SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
BONUS


__ADS_3

Saat ini Carlos dan Revin berada dikantin sekolah untuk makan siang setelah bel isyirahat berbunyi beberapa saat yang lalu.


Revin menatap Carlos dengan tatapan turut prihatin, karena melihat wajah sahabatnya itu yang memiliki cap 5 entah siapa yang memberikannya.


"Pipi kamu kenapa, Car? abis ada nyamuk yang gigit ya, sampai kamu mukul diri sendiri keras banget sampe berbekas gitu," ucap Revin setengah menyindir dan prihatin pada Carlos.


Carlos menatap malas sahabatnya itu, ingin sekali ia melemparkan gelas jus yang sedang ia minum kewajah Revin.


"Habis diberi gratisan sama cewek gila," ucap Carlos santay dengan mengingat perbuatan Felisia padanya, padahalkan ia tidak sengaja.


Revin terdiam mendengar hal itu kemudian melirik kearah meja yang tidak jauh dari meja mereka, dimana sudah ada Felisia yang tengah makan siang bersama teman-temannya.


"Astaga, pangeran Revin melihat kearah sini,"


"Apakah pangeran tampan Revin sedang melihatku,"


Bisik-bisik sahabat Felisia yang mengira jika Revin melihat mereka.


Felisia menoleh kebelakang dan tatapa matanya bertemu dengan tatapan mata Carlos yang baru saja menoleh mengikuti arah pandang sahabatnya itu.


Carlos segera membuang muka begitu pun dengan Felisia yang masih kesal dengan kejadian beberapa saat yang lalu diparkiran sekolah.


"Sebenarnya ada apa sih? sepertinya hubunganmu dengannya semakin parah saja," ucap Revin yang penasaran dengan apa yang terjadi hingga Carlos dan Felisia semakin tidak akur.


Carlos memberikan isyarat pada Revin untuk mendekatkan telinganya. Carlos membisikkan hal yang terjadi beberapa saat yang lalu pada Revin.


* * *


Carlos menghentikan motornya saat sudah berada diparkiran sekolah, Carlos membuka helmnya dan kemudian Felisia pun turun dari motor dan tanpa sengaja, tangan Carlos menyentuh dada Felisia.


Carlos membelalakkan matanya begitu pun dengan Felisia dan sedetik kemudian ....


PLAK


Satu tamparan mengenai pipi kanan Carlos yang dilakukan oleh Felisia.


"Dasar cowok mesum," ucap Felisia kesal kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Carloa yang terdiam diatas motornya.


Carlos menyentuh pipinya yang panas bekas tamparan Felisia dengan sedikit meringis.


"Sakit banget dah, AKU NGGA SENGAJA WOY," teriak Carlos pada Felisia yang entah ia dengar atau tidak.


* * *

__ADS_1


Carlos menghembuskan nafasnya saat selesai menceritakan penyebab pipi mulusnya mendapatkan cap 5 yang masih membekas hingga sekarang, meski sudah tidak terlalu kentara.


Revin terdiam dan menatap Carlos dengan tatapan yang sulit diartikan kemudian mengelengkan kepalanya membuat Carlos mengernyit heran.


"Kenapa?" tanya Carlos yang merasa aneh dengan tatapan Revin padanya.


"Kamu hebat sekali, Car. sehari sudah 2 kali dapet bonus," ucap Revin menatap kagum pada sahabatnya itu.


Carlos membelalakkan matanya mendengar ucapan Revin yang menurutnya sudah tidak waras.


"DASAR TEMAN GILA," teriak Carlos kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan Revin yang terdiam ditempatnya.


Semua siswa dan siswi menatap kearah meja Revin dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apaan sih, aku masih waras juga," ucap Revin dengan mengkerutkan keningnya tanda tidak mengerti dengan ucapan Carlos yang mengatakan dirinya tidak waras.


* * *


Di sisi lain, Reon tengah duduk dikursi yang biasa ia dan Revan duduki saat jam istirahat tiba.


Reon menghembuskan nafasnya lelah dengan wajah datarnya.


"Kapan Revan keluar dari rumah sakit ya, sehari aja dia ngga masuk udah sepi kayak gini, apalagi kalau berhari-hari," ucap Reon menghembuskan nafasnya kasar.


Dari meja yang tidak jauh dari meja Reon, Liona menatap kekasihnya itu dengan tatapan khawatir, ingin menghampiri tapi teringat dengan larangan Reon untuk tidak boleh terlalu memperlihatkan pada orang lain tentang hubungan mereka.


