SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PERSIAPAN


__ADS_3

Pukul 3 sore.


Revin tengah duduk disalah satu kursi didalam restoran, dengan menatap datar pada empat pria paruh baya yang duduk dihadapannya dan sekertaris wanita yang menatap genit padanya.


'Ya tuhan, kubur saja para wanita ini,' ucap Revin dalam hati dengan wajah datarnya.


"Maaf, tuan Carlos tidak bisa datang, jadi ia meminta tuan Revin untuk mengantikannya," ucap Xin dengan menunduk hormat pada empat pria paruh baya itu.


"Ah, iya. Kami tahu, dia beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahan, jadi wajar jika dia sibuk saat ini," ucap salah satu pria paruh baya yang duduk dihadapan Revin.


"Jika sudah tau dia sibuk, kenapa malah mengadakan pertemuan dadakan. Apa kalian berniat untuk melakukan hal buruk?!" ucap Revin dengan sinis, dan tak lupa wajah dinginnya.


Ke empat pria paruh baya itu tersentak, lalu mulai gugup sendiri, membuat Revin menyandarkan punggungnya dengan angkuh pada sandaran kursi.


"Sebaiknya kalian mulai apa yang ingin kalian katakan, dan beritahu pada sekertaris kalian untuk berhenti menatapku," ucap Revin sinis membuat ke empat pria paruh baya itu menatap masing-masing sekertaris mereka.


Empat wanita itu tersenyum kikuk dengan kepala menunduk malu, membuat bos mereka hanya mampu menghembuskan nafasnya.


Xin menatap Revin dengan tatapan tidak percaya, ternyata mulut teman bosnya ini pedas sekali.


"Baiklah, akan saya mulai apa yang ingin kami katakan," ucap salah satu pria paruh baya itu, lalu mulai berbicara dan menjelaskan panjang kali lebar membuat Revin menyentuh pipinya dengan seperti menopang dagu, lalu tangan yang mengetuk meja pelan.


* * *


Dua jam kemudian.


Revin berjalan keluar dari restoran, setelah memberi perkataan pedas level dewa pada empat orang itu. Ia dengan cepat melangkahkan kakinya mendekat kearah mobil, agar Xin segera mengantarnya ke bandara. Karena jujur ia sangat tidak suka di kota D.


Di tengah perjalanan ke bandara, Revin memilih untuk melihat keluar jendela dengan raut wajah dinginnya, membuat Xin terus menerus menelan salivanya dengan susah payah.


Dua puluh menit kemudian.

__ADS_1


Xin segera turun dari mobil dan mengitari mobil untuk membuka pintu untuk Revin.


Revin segera turun dari mobil lalu menatap Xin yang membungkukkan setengah badannya.


"Kerja bagus, terima kasih karena sudah membuat amarahku terlampiaskan," ucap Revin lalu berjalan dengan cepat ke jet pribadinya yang sudah siap untuk berangkat.


Xin mengernyit mendengar ucapan Revin, apa maksudnya dengan membuat amarahnya terlampiaskan?


Xin mengelengkan kepalanya, lalu kembali masuk ke mobil setelah melihat Revin naik ke jet pribadinya.


* * *


Pukul 8:30 malam.


Revan masih sibuk dengan laptopnya, setelah tadi jeda sejenak lalu untuk makan malam. Arian dan Ana melihat Revan yang begitu fokus pada laptopnya dengan tatapan bangga, sedang Reana sudah pergi ke kamarnya sedari tadi.


"Dad?!" panggil Revan membuat Arian mengangkat sebelah alisnya, sedang Ana menatap suaminya bergantian dengan putranya.


"Apa menurutmu, Reana dan Dion cocok?" ucap Revan tiba-tiba dengan menutup laptopnya dan menatap sang ayah yang juga menatapnya.


"Kalau mereka saling mencintai, maka kita hanya bisa merestui," ucap Arian membuat Revan menudukkan kepalanya dengan raut wajah seriusnya.


