
Lima belas menit kemudian.
Revan dan Revin menghentikan motor mereka diparkiran cafe milik Sarah, Revan dan Revin membuka helm mereka secara bersamaan dan berjalan memasuki cafe, dengan berjalan beriringan.
Revan dan Revin masuk kedalam cafe, dan melihat kearah kursi paling pojok, dimana sudah ada Reon dan Carlos yang menunggu mereka.
Revan sudah mengabari kedua sahabatnya itu untuk makan malam diluar malam ini, dan kedua sahabatnya itu, jelas akan dengan senang hati datang.
"Tumben cepat datang, kerasukan jin apa nih," ucap Revin dengam senyum jahilnya.
Reon dan Carlos hanya menatap datar pada Revin, yang kini duduk dihadapan mereka, begitu pun dengan Revan, yang duduk disamping Revin dengan raut wajah datarnya.
"Kami 'kan selalu datang tepat waktu, Vin. bukankah kamu yang selalu datang terlambat," ucap Reon setengah menyindir sahabatnya itu.
Revin menatap datar pada Reon, kesal ... tentu saja. Revin ingin sekali memberikan Reon cap 5 gratis dikepalanya.
Revin memanggil pelayan, kemudian memesan begitu banyak makanan, membuat ketiga pria itu menatapnya dengan tatapan terkejut.
Lima belas menit kemudian.
Semua pesanan Revin sudah tiba, dan memenuhi meja itu, membuat Revan, Carlos dan Reon membelalakkan mata mereka.
Reon dan Carlos saling bertukar pandang satu sama lain dan kemudian berbicara dalam hati.
'Gila! kayak makanan ini muat aja diperutnya,' ucap Carlos tidak percaya dengan makanan yang tersusum rapi diatas meja didepan mereka.
'Astaga! sepertinya Revin depresi karena memutuskan semua pacarnya,' ucap Reon dalam hati kemudian mengelengkan kepalanya.
Revan menoleh kearah Revin dengan tatapan datarnya, lalu kemudian berbicara.
"Makan yang banyak," ucap Revan tiba-tiba dengan melihat kearah Revin yang mengunyah makanan dengan lahap.
Revin menoleh kearah sang kakak yang menatapnya dengan datar.
"Kenapa?" tanya Revin yang bingung, karan sang kakak yang tiba-tiba berbicara seperti itu padanya.
"Karena pura-pura bahagia itu, butuh tenaga," ucap Revan santay selow, yang membuat Revin tersedak makanan yang ia kunyah.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk," batuk Revin segeta meminum jus disampingnya.
Reon dan Carlos yang mendengar dan melihat hal itu, hanya terdiam. dan sedetik kemudian ...
__ADS_1
"Buahahaha," pecahlah tawa Reon dan Carlos, sedang Revan tertawa kecil, kemudian mengigit bibir bawahnya agar suara tawanya tidak keluar.
Carlos dan Reon tertawa semakin keras, membuat Revin kesal seketika, kemudian memasukkan pizza kemulut Carlos, hingga Carlos tersedak membuat Reon semakin tertawa keras.
"Uhuk ... uhuk," batuk Carlos dan kemudian mencoba untuk mengunyah sepotong pizza yang Revin masukkan dengan paksa kemulutnya, lalu meminum jus disampingnya hingga tandas tak tersisa.
"Hahahah," tawa Reon dengan memengang perutnya yang mulai sakit, akibat menertawa kedua sahabatnya itu.
Revan semakin mengigit bibir bawahnya kala mendengar Carlos mengumpat pada adiknya.
"Sia**n! kamu mau bunuh aku ya, suapinya pelan-pelan, baby. nanti kalau tidak ada aku, kamu sama siapa," ucap Carlos yang berbicara dengan nada suara yang begitu manja membuat Reon tertawa lebih keras.
Revin membulatkan matanya dan kemudian menendang kaki Carlos dibawah meja, Revan yang melihat hal itu hanya tertawa tanpa suara.
Revin dan Carlos perang kaki dibawah meja, dan kaki Carlos dengan lihai menghindar membuat Revin kesal dan malah menendang kaki kursi Carlos.
Kursi yang Carlos duduki mendadak munduk kebelakang karena tendangan Revin hingga keseimbangan kursi itu terganggu dan ....
BRUK
"Aduh! kepalaku!" ringis Carlos saat tubuh dan kursinya terjatuh kebelakang hingga kepalanya mengenai lantai.
Bukannya prihatin, Reon semakin tertawa keras dan Revan yang sedari tadi tertawa tanpa suara, kini mulai mengeluarkan suaranya, hingga cafe itu penuh dengan gelak tawa mereka.
