SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
TEMAN-TEMAN GILA


__ADS_3

Carlos masih memeluk erat Felisia ketika sudah mengatakan hal itu, penjelasan panjang kali lebar yang sama sekali jarang ia keluarkan pada karyawannya.


"Kenapa ngga ngomong dari awal, jujur saat hubungan kita satu tahun," ucap Felisia akhirnya dengan memukul pelan dada Carlos.


"Maunya juga gitu, sayang. Tapi aku takut kamu pergi dan ninggalin aku, kayak tadi," ucap Carlos mengingat saat Felisia lari tadi.


Hening kembali melanda, dan hal itu membuat Carlos tidak tenang. Takut jika Felisia mengatakan tidak ingin menerima pinangannya.


"Maaf," lirihnya saat Felisia tak juga berbicara.


Carlos melepaskan pelukannya lalu mundur perlahan agar sedikit menjauh dari gadis itu, gadis yang entah menerimanya atau tidak.


"Janji tidak akan berbohong lagi?" ucap Felisia dan menatap wajah Carlos dengan air mata yang membasahi pipinya.


Carlos berjongkok dihadapan Felisia lalu mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan membukanya dihapapan gadis itu.


"Aku berjanji tidak akan berbohong lagi padamu, tidak akan mencari wanita lain, tidak akan menduakanmu dan selalu menemanimu sampai maut memisahkan," ucap Carlos membuat Felisia mengigit bibir bawahnya.


Banyak orang mulai menoleh kearah mereka dan berteriak keras meminta Felisia untuk menerima Carlos.


"TERIMA! TERIMA! TERIMA!" teriak para pengunjung mall yang melihat Carlos dan Felisia.


Felisia mengulurkan tangannya agar Carlos bisa memasangkan cincin dijari manisnya, Carlos yang melihat hal itu tersenyum dengan setetes air mata yang berhasil terjun dipipinya.


Ia segera memakaikan cincin itu dijari manis Felisia membuat semua orang bersorak untuk mereka.


Carlos bangkit dan kembali memeluk Felisia yang juga memeluknya dengan erat.


"I Love you," ucap Carlos lalu mengecup puncuk kepala Felisia.


"I Love you too," ucap Felisia dan semakin membenamkan kepalanya pelukan calon suaminya itu.


Revin yang melihat hal itu tersenyum senang, ia fikir tadi akan berakhir menyedihkan, ternyata malah sebaliknya.


"Aku jadi seperti nyamuk diantara mereka berdua," ucap Revin pada dirinya sendiri.


* * *


"DION!" teriak Reon pada adik laki-lakinya yang tengah bermain game diruang tamu.


"Apa?" ucapnya Dion malas.

__ADS_1


Tiba-tiba Reon meletakkan berkas perusahaannya dimeja dihadapan adiknya itu, Dion yang melihat hal itu mengeryit lalu menatap sang kakak yang juga menatapnya.


"Bantu aku untuk menyelesaikannya," ucap Reon lalu duduk disofa disamping Dion dan segera membuka laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Dion melirik sang kakak dengan tatapan tidak percaya, dia ingin bersantai karena hari ini adalah hari libur dikampusnya. Eh, malah diminta untuk membantu mengerjakan urusan perusahaan kakaknya itu.


"Kak, aku sedang main game. Dan beristirahat sejenak dari hal yang disebut kata-kata sulit seperti itu," ucap Dion dengan menunjuk berkas-berkas dihapadannya.


Reon melirik sekilas adiknya itu, dan kemudian menghembuskan nafasnya.


"Bantu aku, kan lima hari lagi adalah hari pernikahanku. Jadi tidak sempat jika hanya aku yang menyelesaikannya sendiri," ucap Reon membuat Dion menghembuskan nafasnya.


Dion menaruh ponselnya diatas meja, lalu segera meraih salah satu berkas itu untuk memeriksanya dengan cepat.


"Seharusnya kakak fighting bajunya dari beberapa hari yang lalu, dan mengerjakan semuanya dengan cepat, jangan terus-terusan menundanya. Kan jadi begini," ucap Dion entah menasehati ataukah menyindir kakaknya yang selalu berusaha untuk menelfon calon kakak iparnya.


"Aku kan juga harus menelfon Liona untuk sekedar bertanya kabar, jangan hanya fokus pada pekerjaan. Karena sama saja jika kita mengacuhkan calon istri sendiri, kalau tidak menelfonnya sehari," ucap Reon panjang lebar dengan mata yang fokus pada laptopnya.