'Dia baik-baik saja 'kan, aku pengen banget bicara sama dia, tapi dia bilang ngga boleh terlalu mencolok,' ucap Liona dengan mengehembuskan nafasnya.


"Kamu kenapa, Liona? baik-baik aja 'kan?" tanya salah satu sahabat baru Liona yang bernama Sila.


"Iya, baik-baik aja kok," ucap Liona dengan tersenyum pada sahabatnya itu.


Liona memengang ponselnya kemudian memasukkan sandinya lalu mengirim pesan pada Reon.


Tiba-tiba ponsel Reon yang berada diatas meja berdering menandakan pesan masuk, Reon meraih ponselnya lalu melihat pesan masuk dari Liona.


"Yang, kamu kenapa? baik-baik aja 'kan? mukanya kok di tekuk kayak gitu, ada masalah apa, cerita sama aku," isi pesan Liona membuat Reon tersenyum kemudian melirik Liona sekilas yang menatapnya.


"Aku baik-baik aja kok, Yang. kamu ngga usah khawatir, aku cuma ngga biasa aja tanpa manusia es batu itu," isi pesan Reon membuat Liona mengernyit heran.


"Manusia es batu? siapa?" isi pesan Liona yang penasaran siapa yang disebut oleh Reon sebagai manusia es batu.


Reon terkikik melihat isi pesan Liona yang bertanya padanya.

__ADS_1


"Si Revan, Yang. siapa lagi," isi pesan Reon membuat Liona membelalakkan matanya kemudian terkikik geli membuat ketiga temannya yang duduk dimeja itu menatap heran padanya.


Sementara itu, Rania tengah duduk dibangku didalam kelasnya tidak berniat untuk pergi kekantin untuk makan siang.


"Kak Revan udah makan apa belum ya," ucap Rania nampak berfikir.


"Aku mikir apa sih, kok jadi kepikiran sama kak Revan sih," ucap Rania menepuk kedua pipinya pelan.


Tiba-tiba jantung Rania berdetak cukup cepat kala mengingat saat ia dan Revan tidak sengaja berciuman. Wajah Rania merona mengingat hal itu dan juga mengingat saat iris biru safir milik Revan bertemu dengan iris coklat miliknya.


Lagi-lagi jantung Rania berdetak dengan cepat membuat wajah Rania semakin merona merah.


"Sepertinya aku benar-benar menyukai kak Revan, bukan hanya sekedar kagum saja, tapi benar-benar menyukainya," ucap Rania dengan jantung yang semakin berdetak kencang seperti sedang lari marathon.


* * *


Revan terdiam diatas brangkar melihat sang ibu yang begitu sibuk entah apa saja yang ia lakukan, Revan tidak tahu.


Arian hanya menatap istrinya itu dengan tatapan bingung dimana Ana tengah membereskan baju kotor Revan beserta mangkuk kotor tempat bubur yang Revan makan tadi


"Sayang, bukankah seharusnya kamu istirahat saja, kita bisa membereskannya nanti," ucap Arian mencoba membuat istrinya itu berhenti bekerja sejenak, padahal tadi sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah, dan sekarang malah harus mengerjakan hal lain lagi dirumah sakit.


Arian berdiri dari duduknya dan segera mengambil alih mangkuk yang Ana pengang. Ana menatap suaminya itu dengan tatapan terkejut.


"Kamu istirahat saja, biar aku yang bereskan ini semua," ucap Arian dengan tersenyum manis pada Ana.


Ana hanya bisa tersenyum dan kemudian mengangguk, Ana berjalan kearah sofa untuk beristirahat sementara Arian membereskan semuanya.


Sepuluh menit kemudian.


Arian selesai membersihkan semua hal yang ingin Ana bersihkan tadi, Arian menoleh kearah sofa dimana Ana tengah tertidur pulas.


Arian menoleh kearah Revan yang menatapnya dengan tatapan datar.


Arian mendekat pada putra sulungnya itu lalu menepuk pundak Revan pelan lalu kemudian berbicara.


"Maaf, Daddy tidak bisa melindungimu dengan baik," ucap Arian merasa bersalah pada Revan.


"Tidak perlu merasa bersalah, Dad. ini bukan salah daddy, Revan melakukan hal itu karna Revan mau," ucap Revan dengan tersenyum pada Arian.


Arian membalas senyum putranya itu kemudian mengacak rambut Revan layaknya anak kecil.


"Apa kamu menyukai Rania?" pertanyaan Arian yang sukses membuat Revan terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2