"Makanya jangan suka ketawain orang, kan dapat karma!" ucap Revin kesal pada Carlos yang kini membetulkan kursinya dan kembali duduk ditempatnya.
"Sia**n, kasar banget jadi orang," ucap Carlos dengan memijit pinggangnya yang sedikit ngilu.
"Haha ... aduh perut aku sakit banget, kalian jadi badut aja deh, ngga usah jadi anak mafia, kalian lebih cocok jadi pelawak," ucap Reon yang perlahan-lahan mulai berhenti tertawa.
Revin menatap Reon malas, sedang Carlos melirik Reon dengan wajah yang meringis saat memijit pinggangnya.
Revin menoleh kearah Revan yang perlahan-lahan berhenti tertawa, sungguh hiburan yang sangat lucu baginya, hingga membuat seorang Revan Li yang memiliki julukan si kulkas berjalan, tertawa begitu keras.
Untung saja dicafe itu hanya ada mereka, jadi mereka akan leluasa melakukan apapun yang mereka inginkan.
"Brother sia**n," umpat Revin kesal dan kembali memakan makanannya.
Tiga puluh menit kemudian.
Kini mereka berempat tengah fokus dengan ponsel mereka masing-masing, kecuali Carlos.
__ADS_1
Carlos menatap datar kearah ketiga sahabatnya itu, yang begitu fokus pada ponsel mereka, dan tidak memperdulikan dirinya.
"Hey! aku masih ada disini ... jangan mengabaikanku, aku juga manusia tau, bukan hantu," ucap Carlos membuat ketiga pria itu menatapnya.
"Kenapa tidak main game saja, sini mabar denganku," ucap Revin mengajak Carlos bermain bersama.
"Bosan, aku sudah bosan bermain game, apakah ada saran yang bagus, agar aku tidak bosan lagi," ucap Carlos yang kini menaruh kepalanya diatas meja yang sudah bersih dari piring sisa makanan tadi.
Ketiga orang itu, saling bertukar pandang satu sama lain kemudian melihat Carlos dengan tatapan aneh.
"Saran apa?" tanya Reon heran dan notifikasi diponselnya kembali membuatnya fokus pada benda pipih itu, dan membalas pesan sang kekasih dengan senyum merekah dibibirnya.
"Ish, bucin," ucap Revin menatap Reon dengan tatapan ngerinya.
"Biarin," ucap Reon acuh dengan tangan yang mengetik pesan pada Liona.
Revan menghembuskan nafasnya dan kemudian kembali fokus pada ponselnya, melihat semua informasi baru yang masuk dari bawahannya dinegara S, yang ia tugaskan untuk menjaga Rania.
Revin mengernyit bingun saat melihat kakaknya itu yang tersenyum kecil, dengan mata yang fokus pada ponsel ditangannya.
'Dia balas pesan dari siapa sih?' tanya Revin dalam hati yang mulai kepo dan mencoba untuk mengintip sedikit layar ponsel kakaknya itu.
Revan menjauhkan wajah Revin dengan tangannya, lalu menatap tajam adiknya itu, yang membuat Revin hanya bisa menghembuskan nafasnya.
Revin kembali fokus pada pada gamenya, sedang Carlos semakin bosan dengan memasang raut wajah lesuhnya.
"Bagaimana jika kita keclub malam saja," ucap Carlos tiba-tiba dengan menatap girang kearah tiga pria itu.
Revan, Revin dan Reon menatap tajam kearah Carlos, membuat nyali Carlos untuk keclub malam menciut seketika.
"Jadi apa yang harus aku lakukan agar rasa bosan ini hilang. Vin, bantu aku," ucap Carlos dengan menatap Revin dengan tatapan memohon.
Revin yang melihat hal itu hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Makanya cepetan punya pacar, agar kau tidak bosan, dan bisa saling mengirim pesan seperti Reon," ucap Revin dengan menunjuk Reon mengunakan dagunya.
"Tapi para gadis hanya melihat dari luarnya saja, Vin. kalau aku ingin mencari pacar, sekalian aja calon istri, 'kan Van?" ucap Carlos dengan menatap Revan yang hanya berdehem, mengiyakan ucapan sahabatnya itu.
"Bagaimana jika kau mencari pasangan melalu aplikasi cari jodoh gitu, tapi jangan perlihatkan dirimu yang sebenarnya, agar kau bisa melihat tulus apa tidak gadis itu, ubah sedikit gaya berpakainmu, misalnya jadi cupu gitu, mudahkan!" ucap Revin tanpa menoleh kearah Carlos.
Carlos sedikit berfikir dengan apa yang diucapkan Revin barusan.
__ADS_1
"Benar juga tuh, kok aku ngga kepikiran ya," ucap Carlos membuat ketiga sahabatnya itu lagi-lagi menatapnya tidak percaya.