
Pukul 6:15 pagi.
Seorang gadis mengeliat diatas tempat tidur empuknya, gadis itu bangkit dari tidurnya kemudian memgucek matanya, lalu turun dari tempat tidur untuk segera mandi agar dirinya tidak terlambat pergi ke sekolah.
Reana berjalan memasuki kamar mandinya dengan sesekali menguap, karena sebenarnya ia masih ingin tidur, karena tadi malam ia baru tidur saat jam menunjukkan pukul 12 malam.
Lima belas menit kemudian.
Reana keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan tidak lupa hanya mengenakan handuk.
Reana segera mengeringkan rambutnya, kemudian memakai pakaiannya lalu seragam sekolah.
Reana memoleskan sedikit bedak putih pada wajahnya, lalu segera keluar dari kamarnya untuk turun dan sarapan bersama dengan kedua kakaknya dan juga orang tuanya.
"Pagi, mom," sapa Reana kemudian duduk dikursinya dihadapan sang ibu.
"Pagi juga sayang," ucap Ana kemudian kembali memakan sarapannya.
Reana memakan sarapannya dengan sesekali melirik kearah tangga, Reana mengernyit bingung, tidak biasanya kakak pertamanya itu belum turun di jam seperti sekarang.
"Kamu kenapa?" tanya Ana pada putrinya itu, yang terlihat seperti menanti seseoranf turun dari tangga.
"Kok Kak Revan belum turun buat sarapan sih, mom?" tanya Reana menanyakan Revan yang belum turun dari kamarnya untuk sarapan, padahalkan biasanya sudah ada dimeja makan sebelum Reana, soal Revin mah, udah biasa terlambat turun.
"Oh, mommy lupa kasih tau kamu, Revan udah berangkat dari tadi ke sekolah," ucap Ana membuat Reana tersedak makanan yang ia kunyah.
Reana segera meminun air putih disebelahnya, lalu menatap sang ibu yang menatapnya khawatir.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Ana dengan raut wajah khawatit pada putrinya itu.
"Baik-baik aja kok, Mom. berarti yang antar aku pergi sekolah ... kak Revin dong," ucap Reana yang berniat untuk segera menghambiskan makanannya untuk segera memanggil kakak malasnya itu yang pasti masih ada dikamar sekarang.
__ADS_1
"Revin juga udah berangkat dari tadi, sayang." ucap Ana dan lagi-lagi membuat Reana tersedak air yang ia minum.
"Hati-hati dong, sayang." ucap Ana dengan menatap putrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Daddy kamu juga udah berangkat dari tadi ke perusahaan, katanya ada rapat penting," sambung Ana yang kini membuat Reana membelalakkan matanya.
"Terus yang anterin Reana ke sekolah siapa dong, Mom?" tanya Reana dengan raut wajah yang mulai gelisah, lantaran hari ini yang akan mengajar dikelasnya adalah guru killer yang sangat-sangat menyebalkan bagi Reana.
"Kamu tenang saja, Mommy udaj telfon seseorang tadi buat anterin kamu ke sekolah, sekarang cepat habisin sarapan kamu, entar dia keburu dateng," ucap Ana dengan tersenyum pada putrinya itu.
'Kok tiba-tiba perasaanku tidak enak sih,' ucap Reana dalam hati, mendadak salivanya terasa pahit ditenggorokannya.
Selesai sarapan, Ana dan Reana berjalan keluar dari rumah, dan sudah terlihat seseorang yang tengah menunggu diatas motor besarnya yang berwarna biru itu.
Reana mematung ditempatnya saat melihat seseorang yang berada didepan rumahnya, seseorang yang sangat-sangat ia benci setengah mati.
"Maaf ya, Dion. Bibi harus ngerepotin kamu buat anter Reana ke sekolah." ucap Ana dengan tersenyum pada remaja dihadapannya yang berada diatas motornya dengan helm yang berada didepannya dan bersiap untuk memakainya.
'Sia**n, kenapa coba aku harus anter nih cewek kulkas ke sekolah, bisa-bisa membeku aku ditengah jalan, coba aja bukan bibi Ana yang minta, ogah dah,' ucap Dion dalam hati dengan hati kesal.
Sedang Reana hanya bisa berwajah datar dengan mengumpat didalam hati.