'Memang iya. Tapikan kakak bisa menelfonnya sebentar, bukannya berlanjut hingga empat atau tiga jam,' ucap kesal Dion dalam hati.


"Jangan berbicara sembarang didalam hati, tidak baik tau," ucap Reon membuat Dion tersentak dan melirik malas kakaknya itu.


* * *


Pukul 9 pagi.


Didalam kamar terlihat seorang pria mondar-mandir tanpa henti dengan terus menerus mere**s jari-jarinya.


"Tenang, jangan gugup," ucapnya pada dirinya sendiri.


Pintu terbuka, menampilkan tiga orang pria yang memakai setelan jas berwarna hitam memasuki kamar itu dengan senyum mengembang diwajah mereka.


"Gugup?" tanya Revan saat mendudukkan diri diatas tempat tidur dan menatap datar pada Reon.


"Iya," ucapnya singkat dengan menghembuskan nafasnya.


"Ekhem," Carlos berdehem membuat ketiga sahabatnya menoleh padanya, "CEO dingin perusahaan RN Group sedang gugup sebelum menaiki altar pernikahan, sepertinya berita ini akan menjadi trending top ....,"


Plak!


Belum selesai Carlos berucap, Reon sudah memberikannya cap lima dikepala, membuat Carlos meringis seketika.

__ADS_1


"Sakit tau! Ini namanya KDP," ucap Carlos dengan mengelus kepalanya dan sedikit menjauhkan diri dari Reon.


"KDP? Apa artinya?" tanya Revin penasaran.


"Kekerasan Dalam Persahabatan," ucap Carlos membuat Revin terdiam.


Semua mulai kembali diam, mereka lebih memilih untuk menatap Reon yang kembali mondar-mandir tanpa henti seakan kepalanya tidak pusing sama sekali.


"Apa menurutmu, Reon sudah minum obat sakit kepala ya? Sudah mondar-mandir seperti itu, tapi tidak pusing sama sekali," bisik Carlos ditelinga Revin.


"Dia tidak perlu minum obat sakit kepala, kan obatnya itu ada nanti, pas mereka ciuman diatas altar," ucap Revin dan segera menghindar saat sebuat sisir melayang ke arahnya.


"Bisa diam tidak!" ucap kesal Reon membuat Revin dan Carlos semakin menjadi-jadi.


"Iya ya, abis itu malam pertama," ucap Carlos lalu bertos riah dengan Revin.


"Menurutmu Reon sanggup berapa ronde?" tanya Revin pada Carlos.


Carlos nampak berfikir sejenak, sedang Revan memutuskan untuk pindah ke sofa, karena sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku rasa dia cuma bisa 3 ronde deh," ucap Carlos membuat Reon mengepalkan tangannya dan segera mendekat pada dua orang itu, yang begitu santai tiduran diatas tempat tidur.


"Wah, singanya ngamuk!" ucap Revin dan Carlos bersamaan dan segera bangkit dari tiduran mereka, lalu berlari keluar dari kamar.


"Teman sialan!" umpat kesal Reon yang hanya dibalas tawa oleh Revin dan Carlos yang kini berada diluar kamar.


"Semoga sanggup empat ronde, Reon," canda Revin lalu segera pergi ke aula untuk bertemu dengan gadisnya.


"Sebelum memulainya, lebih baik minum obat kuat ya, takut ngga sanggup lima ronde," ucap Carlos semakin menjadi-jadi, dan segera berlari menyusul Revin.


"Teman kampret!" umpat kesal Reon dengan berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


Revan menghembuskan nafasnya melihat hal itu, lalu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Reon.


"Jangan gugup, santai saja," ucap Revan lalu menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Reon menganggukkan kepalanya, cuma Revan saja yang normal diantara sahabat-sahabatnya yang kelebihan gila itu.


Revan berjalan mendekat kearah pintu keluar untuk segera ke aula, karena acaranya tidak lama lagi dimulai.


Revan menghentikan langkahnya saat tiba didepan pintu keluar, ia menoleh sekilas pada Reon yang terlihat mengatur nafasnya untuk tenang dan tidak gugup.

__ADS_1


"Sebaiknya ikuti saran Carlos, minum obat kuat sebelum memulainya," ucap Revan lalu berlalu dari kamar itu, meninggalkan Reon yang menatapnya kesal.


'Teman-teman gila,' ucapnya dalam hati, lalu kembali mengatur nafasnya.


__ADS_2