak tahu akan berlari kemana.


"Siapa kalian? Jika kalian mendekat, maka jangan salahkan kami kasar," ucap salah satu pria yang terpojok itu.


"Kau berani?" tanya Revan dengan membuka penutup kepalanya, membuat ketiga pria itu terkejut.

__ADS_1


Revin, Reon dan Carlos ikut membuka penutup kepala mereka, dengan senyum devil dibibir mereka.


"Kalian!" seru ketiga pria itu dan berniat mengambil sesuatu dibelakang punggung mereka, tapi dengan cepat Revan maju dan melayangkan bogem mentahnya pada pria yang berada ditengah.


BUK!


Kedua temannya berniat menghunuskan belati pada Revan, tapi dengan sigap Revin dan Carlos menendang mereka, hingga tubuh mereka mengenai dinding.


BUK!


BUK!


Revin meraih salah satu botol minuman yang tergeletak ditanah, kemudian memecahkannya ketembok dan segera menusukkannya pada leher pria yang ia tendang tadi.


Carlos memukul pria yang ia tendang tanpa ampun, sedang Revan menatap penuh amarah pada orang yang ia injak dadanya yang terus berusaha memberontak.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang membayar kalian?" tanya Revan dengan sorot mata menahan nafsu iblisnya.


"Bocah sialan! Kau fikir aku ...," ucapan pria itu terhenti kala Revan menendangnya hingga kepalanya terbentur ke tembok dan mengeluarkan darah.


"Aku sudah bosan sabar," ucap Revan dan mulai mencengkram leher pria itu hingga berdiri lalu memukul wajah pria itu secara brutal.


Reon hanya menatap datar pada apa yang dilakukan oleh tiga sahabatnya sekarang, ia terus memainkan pemantik api ditangannya, karena ia tahu jika hal itu akan segera digunakan.


Dua puluh menit kemudian.


BUK!


BUK!


BUK!


Revan, Revin dan Carlos menumpuk tiga mayat yang entah sudah berapa banyak luka yang ada ditubuh mayat-mayat itu.


"Sudah siap," ucap Revin dan menatap kearah Reon.


Revan dan Carlos membersihkan tangan mereka dengan sapu tangan, lalu membuang sapu tangan itu diatas ketiga mayat itu.


Reon menyalakan pemantik api itu, lalu membuangnya diatas tiga mayat itu, dan perlahan-lahan membakar kain yang melekat ditubuh tiga orang tak bernyawa itu.


"Ayo pergi!" ucap Revan, lalu segera berjalan kembali kerumah diikuti oleh tiga orang yang mengekor dibelakangnya.


"Ah, sungguh menyebalkan. Kita sama sekali tidak mendapat informasi apapun," gerutu Revin kesal dengan kaki yang menendang kerikil ditanah.


"Kita akan mencarinya lain kali, mungkin untuk dua bulan kedepan kita akan aman," ucap Revan, lalu menghentikan langkahnya cukup jauh dari gerbang rumah.


"Sepertinya disini tempat yang tepat untuk memanjat tembok," ucap Revan, dan mulai bersiap untuk kembali memanjat tembok lima meter itu.


"Hitungan ketiga, kita memanjatnya," ucap Revan dan diangguki oleh ketiga pria itu.


"Satu ... dua ... ti ....," belum selesai berhitung, cahaya lampu mobil telah menganai mereka, membuat mereka berempat mematung dan menoleh perlahan kearah cahaya itu.


'******!' ucap mereka dalam hati, kala melihat seseorang yang menatap tajam kearah mereka.

__ADS_1


__ADS_2