'Dasar playboy, cowok gila, kenapa mom, kenapa sama nih cowok sint*ng sih, coba sama orang lain aja, kesel deh,' rengek Reana dalam hati dengan wajah dinginnya yang menatap kearah Dion.
'Tuh 'kan, belum naik aja aku udah kedinginan, aku fikir setelah kemarin tidak menjemputnya aku sudah bebas,tapi sayangnya ... oh tuhan, berikanlah penghangat padaku, agar hati dan jiwaku tidak membeku didekat cewek kulkas ini,' rintih Dion dalam hati, ingin sekali ia berteriak, tapi ia urungkan karena sangat menghargai Ana.
"Ya udah, hati-hati dijalan ya, jangan ngebut," ucap Ana dengan tersenyum pada Dion dan Reana yang bersiap untuk naik kemotor.
"Iya bibi, aku Akh," pekik Dion saat Reana dengan sengaja mencengkram bahu Dion kuat saat naik keatas motor.
"Kamu baik-baik aja, Dion?" tanya Ana khawatir pada Dion yang tiba-tiba memekik dengan raut wajah merah padam.
__ADS_1
"Iya bibi, baik-baik saja," ucap Dion dengan menghembuskan nafasnya berulang-ulang agar tetap tenang dan tidak memaki wanita kulkas berjalan dibelakangnya itu.
Dion segera memakai helmnya sedang Reana sudah memakai helmnya sedari tadi, ingin sekali Reana memukul pria dihadapannya itu, pria yang selalu memanggilnya kulkas saat tidak sengaja bertemu dimana pun, kecuali dihadapan kedua orang mereka.
Dion pun tersenyum pada Ana dibalik helmnya, sedang Reana melanbaikan tangannya pada sang ibu.
Ditengah perjalanan sama sekali tidak ada yang berbicara, hanya hening. Dion menelan salivanya dengan susah payah, saat meresakan tengkuknya yang tiba-tiba dingin, merinding.
'Ya tuhan, kau memberiku ujian yang lebih berat dari ujian semester,' rintih Dion dalam hati, ia tahu jika gadis dibelakangnya tengah menatapnta tajam, karena Reana sama sekali tidak ingin memeluk pinggang pria itu dan memilih untuk memengang bahu Dion dengan sesekali mencengkramnya kuat.
'Gadis sia**n, cewek gila,' umpat Dion dalam hati kesal sekesal-kesalnya pada Reana.
Tidak lama kemudian, Dion menghentikan motornya didepan gerbang sekolah Reana, Reana turun dengan mencengkram bahu Dion kuat, kemudian pergi tanpa berterima kasih.
"DASAR CEWEK KULKAS!" teriak Dion yang membuat Reana menghentikan langkahnya.
Dion yang melihat hal itu, segera menancap gas motornya meninggalkan Reana yang menatapnya kesal.
'Cowok sinti*g,' umpat Reana kesal kemudian kembali berjalan dengan mengepalkan tangannya dengan raut wajah dingin.
Sepuluh menit kemudian.
Dion menghentikan motornya diparkiran sekolah dan kemudian mematikan mesin motornya.
Dion membuka helmnya dengan nafas yang tidak beraturan, Dion memijit bahunya yang berkali-kali dicengkram kuat oleh gadis dingin yang sangat ia benci.
"Sia**n, dasar cewek bar-bar, sakir banget bahu gue, sia**n," ucap Dion dengan sesekali mengumpat kesal.
"Dari mana sih dia dapet sifat kayak gitu, bibi Ana baik, paman Arian jangan ditanya, lah putrinya malah bar-bar, kayak kulkas lagi, ralat kayak kutub selatan," ucap Dion yang mulai membandingkan Reana dengan Ana dan Arian yang begitu baik dan juga lemah lembut.
"Eh, jangan-jangan sifat kakak-kakaknya lagi, nular ke adiknya, wih bahaya, bisa mati beku pacarnya entar, siapa coba laki-laki yang bakalan tahan sama cewek dingin kayak dia," ucap Dion merasa kasihan dengan pria yang akan menjadi kekasih Reana yang dingin seperti kutub selatan.
__ADS_1
Dion segera mengelengkan kepalanya menyingkirkan segela kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan pada dirinya, Dion segera turun dari motor besarnya kemudian berjalan menuju kelasnya dengan nafas yang mulai beraturan.