"Iya ju ....," belum selesai Revan berucap, sudah terdengar suara seseorang yang berteriak cukup keras dari arah pintu masuk, membuat mereka bertiga tersentak.


"TIDAK!" teriak Revin yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Arian dan Ana mengernyit dengan ucapan putra kedua mereka itu, sedang Revan semakin bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Maksud kamu apa, Vin?" tanya Ana yang sama sekali tidak mengerti ucapan putra keduanya itu yang tiba-tiba berkata tidak.


"Sampai kapan pun, Revin ngga akan setuju kalau Reana sama Dion! Titik tidak pake koma," ucap Revin penuh penekanan, membuat Arian mengernyit aneh.

__ADS_1


Reana yang baru saja ingin menuruni tangga untuk ke dapur mengambil air minum, menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir kakak keduanya itu.


Reana menyentuh dadanya dengan mengigit bibir bawahnya, dengan air mata yang mengenang dipelupuk matanya. Ia kembali berlari kecil memasuki kamarnya, sampai kapanpun kakak keduanya tidak akan pernah membiarkan dia bersatu dengan Dion dan dia hanya mampu menuruti, tidak bisa membantah.


"Memangnya kenapa jika dia bersama dengan Dion, Revin. Dion pria yang baik, meski seorang playboy. Tapi dia sama sekali tidak pernah merusak anak gadis orang," ucap Revan santai, ia ingin sedikit mengali sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya itu.


"Aku tidak setuju! Sampai kapanpun aku tidak setuju! Kalau perlu, aku yang akan mencari calon untuk Reana ketika dia ingin menikah," ucap Revin dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


Arian dan Ana hanya terdiam melihat sifat keras kepala putra keduanya itu, yang sayangnya menurun dari sang ayah.


"Jika Reana menyukainya, maka kamu tidak berhak untuk mencegah mereka bersama!" ucap Revan dengan nada dinginnya.


Revin mengepalkan tangannya mendengar ucapan kakaknya itu, sedang Arian menatap sang istri yang menatap tidak percaya pada kedua putranya yang tengah beradu debat.


"Revan! Revin!" ucap Arian dengan menekan ucapannya.


Revan dan Revin menoleh kepada sang ayah, dan terkejut ketika menyadari jika ibu mereka masih ada disana.


Revin bedecak kesal, lalu melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga, tiba-tiba Revin menghentikan langkahnya di anak tangga ke lima lalu menoleh pada sang kakak.


"Aku tidak akan pernah membiarkan pria yang sudah disentuh oleh wanita lain, menikah dengan Reana!" ucap Revin penuh penekanan lalu kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Revin menghentikan langkahnya, saat mendengar Revan berucap dengan tegas padanya yang terdengar seperti hal yang sulit dibantah oleh Revin.


"Jika mereka saling mencintai, maka kamu pun tidak akan bisa memisahkan mereka. Jika perlu aku yang akan membuat mereka bersatu!" ucap Revan tidak kalah tegas membuat kedua orang tau mereka terdiam.


Revin melangkah dengan cepat menaiki tangga dengan perasaan kesal dan marah, ia tidak ingin orang yang menikah dengan adiknya adalah pria yang yang disentuh oleh wanita lain, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Revan, jangan terlalu tegas seperti itu pada adikmu," ucap Ana menyadarkan Revan dan segera merubah raut wajahnya.


"Aku hanya ingin Reana bahagia, mom. Jika Reana dan Dion memang saling mencintai, maka aku sendiri yang akan menyatukan mereka," ucap Revan lalu bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menaiki tangga.

__ADS_1


"Maksud mereka apa?" tanya Ana pada suaminya.


"Hanya mereka yang tahu, sebaiknya kita tidur. Jika terjadi sesuatu diantara mereka, aku sendiri yang akan memperbaikinya," ucap Arian lalu segera mengandeng tangan istrinya ke kamar untuk tidur.


__ADS_2